Tuesday, May 18, 2010

Affandi Mochtar: “Agar Tidak Radikal, Pendidikan Islam Harus Belajar dari Pesantren”

“Agar tidak menjadi radikal, pendidikan Islam di Indonesia harus belajar dari pesantren”. Ini secara implisit dinyatakan oleh DR. H. Affandi Mochtar, MA, dalam acara penutupan workshop perpustakaan yang diselengarakan Dikti Depag RI, Minggu 16/05/2010 di Hotel Syahid Yogyakarta.

Selain Affandi Mochtar, pejabat Depag RI yang juga sekjen tanfidzh PBNU, narasumber lain yang hadir pada acara ini adalah Prof. DR. KH. Machasin, MA, pejabat Depag RI yang juga rais am PBNU. Hadir dalam acara ini, utusan dari berbagai perpustakaan PTAI dari seluruh pelosok negeri, baik negeri maupun swasta.

Pada kesempatan ini Affandi Mochtar menjelaskan panjang lembar mengenai peta pendidikan Islam Indonesia di era kontemporer. Mula-mula, Affandi menuturkan bahwa, pendidikan Islam di Indonesia sekarang ini, memang tidak seperti masa lalu. Jika pada masa lalu pendidikan Islam masih out of the ring, di luar sistem, maka sekarang pendidikan Islam sudah masuk dalam sistem, sudah termasuk dalam program pembangunan negeri ini. Dalam hal ini, pendidikan Islam bisa dipetakan menjadi Tiga Ranah besar.”

Pertama, pendidikan Islam di sekolah dan perguruan tinggi umum. Ini sesungguhnya bukan wilayah pendidikan agama yang berada di bawah naungan atau kementrian agama. Pada ranah ini ada beberapa persoalan. Di antaranya ada yang menengarai bahwa pendidikan agama yang diselenggarakan oleh sekolah umum dan perguruan tinggi umum memiliki sumbangan bagi munculnya radikalisme agama dan kekerasan atas nama agama. Saya tidak tahu bagaimana tingkat kebenaran anggapan tersebut. Tetapi memang anggapan itu ada. Karena soal itu dan soal-soal lainnya maka pendidikan Islam di umum juga menjadi wilayah tanggungjawab kementrian agama. Dan melalui perpustakaannya, kita bisa membenahinya lewat pintu strategis ini.

Kedua, pendidikan Islam di madrasah. Ketiga, pendidikan Islam melalui Sekolah Diniyah dan Pesantren. Dari ketiga ranah tadi, nampaknya ada kontestasi antara perguruan tinggi agama Islam dengan pendidikan pesantren. Misalnya saja, pada kasus bahtsul masail, masyarakat masih percaya dalam hal ini, pada lulusan pesantren-pesantren tradisional, dari pada lulusan perguruan tinggi Islam, apalagi umum. Dalam hal ini lulusan perguruan tinggi Islam masih dipertanyakan kapasitasnya.

Lebih jauh Affandi menyatakan bahwa, karena keadaan di ataslah, kemudian kementrian agama RI menyelenggarakan Religius Studies dalam program pasca dan doctor di beberapa PTAIN (UIN) yang ada. Program ini kini mulai terlihat kemajuannya. Indikasinya adalah mulai banyaknya lulusan PTAI jadi ulama, jadi pengurus di PBNU. Misalnya, Prof. Dr. Machasin, jadi rais am di PBNU, dan DR. Malik Madani jadi ulama juga, jadi katib am di PBNU.

Selain itu juga, karena itulah juga Kementrian Agama menyelenggarakan pembenahan perpsutakaan di PTAI-PTAI, baik negeri maupun swasta. Pembenahan perpsutakaan yang dimaksud adalah bukan hanya berarti memajukan perpustakaan tetapi juga berarti membangun sesuatu yang lebih besar dari pada itu.

Pembenahan perpustakaan yang dilakukan melingkupi beberapa hal penting: (1) Penguatan Kelembagaan dan Kapasitas Perpustakaan. (2) Pembenahan konsep perpustakaan yang ada di madrasah-madrasah. (3) Pengembangan di perpustakaan di perguruan-perguruan tinggi. Dalam hal ini yang perlu dipikirkan adalah regulasi, legalisasi dan SDM serta kapasitas perpustakaan itu sendiri. Di samping perpustakaan ini harus merawat manuskrip, ia juga lain harus melakukan digitalisasi perpustakaan. Ini memerlukan keseriusan dan enegri yang luar biasa.

Di luar itu semua, tingkat excelency perpustakaan bukan hanya soal saranannya yang lengkap tetapi juga tingkat kunjungan penggunanya yang lebih penting. “Untuk apa perpustakaannya bagus dan lengkap tetapi sepi pengunjung. Ke depan, nampaknya kita harus memiliki desain sendiri yang unik mengenai perpustakaan perguruan tinggi Islam, sisi uniknya di mana, ini harus jelas ke depanya”, kata Affandi dengan tegas.

Sementara itu Machasin banyak melontarkan berbagai tantangan dan kendala yang menghadang perpustakaan untuk bisa maju. Dari sisi internal, menurutnya kendaanya terutama kareana rendahnya budaya baca dan budaya berkunjung ke perpustakaan. Dari rendahnya budaya baca ini menyebabkan rendahnya perhatian ke perpustakaan, kata Machasin. Sedangkan masalah di luar perpustakaan, biasanya adalah soal gedung, SDM, dana dan manajemennya. “Nah ini semua insya Allah akan kita benahi tahap demi tahap, tuturnya. (Ali Mursyid)

Thursday, January 14, 2010

Dari Islam Indonesia untuk Kebangkitan Dunia

Ini adalah transkrip ceramah KH. Masdar F. Mas’udi dalam acara Harlah PMII Cirebon tahun 2008

Islam di Tengah Peradaban Dunia

Sekarang ini kita mesti rajin menyebarkan Islam sebagai agama damai dan rahmatan lil’ alamin. Karena belakangan muncul kecenderungan fundamentalisme dalam beragama, yang rajin mempromosikan kekerasan untuk berbagai kepentingannya. Kita mesti menekankan Islam yang ramah dan beradab di mata peradaban-peradaban yang lain.
Di dunia sendiri dengan mudah dapat dikatakan ada dua jenis peradaban. Peradaban yang anti agama dan peradaban yang berbasiskan pada transendetalisme agama. Ada dua peradaban anti agama atau anti spiritulitas yang datang belakangan yang dapat kita saksikan, yaitu peradaban Komunisme, dan Nazisme. Itulah peradaban modern yang dibangun berdasarkan paradigma anti spiritualitas. Dan umurnya betul-betul pendek.

Peradaban berbasis komunisme hanya berusia sekitar 60 tahun, bahkan kalau dilihat pada kejayaannya mungkin sekitar 40 tahun. Dia lahir akhir dekade ke-2, abad ke-20, persisnya revolusi Bolyswik pada th. 1917 di Rusia, dan berakhir --meskipun masih ada akar yang tersisa-- pada tahun 1979. Yang lebih pendek lagi usianya adalah peradaban anti spiritualitas, atheistic radikal, yaitu Nazisme. Nazisme lebih kasar terhadap agama, dan usianya hanya sekitar 15 tahun.

Sementara peradaban-peradaban dunia yang dibangun berdasarkan asumsi keagamaan, meskipun kadang-kadang perilakunya juga sama dengan yang anti agama, sama-sama menyukai kekerasan juga. Tapi usianya sungguh panjang, bisa ribuan tahun. Dan peradaban yang sekarang bertahan di abad 21 ini, hampir sama semuanya, yaitu peradaban yang dibangun berdasarkan asumsi-asumsi transendental.

Sebutlah misalnya Barat, peradabannya bertolak bukan hanya dari Kristiani 2000 tahun yang lalu, tetapi juga dari agama-agama yang sebelumnya. Seperti Mesir Iskandaria, dari Athena, mungkin juga mewarisi ajaran Ibrahim as, melalui Nabi Musa as, yang didikumenter melalui perjanjian lama. Jadi usianya sekitar sudah 4000 tahun.
Yang kedua peradaban China, itu berusia sekitar 3000 tahun, itu ada Budisme, confusianisme, yang menghargai spiritualitas transenden. Kemudian di Hindu, India, itu sudah berusia 3000 tahun. Yang paling muda adalah peradaban Islam, 1 setengah millenium, tepatnya 1500 tahun. Oleh sebab itu, saya kira masa depan peradaban, saya kira adalah masa depan peradaban berbasis agama, bukan lagi peradaban yang berbasis anti agama.

Dari 4 peradaban yang kita sebutkan tadi, dan sekarang yang percaturan yang menguasai dunia --bukan hanya secara budaya, tapi juga ekonomi, militer-- yang paling kuat adalah peradaban Barat. Posisi ke-2 dan ke-3 sekarang sedang diperebutkan adalah China dan India, dan yang paling aman adalah di posisi ke-4 itu untuk umat Islam.

Posisi yang paling terbelakang. Dan dalam posisi seperti inilah, maka limbah ketidakadilan dalam relasi global, itu yang paling banyak menerima limbahnya adalah umat Islam. Jadi kalau kita melihat berbagai kekerasan tingkat global, yang diderita oleh bangsa-bangsa muslim, mulai dari Palestina, Libanon, Irak, Afganistan, dan sebentar lagi kemungkinan besar Iran, itu 50% sebabnya atau mungkin malah lebih sebabnya adalah kelemahan yang ada pada umat Islam sendiri. Bukan semata-mata karena kerakusan dan keangkaramurkaan dari pihak lain. Seangkaramurka serakusnya orang lain kalau kita kuat, tidak akan terjadi kedzaliman terhadap kita

Ada sebuah teori kedokteran yang disebut dengan teori patogin, bahwa sebetulnya di kanan-kiri tubuh ini, itu begitu banyak virus, baik yang bersahabat maupun yang memusuhi kita. Tapi apabila tubuh ini daya tahannya baik, maka virus yang ada dikanan-kiri, yang semula memusuhi jadi bersahabat. Tapi sebaliknya apabila tubuh ini daya tahannya lembek, maka virus yang semula bersahabatpun bisa menjadi musuh kita. Mungkin ini rahasia ibda’ bi nafsik (memulai dari diri sendiri). Orang lain akan memusuhi kita dan akan memusuhi kita, tetapi bila kita kuat dan berwibawa, tidak akan berani mereka sembrono. Cuma kadang-kadang umat Islam menyukai menuding orang lain ketimbang menuding dirinya sendiri. Kata orang menuding 1 jari, tapi semua 4 jari keluar tanpa kita sadari. Sehingga kita sibuk menduing virus di kanan-kiri kita yang jumlahnya tidak terbatas. Tetapi kita melupakan membangun daya tubuh kita sendiri, saya kira ini persoalan mentaliti. Yang sungguh serius, kita tidak pernah menguatkan diri kita, tetapi rajin mengolok-olok pihak lain yang sudah kuat.

Dari Islam untuk Kedamaian

Bicara soal Islam yang damai, dan seterusnya. memang kita semua sama tahu kalau Islam itu berasal dari kata salam yang artinya damai, atau salom dari bahasa Yunani. Dalam hadits sangat jelas sekali, sudah clear, tidak perlu ditafsiri yang macem-macem. Al-musliman saliman muslimun, mnillisanihi wa yadihi. Orang Islam adalah orang yang dapat menjaga mulut dan tangannya untuk rasa damai pihak lain. Kalau sampai orang lain terluka dengan mulut dan tangan kita, berarti kita bukanlah orang muslim seperti yang didefinisikan Rasulullah SAW. Jadi, perdefinisi Islam adalah anti kekerasan.

Akan tetapi, persepektif yang lebih banyak berkembang, adalah perspektif yang dikembangkan dengan hal-hal yang bersifat simbolik, tidak riil. Maka definisi Islam seringkali definisi yang merujuk kepada konsistensi ibadah mahdlohnya. Al-Islam syahadatu an la ilaha ilallah memang shohih, dan seterusnya,itu yang shohih. Tetapi tidak kalah shohih juga dengan definisi Islam yang versinya lebih substantif. Suatu ketika Rasululloh ditanya,....Ayyul Islam khairun ya rosulullah?, keberislaman yang macam manakah yang lebih baik? Rasulullah menjawab Itha’amut’tha’am, wa isfasu salam ala man arafta wa man lam ta’rif. Keberislaman yang disebut khoiruh (paling baik) itu pertama adalah ith’amutha’am (memberi makan) dalam arti mewujudkan kesejahteraan, terutama ekonomi, baru setelah itu kita bicara soal kedamaian. Yang kedua, ifsaus salam (memberi salam), dalam arti menebar kedamaian (salam) kepada orang yang anda kenal dan kepada orang tidak anda kenal. Kepada orang yang dikenal, karena mungkin satu organisasi, satu partai dan satu bangsa, tapi juga kepada wa man lam ta’rif, kepada orang yang tidak dikenal pun, dia harius merasa damai atas kehadiran kita, karena dia beda organisasi, beda partai, atau mungkin beda bangsa.

Jadi kalau ada orang ketika muncul, masyarakat sekitar dan membuat resah dan gelisah, tidak adil, cemas, itu pertanda yang menyakitkan bahwa belum ada keislaman pada dirinya. Islam bukan agama yang menakutkan, dan semakin menakutkan, bukan berarti semakin Islam.sama sekali tidak begitu.

Ada sebuah hadits yang saya kira juga layak direnungkan, abghadul ‘ibad ilallah man kana tsoubuhu khoiron min amallih, tshoubuhu tsoubal anbiya wa’amaluhu amalal jabbarin, artinya hamba yang paling dimukai Allah adalah jik apakainnya lebih baik dari amalnya, pakaiannya seperti pakaian Nabi tapi perilakunya seperti prilaku preman. Hamba yang demikian disebut abghadul ibad ilallah, hamba yang paling dimurkai Allah.

Dalam hadits yang sampaikan tadi, jelas terlihat bahwa untuk menciptakan perdamaian maka soal memenuhi kebutuhan, yang lebih substil dari kedamaian. Ada kebutuhan material yang harus dijawab terlebih dahulu. Begitu banyak anak-anak remaja atau pemuda, yang gampang direkrut untuk gerakan ini dan gerakan itu, demo ini demo itu, ngerusak ini dan ngerusak itu, karena sekedar mencari penghasilan harian. Inilah yang sesungguhnya terjadi di depan mata kita. Kalau saja mereka lebih sedikit sejahtera, apalagi sekarang lebih terdidik, saya kira tidak akan gampang direkrut untuk tindakan yang bodoh. Nah inilah sesungguhnya pesan dari Rasulullahh SAW.

Kekuatan perdamaian, yang tentu (sekali lagi digarisbawahi) harus dibangun berdasarkan tigkat kesejahteraan. Asumsi seperti ini harus menjadi pemenang di republik ini. Republik ini tidak boleh dipegang dan didominasi oleh orang-orang yang cenderung mengaku benar sendiri.

Saya kira kalau saya mencintai NU, itu karena saya memahami bahwa sejak awal NU saya lihat adalah orang-orang yang beragama dengan kerendahan hati, orang-orang yang beragama tanpa suka mengklaim dirinya yang paling benar, dan hanya benar sendiri, sambil menudingkan tangannya kepada orang lain. Saya benar, tapi orang lain mungkin juga. Saya kira ini yang membikin saya secara pribadi jatuh cinta kepada NU. Dan saya ingin di sana terus untuk mempertahankan karakter yang seperti ini.

Karena kita juga menyadari, bahwa orang yang paling saleh secara formil dan paling rajin sembayang 5 X sehari, adalah orang yang minimum 17 kali berdoa setiap harinya, “Ya Allah bimbinglah kami kejalan yang lurus”, apa itu artinya? Sama sekali tidak pantas, orang Islam yang baik merasa bahwa saya sudah berada di jalan yang benar, dan yang lain tersesat. Apa artinya doa, ihdinasshirotol mustaqim?, kalau kita tidak harus rendah hati dalam beragama. Bimbinglah kami di jalan yang lurus, kita masih terus meminta dibimbing kejalan yang lurus, jadi tidak ada sedikitpun ruang bagi

kita untuk mengklaim bahwa kita sudah berada di jalan yang benar, apalagi menuding yang lain sesat dan ahli neraka. Kesombongan yang luar biasa. Neraka, saja sudah dilihat belum, ini mengklaim sudah yaang menguasai, aneh bin ajaib. Jadi kalau ada peerubahan visi ke-NU-an, bila mulai ada kesombongan dalam beragama, saya kira harus dikoreksi dengan cepat.

Dari Indonesia
untuk Kebangkitan Islam dan Keutuhan Dunia

Saya katakan dengan tegas Indonesia harus dipertahankan. Kenapa demikian? Karena posisi dunia Islam yang lemah. Karena lemahnya itu kita jadi bulan-bulanan, dan ketika kita sibuk mengatasi kedzaliman orang lain. Kita tidak mengatasinya dengan membangun kekuatan dari dalam, tetapi langsung menghancurkan orang lain, dengan bom rakitan. Sejuta bom rakitan tidak mungkin menghancurkan mereka. Tetapi dengan membangun kualitas yang mencerminkan izzah (kemuliaan), saya kira ini yang harus dibangun.

Kalau dunia Islam masih dengan posisi yang lemah, dan kita sungguh tidak peduli dengan hal ini, saya kira kita berkhianat kepada cita-cita Rasul SAW, unutk menjadikan umatnya sebagai khoiru ummah (ummat terbaik). Saya kira misi yang ada di pundak kita bersama-sama adalah mewujudkan impian Rasulallah untuk mubahin fi kulli umam (membanggakan kalian semua atas umat-umat yang lain). Kalau kita tidak bisa menjadi kebanggaan Rasulallah, berarti kita memalukan beliau di depan para Nabi yang telah datang sebelumnya.

Dalam hal ini, di samping kualitas individu muslim yaang meningkat secara tajam, juga perlu ada satu ikatan kebersamaan yang kokoh. Dunia Islam sekarang lemah bukan hanya pada individu-individu perorangnya, tetapi juga pada individu-individu negaranya juga dalam posisi yang lemah. Hampir tidak ada negara Islam, yang tidak dibawa dominasi dan pendiktean pihak lain. Bahkan negara di dunia Islam yang paling kaya sekalipun, seperti Arab Saudi, justru sepenuhnya dibawah kendali pihak asing. Itu sejak abad ke-19, di bawah dominasi Inggris dan Prancis, dan sekarang sekaligus Amerika. Dan karena secara individu negara juga lemah, secara kolektif juga lemah, maka kita terbuka terhadap kedzaliman pihak lain seperti tidak ada proteksi apapun.
Misalnya saja, Korea Utara itu sudah lama punya senjata nuklir, Israel juga sudah punya senjata nuklir, karena senjata nuklir ini lambang kekuatan sebuah negara. Terhadap Korea Utara itu negoisasi yang terus diutamakan, bahkan dengan tawaran ganti rugi yang luar biasa. Ini tidak terjadi di Irak. Kenapa tidak seperti seperti di Irak, yang baru diduga sudah dihancurkan? Karena Korea Utara ada protektornya yaitu China, tidak mungkin AS menghancurkan Korea Utara, karena China siap membela kepentingannya. Tetapi negara-negara Islam seperti ada di tempat yang terrbuka, yang siapapun boleh menendangnya. Palestina sudah 50 tahun lebih, kemudian disusul dengan Afganistan belakangan, Irak menyusul, dan mungkin sebentar lagi juga Iran. Karena tidak ada satu negara pun dalam Islam yang cukup berwibawa dalam mengatakan “Amerika, jangan begitu, kalau anda melakukan itu, anda harus berhitung deengan saya” enggak ada yang dianggap berwibawa jika memang demikian.

Peradaban Barat sudah punya negara-negara yaang kokoh secara politik, ekonomi, militer ekonomi. Empat dari negara yang memegang hak veto itu adalah Barat, yang rumpunnya adalah peradaban Yudeo Kristianisme. Peradaban China, Buddhisme, sudah punya senjata nuklir, ini Islam yang punya senjata nuklir baru satu, itu Pakistan, dan itupun hadiah dari Amerika untuk menjaga keseimbangan dari pengaruh India. Jadi bukan untuk kepentingan Pakistan, tetapi untuk kepentingan Amerika.
Satu-satunya negara yang mampu menjadi superpower dunia Islam, dan ini mutlak perlu supaya ada kewibawaan, kiranya hanya Indonesia. Paling tidak karena lima keunggulannya. Pertama, wilayahnya paling luas diantara seluruh negara Islam, seluas Eropa, letaknya juga sangat srategis, 2/3 dari pelayaran kapal perang dan dagang lewat selat Malaka.

Kedua, kekayaan alam Indonesia juga luar biasa, sekarang ada ditemukan --sebetulnya sudah lama, tapi baru dibuka-- sumber energi panas bumi, yang tidak akan perrnah habis, dan itu terbarukan terus menerus dan itu bisa mencukupi hampir dua kali pada kebutuhan energi nasional. Di sanping kita juga punya hutan, kalau Arab punya minyak tetapi kita juga punya hutan, kita juga punya kekayaan laut yang luar biasa. Dari laut Arafuru saja yang dicuri satu tahun adalah sekitar 4 M dollar atau sekiiatr 40 Triliyun rupiah. Itu yang dicuri dari satu titik saja.

Ketiga, Indonesia adalah negara yang pendduduk muslimnya terbesar di seluruh dunia. Dan yang keempat, Indonesia dianggap negara yang paling siap, untuk mengikuti tata peradaban modern. Itu dengan demokrasi yang dianggap paling matang, meskipun kita lihat dan merasakan masih begitu banyak masalah, tetapi tetap dianggap yang paling maju, karena memang masa depan peradaban modern ya peradaban syuro baynahum, bukan hanya ditangan segelintir penguasan saja. Itulah tatanan demokrasi.

Tetapi lima keunggulan tadi semua bermasalah. Wilayah yang luas terus diguncang dengan disintegrasi. Teritorial baru belakangan agak tenang, seperti Aceh dan Papua, tetapi punya potensi api dalam sekam terutama bagi Papua. Letak yang sangat strategis juga belum punya makna, karena hanya menjaga selat Malaka saja itu dibutuhkan 30 kapal Pregag, Indonesia hanya punya tiga buah kapal. Itu pun sudah tua. Selebihnya punya Singapura, Malaysia dan Thailand. Sehingga meekalah yang menikmati keunggulan. Kita hanya bisa menikmati separuh sebelah Barat. Kita kehilangan keunggulan separuhnya.

Kekayaan yang luar biasa melimpah, juga ternyata bermasalah serius karena korupsi yang masyaa Allah parahnya. Korupsi di negeri ini bukan hanya dikorup dari tangan rakyat lalu disimpan di dalam negeri, tetapi dikorup dan disimpan di luar negeri. Sehinngga dosanya dosa berlipat, yang pertama dosa korupsi, yang kedua dosa menaruh kekayaan rakyat di tangan asing.

Kemudian kekuatan Umat Islam Indonesia yang merupakan yang terbesar di dunia juga bermasalah. Ini baik secara kuantitas, kemanusiaannya maupun visinya ideologinya juga sedang bermasalah. Demokrasi juga dalam ancaman yang mulai serius karena muncul dan menguatnya sikap antagonisme keyakinan, sikap keberagamaan yang sombong, sikap keberagamaan yang tidak rendah hati, sikap keberagamaan yang lebih suka menuding orang lain. Berbeda sedikit, lemparkan ke neraka. Ini juga ancaman keunggulan Islam di Indonesia saat ini.

Bagi umat Islam, tentu saja ini merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Karena Indonesia bukan hanya negara yang penduduknya Islam, karena sekali lagi negara lainpun memandang dan mendefinisikan Indonesia seperti itu. Islam yang berkembang asal mulanya di Indonesia adalah yang semula saya katakan adalah yang rendah hati, yang mampu melihat ada orang lain juga, meskipun agama berbeda keyakinan berbeda, kita tidak berhak menghabisi mereka. Orang yang paling kafir pun boleh hidup di bumi ini, barangkali karena kita sejak kecil diajari makna Ar-Rohman dan Ar-Rohim. Itu ketika kita ngaji pada Kiai kita di kampung, memberi makna Ar-Rohmaan itukan yang Maha Welas Asih Dunia dan Akhirat, kepada siapapun, orang kafir dan mukmin. Dalam hal ini, orang kafir berhak menghirup udara Allah, berhak menginjak bumi Allah, juga berhak meneguk airnya Allah SWT. Bahwa nanti karena keimanannya, kekafirannya, itu akan diperlakukan berbeda, itu urusan nanti di akhirat. Saya kira makna yang tidak kita sadari sejak kecil itu sesungguhhnya bermakna cukup dalam. Karena bermakna bahwa kita tidak boleh mendiskriminasikan orang lain hanya karena perbedaaan agama, apalagi hanya beda sub keyakinan agama.

Tetapi paham yang damai dalam beragama kini dalam ancaman. Karena tumbuhnya fundamentalisme, ekstrimisme dan radikalisme. Umat beragama lalu penuh dengan klaim kebenaran untuk dirinya sendiri sekaligus diikuti dengan tudingan kepada pihak lain sebagai orang yang tidak berhak hidup di bumi Allah ini. Kalau ini terus berkembang, maka, bisa dipastikan Bhinneka Tunggal Ika, baik dari sudut agama, keyakinan, tradisi, suku, itu juga akan pecah berkeping-keping, dan ketika Indonesia pecah, habislah harapan dunia Islam, untuk adanya negara yang kuat dan berwibawa di mata Internasional. Karena negara Islam yang lain di luar Indonesia adalah negara-negara yang belum bisa menjadi negara super power. Mungkin secara keseluruhan Arab bisa, tetapi Arab bisa diyakini sampai kapanpun tidak akan pernah bersatu. Ini sekali lagi Indonesia, kita semua memegang harapan masa depan kedamaian dunia.

Jadi bukan hanya kepentingan umat Islam Indonesia kokoh, tetapi juga kepentingan dunia Islam secara keseluruhan sangat membutuhkan Indonesia yang kokok dan maju, dan itu ada di pundak umat Islam, dan kalau kita runut, pundak umat Islam yang memikul tanggung jawab itu adalah pundak umat Islam yang moderat. Mudah-mudahan NU masih memikul tanggung jawab ini.

Memang ada masalah di dalam moderasi, biasanya moderat itu seolah-olah ada penyakit bawaan, untuk tidak militan. Moderat tetapi militan itu kayaknya aneh? Kayaknya aneh, karena dua hal yang tidak pernah atau sulit ketemu. Mungkin karena militan cenderung kita artikan sebagai bertindak secara fisik dan keras. Padahal militansi itu tidak sesederhana itu, militansi adalah istiqomah, dan percaya diri terhadap apa yang kita yakini, hanya minus menuding orang lain saja. Yang perlu dicatat adalah, kadang-kadang sifat moderasi seperti juga seringkali melakukan kekerasan, tapi kekerasan by omission di dalam istilah sekarang ini. Yaitu kekerasan karena membiarkan pelaku-pelaku kekerasan memainkan kekerasannya.

Dari Ikatan Tradisi Menuju Kebangkitan Organisasi

Saya kira langkah yang dibutuhkan dan sangat sederhana untuk kaum moderat, adalah kesediaan atau dalam istilah yang lebih keras militansi untuk mengorganisir diri. Dan mengorganisir diri ini sesuatu kebutuhan mutlak yang secara normatif keagamaan-pun sepertinya digarisbawahi. Kita melihat dunia Barat, kenapa kokoh? Karena civil societynya di sana kokoh, dan negaranya juga kokoh, dan mereka secara individu negara masih terus membina kebersamaan dengan negara lain. Kurang apa, Inggris, Prancis, German, tetapi mereka butuh kebersamaan lebih luas lagi, membangun Uni Eropa, membangun NATO, AS juga kurang apa, tidak kekurangan apa pun, tapi dia butuh membangun kekuatan dengan aliansi-aliansi kekuatan lain. Kesadaran inilah yang kemudian disebut kesadaran berjamaah. Di dalam hadits Rasulullah SAW dikatakan, alaikum bil jamaah, itu sesungguhnya bukan hanya anjuran berjamaah sholat. Tetapi berjamaah dalam seluruh aspek kehidupan. Karena sesungguhnya sholat berjamaah pun maknanya adalah sholat yang terorganisir. Kalau kita berjamaah hanya di dalam sholat, maka kita akan lemah di luar masjid, bahkan diluar saat-saat kita di luar menjalankan ibadah saja.

Kita lihat misalnya dunia Kristiani, yang sekarang mungkin secara total sekitar 3 miliyar, umat Islam di dunia sekitar 1,3 milyar, Katholik saja hampir sama dengan jumlah umat muslim dunia 1, 3 M, tapi di Kristen itu, di kalangan agama Nashroni, tidak ada seorang Nashroni yang tidak menjadi bagian dari organisasi keagamaannya. Jadi tidak ada di orang Kristen yang dibilang, “kamu Kristen apa?”, “saya Kristen saja” itu tidak ada. Semua Kristen pasti punya afiliasi, saya Kristen Katholik, saya Kristen Protestan, saya Methodist, saya Baptis, saya Mormon, dst, jadi tidak ada yang ngambanng. Sementara umat Islam justru sebaliknya, banyak yang merasa bahwa, msalnya anda Islam organisasinya apa? Jawabnya, tidak, saya Islam saja. Ini salah kaprah yang serius sesungguhnya. Karena ketika orang mengatakan bahwa saya Islam saja, berarti ia tidak punya rumah kebersamaan. Kalau dalam bahasa hadits, ini diumpamakan kambing yang dilepas sendirian dan gampang diterkam oleh Srigala.

Karena berjama’ah, umat Kristiani menjadi kokoh. Ketika mereka tergabung dalam wah-wadahnya yang terkait dengan agama dan tempat ibadahnya, maka mereka menyebut organisasi itu selalau gereja, gereja Katholik, gereja Protestan, Methodist, Baptis, Mormon, segala macem yang terkait dengan gereja.

Mininum ada tiga hal kenapa umat Kristiani harus tergabung dalam wadah keagamaan tertentu. Pertama ketika lahir, begitu di baptis, dia dibaptis di mana, apakah di Katholik, apakah di Protestan, meski datang Kiai organisasi keagamaan. Yang kedua, ketika orang kristen menikah, jika ia tidak tercatat di gereja manapun, tidak akan ada pendeta yang mau menikahkan. Lebih-lebih ketika dia mati, kalau tidak terdaftar namanya di gereja manapun, tidak akan ada ornag yang peduli. Dan ini bagi mereka menjadi sangat penting mengabdikan diri kepada organisasi keagamaan. Karena rata-rata orang Kristen hidup di kota yang muansa individualistiknya kuat.

Kalau kita lihat di kompleks-kompleks kota, tampaknya di kompleks saya misalnya hanya ada dua orang Kristen, tetapi begitu dia meninggal, puluhan bahkan ratusan orang datang. Ini dari mana? Karena ukhuwah jamaahnya kuat sekali. Dan itulah yang menyebabkan mereka dapat menikmati fasilitas dari Allah. Yaitu fasilitas keunggulan dan kemenangan. Kam min fiatin qalilatin gholabat fiatan kashiratanh biidznillah (hadits), biidznillah. Biidnillah itu makna sebenarnya berjamaah, karena mengorganisir diri sesunggihnya maka kelompok kecil bisa mengalahkan kelompok besar, karena bil jamaah. Di dalam hadits lain dikatakan, Yadullah fauqal jama’ah, , artinya kekuatan Allah yang tentu luar biasa itu hanya dinikmati oleh mereka yang mampu mengorganisir diri.

Coba kita lihat misalnya di Indonesia, saudara kita dari kalangan Nasrani itu hanya sekitar 7%, tapi apa dari mereka yang tidak bisa mereka perbuat, dengan kualitas tinggi, apakah bidang pendidikannya, apakah bidang sosialnya, atau bidang ekonominya, mereka sungguh unggul, sekolah terbaik mereka punya, rumah sakit terbaik mereka punya, padahal mereka hanya 7%. Karena mereka bil jama’ah, mengorganisir diri dengan sungguh baik. Saudara kita Kristen di Irian Jaya, yang tentu mulanya hanya 10 orang, 20 orang, paling banyak ratusan, kenapa sejak awal sudah punya helikopter? Karena Kristen yang ada di Irian itu hanya bagian kecil saja Kristen yang ada di Australia, Eropa, di Amerika, dan tergabung secara sistematis, melalui organisasi gereja. Jadi tidak ada yang mustahil karena bil jamaah.

Sementara itu berjamaah umat Islam dalam berjama’ah masih terbatas pada sholat berjamaah di masjid. Ini harus di reaktualisasi, dibawa keluar pintu masjid, jamaah itu dalam arti mengorganisir diri, berjamaah itu berorganisasi. Terserah memilih organisasi apa, itu pilihan yang tidak dapat dipaksakan, tetapi jangan nyempal sendirian. Karena kalau ada batu sendirian di jalan, kalau kecil dilempar, kalau besar di pecahkan, karena mengganggu. Tetapi kalau dia bergabung dengan yang lain, maka batu yang kecil bisa menjadi batu yang banyak bermanfaat. Dalam kaitan ini, kebiasaan salah kaprah umat Islam, tidak mau mengorganisir diri, ini sumber kelemahan yang sangat serius. Dan inilah yang menjadi sebab kenapa umat Islam nasional secara global tidak kompetitif.

Dan kalau kita lihat dari jumlah umat Islam hampir 1, 3 M, itu yang relatif sudah terorganisir dengan baik (well organized) itu baru tiga kelompok, yaitu Ahmadiyah, Syiah dan fundamentalis (salafi atau turunannya wahabi mungkin). Sementara hamparan dari 2/3 umat Islam yang ahlussunnah wal jamaah, atau sunni ini yang paling tidak terorganisir. Mereka sendiri-sendiri, satu-satunya kerangka organisasi sudah ada, itu di Indonesia NU. Itupun kita lihat betapa longgarnya organisasi ini. Dan belum bisa disebut sebagai organisasi. Baru bisa disebut sebagai kerumunan. Kerumunan yang dipersatukan dengan tradisi yang kita warisi secara alami begitu saja.
Saya sering mengumpamakan NU itu ibarat mesjid besar, di dalamnya ada puluhan juta orang. Tetapi ketika Imam mulai takbir di mihrab, yang berbaris lurus dan rapih di belakangnya itu hanya marbot-marbotnya saja. Itu pun tidak semuanya, makmum yang lain itu, semua tadinya sama, sama-sama qunut, tapi sholatnya sendiri-sendiri. Atau bermakmum, berjamaah dengan imam-imam lokal di pojok-pojok masjid . Jadi tidak ada yang namanya kesatuan fikrah (pemikiran) dan harakah (gerakan). Meski jika kita telusuri kenapa bisa begitu? Ini saja sudah dikatakan untung. Karena di Indonesia sudah ada kerangka wadah kebersamaan untuk kelomp ahlu sunnah wal jamaah ini .namanya NU. Tetapi NU sendiri masih jauh dari memenuhi syarat.

Dari Egoisme Menuju Kebersamaan

Kenapa lemah pada kebersamaannya? Karena kelemahan ini bersumber pada kekuatannya juga. Kekuatan NU secara kultural karena ada kekuatan-kekuatan Kiai yang berpengaruh. Itu tadi saya sebut sebagai ada imam-imam lokal, yang menjalankan jamaah di pojok-pojok sendiri. Ada Kiai-kiai lokal yang punya pengaruh, ini kekuatan NU, tetapi sekaligus menjadi hambatan menguatnya NU. Karena tokoh-tokoh ini yang skornya kalau di bobot itu bisa di atas 10, apalagi yang khos bisa diatas 15-20. Tetapi yang bobotnya 12,15, 20, ini tidak pernah mau dikalikan dengan yang lain.Jadi sampai kiamat, bobotnya hanya 20 saja. Sementara di kelompok lain, orangnya hanya 7 bobotnya, tidak ada yang khos,, biasa-biasa saja. Tetapi yang bobtnya rndah itu mau dikalikan mau dijumlahkan 7 kali 1000 jadi 7000. Tapi di kalngan kita bobotnya 20 bahkan mungkin 50, tapi inginnya sendiri saja. Jadi sampai kiamat tetap saja hanya 50 itu kekuatannya.

Secara psikologis masalah organisasi NU adalah masalah ananiyah (egoisme). Padahal syarat untuk berorganisasi adalah kesediaan untuk meleburkan ana menjadi nahnu. Kalau ana-nya masih tetap bertengger apalagi hamzah-nya masih besar-besar, maka menjadikan ana menjadi nahnu sulitnya luar biasa. Jadi berorganisasi adalah kesediaan untuk meleburkan ananiyah ke dalam nahnuwiyah. Kalau ditelusuri dalam tasawuf ini masalah keikhlasan. Tetapi agak kurang pantas bicara keikhlasan di hadapan kiai-kiai.

Jadi sekarang kalau secara alami ana besar mengalami semakin sedikit jumlahnya. Dan kita tidak bisa menghentikan berkurangnya ana-ana besar di NU, kita tidak bisa merekayasa. Ini alami. Di satu pihak kita mungkin menangisi berkurang atau mungkin habisnya kiai-kiai besar yang berpengaruh. Tetapi di sisi lain tidak ada irodah Allah yang tidak membawa hikmah. Ini adalah kesempatan emas bagi NU untuk betul-betul membangun organisasi. Karena ke nahnuwiyah (kebersamaan) akan lebih gampang dimunculkan dari ana-ana yang kecil, ketimbang ana-ana yang besar. Ini sama halnya dengan kita membangun cor, mesti butuh batu yang dipecah. Batu kecil tidak perlu dipecah, untuk menjadi bagian dari bangunan. Sedangkan batu besar, harus dipecah terlebih dahulu.

Jadi saudara sekalian, saya kira sekali lagi bahwa moderasi yang dipahami secara pasif, itu dapat menghambat adanya kekuatan umat secara keseluruhan dan ini menjadi kunci kekalahan umat Islam secara global. Jadi dengan demikian maka tantangan terbesar kita adalah bagaimana membangun kebersamaan yang terorganisir untuk hamparan umat Islam yang memiliki kesadaran dan naluri yang rendah hati. Ini mutlak harus dibangun dengan cepat. Mungkin ini memerlukan revolusi juga, khususnya dengan yang berkaitan dengan mental. Mengenai bagaimana meleburkan hamzah ana kedalam nun–nya nahnu. Bagaimana meleburkan egoisme dan menjalin kebersamaan.

Dari Ritualitas Simbolik Menuju Keberagamaan Subtantif

Hal lain yang ingin saya tekankan bahwa keberagamaan yang moderat itu membutuhkan titik tekan yang lebih berat, lebih besar, bukan hanya kepada aturan-aturan formal fiqhiyaah, tapi justru menyentuh pada piwulang-piwulang yang lebih substantif yang sering digumuli oleh tasawuf. Lemahnya tasawuf ini yang ..agama dengan keras kepala, beragama dengan sombong adalah beragama yang mengingkari Tashawuf. Tetapi mohon bahwa Tashawuf di sini jangan berhenti pada ritualisme yang keras, tetapi pada akhlaq, mentalitas, sikap bathin. Atau ahwalul qalb dalam istilah Imam Ghozali. Dalam istilah Ta’lim Muta’alim disebtkan sebagai rendah hati, percaya diri, menjaga kebersamaan, penuh semangat berkorban.Itu semua adalah yang harus dibangun. Dan sekali lagi inilah tantangan dakwah kita yang sesungguhnya. Jarang saya dengar dakwah berbicara mengenai mentalitas yang unggul, tetapi lebih menekankan aspek-aspek formal keagamaan, dan mengedepankan garis-garis pemisah antara kelompok yang satu dengan yang lain. Mubaligh yang ada nampaknya lebih ayak muballigh-mubaligh kepala suku, yang membangun kesetiaaan sempit (primordialisme), bukan yang menyebarkan kedamian membantu dan kebersamaan.

Kiranya perlu ada sublimasi dalam kehidupan beragama. Dan untuk itu, dispilin yang harus dimasuki adalah disiplin ilmu Tashawuf yang lebih menekankan pembinaan akhlaq. Ini bukan sesuatu yang baru, karena sesungguhnya dikatakan dalam hadits Nabi bahwa al-dien husnul khuluq. Beragama itu adalah berbudi pekerti yang baik, berprilaku yang baik. Dikatakan juga dalam kesempatan lain bahwa, “Yang paling sempurna imannya diantara kalian adalah yang paling baik budinya, bukan paling kasar ucapannya”. Saya kira ini yang seharusnya dikumandangkan lebih keras oleh semua pendakwah dan tokoh-tokoh agama.

Dalam agama sendiri selalu saja ada empat unsur utama. Pertama adalah yang berkaitan dengan keyakinan. Ini sifatnya given dari atas. Orang menyakini begini dan meyakini begitu ialah intervensi dari langit. Dalam bahasa Islam disebut hidayah, yang merupakan hak preogratif Allah SWT. Rasul pun tidak bisa memberi hidayah. Diakatakan dalam hadits, Innaka la tahdi man ahbabta, artinya, “Sungguh kamu (Muhammad) tidak akan bisa menunjukkan orang yang kau cintai sekalipun”.

Kedua, berhubungan dengan ritualitas, peribadatan, ibadah mahdlah. Ritualitas ini simbolisasi dari keyakinan tadi, oleh karena itu ritualitas bukan substantif, tapi perlu sebagai simbol, meskipun perlu dia simbol, oleh karena itu kita tidak boleh fanatik di dalam masalah ini. Saya pikir-pikir, kenapa masalah sholat tidak ada hadits mutawatirnya, mestinya kalau Nabi serius betul untuk mengajari sholat dari A sampai Z supaya jangan ada yang keliru, pastinya beliau pernah membuka kursus, bagaimana sholat yang benar sebenar-benarnya. Setelah kursus, seminggu misalnya lalu praktek, dan sahabat sholat bareng lalu berkeliling mengawasi, dari satu gerak ke gerak yang lain sambil membawa penjalin. Kalau ada yang keliru,langsung peringatkan saja. Itu tidak ada, tidak dilakukan oleh Nabi. Beliau tidak pernah membuka kursus, ketika ditanya bagaimana cara sholat, Nabi bilang, Shaluu kama raitumuni ushalli, maksudnya “ikuti saja deh. saya.” Ritual, dalam hal ini shalat memang penting, tetapi sekali lagi itu simbol.

Oleh karena itu ada peringatan, fawaylullilmusholin”, celakalah bagi orang-orang yang shalat. Shalat yang terjebak sekedar menjalankan ritulitas saja. Jangan sampai kita tenggelam di dalam simbolisme, seolah-olah itu segala-galanya. Bahkan di dalam hadist shahih disebutkan bahwa kanjeng Nabi ditanya sewaktu shalat. Beliau menjawab juga, jadi kalau saja tidak boleh ada sedikitpun kesalahan, tata cara sholat yang nyebal, sekali lagi pasti Nabi membuka kursus sholat minimal lima hari berturut-turut, dan diawasi ketika praktek, dan dengan demikian maka pasti diriwayatkan periwayatan .mutawatirnya. Tetapi tidak ada hadits mutawatir satu pun yang meriwayatkan itu.

Begitu juga soal Haji, dikatakan bahwa Nabi bersabda: “Khudz ‘annnĂ® manâsikakum....”.., artinya bagaimana kalian berhaji, tiru saja saya, kata Rasul. Maka ketika ada sahabat bertanya, “Nabi saya bercukur ketika berkorban? Nabi menjawab “if’al wala harst:”, lakukan saja tidak masalah. Lalu ada sahabat Nabi lain yang bertanya, “Ya Nabi saya telah berkorban sebelum saya melempar jumrah, ini bagaimana? Nab menjawab sama “if’al wala harts”. Jadi sebenarnya ritualitas atau peribadatan mahdhah seharusnya bukanlah hal yang harus membuat orang spaneng dan fokus di situ, apalagi menuding oarng lain neraka karena perbedaan tata cara seperti itu.

Yang ketiga adalah code. Code ini adalah etika. Sekarang ini justru seolah yang paling penting adalah aturan-aturan hukum, bagaimana menghukum dan memotong tangan, memenjarakan, bukan itu. Code, itu syariah. Syariat itu jalan kebenaran, jalan keluhuran, yang substansinya adalah ahlak. Yaitu bagaimana membikin orang lain merasa damai dan terrtolong oleh kehadiran kita. Tetapi sekarang kita lebih memahami syariat sebagai aturan untuk menghukumi orang lain. Sesungguhnya itu bagian yang paling permukaan saja.

Dan yang terakhir adalah civilization, membangun peradaban. Peradaban ini adalah reaksi kreatif manusia terhadap lingkungan sosialnya, maka karya peradaban adalah organisasi, aturan-aturan main, struktur. Itulah peradaban. Maka semakin canggih sebuah organisasi, maka semakin meunujukkan masyarakat yang semakin beradab. Semakin terbelakang sebuah komunitas, organisasinyapun semakin lembek. Itu yang pertama
Yang keempat, unsur peradaban adalah reaksi kreatif terhadap alam dan lingkungan, maka lahirlah sebuah peradaban teknologi berupa bangunan, jembatan, yang meemenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik dan memenuhi manusia hidup. Sesungguhnya Islam harus mengcover empat unsurdi tasa, dan peradaban itulah sungguhnya misi kekhilafahan manusia, jadi kakhilafahan manusia itu adalah sesungguhnya misi membangun peradaban, melanjutkan ciptaan Allah, jangan sejak dulu begitu saja, sampai kiamat masih seperti itu juga.

Saat ini saat yang baik untuk lahir kembali. Ibarat bangunan, umat Islam dan masyarakat Islam Indoneisa khususnya adalah bangunan runtuh. Membangun kembali bangunan yang runtuh, itu bisa menghadapi dua kemungkinan yang berbeda. Apakah keterpurukan menjadi kematian dan dikuburkan. Ataukah keterpurukan itu akan menjadi titik untuk kebangkitan. Tentu pada akhirnya, terserah kita semua.Wallahu a’lam bi al-shawab

Sunday, December 27, 2009

Ceramah Sepuluh Syuro KH. Said Aqiel Siradj

Tulisan di bawah ini adalah rekaman ceramah KH. Said Aqiel Siradj pada acara peringatan 10 Muaharam di keraton kasepuhan Cirebon, 07/01/2009, yang dibayang-bayangi tindak intoleransi dan diskriminasi dari kelompok keagamaan garis keras. Rekaman ini ditranskrip, dituliskan dan diedit oleh Ali Mursyid

ISLAM BUKAN HANYA AQIDAH DAN SYARIAH
TETAPI PERADABAN DAN ILMU PENGETAHUAN*

Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ‘ala maulana wa syafiina wa habibina rasulillah, Muhammad saw. Wa man tabai’a sunnatahu wa jama’ana ila yaumina hadza, ila yaumil ba’tsi wa kafa.

Ashabal Fadhilah Sadatana Ahlal Baitil Mushtafa, Habibabana wa hamzakumullah, Wa ‘ala ru’usihim Assayiid Hasan Alai al-Idrus. Hadratsus Syaikh KH. Mahfudzh, KH. Hassan Kriyani, Rekan-Rekan Pengurus NU, Wawan Arwani, rekan-rekan pengurus PMII, pimpinan Forum Umat Islam se wilayah III, Bapak Syaihu, Sadati wa Sayidati ahlil kubur

Alhamdulillah pada malam hari ini, saya juga merasa berbahagia bisa menghadiri acara yang sangat mulia dzikra syahadati sebeti rasulillah saw, sayidina wa imamina Abi Abdillah al-Hussein as. Mudah-mudahan kita semua medapatkan berkahnya, syafaatnya, sehingga kita menjadi umat yang selamat bahagia dunia akhirat amin ya rabbal amin.

Soal ada halangan, tempatnya pindah, saya harap kepada seluruh panitia, jangan marah. Maafkan mereka yang memindahkan tempat acara ini. Maafkan yah, jangan marah, jangan dendam. Allahummahdihim fainnahum la ya’lamun. Alhamdulillahi al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa.

Hadirin yang saya hormati, setelah al-khalifah al-rasyid yang keempat, al-Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib dibantai, dibunuh pagi Jum’at 17 Ramadhan th. 40 H. oleh seorang yang bernama Abdurrahman ibn Muljam. Pembunuh Sayyidina Ali ini orangnya qiyamul lail wa shiyamun nahar, hafidhul Qur’an. Orangnya tiap malam tahajud, sampai jidatnya hitam, tiap siang puasa, dan hafal al-Qur’an. Mengapa dia membunuh Sayyidina Ali? Karena menurutnya Sayyidina Ali itu kafir? Apa Kafir? Keluar dari Islam. Kenapa Ali kafir? Karena menurutnya, Ali menerima hasil rapat manusia. Hukum atau keputusan rapat manusia. Padahal, la hukma ilallah (tidak ada hukum selain hukum Allah), wa man lam yahkum bima anzalallah faulaika humul kafirun (maka barang siapa menggunakan selain hukum Allah, maka kafir). Ali tidak menggunakan hukum Allah, tetapi menggunakan hukum hasil kesepakatan rapat di Dummatul Jandal. Kalau kafir, maka harus dibunuh. Eh anak kemarin sore, mentang-mentang jidatnya hitam dan jenggotnya panjang, mengkafirkan man aslama min al-shibyan, shihru rasulillah, fatihu khaibar, min al-sabiqin al-mubasyirun bi al-jannah, bab al-ilm.

Anak kemarin sore berani mengkafirkan remaja yang pertama kali masuk Islam, yang pertama kali shalat jamaah di masjidil haram. Waktu itu ditertawakan oleh Abu Jahal dan teman-temannya. Waktu itu yang pertama kali shalat jama’ah di masjidil haram tiga orang. Saat itu imamnya Rasulillah, makmumnya sayyidah khadijah al-kubra dan Sayyidina Ali. Tiga orang itulah yang pertama kali shalat terang-terangan di dunia ini. Dikafirkan oleh anak kemarin sore, maklum pernah ikut pesantren kilat dua minggu.

Ali adalah shihru rasulillah, menantu rasul. Ia juga dijuluki bab al-ilmu, sahabat yang intelek dan cerdas. Ali juga adalah min al-sabiqin al-awwalin al-mubasyirun bi al-jannah, salah satu orang yang sudah dikasih tahu pasti masuk surga. Di samping sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Thaha, Zubair, Abdullah bin Auf, Abu Ubaidah, Amr bin Jarrah, sampai orang sepuluh yang dikasih tahu pasti masuk surga.

Sayyidina Ali juga dipercaya sebagai Fatihu Khaibar, yang memimpin perang mengalahkan benteng terakhirnya Yahudi di Khaibar. Dan Imam Ali juga selalu hadir dan ikut bersama rasul dalam peperangan perjuangan jihad fi sabililillah. Yang begini dikafirkan oleh anak kemarin sore, bernama Abdurrahman ibn Muljam.

Ini, penyakit seperti ini sudah mulai masuk ke Cirebon. ”Alah baca al-Qur’an juga plentang-plentong. Ngerti nggak itu asbab al-nuzul? Ngerti nggak itu tafsir? Negerti nggak itu mushtalah hadits? Shahih, hasan dan dha’if? Ngerti nggak itu qira’ah sab’ah? Apalagi qira’ah sab’ah, qira’ah yang biasa aja nggak bener kok! Ngerti nggak ushul fiqh? Ngerti nggak itu ilmu kalam? Tarikhu Tamaddun? Tarikhu Hadharah wa Tsaqafah? Ngerti nggak itu? Tahu-tahu mudah sekali mengkafirkan dan menyalah-nyalahkan orang. Alah, Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun, Alhamdulillah al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa, juhala. Alah. ”

Setelah Sayyidina Ali terbunuh di Kuffah, maka gubernur Syam, Muawiyah ibn Abi Sufyan ibn Harb ibn Umayyah ibn Abdi Syams ibn Hasyim merasa plong, tidak ada saingan. Tidak ada yang diperhitungkan lagi. Maka ia mendeklarasikan diri sebagai penguasa tunggal. Lalu setelah itu buru-buru ia mengangkat anaknya yang bernama Yazid, diangkat menjadi putra mahkota, yang akan mewariskan tahta, artinya kalau ia mati, langsung digantikan anaknya, yang bernama Yazid. Yazid sendiri adalah anak seorang ibu yang bernama Maesun, orang Badui pedalaman, yang tidak suka tinggal di istana, dan suka hidup di padang pasir dan suka tidur di kemah. Yazid sendiri tidak pernah belajar ngaji dan belajar agama, ia hanya belajar berburu, naik kuda, memanah dan memainkan senjata.

Setelah Muawiyah meninggal, Yazid langsung menjadi penggantinya, penguasa umat Islam. Waktu itu diutus beberapa utusan berangkat dari Damaskus ke seluruh provinsi untuk mengambil sumpah setia dari tokoh-tokoh yang ada kepada Yazid. Utusan-utasan itu berangkat ke Mesir, ke Basrah, ke Kuffah dan juga diantaranya ke Madinah. Sampai di Madinah, para sahabat besar, seperti Abdullah ibn Umar dan lain-lainnya mau berbai’at karena dipaksa dan dibawah intimidasi. Meski yang lain bai’at, Imamuna Sayidina Husein meminta waktu untuk berfikir. ”Nanti saya fikir dulu malam ini”, katanya.

Lalu Sayyidina Husein pulang ke rumah. Di dalam kegelapan malam, beliau beserta seluruh keluarganya meninggalkan Madinah al-Munawarah berjalan kaki menuju Makkah al-Mukarramah. Masuk kota Makkah, ketika orang datang haji, orang-orang datang ke Minna, beliau beserta keluarganya keluar dari Makkah. Beliau saat itu sudah sering haji.

Ketika Sayyidina Husein keluar dari Makkah, di tengah jalan ia dinasihati oleh seorang penasihat, bahwa kalau mau melakukan perjuangan jangan pergi ke Kuffah. Karena orang Irak mudah berhianat. Sebaiknya kamu ke Yaman, karena orang Yaman jujur dan mudah tidak hianat.

Ditengah jalan lagi, Sayyidina Husein berjumpa seorang penyair bernama Farazdaq. Farazdaq bertanya mau kemana wahai yang mulia? Beliau menjawab, saya mau ke Kuffah, saya menerima lebih dari seratus surat, agar saya hijrah dan membangun peradaban di sana. Farazdaq berkata; ”Jangan percaya orang Kuffah, mulutnya bersama kita tetapi hatinya beserta Muawiyah”. Sayyidina Husein menjawab, saya akan tetap menuju Kuffah. Farrazdaq berkata lagi: ”Kalau begitu, perempuan dan anak-anak jangan kamu bawa”. Tetapi mereka tetap diajak bersama. Rupanya Allah sudah menentukan mati syahidnya Husein, sehingga Sayidina Husein tidak menerima masukan orang lain. Akhirnya beliau tetap berjalan bersama keluarga dan pengikutnya. Ada bukunya berjudul Ashabu Husein, sedikit sekali, yang bersenjata hanya berjumlah 54 orang.

Setelah Sayyidina Husein meninggalkan Farrazdaq, lalu ada orang yang bertanya. ”Wahai Farrazdaq, tadi kamu berbicara sama siapa, kok kelihatanya asyik banget”, tanya orang tersebut. Farrazdaqpun menjawab dengan lantunan bait-bait syair, yang artinya:

Tadi yang saya ajak ngomong itu, kamu ndak tahu? Kamu ndak tahu?
Dia sudah dikenal seluruh umat manusia
Baik penduduk tanah halal dan tanah haram
Ka’bah pun sudah kenal dia
Siapa dia itu?
Dia adalah anak orang yang paling mulia (Sayyidina Ali)
Dia adalah orang yang bertakwa, bersih dan suci
Kalau kamu ndak tahu? Dia putra Fatimah
Ketika orang Quraish melihatnya
Orang Quraish akan mengatakan, bahwa orang inilah
ujung orang yang mendapat kemuliaan
Dengan kakeknyalah para Rasul dan Nabi di akhiri
Karena kakeknya Nabi yang terakhir

Sayidina Husein beserta rombongan terus melanjutkan perjalanan. Dan sesampainya di padang Karbala dihadanglah oleh 400 pasukan penunggang kuda yang diperintah oleh Abdullah ibn Ziyad, yang dipimpin Umar ibn Sa’ad ibn Abd al-Waqas.

Terjadi peperangan yang tidak seimbang, termasuk hampir tentara Husein yang hanya berjumlah 54 orang. Semua yang ikut Sayidina Husein mati syahid, kecuali Imam Ali Zainal Abidin, tidak meninggal karena tidak keluar kemah karena sedang sakit demam. Dan juga istri Sayidina Husein, Fatimah, adiknya juga Sayidah Zainab dan kakaknya lagi. Kira-kira ada 4 orang yang selamat.

Sebenarnya mudah sekali untuk membunuh dan membantai Sayidina Husein, gampang. Tetapi tiap orang yang mendekat dan hendak membunuh beliau, maka akan berusaha menjauh, dan mengatakan kalau bisa jangan saya yang membunuh, tetapi yang lain saja. Kalau datang waktu adzan, waktu shalat, semuanya berhenti, lalu tidak ada yang berani menjadi Imam Shalat. Semua sepakat Sayidina Husein yang mengimami shalat. Jadi yang memusuhi juga makmum ke Sayidina Husein. Habis shalat lalu bertempur lagi.

Sampai akhirnya seorang yang menjadi jausyan (tentara, algojo), dengan berani menarik Sayidina Husein dari kudanya. Begitu jatuh, dinaikkin, diinjak, ditebas lehernya, dipisahkan kepala dan badannya. Badanya diinjak-injak oleh kuda sampai rata dan menyatu dengan tanah Karbala. Tinggallah kepalanya. Kepalanya ditancapkan di tombak, dibawa ke Kuffah, diarak keliling kota Kuffah, bersama 4 keluarganya tadi. Dari Kuffah lalu dibawa ke Syiria, Damaskus. Di kereta itu isinya, istrinya, adiknya, anaknya, dan saudaranya. Luar biasa sekali (kejamnya red.).

Sampai di Damaskus, kepala itu dipasang di depan istana Yazid. Dan setiap orang yang lewat diperintahkan oleh tentara untuk memaki-maki dan menjelek-jelekannya. Setelah kepala itu cukup lama terpajang di depan istana Yazid, Sayidah Zaynab memberanikan diri agar dizinkan membawa kepala itu pulang ke Madinah. Yazid mengizinkan. Tetapi di tengah jalan dicegat oleh tentara Yazid agar kepala tersebut tidak sampai ke Madinah. Karena takut dapat membangkitkan dan membakar emosi penduduk Madinah. Makanya kemudian kepala tersebut dibelokkan ke Mesir. Makanya makam Sayidina Husein ada di Kairo di Mesir. Ali Zainal Abidin, putra beliau, dipulangkan ke Madinah.

Saudara-saudara dan para hadirin sekalian, kenapa saya cerita demikian? Ini karena ideologi apa pun, agama apa pun, keyakinan apa pun tidak bisa besar tanpa ada pengorbanan, tanpa ada syahadah (kesyahidan). Ini terlepas dari agama apa saja. Kristen bisa maju karena banyak pengirbanan. Budha dan Hindu masih tetap ada karena banyak pengorbanan. Demikian juga Islam, berkembang sampai sekarang karena pengorbanan syuhada, banyak nyawa yang mengalir, demi mempertahankan agama Islam.

Pertama kali yang syahid dalam agama Islam adalah perempuan, namanya Sumayah. Istrinya Yasir, ibunya Amar bin Yasir, yang dibunuh oleh Abu Jahal. Lalu seminggu kemudian, suaminya dibunuh, Yasir. Seminggu kemudian, Amar akan dibunuh. Tetapi selamat, karena dalam keadaan terpaksa ia pura-pura murtad. Begitu pura-pura murtad, langsung menghadap Rasulullah saw, dan menyatakan bahwa dalam keadaan terpaksa, diancam dibunuh, ia pura-pura murtad, pura-pura mecaci maki Rasul. Rasul menanyakan, bagaimana isi hati Amar? Amar menjawab, hatinya tetap beriman. Rasul pun memaafkannya, karena memang dalam keadaan terpaksa. Jadi yang pertama syahid dalam Islam itu perempuan. Kalau laki-laki itu biasanya omongnya saja yang besar. Kalau perempuan itu buktinya ada.

Selanjutnya banyak lagi darah pengorbanan para syuhada tercurah demi mempertahankan Islam. Syuhada Badar, syuhada Uhud. Sayidina Hamzah ibn Abbas, Sayidina Hmzah ibn Abdi Muthalib, Mus’ab ibn Umay, Sayidina Khalid ibn Walid, dan yang lainnya. Darah syuhada mengalir demi melanggengkan ajaran Islam.

Syahadah Sayidina Husein tudak akan percuma, tidak sia-sia. Islam bisa sampai di Indonesia itu antara lain, disebabkan oleh syahadah Sayidina Husein. Bagitu Sayidina Husein, sebagai ahlu bait yang dibenci penguasa. Sayidina Husein memiliki putra, Ali Zainal Abidin. Zainal Abidin punya putra Muhammad al-Baqir. Muhammad al-Baqir punya putra Ja’far al-Shadiq. Ja’far al-Shadiq punya putra Musa al-Kadzim, Ismail. Musa al-Kadzim punya putra Ali al-Uraifi, yang kuburannya sekarang kuburannya di Madinah digusur dan dijadikan jalan tol. Imam al-’Uraifi punya putra namanya, ’Isha. ’Isha punya putra Ahmad. Ahmad hijrah dari Madinah ke Yaman. Dari Yamanlah Ahmad al-Muhajir punya keturunan sampai ke Kamboja, sampai ke Cirebon, Gresik. Para wali songo di pulau Jawa ini adalah kuturunan dari al-’Uraifi. Seandainya ahlu bait itu hidupnya enak, tidak dikejar-kejar mungkin Islam akan lambat datang ke Indonesia.

Syahadah Sayidina Husein tidak sia-sia. Dengan syahadah Sayidina Husein mempercepat Islam tersebar ke Timur. Pada malam hari ini kita mengenang kembali, menghormati pengorbanan cucu Rasul saw. Kita ini bukan saudaranya, bukan cucunya, bukan besannya, tetapi menghormati saja kok males banget. Malah ada yang tidak percaya, ”haul itu apa?”, ”kirim doa itu apa?” ”ndak akan nyampe”, katanya. Coba kalau kita balik doanya, doakan bahwa: ”mudah-mudahan Bapak sampean masuk neraka”. Nah kalau didoakan seperti ini maka orang itu marah juga. Berarti percaya bahwa doa itu sampai dong.

Islam yang datang ke Jawa ini adalah Islam ahli sunnah wal jama’ah, Islam yang selalu menjunjung tinggi tawasuth, berfikir moderat. Tidak ekstrem. Islam yang dibawah para habaib, sayyid, dan saddah, yang berdakwah dengan cara-cara damai. Dulu tidak ada para habaib yang galak. Mereka berdakwah dengan cara dan sarana-sarana kebudayaan yang ramah. Para wali dan Sunan itu kan para habaib, tidak ada yang galak. Tidak tahu kalau sekarang, dan akhir-akhir ini, apa ada habib yang galak. Yang jelas dulu tidak ada para habaib kalau berdakwah pakai cara-cara mengobrak-abrik rumah orang. Saya tidak tahu, kalau sekarang, mungkin ada habib yang berdakwah secara keras?

Dakwah para dakwah habib itu dengan cara-cara ramah, dan memasukkan bahasa dan budaya ke sini. Banyak kata dalam bahasa Arab masuk ke bahasa Indonesia. Dulu para ulama memoles sedemikian rupa, melalui cara-cara budaya, bahasa, yang damai. Tidak ada paksaan dalam agama. Dan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam

Ada seorang namanya al-Hasyim dari Bani Salim al-Khazraj. Ia musyrik, punya dua anak beragama Kristen. Sewaktu Nabi masuk Madinah, ia masuk Islam. Ia pun memaksa dua anaknya agar masuk Islam. Lalu turunlah ayat al-Qur’an yang berbunyi: ”La ikraha fi al-din” (tidak ada paksaan dalam agama). Jadi asbab al-nuzul turunya ayat La ikraha fi al-din adalah karena kondisi berikut.

Oleh karena itu, mari kita yang ahli sunnah, dan para ahlu bait, dan para pecinta keluarga Nabi, kita tunjukkan bahwa kita berakhlak. Kita jauhi segala tindak kekerasan, kita jauhi cara-cara dakwah syiddah dan ikrah.

Rasulullah ketika Fathu Makkah, begitu masuk Makkah, lalu menyebarkan jargon bahwa hari ini adalah bukan hari pembalasan tetapi hari kembali membangun kasih sayang (yaumul marhamah). Dengan demikian sekonyong-konyong para musuh Quraisy Makkah datang ke Muhammad saw. Maka kemudian turunlah ayat yang menyeru agar Nabi pun memaafkan mereka dan meminta ampun mereka kepada Allah

Islam bukan hanya agama aqidah dan syariah. Tetapi Islam juga adalah agama Tamadun dan Tsaqafah, Islam adalah agama peradaban dan pengetahuan. Globalisasi yang di bawah islam dari timur ke Barat, adalah kemajuan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan. Bukan globalisasi fitnah dan fawahisy, yang seperti kita laksanakan sekarang ini

Oleh karen aitu, agama tidak akan maju, bila tidak dibarengi dengan peradaban. Agama tidak akan maju bila tidak dibarengi dan diwarnai dengan budaya. Karena agama itu suci dari langit, akan langgeng bila disosialisasikan, bila dibumikan secara manusiawi, dan bukan melulu didoktrinkan. Aqidah, Iman dan Shalat serta Puasa memang dari ajaran langit. Tetapi tidak akan langgeng bila tidak dibarengi dengan budaya. Kita harus mempertahankan nilai ketuhanan dengan aktifitas manusia di bumi. Menjadikan peradaban sebuah doktrin.

Dulu kan ada tradisi sesajen, para ulama dan kyai tidak langsung menyatakannya sebagai syirik. Tetapi menyatakanya bahwa kalau kamu punya uang yah sedekahnya atau sesajennya jangan cuma di empat pojok. Tetapi ayo menyembelih kambing saja. Setelah kambing disembelih, lalu orang deramwan itu tanya mau taruh dipojok mana daging kambing itu? Maka kyai akan menjawab jangan ditaruh tetapi mari undang para tetangga untuk makan-makan dan doa serta tahlil bersama. Nah dakwah semacam ini kan ramah. Tidak langsung mengatakan ini itu syirik dan bid’ah, nanti umat lari.

Jangan sekali-kali menuding ini itu syirik atau bid’ah. Mengerti tidak apa itu bid’ah itu?. Apa yang tidak dilakukan dan diajarkan Nabi itu bid’ah Kalau tidak ngerti, diantara contoh bid’ah adalah tulisan Arab yang ada titiknya itu bid’ah. Nah titik itu ditemukan oleh Abu Aswad al-Dualy pada th. 65 H. Sudah ada titiknya juga masih banyak yang belum bisa baca al-Qur’an, maka, Imam Khalil ibn Ahmad al-Farahidi, gurunya Imam Syibawaih, bikin syakal (harakah), fathah, kasrah dan dhammah.

Sudah ada titik dan syakal, nyatanya masih banyak orang yang tidak bisa baca al-Qur’an, maka Imam Abu Ubay Qasim ibn Salam w. 242 H menyusun ilmu Tajwid, agar benar dalam membaca al-Qur’an. Mau bener baca al-Qur’an pakai ilmu Tajwid. Ilmu Tajwid itu bid’ah, karena memang semua ilmu pengetahuan itu bid’ah. Karena memang Rasul tidak mengajarkannya.

Contoh lagi, ada seorang gubernur dari Asia Tengah, Amir al-Mahdi kirim surat pada Muhammad ibn Idris ibn Syafi’i (Imam Syafi’i). Surat itu isinya tanya, saya kalau baca al-Qur’an dan Hadits, itu isinya nampak bertentangan? Lalu untuk menjawab ini Imam Syafi’i menyusun kitab Ar-Risalah, yang berisi kaidah-kaidah Ushul Fiqh. Serta ada Ushul Fiqh baru kemudian ada Ilmu Fiqh. Lalu kemudian ada penjelasan dalam Ilmu Fiqh mengenai rukun shalat. Kalau mau shalatnya benar yah mengikuti Ilmu Fiqh, yang susunannya ulama.Kalau Cuma lihat al-Qur’an dan Hadits tidak akan ketemu

Contoh satu lagi, biar jelas saja. Contohnya ada orang pergi haji, masuk hotel ambil kamar yang bagus. Begitu tanggal 8 mau ke Arafah, ia mau cari tahu berapa jarak hotel ke Arafah, ke mana arahnya, naiknya apa? Dia lalu buka al-Qur’an dan Hadits, yah tidak akan ketemu. Nah sebaiknya bagaimana, yah ikut saja rombongan yang ke Arafah. Nah ikut saja itu kan bahasa Indonesia, bahasa Arabnya yah taqlid saja.

Jadi kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan baik tanpa ilmu Fiqh, yang bukan bikinan Rasul, bukan sahabat Abu Bakar, Utsman dan Ali. Sahabat Husein juga tidak bikin Ilmu Fiqh. Nah bila ada orang shalatnya bagus sekali, lalu kita tanya, Bapak kan shalatnya bagus sekali, dari mana belajarnya Pak? Lalu bila ia jawab, ia belajar dari al-Qur’an dan Hadits, itu bohong. Kalau mau jujur, ia sebenarnya belajar dari ayah atau gurunya, yang mentok-mentoknya merujuk pada kitab Safinah. Atau kalau Safinah terlalu besar, yah mentok merujuk pada Fashalatan, atau minimal buku Petunjuk Shalat Lengkap.

Yang namanya ibadah itu harus dengan ilmu. Sedangkan ilmu itu bukan karangan Rasul dan para sahabatnya. Ilmu Mushtalah Hadits itu disusun oleh Imam Syihabuddin Arrahumuruzi atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz, setelah mengingat banyakanya hadits dha’if dan palsu. Jadi Islam itu agama peradaban, akhlak dan pengetahuan. Bukan hanya doktrin yang sering ditampilkan sangar itu.

Karena itu mari mulai malam hari ini, tingkatkan ahlak kita, tingkatkan ilmu pengetahuan kita. Pahamilah Islan dengan baik dan benar. Kalau mau memahami al-Qur’an tidak bisa langsung, polosan. Harus mengerti asbab al-nuzul, ilmu tafsir, ilmu qira’ah, ilmu bahasa Arab, nahwu sharafnya. Kalau ingin memahami ilmu hadits maka harus memahami ilmu mushtalah al-hadits.

Pada kesempatan ini, mari kita rayakan jasa para habaib dalam menyebarkan agama Islam. Seandainya tidak ada habaib dan ahlu bait, mungkin kita akan jauh bisa meneladani akhlak Rasul saw. Imam Syafii pernah menyatakan, bahwa kalau ada orang yang mencintai Ahlu Bait, lalu dianggap Syiah, maka OK tidak apa-apa, silahkan saya dianggap Syiah.

Sesungguhnya, tragedi pembantaian di Karbala yang demikian bukan hanya tragedinya Syiah, tetapi tragedi kemanusiaan. Seharusnya ini bukan hanya milik Syiah tetapi yang lain juga. Wallahu Muwafiq Ila Aqwam al-Thariq, Wassalamu’alaikum wr. wb.

Tuesday, December 15, 2009

Teladan Imam Malik: Toleran Terhadap Perbedaan dan Kritis Pada Perbedaan

Oleh Ali Mursyid

“Manakala kamu menemukan pendapatku keliru, maka tinggalkan ia dan buanglah jauh-jauh. Dan manakala kamu menemukan pendapatku benar maka ikutilah apa yang aku ikuti. Jangan mengikuti aku.” (Imam Malik)

Pernyataan di atas dikemukakan oleh Imam Malik, ulama penggagas salah satu madzhab besar di kalangan Islam Sunni, madzhab Maliki. Beliau adalah guru Imam Syafi’i, yang pandangan dan madzhabnya banyak diikuti umat Islam Indonesia. Pernyataan di atas menunjukkan bahwa meski beliau dikenal sebagai ulama besar di zamannya dan memiliki otoritas sebagai Imam Madzhab, Imam Malik tidak memaksakan pandangannya, tidak merasa bahwa pandangannya adalah yang paling benar, sementara yang lain pasti salah.
Ketika khalifah Al-Manshur ingin menetapkan kitab Al-Muwatha, karya utama Imam Malik, sebagai pegangan utama dan dasar perundang-undangan di Negara Islam saat itu, Imam Malik melarangnya. Beliau menolak penyatuan pemahaman keagamaan ini dengan mengutip hadits yang menyatakan bahwa perbedaan pandangan di antara umat Islam adalah rahmat. Penolakan Imam Malik atas penyatuan paham keagamaan oleh pemerintah dengan menggunakan karyanya Al-Muwatha, menyiratkan sikap muru’ah dan istiqamahnya. Sebagai ulama dan fuqaha besar pada zamannya, beliau tidak mau memberangus perbedaan-perbedaan pandangan yang ada dan berkembang di masyarakat, meski hal itu dikehendaki penguasa.

Sikap toleran dan menghargai perbedaan yang dimiliki Imam Malik, juga diikuti oleh muridnya, Imam Syafi’i. Sebagai murid, Imam Syafi’i sering berbeda pandangan dengan Imam Malik. Namun demikian, hubungan mereka sebagai guru dan murid, tetap terjaga dengan baik. Membiarkan dan memberi ruang bagi para murid untuk berbeda pandangan dengan guru, adalah salah satu sikap toleran yang dicontohkan Imam Malik. Sementara Imam Syafi’i juga menyatakan bahwa “Ra’yi shawab yahtamil al-khatha’ wa ra’yu ghairi khatha’ yahtamil al-shawab (pendapatku memang benar, tetapi mengandung kemungkinan salah. Dan pendapat orang lain memang salah, tetapi mengandung kemungkinan benar).”

Imam Malik: Ulama Besar pada Masanya

Imam Malik sendiri bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi. Beliau lahir di Madinah pada tahun 93 H/712 M dan wafat tahun 179 H/796 M dari keluarga Arab terhormat. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ‘ilmu’ yang sangat terkenal.

Kakek dan ayahnya termasuk ulama hadits terpandang di Madinah. Karenanya Imam Malik menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Ia juga berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi’ bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi’in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

Di usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al Ma’mun, pernah jadi murid Imam Malik. Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i pun menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.

Tegas dan Kritis Terhadap Penguasa

Imam Malik adalah sosok yang tegas dan kritis terhadap penguasa. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ”Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.”

Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja’far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah, Al-Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai’at kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai’at kepada khalifah yang mereka tak sukai.

Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai’at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian dengan paksaan. Ja’far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tetapi ditolaknya. Gubernur Ja’far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya.

Khalifah Mansur tidak berkenan dengan tindakan keponakannya itu. Khalifah mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang Imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim di Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang Imam. Namun Imam Malik menolak undangan tersebut.

Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Menjawab panggilan penguasa, Imam Malik mengatakan dengan tegas, ”Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia”. Mendengar itu, khalifah ingin jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Imam Malik. ”Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.” Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah dan duduk bersama dengan rakyat kecil.

Bercermin pada Sejarah Islam

Dari sejarah Islam, kita tahu bahwa banyak ulama dan bahkan Nabi Muhammad saw sendiri diceritakan sebagai pribadi yang tegas dalam menyampaikan kebenaran dan kritis pada kedzaliman, meskipun itu datang dari penguasa.

Dalam sejarah Islam juga kita ketahui bahwa sikap toleran dan menghargai perbedaan sesungguhnya bukan hanya dicontohkan Imam Malik dan Imam Syafi’i saja. Para ulama sejak dahulu menghargai perbedaan pandangan yang ada dengan sikap penuh toleransi.

Banyak sekali kitab-kitab fikih perbandingan yang ditulis secara khusus untuk mengulas berbagai perbedaan pandangan yang ada. Sebut saja misalnya, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-’Arba’ah karya Abdur rahman al-Jazairi, Bidayah al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd dan banyak lagi yang lain. Penulisan kitab-kitab itu antara lain diniatkan supaya kita dapat memahami kenyataan adanya perbedaan-perbedaan itu dengan penuh lapang dada. Sebagai umat Islam, sebenarnya kita telah diberi pelajaran berharga, bagaimana menyikapi perbedaan dalam bingkai toleransi dan saling menghormati satu sama lain.

Tetapi kenyataannya, kenapa sikap toleran dan menghargai perbedaan belakangan mendapatkan banyak rintangan dan hambatan. Bahkan ironisnya, terkadang sikap toleran dan menghargai keragaman ini dipandang sebagai sesuatu yang berasal dari luar ajaran dan sejarah Islam. Mestinya kita banyak belajar dari ajaran dan sejarah Islam yang otentik yang sangat toleran dan menjunjung perbedaan. Wallahu a’lam bi al-shawab
________________
* Penulis Ali Mursyid, dosen UIN Syarif Hidayatullah dpk di IIQ Jakarta. Tulisan ini pernah dimuat di jurnal Al-Hanif yang duterbitkan MMS

Tuesday, December 8, 2009

Makna Sosial Ibadah Kurban

Oleh Ali Mursyid
Dosen IIQ Jakarta


Seorang yang kaya raya dan hidup serba ada di sebuah desa di tegur oleh kiai setempat. “Hartamu melimpah, kenapa sampai saat ini engkau belum melaksanakan ibadah kurban?” tegur seorang kiai kepadanya. Ia menjawab: “Bukankah kiai pernah mengajarkan bahwa kambing atau sapi yang disembelih untuk ibadah kurban itu akan menjadi kendaraan kita di akhirat. Kalau itu betul, maka saya tidak akan melaksanakan ibadah kurban. Di dunia saja saya hanya terbiasa mengendarai sedan, masa nanti di akhirat harus mengendarai kambing atau sapi.”

Demikianlah, meski dialog kiai dengan orang kaya di atas hanyalah dialog imajiner, tetapi bisa saja dalam satu tempat atau kesempatan, hal tersebut merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi. Terutama bila ibadah kurban hanya dimaknai secara formal dan simbolik, hanya dimaknai sebagai prosesi penyembelihan dan pembagian daging hewan kurban, yang di akhirat nanti hewan yang disembelih ini akan menjadi kendaraan penyelamat dari api neraka.

Tulisan ini bukan hendak menyalahkan pemaknaan ibadah kurban secara formal tersebut, karena pemaknaan itu juga merupakan pemahaman ulama-ulama terdahulu yang tentu sesuai dengan konteks zaman saat itu, juga merupakan cara praktis agar agama dapat dipahami dan dilaksanakan dengan mudah oleh masyarakat banyak. Tetapi kalau hanya sisi-sisi formal peribadatan yang dikenal kebanyakan masyarakat, maka kemudian agama (Islam) sebagai nilai-nilai keadilan, kebenaran universal, dan pembelaan terhadap mereka yang tertindas bergeser menjadi sekedar ketrampilan beribadah, ketrampilan mengerjakan shalat, puasa, haji, dan termasuk ibadah kurban. Orang lalu sibuk dengan sah atau tidaksnya suatu ibadah dilaksanakan. Energi mereka banyak dihabiskan untuk sekedar mempelajari syarat wajib, syarat sah dan rukun serta hal-hal yang membatalkan sebuah peribadatan. Sedikit sekali –untuk tidak mengatakannya tidak ada-- yang mencoba menangkap esensinya, apalagi mewujudkannya dalam kehidupan sosial dengan segala bentuk dan setumpuk permasalahannya.

Padahal sesungguhnya dalam Islam, tidak ada peribadatan yang dilaksanakan yang tidak diharapkan dampaknya pada kehidupan sosial. Adalah sangat tidak mungkin agama dengan segala bentuk peribadatannya, diturunkan Allah swt kepada masyarakat manusia tanpa maksud. Bukankah agama (Islam) diturunkan kepada Muhammad saw untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat? Bukankah Al-Qur’an turun Muhammad saw selama kurang lebih 23 tahun dengan cara bertahap; berusaha mengontrol setiap perubahan yang terjadi di masyarakat saat itu. “Siapa pun yang melihat kemungkaran (ketimpangan) maka ia berkewajiban meluruskannya dengan tangan (kekuasannya), lisan (perkataannya) atau paling tidak dengan hatinya,” demikian sabda Nabi Muhammad swa. Secara tersirat beliau berpesan bahwa paling tidak seorang muslim harus merasakan manis atau pahitnya sesuatu yang terjadi dalam masyarakatnya, bukan bersikap tidap peduli. Puluhan ayat dan ratusan hadits menekankan keterkaitan keimanan dengan kepekaan sosial, rasa senasib dan sepenanggungan dengan anggota masyarakat yang lain.

Begitu juga ibadah kurban, meski nampak dalam prakteknya menyerupai persembahan para suku pedalaman kepada dewa-dewa mereka namun sesungguhnya sarat dengan pesan-pesan kemanusiaan. Walau ayang diajarkan adalah; siapa yang berkurban akan mendapat pahala besar dari Allah swt, tetapi dalam prakteknya, daging kurban tersbut dibagikan kepada fakir miskin, dan bukan menjadi daging sesajen. Kurban sesungguhnya lebih bermakna dan sarat dengan pesan kemanusiaan daripada ibadah yang berharap pahala.

Ibadah kurban dilaksanakan tidak untuk menunjukkan kelebihan seseorang atas yang lainnya, sebab hakikat kurban adalah memberikan, menyerahkan sesuatu dengan sukarela, tanpa mengingat kepentingan diri sendiri. Karena itu harus dikerjakan dengan ikhlas dalam rangka iman dan takwa dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya: “Daging-daging kurban dan darahnya itu tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang dapat mencapainya (QS. Al-Hajj, 22: 37)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa hakikat ibadah kurban bukan pada penyembelihan hewan, melainkan pada sikap taat dan patuh kepada Allah swt. Hakikat ibadah kurban adalah mendidik seorang muslim agar memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi terhadap kehidupan di sekitarnya. Dengan ibadah kurban ini, Islam menghendaki agar hubungan antara si kaya dan si miskin, antara yang kuat dan yang lemah terjalin sebaik-baiknya melalui silaturahim, saling peduli dan saling menyantuni.

Ibadah kurban juga mengingatkan kita kepada Nabi Ibrahim as yang bersedia mengorbankan Islmail, putra semata wayang yang sangat disayanginya. Bagaimana tidak, setelah Ibrahim menunggu sekian lama akan kehadiran seorang anak dalam keluarganya, tiba-tiba Allah mewahyukan kepada beliau untuk mengorbankan anaknya, justru ketika sang anak baru tumbuh dan sedang lucu-lucunya. Pada awalnya, Ibrahin bingung dan guncang jiwanya, namun akhirnya kecintaan beliau pada Allah menunutunnya untuk menglahkan ego kebapakannya demi menjalankan perintah Allah swt.
Kalau Ibrahim berani mengorbankan Ismail, maka sekarang apa yang akan kita korbankan. Apa ‘Ismail’ kita? Kedudukan? Harga diri? Profesi? Uang? Rumah? Sawah dan kebun? Mobil? Keluarga? Citra diri? Masa muda? Keelokan para rupa? Mungkin sampai saat ini, kebanyakan kita belum tahu pasti, apa ‘Ismail’ kita yang patut kita korbankan demi kecintaan kita kepada Allah swt?

Ada beberapa petunjuk untuk mengetahuinya. ‘Ismail’ kita adalah setiap sesuatu yang melemahkan iman kita, setiap sesuatu yang membuat kita hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, setiap sesuatu yang membuat kita tidak dapat mendengar perintah Allah, dan setiap sesuatu yang membutakan mata kita dan telinga kita untuk melihat dan mendengar kebenaran. Kalau kita ini Ibrahim, maka korbankalah ‘Ismail-Ismail’ kita itu?

Selain itu, digantinya Ismail dengan hewan sembelihan (domba besar dan gemuk) mengisyaratkan bahwa yang harus dihilangkan dari diri kita sebagai muslim adalah segala sifat buruk kebinatangan. Sikap mateialistis (hubud dunya), gila jabatan (hubbul jah), serakah, sombong, ingin menang sendiri, tidak mengenal belas kasihan serta tidak saling menghargai dan menghormati sesama manusia, KKN, menumpuk kekayaan, sedangkan orang lain menderita, semua itu harus segera ditinggalkan. Wallahu a’lam bi al-sahawab
________________________
*Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Al-Basyar yang tebit di Cirebon

Wednesday, June 10, 2009

Pengentasan Kemiskinan Umat

Oleh Ali Mursyid*

Kalaulah kemiskinan itu berbentuk manusia, sungguh aku akan membunuhnya (Ali Bin Abi Thalib)

Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang keberadaannya bersamaan awal mula Allah mencipta manusia dan hidup di alam semesta. Konsep kemiskinan bukan semata misalnya, ketiadaan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menyangkut mentalitas individu di dalam menjalani hidup. Kemiskinan selalu menghasilkan perilaku masyarakat yang (terpaksa) abai pada dua aspek penting kesehatan dan pendidikan. Maka menjadi logis bila dikatakan kemiskinan merupakan musuh bersama umat manusia. Bahkan kemiskinan (kefakiran) dalam Sabda Nabi Muhammad Saw dapat menjadi sumber kekafiran.

Dalam beberapa literature, kemiskinan diartikan sebagai keadaan di mana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa dimiliki se-perti makanan, pakaian, tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara.

Saat ini, ada tiga pasangan capres-cawapres telah mendeklarasikan diri untuk maju dan sudah mendaftarkan diri ke KPU, yaitu SBY-Boediono, JK-Wiranto, dan Mega-Prabowo. Salah satu isu yang dijual oleh para calon itu adalah isu kemiskinan. Karena di antara persoalan krusial yang dihadapi bangsa ini adalah kemiskinan dan kesenjangan pendapatan yang semakin meningkat antara kelompok kaya dan kelompok miskin. Berdasarkan data BPS (2008), jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai angka 34,96 juta orang atau 15,42 persen dari total penduduk. Memang, terdapat penurunan bila dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai angka 37,17 juta orang. Dengan jumlah ini, semoga kedepan angka kemiskinan menjadi berkurang lagi.

Faktor Penyebab Kemiskinan dan Penyelesaiannya

Para ilmuwan sosial membagi dua jenis penyebab kemiskinan. Pertama, kemiskinan terjadi karena faktor perilaku individu yang tidak produktif. Kedua, kemiskinan terjadi karena strukstur sosial yang mengakibatkan ada dan langgengnya kemiskinan tersebut. Dalam hal ini sistem sosial yang tidak adil dan kurang berpihak dalam melakukan pemberdayaan rakyat miskin, dapat menyebabkan individu menjadi terus-menerus miskin.

M. Quraish Shihab menuliskan bahwa faktor utama penyebab kemiskinan adalah sikap berdiam diri, enggan, atau tidak dapat bergerak dan berusaha. Keengganan berusaha adalah penganiayaan terhadap diri sendiri, sedang ketidakmampuan berusaha antara lain disebabkan oleh penganiyaan atau kezaliman manusia lain.

Ketidakmampuan berusaha yang disebabkan oleh orang lain diistilahkan pula dengan kemiskinan struktural. Kesan ini lebih jelas lagi bila diperhatikan bahwa jaminan rezeki yang dijanjikan Tuhan, ditujukan kepada makhluk yang dinamainya dabbah, yang berarti mahluk yang hidup dan berjalan di muka bumi. Termasuk manusia. Jadi kalau ada manusia yang kekurangan rizki dan miskin, maka sesungguhnya ada pihak lain (sistem) yang menghalang-halanginya untuk mendapatkan rizki yang layak.

Berdasarkan beberapa faktor penyebab kemiskinan di atas, Al-Qur’an menganjurkan banyak cara yang bisa ditempuh, yang secara garis besar dapat dibagi pada tiga ranah: Pertama, pada ranah individu. Pada ranah ini bisa dilakukan dengan cara peningkatan semangat kerja. Kerja dan usaha merupakan cara pertama dan utama yang ditekankan oleh Kitab Suci Al-Qur’an. Peningkatan semangat kerja ini merupakan langkah yang seiring dengan naluri manusia, sekaligus juga merupakan kehormatan dan harga dirinya.

”Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. (QS. Ali ’Imran, 03: 14).

Kedua, pada ranah keluarga dan masya-rakat. Menggantungkan penanggulangan problem kemiskinan semata-mata kepada sumbangan sukarela dan keinsafan pribadi tidak dapat diandalkan. Teori ini telah di-praktekkan berabad-abad lamanya, namun hasilnya tidak pernah memuaskan. Sementara orang sering kali tidak merasa bahwa mereka mempunyai tanggung jawab sosial, walaupun ia telah memiliki kelebihan harta kekayaan. Karena itu diperlukan adanya penetapan hak dan kewajiban agar tanggung jawab keadilan sosial dapat terlaksana dengan baik.

Dalam hal ini, Al-Qur’an walaupun menganjurkan sumbangan sukarela dan menekankan keinsafan pribadi, namun dalam beberapa hal Kitab Suci ini menekankan hak dan kewajiban, baik melalui kewajiban zakat, yang merupakan hak delapan kelompok yang ditetapkan (QS. AT-Taubah, 09: 60) maupun melalui sedekah wajib yang merupakan hak bagi yang meminta atau yang tidak, namun membutuhkan bantuan.

Ketiga, Ranah Pemerintah. Pemerintah juga berkewajiban mencukupi setiap kebutuhan warga negara, melalui sumber-sumber dana yang sah. Yang terpenting di antaranya adalah pajak, baik dalam bentuk pajak perorangan, tanah, atau perdagangan, maupun pajak tambahan lainnya yang ditetapkan pemerintah bila sumber-sumber tersebut di atas belum mencukupi. Apa yang dilakukan pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya adalah kewajibannya, bukan kebaikannya.

Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah haditsnya menyebutkan, “Dari Jarir bin Abdullah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak akan mengasihi orang yang tidak mengasihi sesamanya”. (HR. Bukhari). Pada kesempatan berbeda Nabi Saw. juga bersabda, “Dari Abdullah bin Musawir, “aku mendengar Ibnu Abbas memberi khabar kepada Ibnu Zubair, bahwa dirinya mendengar Nabi Saw. bersabda: “Bukanlah seorang mukmin yang sempurna, manakala dirinya kenyang sedangkan tetangganya kelaparan”. (HR. Bukhari). Sebuah pelajaran dapat kita petik dari kedua hadits Nabi di atas adalah bahwa kemiskinan tidak perlu terjadi, seandainya umat itu saling berkasih sayang dan tidak membiarkan saudaranya dalam keadaan lapar.

Dalam potret sejarah Islam, para khalifah juga bergelut dengan problem kemiskinan umat dalam beberapa hal menunjukkan hasil yang baik. Khalifah Umar bin Khattab misalnya, pernah membangun pilot proyek yang menjadikan Yaman sebagai provinsi yang mampu mengentaskan kemiskinan. pada masa itu Gubernur Yaman, Mu’adz bin Jabal, mengirim sepertiga dari total hasil zakat dari provinsi Yaman ke Madinah, separuh di tahun berikutnya, dan semua hasil zakat di tahun ketiga. Zakat dikirim ke ibu kota setelah tidak adanya mustahiq di propinsi Yaman. Bukti kedua, pengentasan kemiskinan juga terjadi pada dua tahun masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, dimana pada waktu itu sudah tidak diketemukan lagi orang miskin yang ada dalam negara tersebut. Inilah tauladan, bila memiliki kesungguhan dan keuletan, pasti Allah akan memberikan yang terbaik bagi umatnya.Wallahu a’lam bi al-shawab[]

________________________________________
*Penulis adalah staf pengajar di IIQ Jakarta, dan Ma’had Ali Babakan Ciwaringin Cirebon. Tulisan ini di muat di Bulet Jumat, Warkah al-Basyar, 22 April 2009

Monday, May 25, 2009

Pengentasan Kemiskinan Umat

Oleh Ali Mursyid*

Kalaulah kemiskinan itu berbentuk manusia, sungguh aku akan membunuhnya (Ali Bin Abi Thalib)

Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang keberadaannya bersamaan awal mula Allah mencipta manusia dan hidup di alam semesta. Konsep kemiskinan bukan semata misalnya, ketiadaan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menyangkut mentalitas individu di dalam menjalani hidup. Kemiskinan selalu menghasilkan perilaku masyarakat yang (terpaksa) abai pada dua aspek penting kesehatan dan pendidikan. Maka menjadi logis bila dikatakan kemiskinan merupakan musuh bersama umat manusia. Bahkan kemiskinan (kefakiran) dalam Sabda Nabi Muhammad Saw dapat menjadi sumber kekafiran.

Dalam beberapa literature, kemiskinan diartikan sebagai keadaan di mana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa dimiliki se-perti makanan, pakaian, tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara.

Saat ini, ada tiga pasangan capres-cawapres telah mendeklarasikan diri untuk maju dan sudah mendaftarkan diri ke KPU, yaitu SBY-Boediono, JK-Wiranto, dan Mega-Prabowo. Salah satu isu yang dijual oleh para calon itu adalah isu kemiskinan. Karena di antara persoalan krusial yang dihadapi bangsa ini adalah kemiskinan dan kesenjangan pendapatan yang semakin meningkat antara kelompok kaya dan kelompok miskin. Berdasarkan data BPS (2008), jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai angka 34,96 juta orang atau 15,42 persen dari total penduduk. Memang, terdapat penurunan bila dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai angka 37,17 juta orang. Dengan jumlah ini, semoga kedepan angka kemiskinan menjadi berkurang lagi.

Faktor Penyebab Kemiskinan dan Penyelesaiannya

Para ilmuwan sosial membagi dua jenis penyebab kemiskinan. Pertama, kemiskinan terjadi karena faktor perilaku individu yang tidak produktif. Kedua, kemiskinan terjadi karena strukstur sosial yang mengakibatkan ada dan langgengnya kemiskinan tersebut. Dalam hal ini sistem sosial yang tidak adil dan kurang berpihak dalam melakukan pemberdayaan rakyat miskin, dapat menyebabkan individu menjadi terus-menerus miskin.

M. Quraish Shihab menuliskan bahwa faktor utama penyebab kemiskinan adalah sikap berdiam diri, enggan, atau tidak dapat bergerak dan berusaha. Keengganan berusaha adalah penganiayaan terhadap diri sendiri, sedang ketidakmampuan berusaha antara lain disebabkan oleh penganiyaan atau kezaliman manusia lain.

Ketidakmampuan berusaha yang disebabkan oleh orang lain diistilahkan pula dengan kemiskinan struktural. Kesan ini lebih jelas lagi bila diperhatikan bahwa jaminan rezeki yang dijanjikan Tuhan, ditujukan kepada makhluk yang dinamainya dabbah, yang berarti mahluk yang hidup dan berjalan di muka bumi. Termasuk manusia. Jadi kalau ada manusia yang kekurangan rizki dan miskin, maka sesungguhnya ada pihak lain (sistem) yang menghalang-halanginya untuk mendapatkan rizki yang layak.

Berdasarkan beberapa faktor penyebab kemiskinan di atas, Al-Qur’an menganjurkan banyak cara yang bisa ditempuh, yang secara garis besar dapat dibagi pada tiga ranah: Pertama, pada ranah individu. Pada ranah ini bisa dilakukan dengan cara peningkatan semangat kerja. Kerja dan usaha merupakan cara pertama dan utama yang ditekankan oleh Kitab Suci Al-Qur’an. Peningkatan semangat kerja ini merupakan langkah yang seiring dengan naluri manusia, sekaligus juga merupakan kehormatan dan harga dirinya.

”Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. (QS. Ali ’Imran, 03: 14).

Kedua, pada ranah keluarga dan masya-rakat. Menggantungkan penanggulangan problem kemiskinan semata-mata kepada sumbangan sukarela dan keinsafan pribadi tidak dapat diandalkan. Teori ini telah di-praktekkan berabad-abad lamanya, namun hasilnya tidak pernah memuaskan. Sementara orang sering kali tidak merasa bahwa mereka mempunyai tanggung jawab sosial, walaupun ia telah memiliki kelebihan harta kekayaan. Karena itu diperlukan adanya penetapan hak dan kewajiban agar tanggung jawab keadilan sosial dapat terlaksana dengan baik.

Dalam hal ini, Al-Qur’an walaupun menganjurkan sumbangan sukarela dan menekankan keinsafan pribadi, namun dalam beberapa hal Kitab Suci ini menekankan hak dan kewajiban, baik melalui kewajiban zakat, yang merupakan hak delapan kelompok yang ditetapkan (QS. AT-Taubah, 09: 60) maupun melalui sedekah wajib yang merupakan hak bagi yang meminta atau yang tidak, namun membutuhkan bantuan.

Ketiga, Ranah Pemerintah. Pemerintah juga berkewajiban mencukupi setiap kebutuhan warga negara, melalui sumber-sumber dana yang sah. Yang terpenting di antaranya adalah pajak, baik dalam bentuk pajak perorangan, tanah, atau perdagangan, maupun pajak tambahan lainnya yang ditetapkan pemerintah bila sumber-sumber tersebut di atas belum mencukupi. Apa yang dilakukan pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya adalah kewajibannya, bukan kebaikannya.

Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah haditsnya menyebutkan, “Dari Jarir bin Abdullah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak akan mengasihi orang yang tidak mengasihi sesamanya”. (HR. Bukhari). Pada kesempatan berbeda Nabi Saw. juga bersabda, “Dari Abdullah bin Musawir, “aku mendengar Ibnu Abbas memberi khabar kepada Ibnu Zubair, bahwa dirinya mendengar Nabi Saw. bersabda: “Bukanlah seorang mukmin yang sempurna, manakala dirinya kenyang sedangkan tetangganya kelaparan”. (HR. Bukhari). Sebuah pelajaran dapat kita petik dari kedua hadits Nabi di atas adalah bahwa kemiskinan tidak perlu terjadi, seandainya umat itu saling berkasih sayang dan tidak membiarkan saudaranya dalam keadaan lapar.

Dalam potret sejarah Islam, para khalifah juga bergelut dengan problem kemiskinan umat dalam beberapa hal menunjukkan hasil yang baik. Khalifah Umar bin Khattab misalnya, pernah membangun pilot proyek yang menjadikan Yaman sebagai provinsi yang mampu mengentaskan kemiskinan. pada masa itu Gubernur Yaman, Mu’adz bin Jabal, mengirim sepertiga dari total hasil zakat dari provinsi Yaman ke Madinah, separuh di tahun berikutnya, dan semua hasil zakat di tahun ketiga. Zakat dikirim ke ibu kota setelah tidak adanya mustahiq di propinsi Yaman. Bukti kedua, pengentasan kemiskinan juga terjadi pada dua tahun masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, dimana pada waktu itu sudah tidak diketemukan lagi orang miskin yang ada dalam negara tersebut. Inilah tauladan, bila memiliki kesungguhan dan keuletan, pasti Allah akan memberikan yang terbaik bagi umatnya.[]

________________________________________
*Penulis adalah staf pengajar di IIQ Jakarta, dan Ma’had Ali Babakan Ciwaringin Cirebon. Tulisan ini di muat di Bulet Jumat, Warkah al-Basyar, 22 April 2009