<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563</id><updated>2011-11-24T12:55:06.124-08:00</updated><category term='Al-Qur&apos;an'/><title type='text'>Ali Mursyid</title><subtitle type='html'>Ya Allah Hadirlah Dalam Setiap Langkahku menggapai Ridha-Mu</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>31</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-8105614881882170508</id><published>2010-08-25T19:11:00.000-07:00</published><updated>2010-08-25T19:17:15.239-07:00</updated><title type='text'>Transformasi Diri Menuju Kebahagiaan Hakiki: Kajian atas Kitab Kimia Sa'adah Karya al-Ghazali</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_MOKwKCoPO5w/THXNqXpqOTI/AAAAAAAAAA0/n3ujHGv7NSw/s1600/Ali+Ngaji+Depan+Abe.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_MOKwKCoPO5w/THXNqXpqOTI/AAAAAAAAAA0/n3ujHGv7NSw/s200/Ali+Ngaji+Depan+Abe.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5509535846944618802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Ali Mursyid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan merupakan tujuan hidup manusia. Karenanya orang mau melakukan apapun untuk mencapainya. Banyak cara, kiat-kiat, teknik-teknik bagaimana menggapai kebahagiaan dalam hidup. Motivasi untuk mencapai kebagaiaan, sesungguhnya motivasi hidup manusia yang tertinggi. Bahkan dikatakan bahwa Islam hadir bertujuan untuk menciptakan “sa’adatun nas fi al-darain” (kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan diukur dengan cara yang berbeda dan pada hakekatnya ukuran kebahagiaan bisa berjenjang. Ada manusia yang mengukurnya sebatas capaian materi atau materialistik, dan merasa telah cukup sampai di sana, namun ada yang menganggap capaian kebahagiaan berbasis materi tak akan membawa manusia dalam kebahagiaan sejati. Capaian kebahagiaan terakhirlah yang kerap dinamakan sebagai kebahagiaan keruhanian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai kebahagiaan banyak diajarkan ajaran-ajaran luhur. Ini sebenarnya sudah dipraktikkan sejak ribuan tahun lalu, mulai dari kebebasan Stoic, Kimia Kebahagiaan (Kimia Sa’adah) Al-Ghazali, Pencerahan ala Budha bahkan kepuasan ajaran kuno Epicularean. Namun gelombang modernitas perlahan-lahan menggerusnya. Akibatnya, kini prinsip-prinsip adiluhur tersebut bagaikan harta-karun yang terlupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini akan memaparkan tentang salah satu konsep kebahagiaan, yang bersumber dari ajaran luhur para pendahulu, yaitu konsep Kebahagiaan menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya “Kimia Sa’adah” (Kimia Kebahagiaan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan kata “Kimia” sendiri, menurut pengkaji pemikiran al-Ghazali di Mesir, Sulaiman Dunia, ini dengan maksud untuk menunjukkan bahwa kebahagiaan bisa dicapai dengan perubahan kimiawi di dalam diri seorang manusia, dan bukan perubahan fisikawi. Perubahan kimiawi yang dimaksud al-Ghazali adalah perubahan yang tidak bersifat fisik, bukan perubahan dalam arti perubahan jasad wadag, akan tetapi perubahan yang bersifat non fisik, non materi, perubahan jiwa, batin, pikiran dan perasaan, yang dapat menghantarkan sesorang dapat menggapai kebahagiaan sejati. Jadi maksud dari “Kimia Kebahagiaan” adalah sebuah konsep untuk yang menghantarkan transformasi ruhani seseorang agar dapat menggapai kebahagian hakiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghantarkan pada tujuan tersebut al-Ghazali membagi pembahasan bukunya kedalam beberapa bagian berikut; Penduhuluan; Bagian pertama mengantarkan ke pembahasan pokok; Bagian kedua penjelasan bagaimana mengatahui diri atau jiwa kita; Bagian ketiga penjelasan mengenai hati dengan berbagai ‘bala tentara’ pendukungnya; Bagian keempat tentang keajaiban-keajaiban hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian pendahuluan, al-Ghazali membuka kitab Kimia Sa’adah (kimia kebahagiaan) ini dengan basmalah, hamdalah, shalawat dan salam. Ini disampaikan dengan bahasa yang indah, dengan diksi yang terpilih dan irama kata yang menggugah. Sayangnya pada bagian pendahuluan ini tidak dijelaskan apa motif al-Ghazali menuliskan buku ini, apakah karena al-Ghazali menganggap penting untuk menuliskan buku ini atau karena ada permintaan dari penguasa atau pihak-pihak lainnya? Karena tidak ada penjelasan maka tidak bisa diketahui latar belakang mengapa buku ini ditulis dan untuk kepentingan siapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian, bila dilihat dari sejarah hidup beliau, buku Kimia Sa’adah ini ditulis setelah al-Ghazali menulis buku al-Munqidh min al-Dhalal. Kalau buku al-Munqidh min al-Dhalal berisi pencarian dan kritik al-Ghazali mengenai epistemologi kebenaran, dan berkesimpulan bahwa epistemologi sufilah yang dipilih, maka dalam buku Kimia Sa’adah, al-Ghazali boleh jadi hendak menegaskan pilihan jalan sufinya itu, dengan menawarkan konsep kebahagiaan menurut sufi. Jadi, Kimia Sa’adah adalah penegasan akan kebenaran epistem sufistik yang dipilih al-Ghazali. Dengan buku ini, al-Ghazali hendak menyatakan bahwa jalan sufi bukan hanya benar, tetapi dapat menghantarkan pada kebahagiaan sejati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian pengantar, al-Ghazali menjelaskan bahwa pembicaraan mengenai Kimia Kebahagiaan adalah pembicaraan yang sangat berharga, dan bukan pembicaraan rendahan. Racikan kebahagiaan ini juga, menurutnya, adalah racikan yang hanya disandarkan pada ajaran Nabi Muhammad saw. Karena menurutnya, jalan menuju kebahagiaan dapat ditempuh dengan benar bila merujuk pada ajaran Muhammad yang dihayati dengan benar. Di antara yang diajarkan Muahammad adalah bahwa kebahagiaan atau keberuntungan bukan hanya berarti keburuntungan material, tetapi yang lebih penting adalah keberuntungan spiritual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian selanjutnya, bagian ketiga, al-Ghazali mulai menjelaskan bagaimana seseorang dapat meraih kebahagiaan melalui jalan spiritual. Mula-mula dijelaskan apa itu bahagiah dengan berbagai ragamnya. Dikatakan dalam buku ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebahagiaan itu berbeda-beda bagi setiap makhluk hidup. Ada yang bahagia bila terpenuhi urusan makan, minum dan segala kebutuhan biologisnya, maka ini adalah kebahagiaan kelompok binatang ternak (baha’im). Ada yang merasa bahagia bila berhasil melakukan penyerangan, bisa mengalahkan dan bahkan membunuh lawan, ini adalah kebahagiaan bagi kelompok binatang liar (siba’). Ada yang merasa bahagia dengan melakukan tipu daya dan muslihat, ini adalah kebahagiaan bagi syaitan. Sementara kebahagiaan bagi para malaikat adalah kebahagiaan bisa taat kepada Tuhan sepenuhnya, tanpa bisa membangkang, tidak memiliki syahwat dan tidak pernah marah.” (hlm. 4) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjelaskan model dan ragam kebahagiaan di atas, al-Ghazali memberi pilihan kebebasan bagi kita. Silahkan apakah kita mau memilih kebahagiaan yang model mana? Jika kita hanya sibuk mencari materi untuk sekedar memenuhi kebutuhan makan, minum dan bahagia hidup berumah tangga, maka apa beda kita dengan binatang ternak? Bila kita hanya sibuk dan senang berbuat anarkhis maka mungkin kita ini tidak ada bedanya dengan binatang buas. Jika kita senang dan bahagia dengan melakukan penipuan, sering berbuat curang untuk keuntungan pribadi, maka mungkin kita tidak berbeda dengan syaitan. Dan jika kita ini merasa berbagaia dengan berbuat baik, senang melakukan ketaatan kepada Allah, menjalankan sunnah Nabi, berbuat baik kepada sesama, maka mungkin yang menguasai diri kita adalah unsur kebahagiaan malaikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sendiri, menurut penulis buku ini, sesungguhnya terdiri dari berbagai unsur di atas, unsur binatang ternak, binatang buas, syaitan dan malaikat. Unsur mana yang paling dominan dalam diri setiap orang, akan mempengaruhi bagaimana ia menggapai kebahagiaan. Dalam hal ini, al-Ghazali menyebutkan bahwa tempat kebagiaan tertinggi bagi orang pada umumnya (awam) adalah kebahagiaan surga, sementara kebahagiaan tertinggi bagi orang-orang spesial (khawash) adalah menggapai ridha Allah swt. &lt;br /&gt;Selanjutnya, dijelaskan pula bahwa untuk menggapai kebagiaan tertinggi, manusia harus terlebih dahulu mengenal dirinya, mengenal jiwanya. Dalam hal ini al-Ghazali menjelaskan bahwa jiwa (nafs) manusia, terbagi menjadi dua hal, yaitu hati (qalb) dan ruh. Hati (qalb) di sini bukan berarti qalb dalam arti fisik yang terdapat dalam dada tiap manusia, tetapi qalb dalam arti ruhani dan bathini. Qalb semacam inilah yang merupakan bagian dari nafs yang dibebani taklif untuk ta’at kepada Allah swt, yang akan menerima pahala dan dosa, yang dapat merasakan bahagia dan sengsara. Qalb lah yang dapat ma’rifat kepada Allah swt. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan qalb ini, dijelaskan bahwa Allah swt mencipatakan dua alam yang berbeda, ‘alam khalqi dan ‘alam amri. Ini sesuai firman Allah swt: alâ lahû al-khalqu wa al-amru. Manusia sejatinya terdiri dari alam khalqi dan alam amri sekaligus. Alam khalqi adalah ciptaan Allah swt yang mengenal dimensi panjang, lebar dan terukur serta bisa dihitung. Sedangkan alam amri sebaliknya, yaitu ciptaan Allah yang tidak mengenal dimensi panjang, lebar, tidak terukur dan tidak bisa dihitung. Qalb insan adalah tergolong alam amri dan bukan alam khalqi, karena qalb yang dimaksud bukanlah hati dalam arti fisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu ruh, adalah sebagian besar tetap menjadi rahasia Allah, yang juga terdapat dalam ‘alam amri. Sebagaimana dikatakan dalam firman Allah swt: “wa yas’alûnaka ‘an al-rûhi qul al-rûhu min amri rabbi, wamâ utîtum min al-‘ilmi illâ qalîla”, ayat ini diterjemahkan al-Ghazali dengan: “orang-orang bertanya kepadamu Muhammad, tentang persoalan ruh. Katakanlah bahwa ruh itu merupakan ciptaan Allah yang tergolong ‘alam amri. Kamu sekalian tidak diberi pengetahuan mengenai hal ini kecuali sangat sedikit” Agama atau syariat Islam, tidak memerintahkan, menganjurkan dan tidak berkepentingan untuk mengetahui ruh ini. Karena kewajiban agama adalah bukannya mengetahui ruh, yang memang urusan Tuhan, tetapi kewajiban agama adalah beribadah, bermujahadah kepada Allah dan mengetahui tanda-tanda hidayah Allah. Sebagimana dikatakan dalam firman Allah; “Wa al-ladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannâ subulanâ”. Dalam hal ini al-Gazali menyatakan bahwa barang siapa tidak bersungguh-sungguh dalam beribadah dan menggapai hidayah Allah maka tidak akan dapat mengetahui hakikat ruh (hlm. 11). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan selanjutnya, bagian keempat, mengenai qalb dan para ‘bala tentara’-nya, atau dengan istilah lain, hati dan para anggota pelaksananya. Sebagaimana konsep sufi pada umumnya, al-Ghazali menyatakan bahwa jiwa (nafs) manusia itu bagaikan sebuah kota. Hati adalah rajanya, syahwat adalah wali kotanya, akal adalah panglimanya, kekuatan marah adalah para polisinya yang memiliki dendam kesumat. Hati sebagai raja menasihati sehingga kerajaan kotanya dapat tenang. Menasihati ini harus terus dilakukan oleh hati, karena wali kota-nya adalah syahwat, dan kekuatan marah menjadi polisi kota-nya, jika hati berhenti menasihati maka hancurlah kota tersebut, hancurlah jiwa manusia. Hati sebagai raja juga harus berembug dengan panglima (akal) dan menjadikan wali kota (syahwat) dan polisi (amarah) mesti terkenadli oleh panglima (akal). Jika ini yang terjadi maka kota (jiwa manusia) akan tenang dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, dijelaskan bahwa kebahagiaan sejati dapat diraih dengan memperhatikan tiga hal dalam diri kita, yaitu: kekuatan amarah, kekuatan syahwat dan kekuatan ilmu. Untuk mencapai kebahagiaan, orang harus mengurangi dan memenaj sedemikian rupa, kekuatan amarah dan kekuatan syahwatnya. Jika tidak maka, baik amarah maupun syahwat sesungguhnya cenderung merusak diri sendiri. Dengan memanej amarah, sesorang bisa bersikap sabar, tenang dan bahagia. Dan dengan menjaga syahwat seseorang dapat menjaga kehormatan dan muru’ahnya. Meski manusia, sebagai binatang, dibekali dengan sifat amarah dan sifat syahwat, tetapi manusia diberi kelebihan lain yang tidak dikaruniakan pada binatang. Yaitu ilmu yang puncaknya bisa mencapai ma’rifatullah. Inilah yang mengantarkan pada kebahagiaan sejati, menurut al-Ghasali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian akhir, al-Gazali menjelaskan keajaiban-keajaiban hati. Di antaranya dia menjelaskan bila hati seseorang suci, dituntun agama, menjahui segala kekotoran lahir dan bathin maka hatinya bersih bagai cermin. Sehingga terkadang timbul berbagai keajaiban, seperti bisa mengetahu kejadian yang belum terjadi, bisa mengetahui berbagai hal tanpa melalui proses belajar sekalipun. Ini karena hati bersih bagai cermin, sementara lauh mahfudz juga bagaikan cermin, maka teranglah bagi hati yang bersih segala ketentuan Allah swt yang ada di lauh mahfudz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah konsep racikan kimia kebahagiaan menurut Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Sebuah konsep kebahagiaan ruhani dengan pendekatan khas sufi dan berbasiskan ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad saw. Wallahu a’lam bi al-shawab&lt;br /&gt;____________&lt;br /&gt;Penulis adalah anggota kajian Rumah Kitab dan dosen UIN Syahid dpk di IIQ  Jakarta. Tulisan ini adalah hasil kajian Kitab Mingguan di Rumah Kitab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-8105614881882170508?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/8105614881882170508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=8105614881882170508' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/8105614881882170508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/8105614881882170508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2010/08/transformasi-diri-menuju-kebahagiaan.html' title='Transformasi Diri Menuju Kebahagiaan Hakiki: Kajian atas Kitab Kimia Sa&apos;adah Karya al-Ghazali'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_MOKwKCoPO5w/THXNqXpqOTI/AAAAAAAAAA0/n3ujHGv7NSw/s72-c/Ali+Ngaji+Depan+Abe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-846777590491036290</id><published>2010-07-16T22:18:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T22:20:11.667-07:00</updated><title type='text'>Kitab Kuning Pasca Gus Dur</title><content type='html'>29/06/2010&lt;br /&gt;Oleh Affandi Mochtar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab kuning sebagai khasanah Islam yang banyak dikaji di pesantren, khususnya pesantren tradisional, sesungguhnya masih menjadi rujukan utama bagi keberagamaan umat Islam di Indonesia. Namun sayangnya, karena dianggap ‘tradisional’ maka promosinya dan citranya tidak sebaik manfaatnya. Presiden keempat RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu tokoh yang membuktikan keunggulan literatur pesantren yang bernama kitab Kuning ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum Gus Dur adalah sosok yang lahir dari keluarga kyai dan pesantren yang akrab dengan Kitab Kuning. Pendidikan dasarnya ditempuh di lingkungan pendidikan pesantren, yang mempelajari Kitab Kuning. Dia belajar ke luar negeri, ke Mesir, ke Irak di Baghdad, juga belajar agama dengan literatur kitab kuning. Dia balik ke Indonesia, juga menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas, yang tidak terlepas dari kitab kuning. Pada masa awal kepempimpinannya di NU, dia menghidupkan kajian kitab kuning. Dia diundang ke berbagai seminar, berbicara di berbagai forum dengan perspektif kitab kuning, yang di dalamnya terdapat berbagai pandangan ulama yang beragam mengenai berbagai hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketokohan Gus Dur mendorong kitab kuning menjadi salah satu referensi pemikiran Islam di Indonesia. Kalau orang memberi penghargaan intelektual pada Nurcholish Madjid (Cak Nur) misalnya, maka salah satu point penilaiannya adalah karena Cak Nur bisa membaca dan menguasai kitab kuning, sebagaimana Gus Dur. Betapa kitab kuning oleh Gus Dur menjadi element penting bagi pemikiran Islam di Indonesia. Di tangan Gus Dur, kaedah-kaedah yang bersumber pada Kitab Kuning dicoba eksperimenkan untuk menyelesaikan berbagai masalah di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kita akui bahwa landasan dasar keberagamaan umat Islam adalah al-Qur’an dan Hadis. Tetapi hanya merujuk pada al-Qur’an dan Hadis begitu saja, akan menyebabkan terjadinya simplikasi.  Dan jika jika hanya langsung merujuk pada teks Al-Qur’an dan Hadis tanpa melihat pandangan ulama dan proses berfikirnya, maka berarti mengabaikan proses pemikiran, metode penalaran ulama yang begitu kaya yang terdiri dari ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fiqh, ilmu ushul fiqh dan lainnya. Jika ini yang terjadi, maka berarti kita membaca Al-Qur’an dan Hadis tidak dengan ilmunya. Padahal cara menafsirkan teks itu sendiri sesungguhnya sangat complicated. Inilah yang gagal ditangkap oleh banyak orang sekarang ini. Sepertinya hanya dengan berdasarkan ayat Al-Qur’an yang ditemukan dari koran, majalah, buletin atau internet lalu seseorang bisa berdalil atas sesuatu, menghukumi sesuatu. Ini adalah pendangkalan khasanah Islam, yang sesungguhnya sangat kaya raya. Akan terjadi missing link yang panjang kalau kita mengabaikan kahzanah Islam seperti yang ada di kitab kuning. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sekarang ini, sepeninggal Gus Dur, kita hendaknya tidak membiarkan kitab kuning kembali hanya dikaji di pesantren-pesantren saja, dan tidak mewarnai keberagaman kita sehari-hari. Untuk itu menurut hemat saya, sepeninggal Gus Dur, sepeninggal tokoh kuat yang dapat membawa kitab kuning ke kancah nasional, kita berkewajiban menjaga posisi kitab kuning sebagai referensi utama dalam keberagamaan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu paling tidak ada beberapa langkah perlu dilakukan:  Pertama, membentuk Kitab Kuning Study Centre, yang berusaha menyediakan koleksi kitab kuning dan hasil kajian serta penelitian tentang kitab kuning yang pernah dilakukan. Dalam hal ini, secara kreatif kita bisa mensosialisasikan kitab kuning melalui perpustakaan digital dan Library Mobile, mobil perpustakaan kitab kuning. Suatu saat mungkin jika ada acara Bahtsul Masail di suatu daerah, maka mobil perpustakaan kitab kuning ini bisa diberangkatkan ke daerah tersebut. Demikian juga jika ada kajian yang memerlukan perpusatakaan Kitab Kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dalam rangka mengembalikan posisi penting Kitab Kuning sebagai literatur keberagamaan kita, maka kita perlu menggelorakan forum Bahstul Masail, yang merupakan forum kajian atas berbagai masalah yang dibahas dengan basis rujukan dan perspektif Kitab Kuning. Ini adalah forum dan sekaligus juga sebagai instrumen untuk pengembangan berfikir kritis. Untuk menggelorakan forum Bathsul Masail, maka kiranya perlu digagas penyelelenggaraannya Bahtul Masail yang tidak sebatas di lingkungan kalangan pesantren saja,  tetapi juga merambah tempat dan kalangan lebih luas lagi. Seperti di masyarakat pada umumnya, di masyarakat kelas menengah atau kalangan professional. Atau kita juga bisa melaksanakan Bahtul Masail di Perguruan-Perguruan Tinggi, termasuk Perguruan Tinggi umum. Ini penting, agar kalangan Perguruan Tinggi umum bukan hanya disuguhkan model model dakwah Islam ala tarbiyah dan usroh saja. Dengan Bahtsul Masail ini mereka akan tahu model kajian Islam yang lebih otoritatif, sekaligus juga beragam dan bervariatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kita perlu menggelorakan kembali kajian-kajian Kitab Kuning, dengan berbagai variasi studinya. Secara sederhana yang disebut dengan kajian atau mengaji kitab kuning adalah membacanya dan menerjemahkannya  serta menjelaskan isi kandungannya. Namun sebagai upaya pengembangan, kajian atau pengajian Kitab  Kuning juga bias dilakukan dengan pola kontekstualisasi, membacanya, menjelaskan kandunagnnya, dan kemudian mengkontekstualisasikannya dengan perkembangan masyarakat. Serta tidak lupa dicarikan legitimasi ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, dalam rangka menggelorakan studi atas kitab kuning maka kiranya perlu ada riset atas Kitab Kuning.  Riset ini bisa dilakukan dari yang paling sederhana, seperti riset yang dilakukan untuk keperluan tahqiq, sampai dengan riset yang dilakukan sebagai sebuah studi wacana, studi kritis dan seterusnya. Untuk mewujudkan kegiatan penelitian kita perlu berjejaring dengan banyak pihak, tokoh, akitifs dan para peneliti. Termasuk jaringan lembaga penelitian di dalam dan di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, selain kajian dan penelitian, kiranya kita juga perlu mewujudkan model kajian Kitab Kuning yang lebih kreatif, termasuk memanfaatkan teknologi informasi. Walaupun secara khas namanya sorogan, bandongan, wetonan dan bahtsul masail tetap kita pertahankan, tetapi kita juga perlu membuat model pembelajaran Kitab Kuning yang berbasis teknologi informasi. Secara sederhana, misalnya saja kita membuat daftar glosari bagi kosa kata yang sering terulang-ulang dalam Kitab Kuning. Pada perkembanganya, glosari bias dikompilasi dan disusun menjadi sebuah kamus, Kamus Kitab Kuning. Itu sebagai salah satu contoh  mudah.                            &lt;br /&gt;Keenam, perlu ada kegiatan penerbitan yang mencoba melakukan reproduksi dan kreasi wacana dan kandungan kitab kuning. Penerbitan ini penting sebagai media sosialisasi dan penyebaran wacana hasil-hasil kajian dan penelitian atas Kitab Kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, gagasan untuk melangkah di atas sungguh timbul dari kepekaan diri atas termajinalkannya kembali posisi Kitab Kuning di jagad intelektual Indonesia. Kepedulian ini bukan sesuatu yang istimewa, tetapi lebih merupakan panggilan jiwa. Kalau kita tidak lagi peka dan terlibat menyelamatkan posisi strategis Kitab Kuning dalam kebergamaan kita ini, maka nanti ada sesuatu yang dihilang di masa yang akan datang itu. Dan indikasi akan hal tersebut sudah mulai Nampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh mudah, beberapa minggu lalu diberitakan ada kelompok waria bikin acara kemudian dibubarkan oleh kawan-kawan kita. Jauh sebelum itu, banyak peristiwa yang penyelesaianya bukan dicarikan dari dalam, tetapi dicarikan dalil dan fatwanya dari luar. Ini karena keberagamaan kita tidak lagi merujuk atau menggali dari para pandangan ulama terdahulu yang ada di Kitab Kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya, sebut saja misalnya bahwa para penghafal Al-Qur’an, hafidz dan hafidzah di Indonesia selama ini belajar dari guru-guru ahli al-Qur’an yang ada di pesantren-pesantren tanah air. Seperti kyai Ali Ma’shum Krapyak, Mbah Arwani Kudus dan Kyai Mufidz Pandanaran. Belakangan mereka dituntut memiliki sanad dari Saudi Arabiyah, dari Qatar. Nanti kemudian di sertifikasi. Lalu dengan sertfifikat itu kemudian bisa minta bantuan dari negeri-negeri Timur Tengah, seperti Arab Saudi. Saya kira untuk kepentingan teknis, agar hafalanya bagus dan jaringannya luas maka itu sah-sah saja. Tetapi ini berarti keindonseiaan klita dalam konteks keberagamaan itu didegradasi. Ini mengerikan, karena menyangkut otoritas keberagamaan dan ke-Indonesia-an yang krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, sekarang ini ada fenomena premisif terhadap berbagai element yang afailiasinya ke Barat; meski itu  atas nama demokrasi, pluralisme dan lainnya. Menurut saya, ini seperti melanggengkan kolonialisasi.  Menghadapi ini kita perlu memproyeksikan Reinventing Indonesian Islam. Dalam hal ini,minimal kita dapat bercermin pada pada periode 80-an, melalui gagasan Mbah Ahmad Shiddiq, yang berhasil merumuskan keislaman Indonesia sedemikain rupa. Dengan konsep Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim)ز&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain keenam langkah di atas, kita juga perlu menggelorakan kembali  pendidikan humanistik di negeri ini. Kenapa menggagas pendidikan, karena syarat terciptanya peradaban yang luhur, adalah adanya pendidikan yang baik. Kenapa memilih pendidikan humanistik, karena  pendidikan humanistik bersentuhan langsung dengan upaya memberdayakan dan mencerdaskan masyarakat. Ini berbeda dengan pendidikan skolastik, yang hanya berorientasi mengisi otak para peserta didik, tanpa disertai upaya pemberdayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh produk pendidikan humanistik adalah Gus Dur. Dia disebut sebagai guru bangsa, padahal tidak pernah bekerja menjadi guru. Ini karena penyuaraan Gus Dur yang selalu berpihak pada kemanusiaan. Apa yang disuarakannya dalam setiap forum ini kedengaran di plosok-plosok dan menggerakan masyarakat di daerah-daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sepuluh tahun terakhir ini, tokoh-tokoh kita dan pimpinan-pimpinan kita yang sekarang ada lebih banyak lahir dari proses politik. Ini yang membuat mereka terlihat sangat praktis dan pragmatis. Dengan menghidupkan kajian Kitab Kuning pasca Gus Dur ini, kita memimpikan lahirnya calon tokoh dan pemimpin yang memiliki paradigma yang cukup dan memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Said Aqiel Siradj Pasca Gus Dur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH. Said Aqiel Siradj, ketua umum PBNU sekarang ini, sesungguhnya tokoh yang bisa diharapkan melakukan langkah-langkah dinamisasi kitab kuning sehingga kembali pada posisi strategisnya, sebagaimana pada era kepemimpinan al-maghfurlah Gus Dur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Said –panggilan akrab KH. Said Aqiel Siradj- terlahir dari keluarga pesantren Cirebon, dibesarkan di lingkungan pesantren yang kental dan salaf. Belajar ke Timur Temgah, khususnya di Madinah, belajar berbasis kitab-kitab salaf, kitab-kitab kuning. Kemudian berperan di dunia internasional sebagai tokoh intelektual muslim yang berbasis nalai-nilai Islam tradisional pesantren, nilai-nilai yang terkandung dalam kitab kuning. Ketika beliau diminta pulang ke tanah air oleh Gus Dur, dan beberapa saat menemani beliau, juga selalu berusaha menghidupkan kajian kitab kuning. Lontaran wacananya yang mencoba menegaskan kembali Manhaj Ahli Sunnah wal Jama’ah di tubuh NU, sungguh merupakan hasil bacaan yang cemerlang terhadap khazanah Islam pesantren, kahzanah kitab kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesibuk apa pun, Kang Said selalu saja menyempatkan diri untuk member pengajian. Ini dilakukannya di rumahnya, minimal setiap Selasa malam Rabu beliau member pengajian bandongan, dengan membacakan kitab Mafatih al-Ghaib atau Tafsir Kabir karya Al-Razi di hadapan ratusan audience (mustami’in) yang dengan suka rela dating ke kediamannya. Tidak sedikit dari mereka yang mengaji ini adalah para dosen ulumul Qur’an dan tafsir dari perguruan tinggi negeri dan swasta di tanah air. Dari berbagai khidmah beliau terhadap kajian dan pengajian kitab kuning inilah, tampaknya Kang Said lah pemimpin NU, setelah Gus Dur yang bisa diharapkan kembali melakukan dinamisasi kitab kuning. Wallahu a’lam bi al-Shawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah Wakil Sekjen PBNU yang juga Sekdirjen Pendidikan Islam di Kementrian Agama RI. (Tulisan ini adalah ceramah di Parung akhir Mei 2010 yang disunting oleh Ali Mursyid)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-846777590491036290?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/846777590491036290/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=846777590491036290' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/846777590491036290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/846777590491036290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2010/07/kitab-kuning-pasca-gus-dur.html' title='Kitab Kuning Pasca Gus Dur'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-9193364254641640439</id><published>2010-05-18T09:40:00.000-07:00</published><updated>2010-05-18T09:41:40.856-07:00</updated><title type='text'>Affandi Mochtar: “Agar Tidak Radikal, Pendidikan Islam Harus Belajar dari Pesantren”</title><content type='html'>“Agar tidak menjadi radikal, pendidikan Islam di Indonesia harus belajar dari pesantren”. Ini secara implisit dinyatakan oleh DR. H. Affandi Mochtar, MA, dalam acara penutupan workshop perpustakaan yang diselengarakan Dikti Depag RI, Minggu 16/05/2010 di Hotel Syahid Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Affandi Mochtar, pejabat Depag RI yang juga sekjen tanfidzh PBNU, narasumber lain yang hadir pada acara ini adalah Prof. DR. KH. Machasin, MA, pejabat Depag RI yang juga rais am PBNU. Hadir dalam acara ini, utusan dari berbagai perpustakaan PTAI dari seluruh pelosok negeri, baik negeri maupun swasta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini Affandi Mochtar menjelaskan panjang lembar mengenai peta pendidikan Islam Indonesia di era kontemporer. Mula-mula, Affandi menuturkan bahwa, pendidikan Islam di Indonesia sekarang ini, memang tidak seperti masa lalu. Jika pada masa lalu pendidikan Islam masih out of the ring, di luar sistem,  maka sekarang pendidikan Islam sudah masuk dalam sistem, sudah termasuk dalam program pembangunan negeri ini. Dalam hal ini, pendidikan Islam bisa dipetakan menjadi Tiga Ranah besar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pendidikan Islam di sekolah dan perguruan tinggi umum. Ini sesungguhnya bukan wilayah pendidikan agama yang berada di bawah naungan atau kementrian agama. Pada ranah ini ada beberapa persoalan. Di antaranya ada yang menengarai bahwa pendidikan agama yang diselenggarakan oleh sekolah umum dan perguruan tinggi umum memiliki sumbangan bagi munculnya radikalisme agama dan kekerasan atas nama agama. Saya tidak tahu bagaimana tingkat kebenaran anggapan tersebut. Tetapi memang anggapan itu ada. Karena soal itu dan soal-soal lainnya maka pendidikan Islam di umum juga menjadi wilayah tanggungjawab kementrian agama. Dan melalui perpustakaannya, kita bisa membenahinya lewat pintu strategis ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pendidikan Islam di madrasah. Ketiga, pendidikan Islam melalui Sekolah Diniyah dan Pesantren. Dari ketiga ranah tadi, nampaknya ada kontestasi antara perguruan tinggi agama Islam dengan pendidikan pesantren. Misalnya saja, pada kasus bahtsul masail, masyarakat masih percaya dalam hal ini, pada lulusan pesantren-pesantren tradisional, dari pada lulusan perguruan tinggi Islam, apalagi umum. Dalam hal ini lulusan perguruan tinggi Islam masih dipertanyakan kapasitasnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh Affandi menyatakan bahwa, karena keadaan di ataslah, kemudian kementrian agama RI menyelenggarakan Religius Studies dalam program pasca dan doctor di beberapa PTAIN (UIN) yang ada. Program ini kini mulai terlihat kemajuannya. Indikasinya adalah mulai banyaknya lulusan PTAI jadi ulama, jadi pengurus di PBNU. Misalnya, Prof. Dr. Machasin, jadi rais am di PBNU, dan DR. Malik Madani jadi ulama juga, jadi katib am di PBNU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga, karena itulah juga Kementrian Agama menyelenggarakan  pembenahan perpsutakaan di PTAI-PTAI, baik negeri maupun swasta. Pembenahan perpsutakaan yang dimaksud adalah bukan hanya berarti memajukan perpustakaan tetapi juga berarti membangun sesuatu yang lebih besar dari pada itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembenahan perpustakaan yang dilakukan melingkupi beberapa hal penting: (1) Penguatan Kelembagaan dan Kapasitas Perpustakaan. (2) Pembenahan konsep perpustakaan yang ada di madrasah-madrasah. (3) Pengembangan di perpustakaan di perguruan-perguruan tinggi. Dalam hal ini yang perlu dipikirkan adalah regulasi, legalisasi dan SDM serta kapasitas perpustakaan itu sendiri. Di samping perpustakaan ini harus merawat manuskrip, ia juga lain harus melakukan digitalisasi perpustakaan. Ini memerlukan keseriusan dan enegri yang luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu semua, tingkat excelency perpustakaan bukan hanya soal saranannya yang lengkap tetapi juga tingkat kunjungan penggunanya yang lebih penting. “Untuk apa perpustakaannya bagus dan lengkap tetapi sepi pengunjung. Ke depan, nampaknya kita harus memiliki desain sendiri yang unik mengenai perpustakaan perguruan tinggi Islam, sisi uniknya di mana, ini harus jelas ke depanya”, kata Affandi dengan tegas.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Machasin banyak melontarkan berbagai tantangan dan kendala yang menghadang perpustakaan untuk bisa maju. Dari sisi internal, menurutnya kendaanya terutama kareana rendahnya budaya baca dan budaya berkunjung ke perpustakaan. Dari rendahnya budaya baca ini menyebabkan rendahnya perhatian ke perpustakaan, kata Machasin. Sedangkan masalah di luar perpustakaan, biasanya adalah soal gedung, SDM, dana dan manajemennya. “Nah ini semua insya Allah akan kita benahi tahap demi tahap, tuturnya. (Ali Mursyid)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-9193364254641640439?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/9193364254641640439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=9193364254641640439' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/9193364254641640439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/9193364254641640439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2010/05/affandi-mochtar-agar-tidak-radikal.html' title='Affandi Mochtar: “Agar Tidak Radikal, Pendidikan Islam Harus Belajar dari Pesantren”'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-7598937790739753590</id><published>2010-01-14T01:33:00.000-08:00</published><updated>2010-01-14T01:43:46.021-08:00</updated><title type='text'>Dari Islam Indonesia untuk Kebangkitan Dunia</title><content type='html'>Ini adalah transkrip ceramah KH. Masdar F. Mas’udi dalam acara Harlah PMII Cirebon tahun 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam di Tengah Peradaban Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini kita mesti rajin menyebarkan Islam sebagai agama damai dan rahmatan lil’ alamin. Karena belakangan muncul kecenderungan fundamentalisme dalam beragama, yang rajin mempromosikan kekerasan untuk berbagai kepentingannya. Kita mesti menekankan Islam yang ramah dan beradab di mata peradaban-peradaban yang lain. &lt;br /&gt;Di dunia sendiri dengan mudah dapat dikatakan ada dua jenis peradaban. Peradaban yang anti agama dan peradaban yang berbasiskan pada transendetalisme agama. Ada dua peradaban anti agama atau anti spiritulitas yang datang belakangan yang dapat kita saksikan, yaitu peradaban Komunisme, dan Nazisme. Itulah peradaban modern yang dibangun berdasarkan paradigma anti spiritualitas. Dan umurnya betul-betul pendek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban berbasis komunisme hanya berusia sekitar 60 tahun, bahkan kalau dilihat pada kejayaannya mungkin sekitar 40 tahun. Dia lahir akhir dekade ke-2, abad ke-20, persisnya revolusi Bolyswik pada th. 1917 di Rusia, dan berakhir --meskipun masih ada akar yang tersisa-- pada tahun 1979. Yang lebih pendek lagi usianya adalah peradaban anti spiritualitas, atheistic radikal, yaitu Nazisme. Nazisme lebih kasar terhadap agama, dan usianya hanya sekitar 15 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara peradaban-peradaban dunia yang dibangun berdasarkan asumsi keagamaan, meskipun kadang-kadang perilakunya juga sama dengan yang anti agama, sama-sama menyukai kekerasan juga. Tapi usianya sungguh panjang, bisa ribuan tahun. Dan peradaban yang sekarang bertahan di abad 21 ini, hampir sama semuanya, yaitu peradaban yang dibangun berdasarkan asumsi-asumsi transendental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutlah misalnya Barat, peradabannya bertolak bukan hanya dari Kristiani 2000 tahun yang lalu, tetapi juga dari agama-agama yang sebelumnya. Seperti Mesir Iskandaria, dari Athena, mungkin juga mewarisi ajaran Ibrahim as, melalui Nabi Musa as, yang didikumenter melalui perjanjian  lama. Jadi usianya sekitar sudah 4000 tahun. &lt;br /&gt;Yang kedua peradaban China, itu berusia sekitar 3000 tahun, itu ada Budisme, confusianisme, yang  menghargai spiritualitas transenden. Kemudian di Hindu, India, itu sudah berusia 3000 tahun. Yang paling muda adalah peradaban Islam, 1 setengah millenium, tepatnya 1500 tahun. Oleh sebab itu, saya kira masa depan peradaban, saya kira adalah masa depan peradaban berbasis agama, bukan lagi peradaban yang berbasis anti agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 4 peradaban yang kita sebutkan tadi, dan sekarang yang percaturan yang menguasai dunia --bukan hanya secara budaya, tapi juga ekonomi, militer-- yang paling kuat adalah peradaban Barat. Posisi ke-2 dan ke-3 sekarang sedang diperebutkan adalah China dan India, dan yang paling aman adalah di posisi ke-4 itu untuk umat Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi yang paling terbelakang. Dan dalam posisi seperti inilah, maka limbah ketidakadilan dalam relasi global, itu yang paling banyak menerima limbahnya adalah umat Islam. Jadi kalau kita melihat berbagai kekerasan tingkat global, yang diderita oleh bangsa-bangsa muslim, mulai dari Palestina, Libanon, Irak, Afganistan, dan sebentar lagi kemungkinan besar Iran, itu 50% sebabnya atau mungkin malah lebih sebabnya adalah kelemahan yang ada pada umat Islam sendiri. Bukan semata-mata karena kerakusan dan keangkaramurkaan dari pihak lain. Seangkaramurka serakusnya orang lain kalau kita kuat, tidak akan terjadi kedzaliman terhadap kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah teori kedokteran yang disebut dengan teori patogin, bahwa sebetulnya di kanan-kiri tubuh ini, itu begitu banyak virus, baik yang bersahabat maupun yang memusuhi kita. Tapi apabila tubuh ini daya tahannya baik, maka virus yang ada dikanan-kiri, yang semula memusuhi jadi bersahabat. Tapi sebaliknya apabila tubuh ini daya tahannya lembek, maka virus yang semula bersahabatpun bisa menjadi musuh kita. Mungkin ini rahasia ibda’ bi nafsik (memulai dari diri sendiri). Orang lain akan memusuhi kita dan akan memusuhi kita, tetapi bila kita kuat dan berwibawa, tidak akan berani mereka sembrono. Cuma kadang-kadang umat Islam menyukai menuding orang lain ketimbang menuding dirinya sendiri. Kata orang menuding 1 jari, tapi semua 4 jari keluar tanpa kita sadari. Sehingga kita sibuk menduing virus di kanan-kiri kita yang jumlahnya tidak terbatas. Tetapi kita melupakan membangun daya tubuh kita sendiri, saya kira ini persoalan mentaliti. Yang sungguh serius, kita tidak pernah menguatkan diri kita, tetapi rajin mengolok-olok pihak lain yang sudah kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Islam untuk Kedamaian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal Islam yang damai, dan seterusnya. memang kita semua sama tahu kalau Islam itu berasal dari kata salam yang artinya damai, atau salom dari bahasa Yunani. Dalam hadits sangat jelas sekali, sudah clear, tidak perlu ditafsiri yang macem-macem. Al-musliman saliman muslimun, mnillisanihi wa yadihi. Orang Islam adalah orang yang dapat menjaga mulut dan tangannya untuk rasa damai pihak lain. Kalau sampai orang lain terluka dengan mulut dan tangan kita, berarti kita bukanlah orang muslim seperti yang didefinisikan  Rasulullah SAW. Jadi, perdefinisi Islam adalah anti kekerasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, persepektif yang lebih banyak berkembang, adalah perspektif yang dikembangkan dengan hal-hal yang bersifat simbolik, tidak riil. Maka definisi Islam seringkali definisi yang merujuk kepada konsistensi ibadah mahdlohnya. Al-Islam syahadatu an la ilaha ilallah memang shohih, dan seterusnya,itu yang shohih. Tetapi tidak kalah shohih juga dengan definisi Islam yang versinya lebih substantif. Suatu ketika Rasululloh ditanya,....Ayyul Islam khairun ya rosulullah?, keberislaman yang macam manakah yang lebih baik? Rasulullah menjawab  Itha’amut’tha’am, wa isfasu salam ala man arafta wa man lam ta’rif. Keberislaman yang disebut khoiruh (paling baik) itu pertama adalah ith’amutha’am (memberi makan) dalam arti mewujudkan kesejahteraan, terutama ekonomi, baru setelah itu kita bicara soal kedamaian. Yang kedua, ifsaus salam (memberi salam), dalam arti menebar kedamaian (salam) kepada orang yang anda kenal dan kepada orang tidak anda kenal. Kepada orang yang dikenal, karena mungkin satu organisasi, satu partai dan satu bangsa, tapi juga kepada wa man lam ta’rif, kepada orang yang tidak dikenal pun, dia harius merasa damai atas kehadiran kita, karena dia beda organisasi, beda partai, atau mungkin beda bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau ada orang ketika muncul, masyarakat sekitar dan membuat resah dan gelisah, tidak adil, cemas, itu pertanda yang menyakitkan bahwa belum ada keislaman pada dirinya. Islam bukan agama yang menakutkan, dan semakin menakutkan, bukan berarti semakin Islam.sama sekali tidak begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah hadits yang saya kira juga layak direnungkan, abghadul ‘ibad ilallah man kana tsoubuhu khoiron min amallih, tshoubuhu tsoubal anbiya wa’amaluhu amalal jabbarin, artinya hamba yang paling dimukai Allah adalah jik apakainnya lebih baik dari amalnya, pakaiannya seperti pakaian Nabi tapi perilakunya seperti prilaku preman. Hamba yang demikian disebut abghadul ibad ilallah, hamba yang paling dimurkai Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang sampaikan tadi, jelas terlihat bahwa untuk menciptakan perdamaian maka soal memenuhi kebutuhan, yang lebih substil dari kedamaian. Ada kebutuhan material yang harus dijawab terlebih dahulu. Begitu banyak anak-anak remaja atau pemuda, yang gampang direkrut untuk gerakan ini dan gerakan itu, demo ini demo itu, ngerusak ini dan ngerusak itu, karena sekedar mencari penghasilan harian. Inilah yang sesungguhnya terjadi di depan mata kita. Kalau saja mereka lebih sedikit sejahtera, apalagi sekarang lebih terdidik, saya kira tidak akan gampang direkrut untuk tindakan yang bodoh. Nah inilah sesungguhnya pesan dari Rasulullahh SAW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan perdamaian, yang tentu (sekali lagi digarisbawahi) harus dibangun berdasarkan tigkat kesejahteraan. Asumsi seperti ini harus menjadi pemenang di republik ini. Republik ini tidak boleh dipegang dan didominasi oleh orang-orang yang cenderung mengaku benar sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira kalau saya mencintai NU, itu karena saya memahami bahwa sejak awal NU saya lihat adalah orang-orang yang beragama dengan kerendahan hati, orang-orang yang beragama tanpa suka mengklaim dirinya yang paling benar, dan hanya benar sendiri, sambil menudingkan tangannya kepada orang lain. Saya benar, tapi orang lain mungkin juga. Saya kira ini yang membikin saya secara pribadi jatuh cinta kepada NU. Dan saya ingin di sana terus untuk mempertahankan karakter yang seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita juga menyadari, bahwa orang yang paling saleh secara formil dan paling rajin sembayang 5 X sehari, adalah orang yang minimum 17 kali berdoa setiap harinya, “Ya Allah bimbinglah kami kejalan yang lurus”, apa itu artinya? Sama sekali tidak pantas, orang Islam yang baik merasa bahwa saya sudah berada di jalan yang benar, dan yang lain tersesat. Apa artinya doa, ihdinasshirotol mustaqim?, kalau kita tidak harus rendah hati dalam beragama. Bimbinglah kami di jalan yang lurus, kita masih terus meminta dibimbing kejalan yang lurus, jadi tidak ada sedikitpun ruang bagi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita untuk mengklaim bahwa kita sudah berada di jalan yang benar, apalagi menuding yang lain sesat dan ahli neraka. Kesombongan yang luar biasa. Neraka, saja sudah dilihat belum, ini mengklaim sudah yaang menguasai, aneh bin ajaib. Jadi kalau ada peerubahan visi ke-NU-an, bila mulai ada kesombongan dalam beragama, saya kira harus dikoreksi dengan cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Indonesia &lt;br /&gt;untuk Kebangkitan Islam dan Keutuhan Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan dengan tegas Indonesia harus dipertahankan. Kenapa demikian? Karena posisi dunia Islam yang lemah. Karena lemahnya itu kita jadi bulan-bulanan, dan ketika kita sibuk mengatasi kedzaliman orang lain. Kita tidak mengatasinya dengan membangun kekuatan dari dalam, tetapi langsung menghancurkan orang lain, dengan bom rakitan. Sejuta bom rakitan tidak mungkin menghancurkan mereka. Tetapi dengan membangun kualitas yang mencerminkan izzah (kemuliaan), saya kira ini yang harus dibangun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dunia Islam masih dengan posisi yang lemah, dan kita sungguh tidak peduli dengan hal ini, saya kira kita berkhianat kepada cita-cita Rasul SAW, unutk menjadikan umatnya sebagai khoiru ummah (ummat terbaik). Saya kira misi yang ada di pundak kita bersama-sama adalah mewujudkan impian Rasulallah untuk mubahin fi kulli umam (membanggakan kalian semua atas umat-umat yang lain). Kalau kita tidak bisa menjadi kebanggaan Rasulallah, berarti kita memalukan beliau di depan para Nabi yang telah datang sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, di samping kualitas individu muslim yaang meningkat secara tajam, juga perlu ada satu ikatan kebersamaan yang kokoh. Dunia Islam sekarang lemah bukan hanya pada individu-individu perorangnya, tetapi juga pada individu-individu negaranya juga dalam posisi yang lemah. Hampir tidak ada negara Islam, yang tidak dibawa dominasi dan pendiktean pihak lain. Bahkan negara di dunia Islam yang paling kaya sekalipun, seperti Arab Saudi, justru sepenuhnya dibawah kendali pihak asing. Itu sejak abad ke-19, di bawah dominasi Inggris dan Prancis, dan sekarang sekaligus Amerika. Dan karena secara individu negara juga lemah, secara kolektif juga lemah, maka kita terbuka terhadap kedzaliman pihak lain seperti tidak ada proteksi apapun. &lt;br /&gt;Misalnya saja, Korea Utara itu sudah lama punya senjata nuklir, Israel juga sudah punya senjata nuklir, karena senjata nuklir ini lambang kekuatan sebuah negara. Terhadap Korea Utara itu negoisasi yang terus diutamakan, bahkan dengan tawaran ganti rugi yang luar biasa. Ini tidak terjadi di Irak. Kenapa tidak seperti seperti di Irak, yang baru diduga sudah dihancurkan? Karena Korea Utara ada protektornya yaitu China, tidak mungkin AS menghancurkan Korea Utara, karena China siap membela kepentingannya. Tetapi negara-negara Islam seperti ada di tempat yang terrbuka, yang siapapun boleh menendangnya. Palestina sudah 50 tahun lebih, kemudian disusul dengan Afganistan belakangan, Irak menyusul, dan mungkin sebentar lagi juga Iran. Karena tidak ada satu negara pun dalam Islam yang cukup berwibawa dalam mengatakan “Amerika, jangan begitu, kalau anda melakukan itu, anda harus berhitung deengan saya” enggak ada yang dianggap berwibawa jika memang demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban Barat sudah punya negara-negara yaang kokoh secara politik, ekonomi, militer ekonomi. Empat dari negara yang memegang hak veto itu adalah Barat, yang rumpunnya adalah peradaban Yudeo Kristianisme. Peradaban China,  Buddhisme, sudah punya senjata nuklir, ini Islam yang punya senjata nuklir baru satu, itu Pakistan, dan itupun hadiah dari Amerika untuk menjaga keseimbangan dari pengaruh India. Jadi bukan untuk kepentingan Pakistan, tetapi untuk kepentingan Amerika. &lt;br /&gt;Satu-satunya negara yang mampu menjadi superpower dunia Islam, dan ini mutlak perlu supaya ada kewibawaan, kiranya hanya Indonesia. Paling tidak karena lima keunggulannya.  Pertama, wilayahnya paling luas diantara seluruh negara Islam, seluas Eropa, letaknya juga sangat srategis, 2/3 dari pelayaran kapal perang dan dagang lewat selat Malaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kekayaan alam Indonesia juga luar biasa, sekarang ada ditemukan --sebetulnya sudah lama, tapi baru dibuka-- sumber energi panas bumi, yang tidak akan perrnah habis, dan itu terbarukan terus menerus dan itu bisa mencukupi hampir dua kali pada kebutuhan energi nasional. Di sanping kita juga punya hutan, kalau Arab punya minyak tetapi kita juga punya hutan, kita juga punya kekayaan laut yang luar biasa. Dari laut Arafuru saja yang dicuri satu tahun adalah sekitar 4 M dollar atau sekiiatr 40 Triliyun rupiah. Itu yang dicuri dari satu titik saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Indonesia adalah negara yang pendduduk muslimnya terbesar di seluruh dunia. Dan yang keempat, Indonesia dianggap negara yang paling siap, untuk mengikuti tata peradaban modern. Itu dengan demokrasi yang dianggap paling matang, meskipun kita lihat dan merasakan masih begitu banyak masalah, tetapi tetap dianggap yang paling maju, karena memang masa depan peradaban modern ya peradaban syuro baynahum, bukan hanya ditangan segelintir penguasan saja. Itulah tatanan demokrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi lima keunggulan tadi semua bermasalah. Wilayah yang luas terus diguncang dengan disintegrasi. Teritorial baru belakangan agak tenang, seperti Aceh dan Papua, tetapi punya potensi api dalam sekam terutama bagi Papua.  Letak yang sangat strategis juga belum punya makna, karena hanya menjaga selat Malaka saja itu dibutuhkan 30 kapal Pregag, Indonesia hanya punya tiga buah kapal. Itu pun sudah tua. Selebihnya punya Singapura, Malaysia dan Thailand. Sehingga meekalah yang menikmati keunggulan. Kita hanya bisa menikmati separuh sebelah Barat. Kita kehilangan keunggulan separuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan yang luar biasa melimpah,  juga ternyata bermasalah serius karena korupsi yang masyaa Allah parahnya. Korupsi di negeri ini bukan hanya dikorup dari tangan rakyat lalu disimpan di dalam negeri, tetapi dikorup dan disimpan di luar negeri. Sehinngga dosanya dosa berlipat, yang pertama dosa korupsi, yang kedua dosa menaruh kekayaan rakyat di tangan asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kekuatan Umat Islam Indonesia yang merupakan yang terbesar di dunia juga bermasalah. Ini baik secara kuantitas, kemanusiaannya maupun visinya ideologinya juga sedang bermasalah. Demokrasi juga dalam ancaman yang mulai serius karena muncul dan menguatnya sikap antagonisme keyakinan, sikap keberagamaan yang sombong, sikap keberagamaan yang tidak rendah hati, sikap keberagamaan yang lebih suka menuding orang lain. Berbeda sedikit, lemparkan ke neraka. Ini juga ancaman keunggulan Islam di Indonesia saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi umat Islam, tentu saja ini merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Karena Indonesia bukan hanya negara yang penduduknya Islam, karena sekali lagi negara lainpun memandang dan mendefinisikan Indonesia seperti itu. Islam yang berkembang asal mulanya di Indonesia adalah yang semula saya katakan adalah yang rendah hati, yang mampu melihat ada orang lain juga, meskipun agama berbeda keyakinan berbeda, kita tidak berhak menghabisi mereka. Orang yang paling kafir pun boleh hidup di bumi ini, barangkali karena kita sejak kecil diajari makna Ar-Rohman dan Ar-Rohim. Itu ketika kita ngaji pada Kiai kita di kampung, memberi makna Ar-Rohmaan itukan yang Maha Welas Asih Dunia dan Akhirat, kepada siapapun, orang kafir dan mukmin. Dalam hal ini, orang kafir berhak menghirup udara Allah, berhak menginjak bumi Allah, juga berhak meneguk airnya Allah SWT.  Bahwa nanti karena keimanannya, kekafirannya, itu akan diperlakukan berbeda, itu urusan nanti di akhirat.  Saya kira makna yang tidak kita sadari sejak kecil itu sesungguhhnya bermakna cukup dalam. Karena bermakna bahwa kita tidak boleh mendiskriminasikan orang lain hanya karena perbedaaan agama, apalagi hanya beda sub keyakinan agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi paham yang damai dalam beragama kini dalam ancaman. Karena tumbuhnya fundamentalisme, ekstrimisme dan radikalisme. Umat beragama lalu penuh dengan klaim kebenaran untuk dirinya sendiri sekaligus diikuti dengan tudingan kepada pihak lain sebagai orang yang tidak berhak hidup di bumi Allah ini. Kalau ini terus berkembang, maka, bisa dipastikan Bhinneka Tunggal Ika, baik dari sudut agama, keyakinan, tradisi, suku, itu juga akan pecah berkeping-keping, dan ketika Indonesia pecah, habislah harapan dunia Islam, untuk adanya negara yang kuat dan berwibawa di mata Internasional. Karena negara Islam yang lain di luar Indonesia adalah negara-negara yang belum bisa menjadi negara super power. Mungkin secara keseluruhan Arab bisa, tetapi Arab bisa diyakini sampai kapanpun tidak akan pernah bersatu. Ini sekali lagi Indonesia, kita semua memegang harapan masa depan kedamaian dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bukan hanya kepentingan umat Islam Indonesia kokoh, tetapi juga kepentingan dunia Islam secara keseluruhan sangat membutuhkan Indonesia yang kokok dan maju, dan itu ada di pundak umat Islam, dan kalau kita runut, pundak umat Islam yang memikul tanggung jawab itu adalah pundak umat Islam yang moderat. Mudah-mudahan NU masih memikul tanggung jawab ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada masalah di dalam moderasi, biasanya moderat itu seolah-olah ada penyakit bawaan, untuk tidak militan. Moderat tetapi militan itu kayaknya aneh? Kayaknya aneh, karena dua hal yang tidak pernah atau sulit ketemu. Mungkin karena militan cenderung kita artikan sebagai bertindak secara fisik dan keras. Padahal militansi itu tidak sesederhana itu, militansi adalah istiqomah, dan percaya diri terhadap apa yang kita yakini, hanya minus menuding orang lain saja. Yang perlu dicatat adalah, kadang-kadang sifat moderasi seperti juga seringkali melakukan kekerasan, tapi kekerasan by omission di dalam istilah sekarang ini. Yaitu kekerasan karena membiarkan pelaku-pelaku kekerasan memainkan kekerasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ikatan Tradisi Menuju Kebangkitan Organisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira langkah yang dibutuhkan dan sangat sederhana untuk kaum moderat, adalah kesediaan atau dalam istilah yang lebih keras militansi untuk mengorganisir diri. Dan mengorganisir diri ini sesuatu kebutuhan mutlak yang secara normatif keagamaan-pun sepertinya digarisbawahi. Kita melihat dunia Barat, kenapa kokoh? Karena civil societynya di sana kokoh, dan negaranya juga kokoh, dan mereka secara individu negara masih terus membina kebersamaan dengan negara lain. Kurang apa, Inggris, Prancis, German, tetapi mereka butuh kebersamaan lebih luas lagi, membangun Uni Eropa, membangun NATO, AS juga kurang apa, tidak kekurangan apa pun, tapi dia butuh membangun kekuatan dengan aliansi-aliansi kekuatan lain. Kesadaran inilah yang kemudian disebut kesadaran berjamaah. Di dalam hadits Rasulullah SAW dikatakan, alaikum bil jamaah, itu sesungguhnya bukan hanya anjuran berjamaah sholat. Tetapi berjamaah dalam seluruh aspek kehidupan. Karena sesungguhnya sholat berjamaah pun maknanya adalah sholat yang terorganisir. Kalau kita berjamaah hanya di dalam sholat, maka kita akan lemah di luar masjid, bahkan diluar saat-saat  kita di luar menjalankan ibadah saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat misalnya dunia Kristiani, yang sekarang mungkin secara total sekitar 3 miliyar, umat Islam di dunia sekitar 1,3 milyar, Katholik saja hampir sama dengan jumlah umat muslim dunia 1, 3 M, tapi di Kristen itu, di kalangan agama Nashroni, tidak ada seorang Nashroni yang tidak menjadi bagian dari organisasi keagamaannya. Jadi tidak ada di orang Kristen yang dibilang, “kamu Kristen apa?”, “saya Kristen saja” itu tidak ada. Semua Kristen pasti punya afiliasi, saya Kristen Katholik, saya Kristen Protestan, saya Methodist, saya Baptis, saya Mormon, dst, jadi tidak ada yang ngambanng. Sementara umat Islam justru sebaliknya, banyak yang merasa bahwa, msalnya anda Islam organisasinya apa? Jawabnya, tidak, saya Islam saja. Ini salah kaprah yang serius sesungguhnya. Karena ketika orang mengatakan bahwa saya Islam saja, berarti ia tidak punya rumah kebersamaan. Kalau dalam bahasa hadits, ini diumpamakan kambing yang dilepas sendirian dan gampang diterkam oleh Srigala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berjama’ah, umat Kristiani menjadi kokoh. Ketika mereka tergabung dalam wah-wadahnya yang terkait dengan agama dan tempat ibadahnya, maka mereka menyebut organisasi itu selalau gereja, gereja Katholik, gereja Protestan, Methodist, Baptis, Mormon, segala macem yang terkait dengan gereja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mininum ada tiga hal kenapa umat Kristiani harus tergabung dalam wadah keagamaan tertentu. Pertama ketika lahir, begitu di baptis, dia dibaptis di mana, apakah di Katholik, apakah di Protestan, meski datang Kiai organisasi keagamaan. Yang kedua, ketika orang kristen menikah, jika ia tidak tercatat di gereja manapun, tidak akan ada pendeta yang mau menikahkan. Lebih-lebih ketika dia mati, kalau tidak terdaftar namanya di gereja manapun, tidak akan ada ornag yang peduli. Dan ini bagi mereka menjadi sangat penting mengabdikan diri kepada organisasi keagamaan. Karena rata-rata orang Kristen hidup di kota yang muansa individualistiknya kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita lihat di kompleks-kompleks kota, tampaknya di kompleks saya misalnya hanya ada dua orang Kristen, tetapi begitu dia meninggal, puluhan bahkan ratusan orang datang. Ini dari mana? Karena ukhuwah jamaahnya kuat sekali. Dan itulah yang menyebabkan mereka dapat menikmati fasilitas dari Allah. Yaitu fasilitas keunggulan dan kemenangan. Kam min fiatin qalilatin gholabat fiatan kashiratanh biidznillah (hadits), biidznillah. Biidnillah itu makna sebenarnya berjamaah, karena mengorganisir diri sesunggihnya maka kelompok kecil bisa mengalahkan kelompok besar, karena bil jamaah. Di dalam hadits lain dikatakan, Yadullah fauqal  jama’ah, , artinya kekuatan Allah yang tentu luar biasa itu hanya dinikmati oleh mereka yang mampu mengorganisir diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita lihat misalnya di Indonesia, saudara kita dari kalangan Nasrani itu hanya sekitar 7%, tapi apa dari mereka yang tidak bisa mereka perbuat, dengan kualitas tinggi, apakah bidang pendidikannya, apakah bidang sosialnya, atau bidang ekonominya, mereka sungguh unggul, sekolah terbaik mereka punya, rumah sakit terbaik mereka punya, padahal mereka hanya 7%. Karena mereka bil jama’ah, mengorganisir diri dengan sungguh baik. Saudara kita Kristen di Irian Jaya, yang tentu mulanya hanya 10 orang, 20 orang, paling banyak ratusan, kenapa sejak awal sudah punya helikopter? Karena Kristen yang ada di Irian itu hanya bagian kecil saja Kristen yang ada di Australia, Eropa, di Amerika, dan tergabung secara sistematis, melalui organisasi gereja. Jadi tidak ada yang mustahil karena bil jamaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu berjamaah umat Islam dalam berjama’ah masih terbatas pada sholat berjamaah di masjid. Ini harus di reaktualisasi, dibawa keluar pintu masjid, jamaah itu dalam arti mengorganisir diri, berjamaah itu berorganisasi. Terserah memilih organisasi apa, itu pilihan yang tidak dapat dipaksakan, tetapi jangan nyempal sendirian. Karena kalau ada batu sendirian di jalan, kalau kecil dilempar, kalau besar di pecahkan, karena mengganggu. Tetapi kalau dia bergabung dengan yang lain, maka batu yang kecil bisa menjadi batu yang banyak bermanfaat. Dalam kaitan ini, kebiasaan salah kaprah umat Islam, tidak mau mengorganisir diri, ini sumber kelemahan yang sangat serius. Dan inilah yang menjadi sebab kenapa umat Islam nasional secara global tidak kompetitif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau kita lihat dari jumlah umat Islam hampir 1, 3 M, itu yang relatif sudah terorganisir dengan baik (well organized) itu baru tiga kelompok, yaitu Ahmadiyah, Syiah dan fundamentalis (salafi atau turunannya wahabi mungkin). Sementara hamparan dari 2/3 umat Islam yang ahlussunnah wal jamaah, atau sunni ini yang paling tidak terorganisir. Mereka sendiri-sendiri, satu-satunya kerangka organisasi sudah ada, itu di Indonesia NU. Itupun kita lihat betapa longgarnya organisasi ini. Dan belum bisa disebut sebagai organisasi. Baru bisa disebut sebagai kerumunan. Kerumunan yang dipersatukan dengan tradisi yang kita warisi secara alami begitu saja. &lt;br /&gt;Saya sering mengumpamakan NU itu ibarat mesjid besar, di dalamnya ada puluhan juta orang. Tetapi ketika Imam mulai takbir di mihrab, yang berbaris lurus dan rapih di belakangnya itu hanya marbot-marbotnya saja. Itu pun tidak semuanya, makmum yang lain itu, semua tadinya sama, sama-sama qunut, tapi sholatnya sendiri-sendiri. Atau bermakmum, berjamaah dengan imam-imam lokal di pojok-pojok masjid . Jadi tidak ada yang namanya kesatuan fikrah (pemikiran) dan harakah (gerakan). Meski jika kita telusuri kenapa bisa begitu? Ini saja sudah dikatakan untung. Karena di Indonesia sudah ada kerangka wadah kebersamaan untuk kelomp ahlu sunnah wal jamaah ini .namanya NU. Tetapi NU sendiri masih jauh dari memenuhi syarat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Egoisme Menuju Kebersamaan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa lemah pada kebersamaannya? Karena kelemahan ini bersumber pada kekuatannya juga. Kekuatan NU secara kultural karena ada kekuatan-kekuatan Kiai yang berpengaruh. Itu tadi saya sebut sebagai ada imam-imam lokal, yang menjalankan jamaah di pojok-pojok sendiri. Ada Kiai-kiai lokal yang punya pengaruh, ini kekuatan NU, tetapi sekaligus menjadi hambatan menguatnya NU. Karena tokoh-tokoh ini yang skornya kalau di bobot itu bisa di atas 10, apalagi yang khos bisa diatas 15-20. Tetapi yang bobotnya 12,15, 20, ini tidak pernah mau dikalikan dengan yang lain.Jadi sampai kiamat, bobotnya hanya 20 saja. Sementara di kelompok lain, orangnya hanya 7 bobotnya, tidak ada yang khos,, biasa-biasa saja. Tetapi yang bobtnya rndah itu mau dikalikan mau dijumlahkan 7 kali 1000 jadi 7000. Tapi di kalngan kita bobotnya 20 bahkan mungkin 50, tapi inginnya sendiri saja. Jadi sampai kiamat tetap saja hanya 50 itu kekuatannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara psikologis masalah organisasi NU adalah masalah ananiyah (egoisme). Padahal syarat untuk berorganisasi adalah kesediaan untuk meleburkan ana menjadi nahnu. Kalau ana-nya masih tetap bertengger apalagi hamzah-nya masih besar-besar, maka menjadikan ana menjadi nahnu sulitnya luar biasa. Jadi berorganisasi adalah kesediaan untuk meleburkan ananiyah ke dalam nahnuwiyah. Kalau ditelusuri dalam tasawuf ini masalah keikhlasan. Tetapi agak kurang pantas bicara keikhlasan di hadapan kiai-kiai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sekarang kalau secara alami ana besar mengalami semakin sedikit jumlahnya. Dan kita tidak bisa menghentikan berkurangnya ana-ana besar di NU, kita tidak bisa merekayasa. Ini alami. Di satu pihak kita mungkin menangisi berkurang atau mungkin habisnya kiai-kiai besar yang berpengaruh. Tetapi di sisi lain tidak ada irodah Allah yang tidak membawa hikmah. Ini adalah kesempatan emas bagi NU untuk betul-betul membangun organisasi. Karena ke nahnuwiyah (kebersamaan) akan lebih gampang dimunculkan dari ana-ana yang kecil, ketimbang ana-ana yang besar. Ini sama halnya dengan kita membangun cor, mesti butuh batu yang dipecah. Batu kecil tidak perlu dipecah, untuk menjadi bagian dari bangunan. Sedangkan batu besar, harus dipecah terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saudara sekalian, saya kira sekali lagi bahwa moderasi yang dipahami secara pasif, itu dapat menghambat adanya kekuatan umat secara keseluruhan dan ini menjadi kunci kekalahan umat Islam secara global. Jadi dengan demikian maka tantangan terbesar kita adalah bagaimana membangun kebersamaan yang terorganisir untuk hamparan umat Islam yang memiliki kesadaran dan naluri yang rendah hati. Ini mutlak harus dibangun dengan cepat. Mungkin ini memerlukan revolusi juga, khususnya dengan yang berkaitan dengan mental. Mengenai bagaimana meleburkan hamzah ana kedalam nun–nya nahnu. Bagaimana meleburkan egoisme dan menjalin kebersamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ritualitas Simbolik Menuju Keberagamaan Subtantif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang ingin saya tekankan bahwa keberagamaan yang moderat itu membutuhkan titik tekan yang lebih berat, lebih besar, bukan hanya kepada aturan-aturan formal fiqhiyaah, tapi justru menyentuh pada piwulang-piwulang yang lebih substantif yang sering digumuli oleh tasawuf. Lemahnya tasawuf ini yang ..agama dengan keras kepala, beragama dengan sombong adalah beragama yang mengingkari Tashawuf. Tetapi mohon bahwa Tashawuf di sini jangan berhenti pada ritualisme yang keras, tetapi pada akhlaq, mentalitas, sikap bathin. Atau ahwalul qalb dalam istilah Imam Ghozali. Dalam istilah Ta’lim Muta’alim disebtkan sebagai rendah hati, percaya diri, menjaga kebersamaan, penuh semangat berkorban.Itu semua adalah yang harus dibangun. Dan sekali lagi inilah tantangan dakwah kita yang sesungguhnya. Jarang saya dengar dakwah berbicara mengenai mentalitas yang unggul, tetapi lebih menekankan aspek-aspek formal keagamaan, dan mengedepankan garis-garis pemisah antara kelompok yang satu dengan yang lain. Mubaligh yang ada nampaknya lebih ayak muballigh-mubaligh kepala suku, yang membangun kesetiaaan sempit (primordialisme), bukan yang menyebarkan kedamian membantu dan kebersamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya perlu ada sublimasi dalam kehidupan beragama. Dan untuk itu, dispilin yang harus dimasuki adalah disiplin ilmu Tashawuf yang lebih menekankan pembinaan akhlaq. Ini bukan sesuatu yang baru, karena sesungguhnya dikatakan dalam hadits Nabi bahwa al-dien husnul khuluq. Beragama itu adalah berbudi pekerti yang baik, berprilaku yang baik. Dikatakan juga dalam kesempatan lain bahwa, “Yang paling sempurna imannya diantara kalian adalah yang paling baik budinya, bukan paling kasar ucapannya”.  Saya kira ini yang seharusnya dikumandangkan lebih keras oleh semua pendakwah dan tokoh-tokoh agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama sendiri selalu saja ada empat unsur utama. Pertama adalah yang  berkaitan dengan keyakinan. Ini sifatnya given dari atas. Orang menyakini begini dan meyakini begitu ialah intervensi dari langit. Dalam bahasa Islam disebut hidayah, yang merupakan hak preogratif Allah SWT. Rasul pun tidak bisa memberi hidayah. Diakatakan dalam hadits, Innaka la tahdi man ahbabta, artinya, “Sungguh kamu (Muhammad) tidak akan bisa menunjukkan orang yang kau cintai sekalipun”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, berhubungan dengan ritualitas, peribadatan, ibadah mahdlah. Ritualitas ini simbolisasi dari keyakinan tadi, oleh karena itu ritualitas bukan substantif, tapi perlu sebagai simbol, meskipun perlu dia simbol, oleh karena itu kita tidak boleh fanatik di dalam masalah ini. Saya pikir-pikir, kenapa masalah sholat tidak ada hadits mutawatirnya, mestinya kalau Nabi serius betul untuk mengajari sholat dari A sampai Z supaya jangan ada yang keliru, pastinya beliau pernah membuka kursus, bagaimana sholat yang benar sebenar-benarnya. Setelah kursus, seminggu misalnya lalu praktek, dan sahabat sholat bareng lalu berkeliling mengawasi, dari satu gerak ke gerak yang lain sambil membawa penjalin. Kalau ada yang keliru,langsung peringatkan saja. Itu tidak ada, tidak dilakukan oleh Nabi. Beliau tidak pernah membuka kursus, ketika ditanya bagaimana cara sholat, Nabi bilang, Shaluu kama raitumuni ushalli, maksudnya  “ikuti saja deh. saya.” Ritual, dalam hal ini shalat memang penting, tetapi sekali lagi itu simbol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu ada peringatan, fawaylullilmusholin”, celakalah bagi orang-orang yang shalat. Shalat yang terjebak sekedar menjalankan ritulitas saja. Jangan sampai kita tenggelam di dalam simbolisme, seolah-olah itu segala-galanya. Bahkan di dalam hadist shahih disebutkan bahwa kanjeng Nabi ditanya sewaktu shalat. Beliau menjawab juga, jadi kalau saja tidak boleh ada sedikitpun kesalahan, tata cara sholat yang nyebal, sekali lagi pasti Nabi membuka kursus sholat minimal  lima hari berturut-turut, dan diawasi ketika praktek, dan dengan demikian maka pasti diriwayatkan periwayatan .mutawatirnya. Tetapi tidak ada hadits mutawatir satu pun yang meriwayatkan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga soal Haji, dikatakan bahwa Nabi bersabda: “Khudz ‘annnî manâsikakum....”.., artinya bagaimana kalian berhaji, tiru saja saya, kata Rasul. Maka ketika ada sahabat bertanya, “Nabi saya bercukur ketika berkorban? Nabi menjawab  “if’al wala harst:”, lakukan saja tidak masalah. Lalu ada sahabat Nabi lain yang bertanya, “Ya Nabi saya telah berkorban sebelum saya melempar jumrah, ini bagaimana? Nab menjawab sama “if’al wala harts”. Jadi sebenarnya ritualitas atau peribadatan mahdhah seharusnya bukanlah  hal yang harus membuat orang spaneng dan fokus di situ, apalagi menuding oarng lain neraka karena perbedaan tata cara seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga adalah code. Code ini adalah etika. Sekarang ini justru seolah yang paling penting adalah aturan-aturan hukum, bagaimana menghukum dan memotong tangan, memenjarakan, bukan itu. Code, itu syariah. Syariat itu jalan kebenaran, jalan keluhuran, yang substansinya  adalah ahlak. Yaitu bagaimana membikin orang lain merasa damai dan terrtolong oleh kehadiran kita.  Tetapi sekarang kita lebih memahami syariat sebagai aturan untuk menghukumi orang lain. Sesungguhnya itu bagian yang paling permukaan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terakhir adalah civilization, membangun peradaban. Peradaban ini adalah reaksi kreatif manusia terhadap lingkungan sosialnya, maka karya peradaban adalah organisasi, aturan-aturan main, struktur. Itulah peradaban. Maka semakin canggih sebuah organisasi, maka semakin meunujukkan masyarakat yang semakin beradab. Semakin terbelakang sebuah komunitas, organisasinyapun semakin lembek. Itu yang pertama&lt;br /&gt;Yang keempat, unsur peradaban adalah reaksi kreatif terhadap alam dan lingkungan, maka lahirlah sebuah peradaban teknologi berupa bangunan, jembatan, yang meemenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik dan memenuhi manusia hidup. Sesungguhnya Islam harus mengcover empat  unsurdi tasa, dan peradaban itulah sungguhnya misi kekhilafahan manusia, jadi kakhilafahan manusia itu adalah sesungguhnya misi membangun peradaban, melanjutkan ciptaan Allah,  jangan sejak dulu begitu saja, sampai kiamat masih seperti itu juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saat yang baik untuk lahir kembali. Ibarat bangunan, umat Islam dan masyarakat Islam Indoneisa khususnya adalah bangunan runtuh. Membangun kembali bangunan yang runtuh, itu bisa menghadapi dua kemungkinan yang berbeda. Apakah keterpurukan menjadi kematian dan dikuburkan. Ataukah keterpurukan itu akan menjadi titik untuk kebangkitan. Tentu pada akhirnya, terserah kita semua.Wallahu a’lam bi al-shawab&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-7598937790739753590?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/7598937790739753590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=7598937790739753590' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/7598937790739753590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/7598937790739753590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2010/01/dari-islam-indonesia-untuk-kebangkitan.html' title='Dari Islam Indonesia untuk Kebangkitan Dunia'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-4611450389897682222</id><published>2009-12-27T04:45:00.000-08:00</published><updated>2009-12-27T04:46:13.825-08:00</updated><title type='text'>Ceramah Sepuluh Syuro KH. Said Aqiel Siradj</title><content type='html'>Tulisan  di bawah ini adalah rekaman ceramah KH. Said Aqiel Siradj pada acara peringatan 10 Muaharam di keraton kasepuhan Cirebon, 07/01/2009, yang dibayang-bayangi tindak intoleransi dan diskriminasi dari kelompok keagamaan garis keras. Rekaman ini ditranskrip, dituliskan dan diedit oleh Ali Mursyid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISLAM BUKAN HANYA AQIDAH DAN SYARIAH&lt;br /&gt;TETAPI PERADABAN DAN ILMU PENGETAHUAN*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ‘ala maulana  wa syafiina wa habibina rasulillah, Muhammad saw. Wa man tabai’a sunnatahu wa jama’ana ila yaumina hadza, ila yaumil ba’tsi wa kafa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ashabal Fadhilah Sadatana Ahlal Baitil Mushtafa, Habibabana wa hamzakumullah, Wa ‘ala ru’usihim Assayiid Hasan Alai al-Idrus. Hadratsus Syaikh KH. Mahfudzh, KH. Hassan Kriyani, Rekan-Rekan Pengurus NU, Wawan Arwani, rekan-rekan pengurus PMII, pimpinan Forum Umat Islam se wilayah III, Bapak Syaihu, Sadati wa Sayidati ahlil kubur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah pada malam hari ini, saya juga merasa berbahagia bisa menghadiri acara yang sangat mulia dzikra syahadati sebeti rasulillah  saw, sayidina wa imamina Abi Abdillah al-Hussein as. Mudah-mudahan kita semua medapatkan berkahnya, syafaatnya, sehingga kita menjadi umat yang selamat bahagia dunia akhirat amin ya rabbal amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal ada halangan, tempatnya pindah, saya harap kepada seluruh panitia, jangan marah. Maafkan mereka yang memindahkan tempat acara ini. Maafkan yah, jangan marah, jangan dendam. Allahummahdihim fainnahum la ya’lamun. Alhamdulillahi al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin yang saya hormati, setelah al-khalifah al-rasyid yang keempat, al-Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib dibantai,  dibunuh pagi Jum’at 17 Ramadhan th. 40 H. oleh seorang yang bernama Abdurrahman ibn Muljam. Pembunuh Sayyidina Ali ini orangnya qiyamul lail wa shiyamun nahar, hafidhul Qur’an. Orangnya tiap malam tahajud, sampai jidatnya hitam, tiap siang puasa, dan hafal al-Qur’an. Mengapa dia membunuh Sayyidina Ali? Karena menurutnya Sayyidina Ali itu kafir? Apa Kafir? Keluar dari Islam. Kenapa Ali kafir? Karena menurutnya, Ali menerima hasil rapat manusia. Hukum atau keputusan rapat manusia. Padahal, la hukma ilallah (tidak ada hukum selain hukum Allah), wa man lam yahkum bima anzalallah faulaika humul kafirun (maka barang siapa menggunakan selain hukum Allah, maka kafir). Ali tidak menggunakan hukum Allah, tetapi menggunakan hukum hasil kesepakatan rapat di Dummatul Jandal. Kalau kafir, maka harus dibunuh. Eh anak kemarin sore, mentang-mentang jidatnya hitam dan jenggotnya panjang, mengkafirkan man aslama min al-shibyan, shihru rasulillah, fatihu khaibar, min al-sabiqin al-mubasyirun bi al-jannah, bab al-ilm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kemarin sore berani mengkafirkan remaja yang pertama kali masuk Islam, yang pertama kali shalat jamaah di masjidil haram. Waktu itu ditertawakan oleh Abu Jahal dan teman-temannya. Waktu itu yang pertama kali shalat jama’ah di masjidil haram tiga orang. Saat itu imamnya Rasulillah, makmumnya sayyidah khadijah al-kubra dan Sayyidina Ali. Tiga orang itulah yang pertama kali shalat terang-terangan di dunia ini. Dikafirkan oleh anak kemarin sore, maklum pernah ikut pesantren kilat dua minggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali adalah shihru rasulillah, menantu rasul. Ia juga dijuluki bab al-ilmu, sahabat yang intelek dan cerdas. Ali  juga adalah min al-sabiqin al-awwalin al-mubasyirun bi al-jannah, salah satu orang yang sudah dikasih tahu pasti masuk surga. Di samping sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Thaha, Zubair, Abdullah bin Auf, Abu Ubaidah, Amr bin Jarrah, sampai orang sepuluh yang dikasih tahu pasti masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidina Ali juga dipercaya sebagai Fatihu Khaibar, yang memimpin perang mengalahkan benteng terakhirnya Yahudi di Khaibar. Dan Imam Ali juga selalu hadir dan ikut bersama rasul dalam peperangan perjuangan jihad fi sabililillah. Yang begini dikafirkan oleh anak kemarin sore, bernama Abdurrahman ibn Muljam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini, penyakit seperti ini sudah mulai masuk ke Cirebon. ”Alah baca al-Qur’an juga plentang-plentong. Ngerti nggak itu asbab al-nuzul? Ngerti nggak itu tafsir? Negerti nggak itu mushtalah hadits? Shahih, hasan dan dha’if? Ngerti nggak itu qira’ah sab’ah? Apalagi qira’ah sab’ah, qira’ah yang biasa aja nggak bener kok!   Ngerti nggak ushul fiqh? Ngerti nggak itu ilmu kalam? Tarikhu Tamaddun? Tarikhu Hadharah wa Tsaqafah? Ngerti nggak itu? Tahu-tahu mudah sekali mengkafirkan dan menyalah-nyalahkan orang. Alah, Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun, Alhamdulillah al-ladzi ja’ala a’da’na umaqa, juhala. Alah. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Sayyidina Ali terbunuh di Kuffah, maka gubernur Syam, Muawiyah ibn Abi Sufyan ibn Harb ibn Umayyah ibn Abdi Syams ibn Hasyim merasa plong, tidak ada saingan. Tidak ada yang diperhitungkan lagi. Maka ia mendeklarasikan diri sebagai penguasa tunggal. Lalu setelah itu buru-buru ia mengangkat anaknya yang bernama Yazid, diangkat menjadi putra mahkota, yang akan mewariskan tahta, artinya kalau ia mati, langsung digantikan anaknya, yang bernama Yazid. Yazid sendiri adalah anak seorang ibu yang bernama Maesun, orang Badui pedalaman, yang tidak suka tinggal di istana, dan suka hidup di padang pasir dan suka tidur di kemah. Yazid sendiri tidak pernah belajar ngaji dan belajar agama, ia hanya belajar berburu, naik kuda, memanah dan memainkan senjata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Muawiyah meninggal, Yazid langsung menjadi penggantinya, penguasa umat Islam. Waktu itu diutus beberapa utusan berangkat dari Damaskus ke seluruh provinsi untuk mengambil sumpah setia dari tokoh-tokoh yang ada kepada Yazid. Utusan-utasan itu berangkat ke Mesir, ke Basrah, ke Kuffah dan juga  diantaranya ke Madinah. Sampai di Madinah, para sahabat besar, seperti Abdullah ibn Umar dan lain-lainnya mau berbai’at karena dipaksa dan dibawah intimidasi. Meski yang lain bai’at, Imamuna Sayidina Husein meminta waktu untuk berfikir. ”Nanti saya fikir dulu malam ini”, katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Sayyidina Husein pulang ke rumah. Di dalam kegelapan malam, beliau beserta seluruh keluarganya meninggalkan Madinah al-Munawarah berjalan kaki menuju Makkah al-Mukarramah. Masuk kota Makkah, ketika orang datang haji, orang-orang datang ke Minna, beliau beserta keluarganya keluar dari Makkah. Beliau saat itu sudah sering haji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sayyidina Husein keluar dari Makkah, di tengah jalan ia dinasihati oleh seorang penasihat, bahwa kalau mau melakukan perjuangan jangan pergi ke Kuffah. Karena orang Irak mudah berhianat. Sebaiknya kamu ke Yaman, karena orang Yaman jujur dan mudah tidak hianat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah jalan lagi, Sayyidina Husein berjumpa seorang penyair bernama Farazdaq. Farazdaq bertanya mau kemana wahai yang mulia? Beliau menjawab, saya mau ke Kuffah, saya menerima lebih dari seratus surat, agar saya hijrah dan membangun peradaban di sana. Farazdaq berkata; ”Jangan percaya orang Kuffah, mulutnya bersama kita tetapi hatinya beserta Muawiyah”. Sayyidina Husein menjawab, saya akan tetap menuju Kuffah. Farrazdaq berkata lagi: ”Kalau begitu, perempuan dan anak-anak jangan kamu bawa”.  Tetapi mereka tetap diajak bersama. Rupanya Allah sudah menentukan mati syahidnya Husein, sehingga Sayidina Husein tidak menerima masukan orang lain. Akhirnya beliau tetap berjalan bersama keluarga dan pengikutnya. Ada bukunya berjudul Ashabu Husein, sedikit sekali, yang bersenjata hanya berjumlah 54 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Sayyidina Husein meninggalkan Farrazdaq, lalu ada orang yang bertanya. ”Wahai Farrazdaq, tadi kamu berbicara sama siapa, kok kelihatanya asyik banget”, tanya orang tersebut. Farrazdaqpun menjawab dengan lantunan bait-bait syair, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi yang saya ajak ngomong itu, kamu ndak tahu? Kamu ndak tahu?&lt;br /&gt;Dia sudah dikenal seluruh umat manusia&lt;br /&gt;Baik penduduk tanah halal dan tanah haram&lt;br /&gt;Ka’bah pun sudah kenal dia&lt;br /&gt;Siapa dia itu?&lt;br /&gt;Dia adalah anak orang yang paling mulia (Sayyidina Ali)&lt;br /&gt;Dia adalah orang yang bertakwa, bersih dan suci&lt;br /&gt;Kalau kamu ndak tahu? Dia putra Fatimah&lt;br /&gt;Ketika orang Quraish melihatnya&lt;br /&gt;Orang Quraish akan mengatakan, bahwa orang inilah&lt;br /&gt; ujung orang yang mendapat kemuliaan&lt;br /&gt;Dengan kakeknyalah para Rasul dan Nabi di akhiri&lt;br /&gt;Karena kakeknya Nabi yang terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayidina Husein beserta rombongan terus melanjutkan perjalanan. Dan sesampainya di padang Karbala dihadanglah oleh 400 pasukan penunggang kuda yang diperintah oleh Abdullah ibn Ziyad, yang dipimpin Umar ibn Sa’ad ibn Abd al-Waqas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi peperangan yang tidak seimbang, termasuk hampir tentara Husein yang hanya berjumlah 54 orang. Semua yang ikut Sayidina Husein mati syahid, kecuali Imam Ali Zainal Abidin, tidak meninggal karena tidak keluar kemah karena sedang sakit demam. Dan juga istri Sayidina Husein, Fatimah, adiknya juga Sayidah Zainab dan kakaknya lagi. Kira-kira ada 4 orang yang selamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya mudah sekali untuk membunuh dan membantai Sayidina Husein, gampang. Tetapi tiap orang yang mendekat dan hendak membunuh beliau, maka akan berusaha menjauh, dan mengatakan kalau bisa jangan saya yang membunuh, tetapi yang lain saja. Kalau datang waktu adzan, waktu shalat, semuanya berhenti, lalu tidak ada yang berani menjadi Imam Shalat. Semua sepakat Sayidina Husein yang mengimami shalat. Jadi yang memusuhi juga makmum ke Sayidina Husein. Habis shalat lalu bertempur lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya seorang yang menjadi jausyan (tentara, algojo), dengan berani menarik Sayidina Husein dari kudanya. Begitu jatuh, dinaikkin, diinjak, ditebas lehernya, dipisahkan kepala dan badannya. Badanya diinjak-injak oleh kuda sampai rata dan menyatu dengan tanah Karbala. Tinggallah kepalanya. Kepalanya ditancapkan di tombak, dibawa ke Kuffah, diarak keliling kota Kuffah, bersama 4 keluarganya tadi. Dari Kuffah lalu dibawa ke Syiria, Damaskus. Di kereta itu isinya, istrinya, adiknya, anaknya, dan saudaranya. Luar biasa sekali (kejamnya red.). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Damaskus, kepala itu dipasang di depan istana Yazid. Dan setiap orang yang lewat diperintahkan oleh tentara untuk memaki-maki dan menjelek-jelekannya. Setelah kepala itu cukup lama terpajang di depan istana Yazid, Sayidah Zaynab memberanikan diri agar dizinkan membawa kepala itu pulang ke Madinah. Yazid mengizinkan. Tetapi di tengah jalan dicegat oleh tentara Yazid agar kepala tersebut tidak sampai ke Madinah. Karena takut dapat membangkitkan dan membakar emosi penduduk Madinah. Makanya kemudian kepala tersebut dibelokkan ke Mesir.  Makanya makam Sayidina Husein ada di Kairo di Mesir. Ali Zainal Abidin, putra beliau, dipulangkan ke Madinah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara dan para hadirin sekalian, kenapa saya cerita demikian? Ini karena ideologi apa pun, agama apa pun, keyakinan apa pun tidak bisa besar tanpa ada pengorbanan, tanpa ada syahadah (kesyahidan). Ini terlepas dari agama apa saja. Kristen bisa maju karena banyak pengirbanan. Budha dan Hindu masih tetap ada karena banyak pengorbanan. Demikian juga Islam, berkembang sampai sekarang karena pengorbanan syuhada, banyak nyawa yang mengalir, demi mempertahankan agama Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali yang syahid dalam agama Islam adalah perempuan, namanya Sumayah. Istrinya Yasir, ibunya Amar bin Yasir, yang dibunuh oleh Abu Jahal. Lalu seminggu kemudian, suaminya dibunuh, Yasir. Seminggu kemudian, Amar akan dibunuh. Tetapi selamat, karena dalam keadaan terpaksa ia pura-pura murtad. Begitu pura-pura murtad, langsung menghadap Rasulullah saw, dan menyatakan bahwa dalam keadaan terpaksa, diancam dibunuh, ia pura-pura murtad, pura-pura mecaci maki Rasul. Rasul menanyakan, bagaimana isi hati Amar? Amar menjawab, hatinya tetap beriman. Rasul pun memaafkannya, karena memang dalam keadaan terpaksa. Jadi yang pertama syahid dalam Islam itu perempuan. Kalau laki-laki itu biasanya omongnya saja yang besar. Kalau perempuan itu buktinya ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya banyak lagi darah pengorbanan para syuhada tercurah demi mempertahankan Islam. Syuhada Badar, syuhada Uhud. Sayidina Hamzah ibn Abbas, Sayidina Hmzah ibn Abdi Muthalib, Mus’ab ibn Umay, Sayidina Khalid ibn Walid, dan yang lainnya. Darah syuhada mengalir demi melanggengkan ajaran Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahadah Sayidina Husein tudak akan percuma, tidak sia-sia. Islam bisa sampai di Indonesia itu antara lain, disebabkan oleh syahadah Sayidina Husein. Bagitu Sayidina Husein, sebagai ahlu bait yang dibenci penguasa. Sayidina Husein memiliki putra, Ali Zainal Abidin. Zainal Abidin punya putra Muhammad al-Baqir. Muhammad al-Baqir punya putra Ja’far al-Shadiq. Ja’far al-Shadiq punya putra Musa al-Kadzim, Ismail. Musa al-Kadzim punya putra Ali al-Uraifi, yang kuburannya sekarang kuburannya di Madinah digusur dan dijadikan jalan tol. Imam al-’Uraifi punya putra namanya, ’Isha. ’Isha punya putra Ahmad. Ahmad hijrah dari Madinah ke Yaman. Dari Yamanlah Ahmad al-Muhajir punya keturunan sampai ke Kamboja, sampai ke Cirebon, Gresik. Para wali songo di pulau Jawa ini adalah kuturunan dari al-’Uraifi. Seandainya ahlu bait itu hidupnya enak, tidak dikejar-kejar mungkin Islam akan lambat datang ke Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahadah Sayidina Husein tidak sia-sia. Dengan syahadah Sayidina Husein mempercepat Islam tersebar ke Timur. Pada malam hari ini kita mengenang kembali, menghormati pengorbanan cucu Rasul saw. Kita ini bukan saudaranya, bukan cucunya, bukan besannya, tetapi menghormati saja kok males banget. Malah ada yang tidak percaya, ”haul itu apa?”, ”kirim doa itu apa?” ”ndak akan nyampe”, katanya. Coba kalau kita balik doanya, doakan bahwa: ”mudah-mudahan Bapak sampean masuk neraka”. Nah kalau didoakan seperti ini maka orang itu marah juga. Berarti percaya bahwa doa itu sampai dong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam yang datang ke Jawa ini adalah Islam ahli sunnah wal jama’ah, Islam yang selalu menjunjung tinggi tawasuth, berfikir moderat.  Tidak ekstrem. Islam yang dibawah para habaib, sayyid, dan saddah, yang berdakwah dengan cara-cara damai. Dulu tidak ada para habaib yang galak. Mereka berdakwah dengan cara dan sarana-sarana kebudayaan yang ramah. Para wali dan Sunan itu kan para habaib, tidak ada yang galak. Tidak tahu kalau sekarang, dan akhir-akhir ini, apa ada habib yang galak. Yang jelas dulu tidak ada para habaib kalau berdakwah pakai cara-cara mengobrak-abrik rumah orang. Saya tidak tahu, kalau sekarang, mungkin ada habib yang berdakwah secara keras?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah para dakwah habib itu dengan cara-cara ramah, dan memasukkan bahasa dan budaya ke sini. Banyak kata dalam bahasa Arab masuk ke bahasa Indonesia. Dulu para ulama memoles sedemikian rupa, melalui cara-cara budaya, bahasa, yang damai. Tidak ada paksaan dalam agama. Dan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang namanya al-Hasyim dari Bani Salim al-Khazraj. Ia musyrik, punya dua anak beragama Kristen. Sewaktu Nabi masuk Madinah, ia masuk Islam. Ia pun memaksa dua anaknya agar masuk Islam. Lalu turunlah ayat al-Qur’an yang berbunyi: ”La ikraha fi al-din” (tidak ada paksaan dalam agama). Jadi asbab al-nuzul turunya ayat La ikraha fi al-din adalah karena kondisi berikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, mari kita yang ahli sunnah, dan para ahlu bait, dan para pecinta keluarga Nabi, kita tunjukkan bahwa kita berakhlak. Kita jauhi segala tindak kekerasan, kita jauhi cara-cara dakwah syiddah dan ikrah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah ketika Fathu Makkah, begitu masuk Makkah, lalu menyebarkan jargon bahwa hari ini adalah bukan hari pembalasan tetapi hari kembali membangun kasih sayang (yaumul marhamah). Dengan demikian sekonyong-konyong para musuh Quraisy Makkah datang ke Muhammad saw. Maka kemudian turunlah ayat yang menyeru agar Nabi pun memaafkan mereka dan meminta ampun mereka kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam bukan hanya agama aqidah dan syariah. Tetapi Islam juga adalah agama Tamadun dan Tsaqafah, Islam adalah agama peradaban dan pengetahuan. Globalisasi yang di bawah islam dari timur ke Barat, adalah kemajuan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan. Bukan globalisasi fitnah dan fawahisy, yang seperti kita laksanakan sekarang ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karen aitu, agama tidak akan maju, bila  tidak dibarengi dengan peradaban. Agama tidak akan maju bila tidak dibarengi dan diwarnai dengan budaya. Karena agama itu suci dari langit, akan langgeng bila disosialisasikan, bila dibumikan secara manusiawi, dan bukan melulu didoktrinkan. Aqidah, Iman dan Shalat serta Puasa memang dari ajaran langit. Tetapi tidak akan langgeng bila tidak dibarengi dengan budaya. Kita harus mempertahankan nilai ketuhanan dengan aktifitas manusia di bumi. Menjadikan peradaban sebuah doktrin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kan ada tradisi sesajen, para ulama dan kyai tidak langsung menyatakannya sebagai syirik. Tetapi menyatakanya bahwa kalau kamu punya uang yah sedekahnya atau sesajennya jangan cuma di empat pojok. Tetapi ayo menyembelih kambing saja. Setelah kambing disembelih, lalu orang deramwan itu tanya mau taruh dipojok mana daging kambing itu? Maka kyai akan menjawab jangan ditaruh tetapi mari undang para tetangga untuk makan-makan dan doa serta tahlil bersama. Nah dakwah semacam ini kan ramah. Tidak langsung mengatakan ini itu syirik dan bid’ah, nanti umat lari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sekali-kali menuding ini itu syirik atau bid’ah. Mengerti tidak apa itu bid’ah itu?. Apa yang tidak dilakukan dan diajarkan Nabi itu bid’ah Kalau tidak ngerti, diantara contoh bid’ah adalah tulisan Arab yang ada titiknya itu bid’ah. Nah titik itu ditemukan oleh Abu Aswad al-Dualy pada th. 65 H. Sudah ada titiknya juga masih banyak yang belum bisa baca al-Qur’an, maka, Imam Khalil ibn Ahmad al-Farahidi, gurunya Imam Syibawaih, bikin syakal (harakah), fathah, kasrah dan dhammah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah ada titik dan syakal, nyatanya masih banyak orang yang tidak bisa baca al-Qur’an, maka Imam Abu Ubay Qasim ibn Salam w. 242 H menyusun ilmu Tajwid, agar benar dalam membaca al-Qur’an. Mau bener baca al-Qur’an pakai ilmu Tajwid. Ilmu Tajwid itu bid’ah, karena memang semua ilmu pengetahuan itu bid’ah. Karena memang Rasul tidak mengajarkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lagi, ada seorang gubernur dari  Asia Tengah, Amir al-Mahdi kirim surat pada Muhammad ibn Idris ibn Syafi’i (Imam Syafi’i). Surat itu isinya tanya, saya kalau baca al-Qur’an dan Hadits, itu isinya nampak bertentangan? Lalu untuk menjawab ini Imam Syafi’i menyusun kitab Ar-Risalah, yang berisi kaidah-kaidah Ushul Fiqh. Serta ada Ushul Fiqh baru kemudian ada Ilmu Fiqh. Lalu kemudian ada penjelasan dalam Ilmu Fiqh mengenai rukun shalat. Kalau mau shalatnya benar yah mengikuti Ilmu Fiqh, yang susunannya ulama.Kalau Cuma lihat al-Qur’an dan Hadits tidak akan ketemu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh satu lagi, biar jelas saja.  Contohnya ada orang pergi haji, masuk hotel ambil kamar yang bagus. Begitu tanggal 8 mau ke Arafah, ia mau cari tahu berapa jarak hotel ke Arafah, ke mana arahnya, naiknya apa? Dia lalu buka al-Qur’an dan Hadits, yah tidak akan ketemu. Nah sebaiknya bagaimana, yah ikut saja rombongan yang ke Arafah. Nah ikut saja itu kan bahasa Indonesia, bahasa Arabnya yah taqlid saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan baik tanpa ilmu Fiqh, yang bukan bikinan Rasul, bukan sahabat Abu Bakar, Utsman dan Ali. Sahabat Husein juga tidak bikin Ilmu Fiqh. Nah bila ada orang shalatnya bagus sekali, lalu kita tanya, Bapak kan shalatnya bagus sekali, dari mana belajarnya Pak? Lalu bila ia jawab, ia belajar dari al-Qur’an dan Hadits, itu bohong. Kalau mau jujur, ia sebenarnya belajar dari ayah atau gurunya, yang mentok-mentoknya merujuk pada kitab Safinah. Atau kalau Safinah terlalu besar, yah mentok merujuk pada Fashalatan, atau minimal buku Petunjuk Shalat Lengkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya ibadah itu harus dengan ilmu. Sedangkan ilmu itu bukan karangan Rasul dan para sahabatnya. Ilmu Mushtalah Hadits itu disusun oleh Imam Syihabuddin Arrahumuruzi atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz, setelah mengingat banyakanya hadits dha’if dan palsu. Jadi Islam itu agama peradaban, akhlak dan pengetahuan. Bukan hanya doktrin yang sering ditampilkan sangar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu mari mulai malam hari ini, tingkatkan ahlak kita, tingkatkan ilmu pengetahuan kita. Pahamilah Islan dengan baik dan benar. Kalau mau memahami al-Qur’an tidak bisa langsung, polosan. Harus mengerti asbab al-nuzul, ilmu tafsir, ilmu qira’ah, ilmu bahasa Arab, nahwu sharafnya. Kalau ingin memahami ilmu hadits maka harus memahami ilmu mushtalah al-hadits. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini, mari kita rayakan jasa para habaib dalam menyebarkan agama Islam. Seandainya tidak ada habaib dan ahlu bait, mungkin kita akan jauh bisa meneladani akhlak Rasul saw. Imam Syafii pernah menyatakan, bahwa kalau ada orang yang mencintai Ahlu Bait, lalu dianggap Syiah, maka OK tidak apa-apa, silahkan saya dianggap Syiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, tragedi pembantaian di Karbala yang demikian bukan hanya tragedinya Syiah, tetapi tragedi kemanusiaan. Seharusnya ini bukan hanya milik Syiah tetapi yang lain juga. Wallahu Muwafiq Ila Aqwam al-Thariq, Wassalamu’alaikum wr. wb.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-4611450389897682222?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/4611450389897682222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=4611450389897682222' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/4611450389897682222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/4611450389897682222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2009/12/ceramah-sepuluh-syuro-kh-said-aqiel.html' title='Ceramah Sepuluh Syuro KH. Said Aqiel Siradj'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-6984489751525005769</id><published>2009-12-15T22:33:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T22:38:40.964-08:00</updated><title type='text'>Teladan Imam Malik: Toleran Terhadap Perbedaan dan Kritis Pada Perbedaan</title><content type='html'>Oleh Ali Mursyid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manakala kamu menemukan pendapatku keliru, maka tinggalkan ia dan buanglah jauh-jauh. Dan manakala kamu menemukan pendapatku benar maka ikutilah apa yang aku ikuti. Jangan mengikuti aku.”  (Imam Malik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan di atas dikemukakan oleh Imam Malik, ulama penggagas salah satu madzhab besar di kalangan Islam Sunni, madzhab Maliki. Beliau adalah guru Imam Syafi’i, yang pandangan dan madzhabnya banyak diikuti umat Islam Indonesia. Pernyataan di atas menunjukkan bahwa meski beliau dikenal sebagai ulama besar di zamannya dan memiliki otoritas sebagai Imam Madzhab, Imam Malik tidak memaksakan pandangannya, tidak merasa bahwa pandangannya adalah yang paling benar, sementara yang lain pasti salah. &lt;br /&gt;Ketika khalifah Al-Manshur ingin menetapkan kitab Al-Muwatha, karya utama Imam Malik, sebagai pegangan utama dan dasar perundang-undangan di Negara Islam saat itu, Imam Malik melarangnya. Beliau menolak penyatuan pemahaman keagamaan ini dengan mengutip hadits yang menyatakan bahwa perbedaan pandangan di antara umat Islam adalah rahmat. Penolakan Imam Malik atas penyatuan paham keagamaan oleh pemerintah dengan menggunakan karyanya Al-Muwatha, menyiratkan sikap muru’ah dan istiqamahnya. Sebagai ulama dan fuqaha besar pada zamannya, beliau tidak mau memberangus perbedaan-perbedaan pandangan yang ada dan berkembang di masyarakat, meski hal itu dikehendaki penguasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap toleran dan menghargai perbedaan yang dimiliki Imam Malik, juga diikuti oleh muridnya, Imam Syafi’i. Sebagai murid, Imam Syafi’i sering berbeda pandangan dengan Imam Malik. Namun demikian, hubungan mereka sebagai guru dan murid, tetap terjaga dengan baik. Membiarkan dan memberi ruang bagi para murid untuk berbeda pandangan dengan guru, adalah salah satu sikap toleran yang dicontohkan Imam Malik. Sementara Imam Syafi’i juga menyatakan bahwa “Ra’yi shawab yahtamil al-khatha’ wa ra’yu ghairi khatha’ yahtamil al-shawab (pendapatku memang benar, tetapi mengandung kemungkinan salah. Dan pendapat orang lain memang salah, tetapi mengandung kemungkinan benar).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik: Ulama Besar pada Masanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik sendiri bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi. Beliau lahir di Madinah pada tahun 93 H/712 M dan wafat tahun 179 H/796 M dari keluarga Arab terhormat. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ‘ilmu’ yang sangat terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek dan ayahnya termasuk ulama hadits terpandang di Madinah. Karenanya Imam Malik menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Ia juga berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi’ bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi’in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al Ma’mun, pernah jadi murid Imam Malik. Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i pun menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegas dan Kritis Terhadap Penguasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik adalah sosok yang tegas dan kritis terhadap penguasa. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ”Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja’far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah, Al-Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai’at kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai’at kepada khalifah yang mereka tak sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai’at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian dengan paksaan. Ja’far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tetapi ditolaknya. Gubernur Ja’far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Mansur tidak berkenan dengan tindakan keponakannya itu. Khalifah mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang Imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim di Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang Imam. Namun Imam Malik menolak undangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Menjawab panggilan penguasa, Imam Malik mengatakan dengan tegas, ”Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia”. Mendengar itu,  khalifah ingin jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Imam Malik. ”Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.” Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah dan duduk bersama dengan rakyat kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercermin pada Sejarah Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejarah Islam, kita tahu bahwa banyak ulama dan bahkan Nabi Muhammad saw sendiri diceritakan sebagai pribadi yang tegas dalam menyampaikan kebenaran dan kritis pada kedzaliman, meskipun itu datang dari penguasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah Islam juga kita ketahui bahwa sikap toleran dan menghargai perbedaan sesungguhnya bukan hanya dicontohkan Imam Malik dan Imam Syafi’i saja. Para ulama sejak dahulu menghargai perbedaan pandangan yang ada dengan sikap penuh toleransi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali kitab-kitab fikih perbandingan yang ditulis secara khusus untuk mengulas berbagai perbedaan pandangan yang ada. Sebut saja misalnya, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-’Arba’ah karya Abdur rahman al-Jazairi, Bidayah al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd dan banyak lagi yang lain. Penulisan kitab-kitab itu antara lain diniatkan supaya kita dapat memahami kenyataan adanya perbedaan-perbedaan itu dengan penuh lapang dada. Sebagai umat Islam, sebenarnya kita telah diberi pelajaran berharga, bagaimana menyikapi perbedaan dalam bingkai toleransi dan saling menghormati satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kenyataannya, kenapa sikap toleran dan menghargai perbedaan belakangan mendapatkan banyak rintangan dan hambatan. Bahkan ironisnya, terkadang sikap toleran dan menghargai keragaman ini dipandang sebagai sesuatu yang berasal dari luar ajaran dan sejarah Islam. Mestinya kita banyak belajar dari ajaran dan sejarah Islam yang otentik yang sangat toleran dan menjunjung perbedaan. Wallahu a’lam bi al-shawab&lt;br /&gt;________________&lt;br /&gt; * Penulis Ali Mursyid, dosen UIN Syarif Hidayatullah dpk di IIQ Jakarta. Tulisan ini pernah dimuat di jurnal Al-Hanif yang duterbitkan MMS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-6984489751525005769?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/6984489751525005769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=6984489751525005769' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/6984489751525005769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/6984489751525005769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2009/12/teladan-imam-malik-toleran-terhadap.html' title='Teladan Imam Malik: Toleran Terhadap Perbedaan dan Kritis Pada Perbedaan'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-4882374493989416685</id><published>2009-12-08T22:18:00.000-08:00</published><updated>2009-12-08T22:24:58.758-08:00</updated><title type='text'>Makna Sosial Ibadah Kurban</title><content type='html'>Oleh Ali Mursyid&lt;br /&gt;Dosen IIQ Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang kaya raya dan hidup serba ada di sebuah desa di tegur oleh kiai setempat. “Hartamu melimpah, kenapa sampai saat ini engkau belum melaksanakan ibadah kurban?” tegur seorang kiai kepadanya. Ia menjawab: “Bukankah kiai pernah mengajarkan bahwa kambing atau sapi yang disembelih untuk ibadah kurban itu akan menjadi kendaraan kita di akhirat. Kalau itu betul, maka saya tidak akan melaksanakan ibadah kurban. Di dunia saja saya hanya terbiasa mengendarai sedan, masa nanti di akhirat harus mengendarai kambing atau sapi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, meski dialog kiai dengan orang kaya di atas hanyalah dialog imajiner, tetapi bisa saja dalam satu tempat atau kesempatan, hal tersebut merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi. Terutama bila ibadah kurban hanya dimaknai secara formal dan simbolik, hanya dimaknai sebagai prosesi penyembelihan dan pembagian daging hewan kurban, yang di akhirat nanti hewan yang disembelih ini akan menjadi kendaraan penyelamat dari api neraka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bukan hendak menyalahkan pemaknaan ibadah kurban secara formal tersebut, karena pemaknaan itu juga merupakan pemahaman ulama-ulama terdahulu yang tentu sesuai dengan konteks zaman saat itu, juga merupakan cara praktis agar agama dapat dipahami dan dilaksanakan dengan mudah oleh masyarakat banyak. Tetapi kalau hanya sisi-sisi formal peribadatan yang dikenal kebanyakan masyarakat, maka kemudian agama (Islam) sebagai nilai-nilai keadilan, kebenaran universal, dan pembelaan terhadap mereka yang tertindas bergeser menjadi sekedar ketrampilan beribadah, ketrampilan mengerjakan shalat, puasa, haji, dan termasuk ibadah kurban. Orang lalu sibuk dengan sah atau tidaksnya suatu ibadah dilaksanakan. Energi mereka banyak dihabiskan untuk sekedar mempelajari syarat wajib, syarat sah dan rukun serta hal-hal yang membatalkan sebuah peribadatan. Sedikit sekali –untuk tidak mengatakannya tidak ada-- yang mencoba menangkap esensinya,   apalagi mewujudkannya dalam kehidupan sosial dengan segala bentuk dan setumpuk permasalahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sesungguhnya dalam Islam, tidak ada peribadatan yang dilaksanakan yang tidak diharapkan dampaknya pada kehidupan sosial. Adalah sangat tidak mungkin agama dengan segala bentuk peribadatannya, diturunkan Allah swt kepada masyarakat manusia tanpa maksud. Bukankah agama (Islam) diturunkan kepada Muhammad saw untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat? Bukankah Al-Qur’an turun Muhammad saw selama kurang lebih 23 tahun dengan cara bertahap; berusaha mengontrol setiap perubahan yang terjadi di masyarakat saat itu. “Siapa pun yang melihat kemungkaran (ketimpangan) maka ia berkewajiban meluruskannya dengan tangan (kekuasannya), lisan (perkataannya) atau paling tidak dengan hatinya,” demikian sabda Nabi Muhammad swa. Secara tersirat beliau berpesan bahwa paling tidak seorang muslim harus merasakan manis atau pahitnya sesuatu yang terjadi dalam masyarakatnya, bukan bersikap tidap peduli. Puluhan ayat dan ratusan hadits menekankan keterkaitan keimanan dengan kepekaan sosial, rasa senasib dan sepenanggungan dengan anggota masyarakat yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ibadah kurban, meski nampak dalam prakteknya menyerupai persembahan para suku pedalaman kepada dewa-dewa mereka namun sesungguhnya sarat dengan pesan-pesan kemanusiaan. Walau ayang diajarkan adalah; siapa yang berkurban akan mendapat pahala besar dari Allah swt, tetapi dalam prakteknya, daging kurban tersbut dibagikan kepada fakir miskin, dan bukan menjadi daging sesajen. Kurban sesungguhnya lebih bermakna dan sarat dengan pesan kemanusiaan daripada ibadah yang berharap pahala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah kurban dilaksanakan tidak untuk menunjukkan kelebihan seseorang atas yang lainnya, sebab hakikat kurban adalah memberikan, menyerahkan sesuatu dengan sukarela, tanpa mengingat kepentingan diri sendiri. Karena itu harus dikerjakan dengan ikhlas dalam rangka iman dan takwa dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. Ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya: “Daging-daging kurban dan darahnya itu tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang dapat mencapainya (QS. Al-Hajj, 22: 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut menunjukkan bahwa hakikat ibadah kurban bukan pada penyembelihan hewan, melainkan pada sikap taat dan patuh kepada Allah swt. Hakikat ibadah kurban adalah mendidik seorang muslim agar memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi terhadap kehidupan di sekitarnya. Dengan ibadah kurban ini, Islam menghendaki agar hubungan antara si kaya dan si miskin, antara yang kuat dan yang lemah terjalin sebaik-baiknya melalui silaturahim, saling peduli dan saling menyantuni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah kurban juga mengingatkan kita kepada Nabi Ibrahim as yang bersedia mengorbankan Islmail, putra semata wayang yang sangat disayanginya. Bagaimana tidak, setelah Ibrahim menunggu sekian lama akan kehadiran seorang anak dalam keluarganya, tiba-tiba Allah mewahyukan kepada beliau untuk mengorbankan anaknya, justru ketika sang anak baru tumbuh dan sedang lucu-lucunya. Pada awalnya, Ibrahin bingung dan guncang jiwanya, namun akhirnya kecintaan beliau pada Allah menunutunnya untuk menglahkan ego kebapakannya demi menjalankan perintah Allah swt. &lt;br /&gt;Kalau Ibrahim berani mengorbankan Ismail, maka sekarang apa yang akan kita korbankan. Apa ‘Ismail’ kita? Kedudukan? Harga diri? Profesi? Uang? Rumah? Sawah dan kebun? Mobil? Keluarga? Citra diri? Masa muda? Keelokan para rupa? Mungkin sampai saat ini, kebanyakan kita belum tahu pasti, apa ‘Ismail’ kita yang patut kita korbankan demi kecintaan kita kepada Allah swt?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa petunjuk untuk mengetahuinya. ‘Ismail’ kita adalah setiap sesuatu yang melemahkan iman kita, setiap sesuatu yang membuat kita hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, setiap sesuatu yang membuat kita tidak dapat mendengar perintah Allah, dan setiap sesuatu yang membutakan mata kita dan telinga kita untuk melihat dan mendengar kebenaran. Kalau kita ini Ibrahim, maka korbankalah ‘Ismail-Ismail’ kita itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, digantinya Ismail dengan hewan sembelihan (domba besar dan gemuk) mengisyaratkan bahwa yang harus dihilangkan dari diri kita sebagai muslim adalah segala sifat buruk kebinatangan. Sikap mateialistis (hubud dunya), gila jabatan (hubbul jah), serakah, sombong, ingin menang sendiri, tidak mengenal belas kasihan serta tidak saling menghargai dan menghormati sesama manusia, KKN, menumpuk kekayaan, sedangkan orang lain menderita, semua itu harus segera ditinggalkan. Wallahu a’lam bi al-sahawab&lt;br /&gt;________________________&lt;br /&gt;*Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Al-Basyar yang tebit di Cirebon&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-4882374493989416685?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/4882374493989416685/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=4882374493989416685' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/4882374493989416685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/4882374493989416685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2009/12/makna-sosial-ibadah-kurban.html' title='Makna Sosial Ibadah Kurban'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-4624647117896269615</id><published>2009-06-10T22:26:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T22:39:24.721-07:00</updated><title type='text'>Pengentasan Kemiskinan Umat</title><content type='html'>Oleh Ali Mursyid*&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalaulah kemiskinan itu berbentuk manusia, sungguh aku akan membunuhnya (Ali Bin Abi Thalib)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang keberadaannya bersamaan awal mula Allah mencipta manusia dan hidup di alam semesta. Konsep kemiskinan bukan semata misalnya, ketiadaan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menyangkut mentalitas individu di dalam menjalani hidup. Kemiskinan selalu menghasilkan perilaku masyarakat yang (terpaksa) abai pada dua aspek penting kesehatan dan pendidikan. Maka menjadi logis bila dikatakan kemiskinan merupakan musuh bersama umat manusia.  Bahkan kemiskinan (kefakiran) dalam Sabda Nabi Muhammad Saw dapat menjadi sumber kekafiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa literature, kemiskinan diartikan sebagai keadaan di mana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa dimiliki se-perti makanan, pakaian, tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, ada tiga pasangan capres-cawapres telah mendeklarasikan diri untuk maju dan sudah mendaftarkan diri ke KPU, yaitu SBY-Boediono, JK-Wiranto, dan Mega-Prabowo. Salah satu isu yang dijual oleh para calon itu adalah isu kemiskinan. Karena di antara persoalan krusial yang dihadapi bangsa ini adalah kemiskinan dan kesenjangan pendapatan yang semakin meningkat antara kelompok kaya dan kelompok miskin. Berdasarkan data BPS (2008), jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai angka 34,96 juta orang atau 15,42 persen dari total penduduk. Memang, terdapat penurunan bila dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai angka 37,17 juta orang. Dengan jumlah ini, semoga kedepan angka kemiskinan menjadi berkurang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Penyebab Kemiskinan dan Penyelesaiannya  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan sosial membagi dua jenis penyebab kemiskinan. Pertama, kemiskinan terjadi karena faktor perilaku individu yang tidak produktif. Kedua, kemiskinan terjadi karena strukstur sosial yang mengakibatkan ada dan langgengnya kemiskinan tersebut. Dalam hal ini sistem sosial yang tidak adil dan kurang berpihak dalam melakukan pemberdayaan rakyat miskin, dapat menyebabkan individu menjadi terus-menerus miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Quraish Shihab menuliskan bahwa faktor utama penyebab kemiskinan adalah sikap berdiam diri, enggan, atau tidak  dapat  bergerak dan berusaha. Keengganan berusaha adalah penganiayaan terhadap diri sendiri, sedang ketidakmampuan berusaha antara lain disebabkan oleh penganiyaan atau kezaliman manusia  lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmampuan berusaha yang disebabkan oleh orang lain diistilahkan pula dengan kemiskinan struktural. Kesan ini lebih jelas lagi bila diperhatikan bahwa jaminan rezeki yang dijanjikan Tuhan, ditujukan kepada makhluk yang dinamainya dabbah, yang berarti mahluk yang hidup dan berjalan di muka bumi. Termasuk manusia. Jadi kalau ada manusia yang kekurangan rizki dan miskin, maka sesungguhnya ada pihak lain (sistem) yang menghalang-halanginya untuk mendapatkan rizki yang layak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa faktor penyebab kemiskinan di atas, Al-Qur’an  menganjurkan banyak cara yang bisa ditempuh, yang secara garis besar dapat dibagi pada tiga ranah: Pertama, pada ranah individu. Pada ranah ini bisa dilakukan dengan cara peningkatan semangat kerja. Kerja dan usaha merupakan  cara pertama dan utama yang ditekankan oleh Kitab Suci Al-Qur’an. Peningkatan semangat kerja ini merupakan langkah yang seiring dengan naluri manusia, sekaligus  juga merupakan kehormatan dan harga dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. (QS. Ali ’Imran, 03: 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pada ranah keluarga dan masya-rakat. Menggantungkan penanggulangan  problem kemiskinan semata-mata kepada sumbangan sukarela dan keinsafan pribadi  tidak dapat diandalkan. Teori ini telah di-praktekkan berabad-abad lamanya, namun hasilnya tidak pernah memuaskan. Sementara  orang  sering  kali  tidak  merasa bahwa mereka mempunyai  tanggung  jawab  sosial, walaupun ia telah memiliki kelebihan harta  kekayaan. Karena itu diperlukan adanya penetapan  hak  dan  kewajiban  agar  tanggung  jawab keadilan sosial dapat terlaksana dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  hal  ini,  Al-Qur’an  walaupun  menganjurkan sumbangan sukarela dan   menekankan  keinsafan  pribadi,  namun  dalam beberapa hal Kitab Suci ini menekankan hak dan kewajiban, baik melalui  kewajiban  zakat, yang merupakan hak delapan kelompok yang ditetapkan (QS. AT-Taubah, 09: 60) maupun melalui  sedekah wajib  yang  merupakan  hak bagi yang meminta atau yang tidak, namun membutuhkan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Ranah Pemerintah. Pemerintah juga berkewajiban mencukupi setiap kebutuhan warga negara, melalui sumber-sumber dana yang sah. Yang terpenting di antaranya adalah pajak, baik dalam bentuk pajak perorangan, tanah, atau  perdagangan, maupun pajak tambahan lainnya yang ditetapkan pemerintah bila sumber-sumber tersebut di  atas belum mencukupi. Apa yang dilakukan pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya adalah kewajibannya, bukan kebaikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah haditsnya menyebutkan, “Dari Jarir bin Abdullah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak akan mengasihi orang yang tidak mengasihi sesamanya”. (HR. Bukhari). Pada kesempatan berbeda Nabi Saw. juga bersabda, “Dari Abdullah bin Musawir, “aku mendengar Ibnu Abbas memberi khabar kepada Ibnu Zubair, bahwa dirinya mendengar Nabi Saw. bersabda: “Bukanlah seorang mukmin yang sempurna, manakala dirinya kenyang sedangkan tetangganya kelaparan”. (HR. Bukhari). Sebuah pelajaran dapat kita petik dari kedua hadits Nabi di atas adalah bahwa kemiskinan tidak perlu terjadi, seandainya umat itu saling berkasih sayang dan tidak membiarkan saudaranya dalam keadaan lapar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam potret sejarah Islam, para khalifah juga bergelut dengan problem kemiskinan umat dalam beberapa hal menunjukkan hasil yang baik. Khalifah Umar bin Khattab misalnya, pernah membangun pilot proyek yang menjadikan Yaman sebagai provinsi yang mampu mengentaskan kemiskinan. pada masa itu Gubernur Yaman, Mu’adz bin Jabal, mengirim sepertiga dari total hasil zakat dari provinsi Yaman ke Madinah, separuh di tahun berikutnya, dan semua hasil zakat di tahun ketiga. Zakat dikirim ke ibu kota setelah tidak adanya mustahiq di propinsi Yaman. Bukti kedua, pengentasan kemiskinan juga terjadi pada dua tahun masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, dimana pada waktu itu sudah tidak diketemukan lagi orang miskin yang ada dalam negara tersebut. Inilah tauladan, bila memiliki kesungguhan dan keuletan, pasti Allah akan memberikan yang terbaik bagi umatnya.Wallahu a’lam bi al-shawab[] &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;*Penulis adalah staf pengajar di IIQ Jakarta,  dan Ma’had Ali Babakan Ciwaringin Cirebon. Tulisan ini di muat di Bulet Jumat, Warkah al-Basyar, 22 April 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-4624647117896269615?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/4624647117896269615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=4624647117896269615' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/4624647117896269615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/4624647117896269615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2009/06/pengentasan-kemiskinan-umat.html' title='Pengentasan Kemiskinan Umat'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-3745153762876433562</id><published>2009-05-25T10:52:00.000-07:00</published><updated>2009-05-25T11:01:03.457-07:00</updated><title type='text'>Pengentasan Kemiskinan Umat</title><content type='html'>Oleh Ali Mursyid*&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalaulah kemiskinan itu berbentuk manusia, sungguh aku akan membunuhnya (Ali Bin Abi Thalib)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang keberadaannya bersamaan awal mula Allah mencipta manusia dan hidup di alam semesta. Konsep kemiskinan bukan semata misalnya, ketiadaan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menyangkut mentalitas individu di dalam menjalani hidup. Kemiskinan selalu menghasilkan perilaku masyarakat yang (terpaksa) abai pada dua aspek penting kesehatan dan pendidikan. Maka menjadi logis bila dikatakan kemiskinan merupakan musuh bersama umat manusia.  Bahkan kemiskinan (kefakiran) dalam Sabda Nabi Muhammad Saw dapat menjadi sumber kekafiran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa literature, kemiskinan diartikan sebagai keadaan di mana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa dimiliki se-perti makanan, pakaian, tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, ada tiga pasangan capres-cawapres telah mendeklarasikan diri untuk maju dan sudah mendaftarkan diri ke KPU, yaitu SBY-Boediono, JK-Wiranto, dan Mega-Prabowo. Salah satu isu yang dijual oleh para calon itu adalah isu kemiskinan. Karena di antara persoalan krusial yang dihadapi bangsa ini adalah kemiskinan dan kesenjangan pendapatan yang semakin meningkat antara kelompok kaya dan kelompok miskin. Berdasarkan data BPS (2008), jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai angka 34,96 juta orang atau 15,42 persen dari total penduduk. Memang, terdapat penurunan bila dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai angka 37,17 juta orang. Dengan jumlah ini, semoga kedepan angka kemiskinan menjadi berkurang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Penyebab Kemiskinan dan Penyelesaiannya  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan sosial membagi dua jenis penyebab kemiskinan. Pertama, kemiskinan terjadi karena faktor perilaku individu yang tidak produktif. Kedua, kemiskinan terjadi karena strukstur sosial yang mengakibatkan ada dan langgengnya kemiskinan tersebut. Dalam hal ini sistem sosial yang tidak adil dan kurang berpihak dalam melakukan pemberdayaan rakyat miskin, dapat menyebabkan individu menjadi terus-menerus miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Quraish Shihab menuliskan bahwa faktor utama penyebab kemiskinan adalah sikap berdiam diri, enggan, atau tidak  dapat  bergerak dan berusaha. Keengganan berusaha adalah penganiayaan terhadap diri sendiri, sedang ketidakmampuan berusaha antara lain disebabkan oleh penganiyaan atau kezaliman manusia  lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakmampuan berusaha yang disebabkan oleh orang lain diistilahkan pula dengan kemiskinan struktural. Kesan ini lebih jelas lagi bila diperhatikan bahwa jaminan rezeki yang dijanjikan Tuhan, ditujukan kepada makhluk yang dinamainya dabbah, yang berarti mahluk yang hidup dan berjalan di muka bumi. Termasuk manusia. Jadi kalau ada manusia yang kekurangan rizki dan miskin, maka sesungguhnya ada pihak lain (sistem) yang menghalang-halanginya untuk mendapatkan rizki yang layak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa faktor penyebab kemiskinan di atas, Al-Qur’an  menganjurkan banyak cara yang bisa ditempuh, yang secara garis besar dapat dibagi pada tiga ranah: Pertama, pada ranah individu. Pada ranah ini bisa dilakukan dengan cara peningkatan semangat kerja. Kerja dan usaha merupakan  cara pertama dan utama yang ditekankan oleh Kitab Suci Al-Qur’an. Peningkatan semangat kerja ini merupakan langkah yang seiring dengan naluri manusia, sekaligus  juga merupakan kehormatan dan harga dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. (QS. Ali ’Imran, 03: 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pada ranah keluarga dan masya-rakat. Menggantungkan penanggulangan  problem kemiskinan semata-mata kepada sumbangan sukarela dan keinsafan pribadi  tidak dapat diandalkan. Teori ini telah di-praktekkan berabad-abad lamanya, namun hasilnya tidak pernah memuaskan. Sementara  orang  sering  kali  tidak  merasa bahwa mereka mempunyai  tanggung  jawab  sosial, walaupun ia telah memiliki kelebihan harta  kekayaan. Karena itu diperlukan adanya penetapan  hak  dan  kewajiban  agar  tanggung  jawab keadilan sosial dapat terlaksana dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  hal  ini,  Al-Qur’an  walaupun  menganjurkan sumbangan sukarela dan   menekankan  keinsafan  pribadi,  namun  dalam beberapa hal Kitab Suci ini menekankan hak dan kewajiban, baik melalui  kewajiban  zakat, yang merupakan hak delapan kelompok yang ditetapkan (QS. AT-Taubah, 09: 60) maupun melalui  sedekah wajib  yang  merupakan  hak bagi yang meminta atau yang tidak, namun membutuhkan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Ranah Pemerintah. Pemerintah juga berkewajiban mencukupi setiap kebutuhan warga negara, melalui sumber-sumber dana yang sah. Yang terpenting di antaranya adalah pajak, baik dalam bentuk pajak perorangan, tanah, atau  perdagangan, maupun pajak tambahan lainnya yang ditetapkan pemerintah bila sumber-sumber tersebut di  atas belum mencukupi. Apa yang dilakukan pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya adalah kewajibannya, bukan kebaikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah haditsnya menyebutkan, “Dari Jarir bin Abdullah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak akan mengasihi orang yang tidak mengasihi sesamanya”. (HR. Bukhari). Pada kesempatan berbeda Nabi Saw. juga bersabda, “Dari Abdullah bin Musawir, “aku mendengar Ibnu Abbas memberi khabar kepada Ibnu Zubair, bahwa dirinya mendengar Nabi Saw. bersabda: “Bukanlah seorang mukmin yang sempurna, manakala dirinya kenyang sedangkan tetangganya kelaparan”. (HR. Bukhari). Sebuah pelajaran dapat kita petik dari kedua hadits Nabi di atas adalah bahwa kemiskinan tidak perlu terjadi, seandainya umat itu saling berkasih sayang dan tidak membiarkan saudaranya dalam keadaan lapar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam potret sejarah Islam, para khalifah juga bergelut dengan problem kemiskinan umat dalam beberapa hal menunjukkan hasil yang baik. Khalifah Umar bin Khattab misalnya, pernah membangun pilot proyek yang menjadikan Yaman sebagai provinsi yang mampu mengentaskan kemiskinan. pada masa itu Gubernur Yaman, Mu’adz bin Jabal, mengirim sepertiga dari total hasil zakat dari provinsi Yaman ke Madinah, separuh di tahun berikutnya, dan semua hasil zakat di tahun ketiga. Zakat dikirim ke ibu kota setelah tidak adanya mustahiq di propinsi Yaman. Bukti kedua, pengentasan kemiskinan juga terjadi pada dua tahun masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, dimana pada waktu itu sudah tidak diketemukan lagi orang miskin yang ada dalam negara tersebut. Inilah tauladan, bila memiliki kesungguhan dan keuletan, pasti Allah akan memberikan yang terbaik bagi umatnya.[] &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;*Penulis adalah staf pengajar di IIQ Jakarta,  dan Ma’had Ali Babakan Ciwaringin Cirebon. Tulisan ini di muat di Bulet Jumat, Warkah al-Basyar, 22 April 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-3745153762876433562?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/3745153762876433562/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=3745153762876433562' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/3745153762876433562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/3745153762876433562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2009/05/pengentasan-kemiskinan-umat.html' title='Pengentasan Kemiskinan Umat'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-919132821656094560</id><published>2009-04-26T23:37:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T23:59:57.296-07:00</updated><title type='text'>Mari Selamatkan Karya Ulama Indonesia</title><content type='html'>Oleh Ali Mursyid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang abad ke-17 hingga ke-20, Indonesia memiliki ulama-ulama besar yang berkiprah di kancah internaional. Beberapa di antara mereka ada yang pernah didaulat menjadi mufti madzhab Syafi'i di Masjidil Haram, Makkah, seperti Syeikh Ahmad Khatib al-Minankabawi. Ada juga yang menjadi guru besar dewan fatwa di Al-Azhar Mesir, seperti Syeikh Muhammad Nawawi ibn Umar al-Bantani. Di antara mereka juga ada yang menjadi mata rantai sanad hadits pada zamannya (musnid al-'ashr), seperti Syeikh Muhammad Mahfuzh at-Termasi dan Syaikh Muhammad Yasin ibn Isa al-Fadangi. Dan bahkan ada juga yang menjadi penyebar awal Islam di Afrika Selatan, seperti  Syeikh Yusuf al-Makassari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama ini menulis beberapa kitab dengan bahasa Arab yang hingga sekarang masih dijadikan rujukan di beberapa perguruan tinggi internasional, utamanya di Timur Tengah. Karya para ulama Indonesia atau Nusantara, baik yang telah berupa cetakan atau masih dalam bentuk manuskrip atau tulisan tangan (makhthûthâth), jumlahnya sangat besar. Salah satu sumber dari Aceh menyebutkan, khusus karya ulama di Aceh sebelum terjadinya tsunami saja diperkirakan mencapai 10.000 naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya ulama-ulama lainnya tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia seperti Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banjarmasin, Palembang, Makassar, Gowa, Bone, Lampung, dan seterusnya. Tokoh-tokoh ulama besar Nusantara yang memiliki karya-karya fenomenal yang menyebar di berbagai wilayah nusantara tersebut dapat disebutkan beberapanya, seperti: Syeikh Abdurrauf al-Sinkili, Syeikh Nuruddin al-Raniri, Syeikh Syamsuddin Al-Sumatrani, Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syeikh Muhammad Nafis Al-Banjari, Abdusshamad Al-Palimbani, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syeikh Yasin Al-Padangi, Kyai Ihsan Jampes, Syeikh Mahfudh Termas, Kyai Soleh Darat Al-Samarangi, hingga Kyai Mutamakkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya jumlah karya ulama Nusantara ini di satu sisi merupakan kekayaan khazanah intelektual yang diwariskan kepada kita, generasi penerus. Di Sisi lain, turâts yang sangat kaya ini mengharuskan kita untuk tidak sekedar memelihara, tetapi akan lebih baik jika dipelajari, dikaji, dan ditelaah secara ilmiah serta dijadikan discource intelektual Islam Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan penyelamatan dan pengumpulan naskah-naskah karya ulama Indonesia lalu menjadi penting dilakukan. Ini  mengingat banyaknya manuskrip karya ulama dan intelektual Muslim Indonesia yang tercecer dan berserakan di mana-mana. Padahal, tidak sedikit naskah yang ditulis para ulama dan intelektual Nusantara menjadi referensi akademik secara internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah kegiatan tahqîq terhadap karya-karya ulama Indonesia atau Nusantara menjadi penting untuk diselnggarakan. Kegiatan Tahqîq ini sendiri diklasifikasi menjadi dua kategori, yaitu Pertama, Tahqîq Naskah, yaitu kajian atau pembetulan karya tulis ulama yang umumnya masih berupa makhthûthâth atau manuskrip serta ditulis lebih dari satu orang, dan antara satu dengan lainnya tidak selalu sama hasilnya. Kedua, Tahqîq Al-Manhâj, yakni pembetulan metodologis dalam pembelajaran bidang studi atau suatu kitab yang dinilai kurang efektif. Untuk melaksanakan tahqîq ini harus didasarkan pada manuskrip atau makhtûthâth asli yang berupa tulisan tangan,  dan bisa beberapa manuskrip atau makhtûthâth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, tepatnya 2007 kegiatan Tahqîq ini telah dimulai di Indonesia, dengan dipelopori oleh Departemen AgamaRI. Sejak itu beberapa naskah karya ulama Indonesia telah coba ditahqîq. Di antara kitab-kitab yang telah ditahqîq tersebut adalah: (1) Karya Nawawi al-Bantani dalam bidang Tafsir,  Marah Labid. (2)  Karya Kyai Ihsan Jampes dalam bidang Tasawuf, Sirâj At-Thâlibîn. (3) Karya Kyai Soleh Darat Semarang dalam bidang Tasawuf, Minhâj Al-Atqiya. (4) Karya Kyai Mahfudz Termas dalam bidang Hadits,; Al-Khil’ah Al-Fikriyah dan Manhâj Dzawin Nadhar. (5) Karya Kyai Ihsan Jampes dalam bidang  Fiqh; Manâhij Al-Imdâd dan Fiqh Siyasah/ (6) Karya Sayyid Utsman Betawi dalam bidang Fiqh, Al-Qawânîn Asy-Syar’iyyah. Sumber lain menyebutkan bahwa hingga kini, kegiatan tahqîq terhadap karya-karya ulama Indoensia telah berhasil mengumpulkan ribuan halaman dari beberapa kitab karya ulama. Pada tahun 2007 sebanyak 4.000 lembar yang terangkum dalam 11 judul kitab. Sementara di tahun 2008, sebanyak 3.500 lembar yang terangkum dalam 10 judul kitab. Antara lain karya Syekh Yasin Al-Padangi, Syekh Nawawi Al Bantani dan Syekh Mahfudz At Tirmasi. Masih banyak lagi karya, naskah atau manuskrip yang belum ditahqiq. Siapa berikutnya yang mau ambil bagian?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-919132821656094560?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/919132821656094560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=919132821656094560' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/919132821656094560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/919132821656094560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2009/04/mari-selamtkan-karya-ulama-indonesia.html' title='Mari Selamatkan Karya Ulama Indonesia'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-7303450889828833430</id><published>2009-04-22T01:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-22T01:21:24.025-07:00</updated><title type='text'>Dari Tema Kemiskinan Sampai Tafsir Rasional</title><content type='html'>JAKARTA – 21 April 2009 Lembaga Pengkajian dan Penelitian Ilmiah  (LPPI) menyelenggarakan seminar sehari, dalam rangka acara diskusi dosen IIQ Jakarta. Menurut kordinator LPPI, Dr. Romlah Widayati, diskusi yang diselenggarakan setiap bulan ini dimaksudkan untuk menghidupkan kegiatan kajian, dan diskusi ilmiah di kalangan dosen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi yang dihadiri puluhan dosen IIQ dan beberapa mahasiswa kali ini, menghadirkan dua orang pemakalah, DR. Anshori, MA dan Ali Mursyid, M.Ag. Hadir pula beberapa dosen-dosen senior dan para pejuang IIQ, seperti Dr. Muahaemin dan Ibu Nadjiemah Hosen, putri Ibrahim Hosen. Adapun yang bertindak sebagai moderator Ibu Anis, MA dari LPPI IIQ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula Ali Mursyid mempresentasikan makalah tentang Al-Qur’an dan Kemiskinan Umat. Dalam hal ini, ia menjelaskan terlebih dahulu data-data tentang kemiskinan yang melanda sebagian besar umat Islam. ”Makalah saya ini mencoba mencari jawab soal kemiskinan umat dari al-Qur’an itu sendiri”, kata Ali memulai presentasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh Ali menyatakan bahwa meski tidak ada definisi eksplisit tentang apa yang disebut miskin di dalam al-Qur’an, tetapi yang jelas Al-Qur’an sangat mengajurkan adanya pemeberdayaan orang miskin, dan mengutuk sikap acuh tak acuh serta menelantarkan orang-orang miskin dan menederita. Pengentasan kemiskinan adalah mutlak adanya. Ali menjelaskan bahwa pengentasan kemiskinan sendiri, menurut al-Qur’an bisa dilaksanakan dengan beberapa lengakah: Pertama meningkatkan etos kerja  dan memahami secara benar arti kata zuhud, sabar, tawakal dan syukur. Kedua, meningkatkan kebiasaan saling membantu di dalam masyarakat, bisa dengan menggalakan shadaqah dan memenej zakat denganbaik. Ketiga, mendorong pemerintah untuk menjalankan tugasnya untuk menyejahterakan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Dr. Anshori, MA, mejenlaskan isi makalahnya yang membahas secara kritis Metode Penafsiran Muhammad Abduh. Dia menjelaskan bahwa pendekatan penafsiran Abduh adalah kecenderungannya pada rasionalitas. Karena itu dalam beberapa tafsirnya terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak masuk akal, lalu coba dirasionalitas kan. Bagi Abduh, tafsiran burung Ababil adalah kuman adanya. Karena sesuatu yang bisa merusak badan seseorang yang masuk akal adalah kuman, kata Anshori. Karena kecenderungan rasionalitasnya inilah maka kemudian Abduh dikenal sebagai pembaharu pada zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah presentasi dua pemakalah tersebut. Selanjutnya di buka sessi diskusi. Dalam sessi ini ada pertanyaan, kritik, sanggahan dan usulan dilontarkan oleh para peserta. Ibu Nadjiemah Hosen menanyakan soal posisi penulis makalah ketika menyusun makalahnya. Dia juga mengusulkan sebaiknya hasil-hasil diskusi bukan hanya sebatas untuk diskusi saja, tetapi bisa juga untuk bahan rekomendasi ke pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Dr. Muhamemin selain melengkapi dan menyempurnakan keterangan pemakalah Ali Mursyid, belaiu juga mengkritik pola penafsiran Muhammad Abduh dengan menyatakan bahwa pola penafsiran Abduh adalah bi al-ra’yi al-madzmumah (pendekatan rasionalitas yang kurang baik). Dr. Romlah juga sejalan dengan Dr. Muahemin, dengan menyatakan Abduh ini menfasirkan ”tubuh pasukan berhala yang hancur karena lemparan burung ababil dengan menyatakan bahwa itu adalah cacar”, ini penafsiran yang aneh, karena tidak ada penafsir lain yang menyatakan begitu. Demikian kritik Ibu Romlah. Beberapa peserta lain juga bersuara, dan diskusi pun terasa gayeng, hangat dan menarik. Selamat berdiskusi dosen IIQ. (AM)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-7303450889828833430?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/7303450889828833430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=7303450889828833430' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/7303450889828833430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/7303450889828833430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2009/04/dari-tema-kemiskinan-sampai-tafsir.html' title='Dari Tema Kemiskinan Sampai Tafsir Rasional'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-3828711990587330011</id><published>2009-03-29T06:32:00.000-07:00</published><updated>2009-03-29T06:33:39.259-07:00</updated><title type='text'>Menag: Titik Krusial Dalam Teks Al Quran Pada Penafsiran</title><content type='html'>Cisarua, 23/3 (Pinmas)--Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni mengatakan, titik krusial dalam teks keagamaan adalah pada penafsirannya, terutama yang terkait dengan pola hubungan antara lafal dan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak jarang kita temukan pemahaman keagamaan yang begitu ketat dan literal, bahkan terkadang terasa menyulitkan, namun tidak sedikit juga kita temukan pemahaman yang begitu longgar bahkan liberal," kata Maftuh di hadapan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Al Quran di Cisarua, Bogor, Senin malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, lanjut dia, tugas berat para ulama adalah mengawal pemahaman teks-teks keagamaan tersebut agar tetap benar dan baik, terhindar dari segala bentuk penyelewengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terlalu berpegang pada lahir teks dan mengesampingkan maslahat atau maksud di balik teks berakibat pada kesan syariat Islam tidak sejalan dengan perkembangan zaman dan jumud (kaku) dalam menyikapi persoalan," Maftuh menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, terlampau jauh menyelami makna batin akan berakibat pada upaya menggugurkan berbagai ketentuan syariat. Keduanya merupakan kesalahan dan penyelewengan yang tidak dapat ditolerir, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah masyarakat global yang plural seperti saat ini, menurut Menag, diperlukan sebuah metode yang menengahi keduanya; tetap mempertimbangkan perkembangan zaman dan maslahat manusia tanpa menggugurkan makna lahir teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsipnya adalah, "menjaga kemurnian ajaran dengan tidak menutup diri bagi setiap perkembangan, dan senantiasa mengikuti perkembangan tanpa harus melebur di dalamnya", tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menag menyatakan menyambut segala usaha untuk mengembangkan wacana keagamaan yang moderat, toleran, damai dan mencerahkan. Wajah kusam Islam dan umat Islam saat ini, selain karena propaganda kelompok tertentu, juga disebabkan oleh sikap, prilaku dan pemikiran sebagian komunitas Muslim yang tidak memahami ajaran agama secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap seperti ini, katanya, pernah dilakukan oleh umat terdahulu yang kemudian membuahkan kecaman keras. Pada surah Al-Baqarah ayat 78, Al-Qur`an menyebut mereka yang bersikap demikian sebagai "ummiyyan" (buta huruf), yang tidak mengerti kitab suci dan sumber ajaran agama dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun mengerti, katanya lagi, pemahaman mereka tidak didukung oleh bukti-bukti kuat, tetapi hanya sekadar dugaan, sehingga timbul keengganan. Kebutaaksaraan (ummiyyah) seperti ini tidak lagi hanya sebatas tidak bisa membaca dan menulis aksara, tetapi tidak memahami ajaran agama dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itulah sejak semula Pemerintah Indonesia melalui Departemen Agama menaruh perhatian yang sangat besar terhadap keberadaan terjemah dan tafsir Al-Qurân dengan mengusahakan penyusunan Terjemah Al-Qurân maupun Tafsir Al-Qurân.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perlu tetap disadari, tegasnya, bahwa terjemah Al-Qurân atau tafsir Al-Qurân, betapapun bagus dan sempurnanya, tetap bukanlah Al-Qurân itu sendiri dan tidak akan dapat sepenuhnya menggambarkan maksud pesan-pesan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, segala upaya untuk menghadirkan pesan-pesan tersebut dalam bentuk penafsiran perlu mendapat dukungan dan apresiasi. Dalam hal ini ia mendukung penuh upaya Lajnah Pentashihan Al-Qur`an untuk menyusun tafsir tematik yang diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dengan pendekatan Al-Qur`an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Melalui tafsir tematik tersebut diberharap dapat menghadirkan Al-Qur`an untuk berdialog bersama tentang berbagai persoalan," katanya.(ant/ts)&lt;br /&gt;Sumber: depag.go.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-3828711990587330011?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/3828711990587330011/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=3828711990587330011' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/3828711990587330011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/3828711990587330011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2009/03/menag-titik-krusial-dalam-teks-al-quran.html' title='Menag: Titik Krusial Dalam Teks Al Quran Pada Penafsiran'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-6260557244332906974</id><published>2009-03-29T00:28:00.000-07:00</published><updated>2009-03-29T00:37:49.117-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an'/><title type='text'>Menag: Jangan Jual Ayat al-Qur'an</title><content type='html'>Menteri Agama (Menag) Muhammad Maftuh Basyuni minta para calon anggota legislatif atau partai politik untuk menghindari penggunaan ayat-ayat Al-Qur`an dalam berkampanye sehingga ajaran agama yang sifatnya abadi dapat dijaga untuk kepentingan yang lebih luas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan ayat-ayat Al-Qur`an dijual," kata Maftuh di hadapan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Al-Qur`an di Cisarua, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, Senin (23/3) malam. Pernyataan ini juga diulangi ketika membuka Rapat Kerja Daerah Kanwil Departemen Agama Jawa Barat di Ciloto. "Pemilu (pemilihan umum) ini hanya sesaat saja. Janganlah ayat-ayat Al-Qur`an dijual murah hanya sekedar menarik suara dalam pemilu ini," katanya menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menag mengakui, suhu politik menjelang pemilu legislatif dan pemilihan presiden semakin meningkat dan bila tidak dikelola dan disikapi secara arif akan menimbulkan banyak persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gesekan antara berbagai kepentingan akan mudah sekali menyulut konflik di tengah masyarakat. Karena itu, Menag mengajak para ulama dan tokoh masyarakat untuk meneguhkan kembali tekad memelihara persatuan dan kesatuan dalam wadah persaudaraan sebangsa dan se-Tanah Air. "Pemilu ini &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; hanya sesaat saja. Sementara ajaran Al-Qur`an itu adalah ajaran agama yang sifatnya abadi, yang tidak boleh dikorbankan begitu saja," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu hanyalah sebuah proses dan jalan untuk memakmurkan dan mensejahterakan rakyat. Maka sangatlah naif bila bangsa Indonesia terjebak dalam kemelut proses yang berkepanjangan, sementara tujuan yang sebenarnya terlupakan, katanya menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menag berharap persatuan dan kesatuan bangsa tidak tergadaikan oleh kepentingan pribadi dan kelompok. Sebagai bangsa wajib untuk menyukseskannya, sebab dibutuhkan sistem pemerintahan yang tangguh untuk menghadapi badai krisis keuangan global yang dampaknya akan semakin dirasakan oleh banyak kalangan di tahun 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama hendaknya dapat menjadi pengayom masyarakat dan dapat membimbing masyarakat berdasarkan petunjuk-petunjuk Al-Qur`an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menag juga meminta kepada semua umat Islam Indonesia agar senantiasa mencermati Al-Qur`an yang beredar di Indonesia, baik dalam bentuk mushaf cetak maupun elektronik, ataupun dalam bentuk kutipan-kutipan agar terhindar dari kesalahan sekecil apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas lanjut Menag, apabila ditemukan sesuatu kesalahan penulisan, diharapkan masyarakat segera menyampaikannya kepada Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an atau Kantor Departemen Agama setempat. "Saya juga ingin mengingatkan agar jangan sampai Al-Qur`an dipakai untuk kepentingan-kepentingan sempit dan sesaat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pemilu yang semakin hangat dewasa ini, Menag juga mengingatkan jajaran Departemen Agama untuk menghindarkan diri dari kegiatan politik praktis. "Saya haramkan pegawai Departemen Agama ikut dalam politik praktis," tegasnya. &lt;/span&gt;&lt;b&gt;[EL, Ant] Sumber: Gatra Online&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-6260557244332906974?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/6260557244332906974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=6260557244332906974' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/6260557244332906974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/6260557244332906974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2009/03/menag-jangan-jual-ayat-al-quran.html' title='Menag: Jangan Jual Ayat al-Qur&apos;an'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-6467090370606795767</id><published>2009-01-02T06:39:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T06:52:40.082-08:00</updated><title type='text'>KDRT Masih Sering Terjadi di Cirebon</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ali Mursyid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CIREBON - Dua kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) diadukan ke Polresta Cirebon. Kasus pertama diadukan Ny Dn (25) warga Jl Kapten Samadikun. Ibu rumah tangga itu dianiaya oleh suaminya Mr (26) yang berprofesi sebagai tukang becak. Korban yang melapor ke polisi menceritakan, Rabu (24/12) sang suami meminta dibuatkan sarapan. Sebagai istri yang baik, Ny Dn menjalankan permintaan itu. Tapi bukannya senang dibuatkan sarapan, Mr malah memaki-maki istrinya bahkan melucuti pakaian istrinya lalu dibakar. Tak sampai di situ, Mr menarik istrinya ke kamar dan memukulinya hingga mengalami memar di bagian tangan, bahu, serta kepala. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sementara peristiwa kedua diadukan Ny Nj (29), warga Jl Kebon Cai, Kecamatan Pekalipan. Wanita yang bekerja di salahsatu klub hiburan malam itu melaporkan suaminya Tf (29). Menurut Nj, Jumat dini hari (26/12) sekitar pukul 01.15, Tf menjemput dirinya menggunakan sepeda motor menuju ke rumah. Sesampai di rumah, Tf langsung menganiayanya  dengan cara menendang hingga terjerembab ke lantai. (Sumber: Radar Cirebon). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua kasus kekerasan di atas adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang masih banyak terjadi di masyarakat kita. Terungkap dalam Pelatihan Perpolisian Masyarakat (POLMAS) II yang diselenggarakan Fahmina Institute pada 23-24 Desember 2008, bahwa diantara banyaknya persoalan sosial yang muncul dan berkembang di masyarakat, ada tiga persoalan yang dirasa paling sering muncul, adalah persoalan KDRT sebagai persoalan dengan angka tertinggi. Baru kemudian persoalan kenakalan remaja dan kejahatan perdagangan perempuan dan anak (trafiking). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meski terungkap sebagai persoalan yang banyak muncul di masyarakat, tetapi sejatinya, fenomena KDRT adalah fenomena gunung es. Yang terungkap ke permukaan hanya kecil saja, sementara kejadian sebenarnya yang belum terungkap, sangatlah banyak.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Akar Masalah KDRT&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah bentuk kekerasan terhadap perempuan, selain kekerasan yang juga sering menimpa perempuan di ruang publik. Kekerasan terhadap perempuan kerap kali terjadi, karena masih kentalnya budaya patriarkhi (pengunggulan terhadap laki-laki) di masyarakat kita. Di mana seorang laki-laki dianggap lebih unggul dari pada perempuan hanya karena ia laki-laki, sementara perempuan dianggap lebih rendah hanya karena ia perempuan. Laki-laki layak jadi pemimpin hanya karena dia laki-laki, sementara perempuan tidak boleh memimpin hanya karena dia perempuan. karena Asumsi patriarkhal seperti inilah yang menyebabkan relasi antara laki-laki dan perempuan jadi timpang. Akibatnya banyak perempuan gampang dan rentan menjadi korban kekerasan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan terhadap perempuan, termasuk KDRT, sedikitnya dapat dakegorikan dalam beberapa bentuk; kekerasan fisik, kekerasan physokologis (kejiwaan), dan kekerasan seksual. Keempat bentuk kekerasan tersebut sering kali menimpa perempuan dalam kehidupan rumah tangga. Meski demikian jarang atau sedikit sekali yang mengungkapkan, menceritakannya atau melaporkannya kepada pihak berwajib. Ini karena masih kentalnya anggapan bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah urusan dapur dan ‘rahasia’ rumah tangga yang tabu untuk diceritakan dan diketahui orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri mana sih yang tidak malu bila ketahuan bahwa suaminya adalah pelaku kekerasan? Istri mana yang tidak malu jika ketahuan bahwa rumah tangganya tidak harmonis? Istri mana yang tidak takut bila melaporkan kasusnya, lalu suaminya marah dan menceraikannya, sementara dia tergantung secara ekonomi, dan anak-anaknya masih kecil? Ini semua membebani perempuan, terutama istri untuk mengungkapkan kekerasan yang menimpanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perasaan susah dan terbebani untuk mengungkapkan KDRT yang terjadi itu bukannya tanpa sebab. Itu semua merupakan akibat dari kentalnya budaya patriarkhi yang merambah ke segala lini kehidupan. Sampai kemudian ada asumsi bahwa perempuan dan istri yang baik adalah yang manut dan nurut terhadap suami, meski sang suami sering berbuat kekerasan terhadapnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Parahnya asumsi-asumsi yang merendahkan perempuan dihadapan laki-laki, juga dalam beberapa hal justru dilegitimasi dengan penafsiran keagamaan yang misoginis (penuh kebencian terhadap perempuan). Hal ini dapat dilihat pada penafsiran kepatuhan istri dengan berargumentasikan hadits “bahwa seorang istri akan dilaknat oleh malaikat sampai dengan waktu subuh jika ia tidak memenuhi ajakan suaminya untuk berhubungan suami istri” atau ayat  yang membolehkan seorang laki-laki memperistri lebih dari satu orang asalkan ia dapat berbuat adil (QS. al-Nisa: 3 ). Banyak sekali kaum laki-laki yang menggunakan ayat ini sebagai sebuah legitimasi untuk melakukan poligami. Menganggap telah berbuat”adil”, jika ia dapat memenuhi kebutuhan materi dan pemenuhan biologis (nafkah batin) yang teratur (rutin), sebagai salah satu  bagian dari keadilan dia memperlakukan istri. Sedangkan untuk sebuah rumah tangga tidak hanya kebutuhan materi dan biologis saja, melainkan sebuah kasih sayang yang menjadi dasar utamanya. Sedangkan untuk kasih sayang serta adil sendiri masih lentur dan sifatnya relatif (tidak ada parameter yang baku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jika KDRT Terjadi, Maka….&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;KDRT, sejatinya bukan persoalan rumah tangga saja, bukan sesuatu yang harus dirahasiakan, ditutup-tutupi dan tabu diceritakan ke orang lain. Dengan diterbitkannya Undang-Undang PKDRT, maka KDRT adalah tindak pidana, karenanya baik korban maupun orang lain yang menyaksiskan, mendengar, melihat kekerasan dalam rumah tangga, maka sebaiknya melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Atau, korban dan masyarakat juga bias melaporkan kasus KDRT ke beberapa LSM yang ada di Cirebon dan sekitarnya, seperti WCC Mawar Balqis di Arjawinangun, LSM Bannati di Gempol dan juga ke Fahmina Institute. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu juga, perlu kiranya upaya-upaya kultural dilakukan dalam rangka mengikis budaya patriarkhi yang merugikan perempuan. Para tokoh agama juga diharapkan dapat melakukan penafsiran ulang terhadap beberapa produk penafsiran keagamaan yang misoginis. Ini sejalan dengan pesan Nabi Muhammad saw: ““Ingatlah, aku berpesan agar kalian berbuat baik kepada perempuan karena mereka sering menjadi sasaran pelecehan diantara kalian. Padahal kalian sedikitpun tidak berhak memperlakukan mereka kecuali untuk kebaikan. (HR. At-Turmudzi).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-6467090370606795767?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/6467090370606795767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=6467090370606795767' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/6467090370606795767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/6467090370606795767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2009/01/kdrt-masih-sering-terjadi-di-cirebon.html' title='KDRT Masih Sering Terjadi di Cirebon'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-3473985736993464764</id><published>2008-09-28T09:07:00.000-07:00</published><updated>2008-09-28T09:14:46.772-07:00</updated><title type='text'>Ketika Rakyat Berebut Zakat</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Oleh Ali Mursyid&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0cm;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 41.35pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 56pt;" lang="SV"&gt;M&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;embagikan zakat memang wajib dan diganjar pahala. Namun, jika dilakukan serampangan, malah menuai bencana bahkan mendatangkan dosa. Pembagian zakat oleh pengusaha dermawan asal Pasuruan, Haji Syaikhon, 55, kemarin (15/09/2008) bisa menjadi pelajaran. Maksud hati ingin membantu fakir miskin dengan zakat Rp 30.000, tapi malah berujung tragedi tewasnya 21 orang, satu kritis, dan 12 orang terluka. Demikianlah ditulis di &lt;a href="http://www.kompas.com/"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;www.kompas.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (16/09/2008). Ya Allah apa lagi ini, di tengah Ramadhan yang seharusnya penuh berkah, malah terjadi musibah yang memilukan, rakyat sekarat berebut zakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan tragedi yang memilukan ini, kemudian banyak tokoh agama dan beberapa pejabat negara memberi komentar. Ada yang menyalahkan si orang kaya pemberi zakat. Bahkan ada yang terang-terangan menyatakan bahwa kejadian yang mengenaskan itu akibat si orang kaya pamer kekayaan. Ada yang mengatakan bahwa kejadian ini akibat orang tidak percaya dengan badan amil zakat yang ada. Ada juga yang menganalisa akutnya kemiskinan di negeri ini. Tetapi benarkah demikian, apa akar masalahnya? Siapa yang paling bertanggungjawab atas tragedi ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) langsung berkomentar. Ia dengan tegas mengkritik Departemen Agama (Depag) RI yang tidak memaksimalkan fungsinya dalam mengatur distribusi zakat. Menteri Agama, Maftuh Basyuni, juga memberikan kritik pedas terhadap cara H. Syaikhon membagi-bagikan zakat. Menurutnya pembagian zakat massal tersebut banyak mengandung unsur riya alias pamer. Pihak kepolisian juga menyesalkan mengapa keluarga Syaikhon tidak berkodinasi dengan aparat dalam acara yang melibatkan ribuan massa. Dalam hal ini Kapolri Jenderal Sutanto, menyatakan ”&lt;i style=""&gt;Lebih bagus mendatangi warga yang hendak diberikan zakat. Jangan pakai diumumkan karena nanti berdatangan banyak dan jadi tidak terkendali&lt;/i&gt;”. Ujung-ujungnya, kordinator panitia pembagian zakat H. Farouq (28) ditetapkan sebagai tersangka. Karena dialah yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dianggap bertanggungjawab atas tragedi zakat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="style1" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="style1" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Polisi dan Pemerintah Beratnggungjawab&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="style1" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berbeda dengan komentar para pejabat di atas, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mensinyalir bahwa, tragedi zakat H. Syaikhon merupakan kesalahan aparat kepolisian. “Panitia zakat &lt;em&gt;kok&lt;/em&gt; disalahkan. Itu kesalahan polisi. Panitia &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; mau minta bantuan polisi, karena polisi biasanya minta uang,” tegas Gus Dur sesaat menjelang acara &lt;em&gt;Ngaji Bersama Gus Dur &lt;/em&gt;yang di Surabaya, Kamis (18/09/2008). Bagi Gus Dur, jika saja pihak kepolisian mau menjaga dan membantu proses pembagian zakat itu, tentu saja &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; akan ada kejadian itu. “Kalau memberitahu polisi, biasanya polisi &lt;em&gt;njaluk duwit&lt;/em&gt;. Jadi, itu salah polisi, bukan panitia,” tegas Gus Dur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="style1" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sejalan dengan Gus Dur,&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Adhie M Massardi, Juru Bicara Komite Bangkit Indonesia, menyatakan bahwa &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;seharusnya, tanpa perlu menunggu korban berjatuhan, bila di suatu tempat ada ribuan orang berkerumun, polisi setempat seharusnya cepat tanggap dan segera mengirim anggotanya untuk melayani dan mengayomi masyarakat. Ia juga mengingatkan Menteri Agama Maftuh Basyuni, seharusnya paham kenapa tetap lebih banyak umat Islam membagikan zakat secara pribadi dan tidak melalui Baznas (Badan Amil Zakat Nasional). Karena memang citra pemerintah di mata rakyat masih bermasalah, terutama yang menyangkut soal uang. &lt;i style=""&gt;”Benar, dalam pembagian zakat yang nyaris menjadi tradisi tahunan H Syaichon, aroma riya tercium sangat kuat. Tapi salahkah, bila dalam berbuat baik, rakyat kecil ingin mendapat ”pujian” warganya? Toh para pejabat pemerintah, juga anggota DPR dan partai-partai politik, melakukan hal yang sama. Bahkan dengan program BLT yang nyata-nyata menggunakan uang rakyat, pemerintah juga mengharapkan hal yang sama yang mungkin diharapkan H Syaichon?”&lt;/i&gt; kata Adjie menambahkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="style1" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lebih jauh dari sekedar mencari siapa yang salah dan bertanggungjawab, nampaknya tragedi zakat H. Syaikhon adalah indikasi kuat dari semakin meningkatnya kemiskinan di negeri ini. Kemiskinan tak lagi sekedar menjadi mimpi buruk. Ia telah benar-benar menjelma menjadi barisan manusia-manusia tak berdaya yang hadir di mana pun ada remah-remah rezeki, termasuk di rumah keluarga H Saikhon. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="style1" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kemiskinan ini ditandai dengan kemerosotan pendapatan dan daya beli rakyat, terutama sejak pemerintah menaikkan harga BBM, yang di Pasuruan melahirkan ribuan orang yang merasa layak mendapat zakat. Sebab kenaikan harga BBM faktanya telah menaikkan harga kebutuhan hidup. Jadi, sesungguhnya yang terjadi di Pasuruan bukanlah semata karena prosedur yang dilanggar &lt;em&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;muzakki&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (pemberi zakat), melainkan akibat jumlah orang miskin yang merasa menjadi &lt;em&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;mustahik&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; bertambah banyak. &lt;span style="color: black;"&gt;Adalah tugas dan tanggung jawab negara untuk mengurangi tingginya angka kemiskinan itu&lt;/span&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jika Rakyat Sengsara, Perempuan Jadi Korban&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di samping itu, mari kita melihat sisi lain dari kejadian ini. Mari kita perhatikan siapakah yang selalu datang bersemangat untuk antre dalam acara pembagian zakat atau pembagian BLT? Mereka rata-rata adalah perempuan. Nampak bahwa perempuanlah yang berani berkorban. Mereka ini sehari-hari dipusingkan oleh masalah dapur dan belanja kebutuhan keluarga. Anak-anak di bulan puasa ini minta menu buka yang lebih enak dari biasanya. Sementara harga-harga kebutuhan pokok di pasar semakin tidak terjangkau dan hari raya akan datang pula. Perempuan pun berani berkorban, demi keluarga. Sayangnya, peran dan pengorbanan perempuan yang demikian besar ini, kadang dilupakan. Baik oleh keluarga maupun masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Wejangan dari Gus Mus&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara itu KH. &lt;/span&gt;Mustafa Bishri (Gus Mus) memberi wejangan yang cukup menyejukkan. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurutnya peristiwa-peristiwa berdesakan berebut zakat, BLT dan lainnya di berbagai tempat, nampaknya seiring dengan semakin meningkatnya ‘ketergantungan’ masyarakat pada materi. Kepentingan duniawi sudah menjadi ‘tuhan’ yang dapat menggiring orang untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal; membuat orang terhormat mencampakkan kehormatannya; membuat orang beragama menjual agamanya; membuat saudara tega terhadap saudaranya; dan lain sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Peristiwa-peristiwa menyedihkan seperti itu tidak terbayangkan bisa terjadi di zaman dulu di saat masyarakat masih menganggap hidup di dunia ini hanya sekedar mampir ngombe, singgah minum sebentar. Di saat hidup sederhana masih menjadi budaya yang dipujikan. Di saat pasar rakyat masih belum dijuluki pasar tradisonal yang harus mengalah dengan mall-mall dan supermarket-supermarket. Di saat masyarakat belum dijejali setiap hari oleh iming-iming tv agar menjadi konsumtif dan hedonis.&lt;br /&gt;Mumpung masih di bulan suci Ramadan yang kata para kiai dan ustadz bulan pelatihan mengendalikan diri, apabila kita setuju bahwa akar masalah –hampir semua masalah-dalam masyarakat adalah akibat kecintaan yang berlebihan terhadap materi dan pemanjaan yang kelewatan terhadap jasmani, sehingga melupakan ruhani, maka usulan yang paling masuk akal saya ialah: mari lah kita kampanyekan untuk kembali kepada budaya hidup sederhana. Memandang dunia dan materi secara pas: hanya sebagai sarana dan alat dan bukan tujuan hidup. &lt;i style=""&gt;Wallahu a’lam bi al-shawab&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;_____________&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;*Penulis adalah alumni pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin sekarang brhidmah pada kerja-kerja kemanusiaan di Fahmina Institute&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-3473985736993464764?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/3473985736993464764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=3473985736993464764' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/3473985736993464764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/3473985736993464764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2008/09/ketika-rakyat-berebut-zakat.html' title='Ketika Rakyat Berebut Zakat'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-2114022121216871800</id><published>2008-09-15T12:34:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T12:35:58.153-07:00</updated><title type='text'>Lagi-Lagi TKW Indramayu Jadi Korban</title><content type='html'>Oleh Ali Musyid&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Baru empat bulan merantau di Arab, Caswati binti Sarim (25 th) tewas misterius awal Juni lalu, dan jenazahnya baru dipulangkan, Kamis (10/7) kemarin. Meskipun ada tanda-tanda yang tidak beres, jasad TKW asal Desa Sidamulya, Blok Bendayasa RT 09 RW 03 Kecamatan Bongas ini, langsung dimakamkan oleh pihak keluarganya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Lebih mirisnya, saat jenazah Caswati tiba di kampungnya, hanya diantar mobil ambulan tanpa disertai dokumen resmi penyebab kematian. Saat keluarga membuka peti dan melihat langsung kondisi mayat Caswati, terdapat tanda hitam di bagian tengkuk (leher belakang). “Sakitnya apa, kita tidak tahu. Sebab, tidak ada dokumen penyebab kematian yang menyertainya. Yang mengherankan, kenapa saat jenazah dibawa ke Indonesia, kematiannya sudah 41 hari yang lalu,” ujar salah seorang kerabat korban, di sela-sela acara pemakaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Keterangan lain menyebutkan bahwa, ibu satu orang anak yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di kota Sarjah, Arab Saudi ini, sebelumnya dikabarkan oleh pihak PJTKI, yakni PT Akbal Putra Mandiri, Jakarta Timur, meninggal dunia akibat sakit. Kabar mengejutkan itu diterima suami korban, Warma (34 th) pada tanggal 2 Juni lalu. Informasi itu terbilang aneh. Pasalnya, selang tiga bulan sebelumnya, pihak keluarga korban mengaku pernah menerima kabar dari Caswati secara langsung jika kondisinya baik-baik saja. Dan sampai kabar kematian diterima, korban juga tidak mengeluhkan kondisi kesehatannya selama bekerja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, pihak keluarga sudah berusaha menuntut PJTKI, untuk mendapat penjelasan penyebab kematian Caswati lebih detail. Termasuk juga, biaya penguburan dan asuransi yang menjadi hak korban, karena ia berangkat menjadi TKW secara legal. Namun, upaya itu tidak ditanggapi secara serius. Itu terbukti, ketika jenazah dikirim ke kampung, pihak PJTKI tidak turut mendampingi. (Radar Online, edisi 11 Juli 2008)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sejak awal tahun 1990-an, penyiksaan dan kematian tenaga kerja wanita (TKW) di Arab Saudi mulai terkuak. Pada pertengahan tahun 1990-an, Menteri Urusan Peranan Wanita Mien Sugandhi memberikan pernyataan kritis tentang hal itu. Setelah ”Reformasi”, soal itu terkuak lebar-lebar. Sementara itu Direktur Ekdsekutif Migrant Care, Anis Hidayat menyatakan bahwa: ”Tahun 2007, di kota Riyadh saja, 102 TKW tewas”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Laporan penelitian setebal 133 halaman berjudul As if  I am Not Human: Abuses against Domestic Workers in Saudi Arabia menyebutkan bahwa struktur sosial budaya masyarakat Arab menyebabkan pekerja rumah tangga (PRT) cenderung dianggap sebagai budak. Ini diperparah dengan sistem kafala (sponsor), yang menyebabkan nasib PRT migran sepenuhnya berada di tangan majikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak semua TKW bernasib buruk. Akan tetapi, yang bernasib buruk mengalami perlakuan seperti budak, mulai dari gaji tak dibayar sampai penyiksaan, termasuk penyiksaan seksual, bahkan kematian. Keadaan ini diantaranya karena sistem hukum di Saudi yang diskriminatif, dimana TKW-PRT korban kekerasan justru dicap buruk dengan tuduhan zinah dan melakukan sihir. Hal ini diperparah oleh seluruh mekanisme di Indonesia yang cenderung ’membiarkan’ pelaku kejahatan trafiking (perdagangan orang) terus berlangsung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Jumlah PRT dari Asia di Arab Saudi sekitar 1,5 juta orang--terutama berasal dari Indonesia, Sri Lanka, Filipina, dan Nepal--dari delapan juta tenaga kerja di sana, atau sepertiga jumlah penduduk Saudi. Mereka mengisi kekosongan pelayanan dan jasa di bidang kesehatan, konstruksi dan pekerjaan rumah tangga. Dari Indonesia, menurut aktivis pembela hak-hak buruh migran Wahyu Susilo, jumlahnya sekitar 1,2 juta dari sekitar enam juta TKI di berbagai negara. Sebagian besar bekerja sebagai PRT. Jumlah TKW yang mengalami penyiksaan dan kematian akibat kekerasan, terbanyak terjadi di Arab Saudi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Kita semua mengetahui, bahwa menjadi TKI atau TKW selain dapat menghasilkan uang lebih banyak, juga mendatangkan resiko terancam berbagai tindak kejahatan perdagangan manusia (trafiking). Trafficking ini dapat mengancam TKI atau TKW sejak tahap rekruitmen, pra-keberangkatan (pelatihan atau penampungan), tahap keberangkatan, masa kerja, kepulangan dan pasca kepulangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Disamping rentan dengan berbagai resiko, buruh migran juga kurang mendapatkan perlindungan dan pembelaan yang tegas dari pemerintah, terutama jika mereka terjerat trafiking. Padahal, sesungguhnya para buruh migran ini adalah pahlawan devisa yang mampu mengalirkan uang triliyunan rupiah ke negeri ini. Tetapi pemerintah justru berpangku tangan, ketika mereka diperas, baik oleh para petugas maupun mereka yang berkecimpung dalam penyelenggaraan dan pengiriman buruh migran; calo-calo dan PJTKI-PJTKI yang nakal, atau pihak-pihak lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Akar persoalan buruh migran ini -bila dilihat dari sisi hukum legal- sangat terkait dengan UU No. 39 th. 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Undang-Undang ini menempatkan pemerintah sebagai regulator, pembina, pengawas dan sekaligus pelaksana. Pertanyaannya, bagaimana mungkin pemerintah bisa menjadi pembina dan pengawas yang obyektif, jika pada saat yang sama juga memiliki kepentingan sebagai pelaksana penempatan tenaga kerja? Inilah salah satu akar persoalan lemahnya pengawasan dan perlindungan terhadap buruh migran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih penting dari semua itu adalah adanya keinginan serius pemerintah untuk memberantas perdagangan perempuan. Karena dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Lâ takrahû fatayâtikum ‘ala al-bighâli in aradna tahashunâ” (Janganlah kalian memaksa puttri-putrimu dalam pelacuran, jika memang mereka menhendaki penyucian). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas mengisyaratkan bahwa pelacuran atau perdagangan perempuan terajadi karena desakan situasi dan kondisi. Karena itu tugas pemerintah adalah menciptakan situasi kondisi, sistem, dan undang-undang yang dapat memberantas habis praktek-prektek perdagangan perempuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Ini harus dilakukan, karena sebagai manusia, perempuan memiliki hak asasi untuk hidup layak. Dalam posisinya sebagai bagian dari masyarakat dan warga negara, ia berhak mendapat perlindungan hukum, untuk tidak dieksploitasi baik fisik maupun kejiwaan. Sebagai makhluk Allah SWT, perempuan berhak mendapat perlakuan setara dengan manusia jenis lainya. Rasul SAW bersabda bahwa: “Ingatlah, aku berpesan: agar kalian berbuat baik terhadap perempuan karena mereka sering menjadi sasaran pelecehan di antara kalian. Padahal sedikitpun kalian tidak berhak memperlakukan mereka kecuali untuk kebaikan”. &lt;/span&gt;(HR. al-Turmudzi). Wallahu a’lam bi al-shawab&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;  &lt;hr align="center" size="2" width="100%"&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;em&gt;Penulis adalah almnus pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin yang sekarang verkhidmah melakukan kerja-kerja kemanusiaan di Fahmina Institute&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-2114022121216871800?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/2114022121216871800/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=2114022121216871800' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/2114022121216871800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/2114022121216871800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2008/09/lagi-lagi-tkw-indramayu-jadi-korban.html' title='Lagi-Lagi TKW Indramayu Jadi Korban'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-1907264963432368495</id><published>2008-08-18T16:43:00.000-07:00</published><updated>2008-08-18T16:47:22.062-07:00</updated><title type='text'>Perjuangan Santri Cirebon untuk Kemerdekaan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;Ali Mursyid &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0cm;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 48.55pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 56.5pt; font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;C&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;irebon, kota kecil yang terletak di bagian Timur Jawa Barat, hingga kini, dikenal sebagai salah satu kota ’santri’ di negeri ini, tentu selain Demak, Pekalongan, Kediri, dan beberapa kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ini bukan tidak beralasan atau sekedar julukan. Sedikitnya ada beberapa indikator bisa dikemukakan, diantaranya; &lt;i style=""&gt;Pertama, &lt;/i&gt;sejarah kota dan atau kabupaten Cirebon menunjukkan kaitan eratnya dengan sejarah dan budaya kaum santri. Dimana &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kota ini pernah jadi salah satu area Islamisisasi dari gerakan dakwah kultural Wali Songo. Sunan Gunung Djati atau yang dikenal juga dengan Syarif Hidayatullah hadir di Cirebon sebagai pendakwah Islam kultural yang simpatik. Keberadaan Sang Sunan ini selain juga merupakan bagian dari Islamisasi Jawa &lt;i style=""&gt;ala&lt;/i&gt; Wali Songo, juga merupakan bagian dari perjalanan membesarkan kerajaan Cirebon masa lampau. Untuk menghormati jasa-jasa Sang Sunan, hingga kini masyarakat Cirebon dan kaum santri pada umumnya ’rajin’ menziarahi pesarean (&lt;i style=""&gt;maqbarah&lt;/i&gt;) Sang Sunan, atau setidaknya mengingat wasiatnya yang sangat populis, &lt;i style=""&gt;”Insun titip tajug lan fakir miskin”&lt;/i&gt; (saya titip mushalla dan fakir miskin). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;banyaknya pesantren di kota dan kabupaten Cirebon. Di Cirebon bagian Timur terdapat ‘kampung pesantren’ Buntet, sebuah kompleks pesantren yang berlokasi di desa Mertapada Kulon. Tidak jauh dari situ, terdapat pesantren Gedongan yang berlokasi di desa Ender. Sementara di wilayah Cirebon Barat bagian Selatan terdapat ‘kampung pesantren’ Babakan Ciwaringin. Di wilayah Cirebon Barat bagian Utara terdapat pesantren Dar Al-Tauhid di desa Arjawinangun, dan pesantren Al-Anwariyah di desa Tegalgubug. Terbentang di antara di antara wilayah Barat bagian Utara dan bagian Selatan, dapat ditemui dua pesantren; pesantren &lt;i style=""&gt;Tahsinul Akhlaq &lt;/i&gt;di desa Winong dan ’kampung pesantren’ di desa Kempek Ciwaringin. Ke Selatan sedikit, kita dapat menjumpai pesantren Balerante, Palimanan. Dari Palimanan ke arah Timur, di wilayah Plered, kita juga dapat menjumpai beberapa pesantren. Di Cirebon Kota, juga terdapat banyak pesantren. Sebut saja beberapa diantaranya adalah pesantren Jagasatru, pesantren &lt;i style=""&gt;Istiqomah&lt;/i&gt;, dan pesantren &lt;i style=""&gt;Siti Fatimah&lt;/i&gt;. Di bagian lain dari Kota Cirebon terdapat pesantren &lt;i style=""&gt;Benda Kerep&lt;/i&gt;. Nama-nama dan lokasi pesantren itu hanya sebagian dari yang ada, masih banyak nama dan lokasi pesantren yang sesungguhnya belum disebutkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Bukan hanya itu, fakta sejarah membuktikan, bahwa kaum santri Cirebon juga berpartisipasi aktif dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa ini. Di kampung kelahiran saya, desa Ujungsemi kecamatan Kaliwedi kabupaten Cirebon, terdapat makam pahlawan. Pemerintah setempat menziarahinya setiap hari pahlawan atau hari kemerdekaan RI. Ratusan pahlawan yang gugur dan dikebumikan di situ adalah kaum santri, alias pejuang-pejuang Islam yang terdiri dari kyai-santri yang saling bahu membahu mengusir penjajah. Mereka membela tanah air meski harus bersimbah darah dan kehilangan nyawa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ketika saya duduk di bangku sekolah dasar (SD), saya ingat betul, ada orang yang sangat dihormati penduduk kampung. Karena selain dikenal sebagai ahli agama, beliau juga dikenal sebagai salah satu pejuang kemerdekaan yang tersisa. Penduduk memanggilnya &lt;i style=""&gt;Kyai Nurin. &lt;/i&gt;Yah Kyai Nurin yang dikenal kebal peluru dan salah seorang santri Kyai Syathori Arjawinangun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ketika saya menimba ilmu di pesantren Babakan Ciwaringin, diceritakan oleh para ustadz, bahwa pendiri kampung pesantren Babakan, Kyai Jatira, adalah juga seorang pejuang anti Belanda. &lt;i style=""&gt;”Seandainya bukan karena perjuangan Kyai Jatira, pesantren Babakan Ciwaringin ini tidak akan ada”&lt;/i&gt; kata seorang ustadz di pesantren tempat saya belajar, &lt;i style=""&gt;Assalafie&lt;/i&gt;. Perjuangan Kyai Jatira ini terutama pertentangannya terhadap kebijakan penjajah dalam membangun jalan yang akan mengganggu pesantren. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Beliau dengan berani memindahkan ’patok’ penanda pembangunan jalan ke sebelah utara, sehingga tidak mengganggu pesantren. Kaum penjajahpun terkecoh karenanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Tidak jauh dari situ, bergeser ke Barat dan Selatan dari Babakan Ciwaringin, ada desa Kedondong kecamatan Susukan, yang juga bertetangga dengan desa Gintung kecamatan Ciwaringin. Dari desa ini ada cerita heroik perjuangan kaum santri melawan penjajah, yang dikenal dengan &lt;i style=""&gt;’Perang Kedondong’&lt;/i&gt;. Dalam perang ini, dengan dipimpin Pangeran Matangaji, kaum santri bahu membahu melawan penjajah. Pangeran Matangaji sendiri adalah keluarga kraton Cirebon (&lt;i style=""&gt;Kasepuhan&lt;/i&gt;) yang turun tangan memimpin masyarakat memimpin perlawanan terhadap kolonial. Dalam peperangan ini kaum santri berperang sampai titik darah penghabisan. Banyak kalangan santri yang meninggal. Sementara pangeran Matangaji, menyelematkan diri. Ada yang menyatakan beliau kemudian meninggal di sebuah desa, yang sekarang dikenal sebagai desa Matangaji, Sumber. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Di desa Gintung, sebelah desa Kedondong ada tanah lapang. Penduduk setempat menyebutnya Blambangan. Di tempat inilah kaum santri banyak terbunuh dalam perang kedondong. Beberapa memang selamat, seperti Kyai Abdullah dari Lontang Jaya, kakek Kyai Syathori Arjawinangun. Ada juga yang menyatakan bahwa selain kyai Abdullah, Kyai Jaitra Babakan Ciwaringin dan Kyai Idris dari Kempek Ciwaringin, turut pula dalam peperangan ini. Mereka berdua juga termasuk kyai yang selamat dari senjata kaum penjajah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sementara itu Kyai Syatori, pendiri pesantren Arjawinangun, bersama Kyai Abbas Buntet dan Kyai Sonhaji Indramayu beserta beberapa kyai lainnya, berpartisipasi aktif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI, dari agresi Belanda. Saat itu Kyai Saythori Arjawinangun, Kyai Abbas Buntet dan beberapa kyai lain pergi ke Jawa Timur memenuhi panggilan Kyai Hasyim Asy’ari untuk dimintai pandangan soal mempertahankan tanah air dari serangan agressi Belanda. Perundingan ditunda sampai rombongan kyai Cirebon hadir. Perundingan itulah kemudian yang dijadikan dasar oleh Bung Karno untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pesantren Buntet sendiri adalah kampung pesantren yang sejak awal didirikan dengan sikap kritis terhadap segala bentuk penjajahan. Pendiri pesantren Buntet, Mbah Muqayyim, dikenal sebagai seorang yang anti kolonialisme, dan tidak mengenal kompromi sedikitpun dengan Belanda. Sikap kerasnya ini pula, yang membuatnya keluar dari lingkungan Kraton Cirebon (&lt;i style=""&gt;Kasepuhan&lt;/i&gt;) untuk kemudian membangun basis kekuatan rakyat melalui pendidikan agama (pesantren). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Untuk kepentingan ini, kemudian di pesantren Buntet juga dikembangkan ilmu &lt;i style=""&gt;kanuragan&lt;/i&gt;, tentu disamping ilmu-ilmu yang utama, ilmu-ilmu agama. Kyai Abbas, pada masanya, selain dikenal sebagai ahli agama, beliau juga dikenal sebagai guru silat yang cukup mumpuni. Memang, di beberapa pesantren tradisional di Cirebon, ilmu-ilmu kanuragan (kesaktian) ini kerap pula diajarkan. Entah itu sengaja, secara terkurikulum dan bertahap, atau sekedar sebagai hadiah dari Kyai kepada santrinya yang telah &lt;i style=""&gt;menghatamkan &lt;/i&gt;(menyelesaikan) kitab-kitab kajian tertentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Bahkan pada masa perjuangan kyai-kyai tersebut, di Cirebon dikenal kyai &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;kanuragan&lt;/i&gt; yang merupakan guru kanuragan dari kyai-kyai yang ada di Cirebon. Beliau adalah Kyai Rafi’i dari Kali Tengah, Plered. Pada masanya, kyai-kyai Cirebon tidak akan buru-buru turun mengajarkan ilmu agama di masyarakat sebelum belajar kanuragan kepada beliau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Saat ini, kiprah kaum santri (kyai-santri) Cirebon bagi bangsa ini tetap tidak bisa diremehkan begitu saja. Cirebon memiliki Kyai Fuad Hasyim (&lt;i style=""&gt;al-marhum&lt;/i&gt;), seorang mubaligh kondang dari Buntet. Beliau aktif di Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dan gigih mengusung nasionalisme bangsa. Cirebon memiliki Kyai Yahya Masduki (&lt;i style=""&gt;al-marhum&lt;/i&gt;) yang dengan gigih menyatakan bahwa persaudaraan sesama anak bangsa dan sesama manusia sama pentingnya dengan persaudaraan sesama muslim. Beliau kyai yang tetap populis, rendah hati, dan tidak berambisi untuk dirinya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Cirebon juga memiliki Kyai Syarif Utsman Yahya, yang dengan gigih menyadarkan bangsa akan arti kemerdekaan, nasionalisme, dan arti hidup berbangsa. Atas dasar pandangannya mengenai hak-hak warga negara, beliau dengan berani membela keberadaan Ahamadiyah. Beliau lakukan pernyataan sikap berkali-kali, baik di media lokal, media nasional maupun internasional untuk menyatakan bahwa Ahmadiyah memiliki hak hidup di negeri ini. Beliau terus konsisten melakukan pembelaan ini, meski dikecam oleh beberapa kyai garis keras di Cirebon. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Cirebon juga memiliki Kyai Husein Muhammad, yang dengan gigih memperjuangkan hak-hak perempuan, yang selama ini tertindas. Beliau melakukan ini, bukan sekedar karena ikut-iuktan trend jender, tetapi karena memang Islam mengajarkan kesetaraan dan menolak segala bentuk kezaliman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Cirebon memiliki kyai dan santri yang luar biasa. Tergantung kita semua, apakah kita akan meneruskan perjuangan kyai-kyai dan guru-guru kita tersebut, atau sebaliknya. &lt;i style=""&gt;Wallahu a’lam bi alshawab. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;_______________&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Tulisan      ini diramu dari berbagai sumber, baik pustaka maupun hasil wawancara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Penulis      adalah alumnus pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon, sekarang      aktif di Fahmina Institute dan Lakpesdam NU Cirebon&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-1907264963432368495?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/1907264963432368495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=1907264963432368495' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/1907264963432368495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/1907264963432368495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2008/08/perjuangan-santri-cirebon-untuk.html' title='Perjuangan Santri Cirebon untuk Kemerdekaan'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-5006528587454736786</id><published>2007-12-29T23:59:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T00:02:12.803-08:00</updated><title type='text'>Obituari KH. Ilyas Ruhiyat</title><content type='html'>Seorang Ajengan dari Cipasung Kiai Ilyas Ruhiyat telah pergi. Sosok berhati lembut, tak silau dengan kedudukan, dan konsisten dalam bersikap.&lt;br /&gt;Ia seorang ajengan—sebuah istilah Sunda untuk seorang kiai besar, penuh karisma. Ketika jenazahnya dikebumikan di kompleks pemakaman Pesantren Cipasung, &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1199000750_0"&gt;Tasikmalaya, Jawa Barat&lt;/span&gt;, Rabu pekan lalu, ribuan orang melayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai Haji Ilyas Ruhiyat, 74 tahun, berpembawaan kalem, nada bicaranya datar seolah-olah tak ada yang dramatis dari hidup ini, dan—ini yang susah dilupakan—selalu ada senyum di bibirnya. Ia seperti sosok yang telah berdamai dengan hatinya, juga dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Ilyas Ruhiyat putra seorang kiai besar di Cipasung, KH Ruhiyat. Ilyas hidup di dua dunia: pesantren dan organisasi Nahdlatul Ulama. Di kalangan pesantren, penampilannya cukup mengejutkan. Ia menguasai isi kitab Al-Fiyah Ibnu Malik (ilmu sharaf yang dirakit dalam seribu bait syair) pada usia 15 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Ilyas Ruhiyat mempunyai hidup yang sibuk. Sejak terpilih sebagai Ketua Cabang Nahdlatul Ulama Tasikmalaya pada 1954, ia aktif dalam organisasi. Bahkan, pada 1994, ia menjabat Rais Am PB NU untuk mendampingi KH Abdurrahman Wahid hasil muktamar di Cipasung. KH Ilyas Ruhiyat dikenal berwibawa besar, tapi juga selalu memandang orang lain sebagai satu entitas yang memiliki kebebasan menentukan jalan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena itulah ia ”melanggar” kebiasaan menjodohkan anak perempuannya dengan anak lelaki kiai besar lain—bagian dari tradisi para kiai NU. Dua anak perempuannya, Ida Nurhalida dan Enung Nursaidah, kuliah di IKIP &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1199000750_1"&gt;Bandung&lt;/span&gt; dan bersuami dari keluarga nonpesantren—  kendati pada akhirnya anak-anak beserta para menantunya bahu-membahu meneruskan pengelolaan Pesantren Cipasung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Acep Zamzam Noor, anak lelakinya, lulusan Seni Rupa ITB dan memilih dunianya di luar pesantren: menjadi seniman-penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Ilyas Ruhiyat sangat menguasai kitab kuning, tapi seumur-umur mengembangkan ruang toleransi yang luas terhadap ”yang lain”. Di Cipasung, pesantrennya hanya dipisahkan oleh jarak 500 meter dengan kompleks permukiman Ahmadiyah. Dan sejauh ini, tak ada yang membuat hubungan dua tetangga itu bermasalah. Bahkan, ketika berlangsung muktamar NU di Cipasung, permukiman mereka dijadikan tempat menginap sebagian peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Ilyas Ruhiyat punya pendapat sendiri, tapi tidak berdakwah—apalagi memaksa—meluruskan akidah para penganut Ahmadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadiyah di Cipasung memang kemudian diserang. Tepat pada saat keluarga KH Ilyas Ruhiyat berduka melepas kepergian istri sang Kiai, Hajah Dedeh Fuadah, ke pangkuan Sang Khalik enam bulan lalu, Ahmadiyah dihantam. Ketika itu, sang Kiai juga sedang terbaring sakit. Tapi bukti-bukti menunjukkan bahwa para penyerang bukan warga Tasikmalaya dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Ilyas Ruhiyat berhati lembut, tapi itu tak membuatnya ragu-ragu manakala ia harus berbenturan dengan kekuatan penguasa yang luar biasa. Sejarah mencatat bagaimana Ilyas Ruhiyat tidak mau terkooptasi kekuasaan saat menjadi Rais Am PB NU mendampingi Abdurrahman Wahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan KH Ilyas dan Gus Dur, NU bisa tetap bersikap independen meski harus menghadapi aneka rongrongan rezim Orde Baru. Pada pengujung masa jabatannya, ia menunjukkan kepribadiannya yang tidak haus kekuasaan. Kemungkinan untuk menduduki posisi rais am tetap terbuka baginya, tapi ia memilih berhenti. Ia menyerahkan posisi itu kepada KH Sahal Mahfudz dan kembali ke pesantren, dunia tempat ia mengawali semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nong Darol Mahmada (Bekas santriwati Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, kini  bekerja di Freedom Institute)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-5006528587454736786?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/5006528587454736786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=5006528587454736786' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/5006528587454736786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/5006528587454736786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/12/obituari-kh-ilyas-ruhiyat.html' title='Obituari KH. Ilyas Ruhiyat'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-1129133615206467530</id><published>2007-07-12T20:36:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T00:05:17.192-07:00</updated><title type='text'>No Point To Return</title><content type='html'>Aku tak kan memilih jalan pulang&lt;br /&gt;Ketika serangga-serangga itu terperangkap nasibnya sendiri&lt;br /&gt;Ketika hasrat hanya bisa disalurkan dengan masturbasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak kan memilih jalan pulang&lt;br /&gt;Ketika tanah Cirebon mulai menghitam&lt;br /&gt;Ketika lawang gada penuh duit recehan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak kan memilih jalan pulang&lt;br /&gt;Ketika bahkan tuhan menakdirkan demikian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahit getir tak mengapa&lt;br /&gt;Susah payah sudah biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan paksa aku pulang&lt;br /&gt;hanya untuk menyatakan&lt;br /&gt;sebungkus nasi lebih berharga&lt;br /&gt;dari pada sederet buku di pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cipt. Ali Mursyid. di ruang rapat Fahmina yang pengap&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-1129133615206467530?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/1129133615206467530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=1129133615206467530' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/1129133615206467530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/1129133615206467530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/07/no-point-to-ritern.html' title='No Point To Return'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-5313504736898733573</id><published>2007-07-10T02:21:00.000-07:00</published><updated>2007-07-10T02:23:41.553-07:00</updated><title type='text'>Poligami Lengkapi Derita TKW</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;Ali Mursyid&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;“Waktu kita ning Arab, anak-anak karo lakine kita ning umah. Yah adate ga wong lanang laka kitane, yah wajar bae baka sekali-kali luru wadon. Malah srog-srog bae tek kongkon. Asal pas kitane balik, karo kita”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;, kata Rf, mantan TKW asal Marga Mulya, Bongas, Indramayu. Tentu saja dalam kondisi normal, tidak ada istri yang rela bila suaminya pergi ke tempat ‘jajan’. Karena kondisi ekonomi yang mendesak, Rf rela menahan sakit dan derita meninggalkan anak dan suami, meski dengan kekhawatiran suaminya pergi ke PSK (Pekerja Seks Komersil). Ini semua ia lakukan demi perbaikan ekonomi keluarganya, karena itu ia tetap berharap, bahwa sepulangnya ke tanah air segalanya menjadi lebih baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;Tetapi siapa dapat memastikan segalanya berjalan baik-baik saja. Siapa dapat memastikan hati yang sepih, kasih yang terbagi, dapat kembali seperti semula. Tidak ada jaminan sama sekali. Mungkin Rf masih beruntung karena suaminya masih kembali ke pangkuan sewaktu ia pulang. Tetapi tidak sedikit TKW yang kecewa berat, ketika pulang ke kampung halaman, suaminya sudah pindah ke pelukan orang. Bagaimana tidak lara ati, kucuran keringatnya, kesepiannya, derita yang ditahannya selama dua tahun demi membantu laki dan anak-anak terkasih, dibalas dengan semena-mena oleh laki pujaane ati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;“Maling-malingane lanang, seenake dewek bae. Kita kirim duit tiap bulan, bli ditabung malah dianggo kawin maning. Kita balik, deweke njaluk maaf terpaksa kudu wayuan. Karena lara ati kita mangkat dadi TKW maning. Rabi kelorone ga mangkat dadi TKW. Eh tetep bae, wong lanang luru rabi anyar maning”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt; Keluh Saeni, bukan nama aslinya, TKW asal &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Cirebon&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang dipoligami suaminya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;Rf dan Sn adalah sekedar contoh perempuan-perempuan pahlawan keluarga dan pahlawan devisa. Yang jasanya dibalas air tuba, karena suaminya selingkuh atau kawin lagi. Kenapa semua ini terjadi? Mengapa ini terus berlangsung? Siapa yang salah? Apakah sudah demikian adanya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;Pemerintah Abai, Perempuan Tergadai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;Rakyat, khususnya masyarakat lapisan bawah, sekarang ini banyak yang mengalami kemiskinan, bahkan kemiskinan akut. Di mana lapangan kerja adalah barang langka, dunia usaha-khususnya dalam sekala kecil dan menengah- juga mengalami persoalan yang tidak mudah dipecahkan. Akses ke sumber-sumber strategis hanya dimiliki segelintir orang dan satu dua pihak saja. Sementara rakyat kebanyakan hidup dalam kondisi pas-pasan. Tentu untuk tidak menyatakannya tidak berdaya sama sekali. Dalam menghadapi ini negara malah terlihat pesimis. Ini disampaikan oleh Menteri Nakertrans Erman Suparno beberapa waktu lalu,” &lt;i style=""&gt;Angka pengangguran 10,9 juta tahun ini tidak dapat diturunkan. Target pemerintah untuk menurunkan angka pengangguran sebesar 5,1 persen hingga tahun 2009 tak akan terpenuhi, karena lapangan kerjanya terbatas, bahkan tidak ada. Belum lagi tambahan tenaga kerja terdidik hingga 1,5-2 juta.”&lt;/i&gt; Angka pengangguran yang tinggi tersebut mencapai 14 % dari angka penggangguran dunia yang mencapai 74 juta jiwa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;Itu semua menunjukkan bahwa sesungguhnya pemerintah gagal menjalankan fungsinya dalam menyediakan kehidupan dan pekerjaan yang layak. Sehingga rakyat negeri ini berbondong-bondong menyerbu sumber-sumber ekonomi di luar negeri. Rakyat tahu betul kondisi perekonomian negeri ini. Mereka terpaksa kerja ke luar negeri agar tidak terlalu membebani negara. Sejatinya, mereka adalah pahlawan negara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;Dengan banyaknya rakyat yang menjadi TKI, pemerintah mendapatkan untung. Tetapi TKI sendiri banyak yang buntung. Menjadi TKI rentan terancam bahaya, mulai rentan ditipu saat perekrutan, diperlakukan tidak manusiawi di penampungan, ketidakjelasan pada saat penempatan di tempat kerja, sampai pun sudah pulang di tanah air. Sepulangnya TKI di tanah air, selain mereka masih rentan menjadi korban pungli, juga terkadang mereka juga rentan jadi korban perilaku tidak manusiawi dari keluarga, kerabat dan bahkan orang-orang tercintanya. Inilah yang dialami Saeni, TKW yang dipoligami suaminya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;Sebagai penerima hasil devisa yang dikirim TKI, pemerintah mestinya membikin sistem &lt;i style=""&gt;save migration &lt;/i&gt;(jadi TKI aman), yang bukan hanya melindungi TKI sewaktu di luar negeri tetapi juga mulai memperhatikan nasib TKI dan keluarganya sepulangnya di tanah air. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;Islam Tidak Menganjurkan Poligami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;Islam, sekilas memberi peluang lebar bagi umatnya yang laki-laki dalam melakukan poligami, bahkan sebagian menyatakan bahwa ‘poligami itu sunnah’, toh itu juga yang dilakukan Nabi Muhammad saw. Inilah mungkin menjadi salah satu sebab kenapa perempuan, lebih-lebih TKW rentan dipoligami. Tetapi benarkah poligami sunnah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;Dalil bahwa poligami sunnah biasanya bersandar pada QS An-Nisa, 4:2-3. Satu-satunya ayat yang berbicara tentang poligami ini sejatinya tidak sedang menganjurkan poligami, apalagi menghargainya. Tetapi ayat ini sekedar meletakkan poligami untuk tujuan perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang. Ayat ini juga memberi syarat yang ketat dalam berpoligami, yaitu mesti adil. Berlaku adil ini adalah keharusan, mesti sulit untuk dilakukan (QS, An-Nisa: 129) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;Dalam fiqh, sunnah berarti tindakan yang baik dan mendapat pahala bila dilakukan, karena ia mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, poligami yang dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas cara berfikir yang serampangan. Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga? Nyatanya, sepanjang hayat, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, Nabi SAW berkeluarga dengan bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari hitungan ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan "poligami itu sunah".&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;Bahkan Nabi SAW marah pada praktek poligami. Beliau marah besar ketika mendengar putrinya, Fathimah akan dipoligami Ali bin Abi Thalib. Ketika mendengar rencana itu, Nabi langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: &lt;i style=""&gt;"Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga."&lt;/i&gt; (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;Sebagaimana Nabi yang tidak rela putrinya dimadu, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. &lt;b style=""&gt;Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya. Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunnah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi&lt;/b&gt;. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;Jadi sangat tidak beralasan bila ada suami, khususnya suami TKW melakukan poligami dengan dalih agama, baik karena alasan sunnah atau pun yang lainnya. Sudahlah, jangan sakiti permpuan, khususnya TKW dengan berpoligami. &lt;i style=""&gt;Wallahu a’lam bi al-shawab&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-5313504736898733573?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/5313504736898733573/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=5313504736898733573' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/5313504736898733573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/5313504736898733573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/07/poligami-lengkapi-derita-tkw.html' title='Poligami Lengkapi Derita TKW'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-6725448026121735738</id><published>2007-07-05T02:47:00.000-07:00</published><updated>2007-07-05T02:49:51.130-07:00</updated><title type='text'>Al-Qur'an Berpihak Pada Kaum Lemah</title><content type='html'>&lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; line-height: 41.35pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 56pt;" lang="IN"&gt;D&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;alam kenyataan hidup sehari-hari, tidak dapat dipungkiri bahwa ada orang kuat dan ada orang lemah, ada yang kaya dan ada yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;miskin. Ada yang kuat, besar, kaya karena hasil usahanya sendiri, tetapi juga ada yang kuat disebabkan faktor-faktor lain di luar diri seseorang. Ada yang lemah, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;miskin, bodoh karena memang malas, tetapi juga banyak yang menjadi lemah, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;miskin dan bodoh karena situasi dan kondisinya yang menjadikannya demikian. Bahkan ada pula yang meyakini kalau kuat-lemah, kaya-miskin, pintar-bodoh itu takdir alias dari sononya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Adanya keniscayaan fenomena lemah-kuat, kaya-miskin dan pintar-bodoh saja tidak masalah selagi tidak ada kedzaliman, penganiayaan dan penindasan yang terjadi sebagai akibatnya. Dalam kenyataanya kita sering menyaksikan orang atau pihak lemah dianiaya oleh pihak kuat. Akibatnya yang lemah-lemah makin lemah, yang kuat makin kuat. Sebagai umat Islam tentu kita akan kembalikan semuanya ke ajaran Islam. Lalu bagaimana Al-Qur’an melihat ketertindasan? Adakah ia membela kaum tertindas (&lt;i&gt;mustadh’afin&lt;/i&gt;)?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam Al-Qur’an, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan &lt;i style=""&gt;mustadh’afin&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; (kaum lemah dan dilemahkan)&lt;/span&gt;? Bagaimana keberpihakan al-Qur’an kepada nasib mereka?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Secara tekstual di salah satu ayat Al-Qur’an disebutkan bahwa &lt;i style=""&gt;mustadh’afin&lt;/i&gt; dikaitkan dengan mereka yang tidak bisa berperang dikarenakan sakit atau umurnya terlalu tua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beberapa kalangan &lt;i style=""&gt;mufassir&lt;/i&gt; (para ahli tafsir) telah mencoba menafsirkan kata-kata &lt;i style=""&gt;mustadh’afîn&lt;/i&gt; ini. Jika kita menggali dari peristilahan yang digunakan Allah SWT dalam Al-Qur’an dan dengan mengkaji akar katanya, maka yang dikatakan &lt;i style=""&gt;mustadh’afîn&lt;/i&gt; atau pihak lemah atau yang dilemahkan, terkait erat dengan konteks ekonomi, konteks kemerdekaan, dan juga dalam konteks fisik. Setidak-tidaknya tiga hal itulah yang bisa kita dipahami dari kata &lt;i style=""&gt;mustadh’afin&lt;/i&gt; yang ada dalam Al-Qur’an. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berkenaan dengan &lt;i style=""&gt;mustadh’afin &lt;/i&gt;dalam konteks kelemahan ekonomi, Al-Qur’an menggunakan istilah-istilah berikut: &lt;i style=""&gt;fuqarâ&lt;/i&gt; (orang-orang fakir), &lt;i style=""&gt;masâkin &lt;/i&gt;(orang-orang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;miskin), &lt;i style=""&gt;sâilîn&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;al-mahrûm&lt;/i&gt; (orang yang tidak mau meminta-minta walaupun dia papa, karena hendak menjaga kehormatan dan harga dirinya). Untuk yang terkahir ini, ada ayat Al-Qur’an yang berbunyi &lt;i&gt;wa fi amwâlikum haqqun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;li sâilîn wa al- mahrûm.&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;Artinya: &lt;i&gt;Dan di dalam harta-harta kalian, terdapat hak bagi orang yang memintanya dan juga bagi yang tidak meminta karena menjaga kehormatannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Terkait dengan makna tidak memiliki kehormatan, Allah SWT menyebutnya dengan beberapa istilah. Seperti: “&lt;i style=""&gt;W&lt;span style=""&gt;amâ malakat aymânukum&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Dalam ayat yang lain Allah SWT menyebutnya dengan &lt;i&gt;al-râqib.&lt;/i&gt; Allah SWT juga menyebutnya dengan &lt;i&gt;raqabah, al-‘abd&lt;/i&gt;. Banyak sekali istilah-istilah yang digunakan. Tentu ini akan dipahami lebih baik jika kita mau meneliti lebih jauh. Istilah-istilah tersebut jika kita terjemahkan akan mempunyai makna yang sama namun jika dijabarkan akan memiliki indikasi dan spesifikasi yang berbeda-beda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Begitu pula ketika kita ingin memahami suatu karya ulama atau &lt;i style=""&gt;kitab&lt;/i&gt; tertentu, kita harus tahu persis dengan &lt;i style=""&gt;dzauq al-lughah&lt;/i&gt; (perasaan bahasa), menguasai &lt;i style=""&gt;mustalahan&lt;/i&gt; (istilah-istilah) yang digunakan dalam kitab bersangkutan. Kendati istilah yang dipakai sama namun jika dipakai dalam ilmu &lt;i style=""&gt;fiqh&lt;/i&gt; akan berbeda dengan istilah yang dipakai dalam ilmu tauhid, begitu pula kalau digunakan dalam ilmu filsafat. Jika kita tidak mampu mendalami, hanya mengandalkan dari terjemahan, maka kita akan salah memahami karena kita salah dalam memahami &lt;i style=""&gt;syiâq al-kalâm&lt;/i&gt; (konteks pembicaraan) yang ada pada isi suatu kitab. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oleh karena itu dalam memahami khazanah keislaman yang banyak berbahasa Arab, kita harus betul-betul memahami konteks bahasa &lt;i style=""&gt;Arab-&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;nya&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;. &lt;/i&gt;Ini tidak bisa dilakukan hanya dengan bantuan kamus yang sederhana, tetapi perlu dari rujukan kamus memadai dan mendalam. Maka wajar kalau ada ahli tafsir menafsirkan ayat menggunakan syair-syair masa dahulu, karena pada masa pra-Islam sendiri istilah-istilah itu banyak digunakan. Sampai kemudian Al-Qur’an memakainya. Untuk itulah kata-kata yang terkait dengan syair-syair itu mesti juga ditinjau maknannya dari syair-syair Arab. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Timbul pertanyaan apakah makna dan maksud ayat yang kita baca sekarang sama seperti apa yang dimaksud pada saat itu? Para &lt;i style=""&gt;mufassir&lt;/i&gt; mencoba memahami dari teks-teksnya dan didukung dengan penguasaan yang begitu luas baik menyangkut &lt;i style=""&gt;fiqh al- lughah, tarikh al-lughah&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;dzauq al-lughah&lt;/i&gt;, maupun semantiknya. Sehingga kata-kata &lt;i style=""&gt;mustadh’afin&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;dhu’afâ&lt;/i&gt;, dan &lt;i style=""&gt;dha’if&lt;/i&gt;, serta lain-lainnya dipahami oleh Hamid Al-Qurri yang mengedepankan secara semantik, menegaskan dalam kaitannya dengan keberpihakan al-al-Qur’an bahwa kata-kata tersebut dimaknai sebagai orang yang mengalami salah satu atau keempat kondisi berikut: Lemah Ekonomi, lemah Fisik, lemah ilmu dan lemah karena tidak memiliki otonomi diri, kebebasan dan kemerdekaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 26.95pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Beberapa kisah menyebutkan bagaimana Islam membela Abu Bakar, yang secara ekonomi tergolong sebagai orang kaya. Ini karena, meski Abu Bakar mampu secara ekonomi, tetapi belaiu selalu didzalimi oleh mereka yang tidak seiman. Al-Qur’an pun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membelanya. Demikian pula orang-orang kaya di zaman Nabi Musa, karena mereka dijajah oleh Fir’aun, Nabi Musa pun membela mereka. Al-Qur’an secara apik menggambarkan bagaimana Allah SWT memerdekakan mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 26.95pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Adapun kepada pihak yang lemah secara biologis, Allah SWT memberikan berbagai dispensasi (&lt;i style=""&gt;rukhshah&lt;/i&gt; atau keringanan) kepada mereka. Contohnya ibadah puasa diperkenankan ditinggalkan dan diganti dengan membayar fidyah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 26.95pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selain itu semua, yang wajib dibela dan diberdayakan adalah mereka yang lemah dari sisi ilmu pengetahuan. Meski seseorang memiliki harta, kuat secara fisik, tetapi jika ia bodoh. maka ia bisa digolongkan dalam kelompok &lt;i style=""&gt;dhu’afâ&lt;/i&gt; dan atau &lt;i style=""&gt;mustadh’afîn&lt;/i&gt;. Allah SWT mewajibkan orang-orang ‘&lt;i style=""&gt;âlim&lt;/i&gt; (berilmu) untuk memberikan ilmunya kepada kelompok ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 4pt; text-align: justify; text-indent: 26.95pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yang penting dicatat, adalah bahwa Al-Qur’an kita untuk memihak, membela dan memberdayakan kaum &lt;i style=""&gt;mustadh’afîn. &lt;/i&gt;Dalam melakukan pembelaan, pemihakan dan pemberdayaan mestinya tidak membeda-bedakan perbedaan yang ada, baik agama, etnis dan jenis kelamin &lt;i style=""&gt;Wallahu’alam bi al-shawab&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-6725448026121735738?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/6725448026121735738/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=6725448026121735738' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/6725448026121735738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/6725448026121735738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/07/al-quran-berpihak-pada-kaum-lemah.html' title='Al-Qur&apos;an Berpihak Pada Kaum Lemah'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-7922099759626582756</id><published>2007-07-05T02:44:00.000-07:00</published><updated>2007-07-05T02:46:37.972-07:00</updated><title type='text'>Jadi TKI Kiat Rakyat Hadapi Kemiskinan</title><content type='html'>&lt;div style=""&gt;&lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 41.35pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 55pt;" lang="IN"&gt;N&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;egara ini ada untuk mensejahterakan rakyat&lt;span style="color: maroon;"&gt;. &lt;/span&gt;Ini secara jelas&lt;span style="color: maroon;"&gt; &lt;/span&gt;disebutkan&lt;span style="color: maroon;"&gt; d&lt;/span&gt;alam UUD 1945, pasal 34 yang menyatakan bahwa “fakir &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Dan sebagai negara yang telah menyetujui Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) PBB, maka Indonesia berkewajiban melindungi, menghargai dan memenuhi hak-hak warganya atau hak-hak rakyatnya. Hak-hak rakyat ini terkait dengan hak ekonomi, sosial, budaya, sosial dan politik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Artinya, bukanlah merupakan kebaikan, jika negara berusaha mensejahterakan rakyatnya. Itu sudah menjadi kewajiban negara terhadap rakyatnya. Maka jika rakyat mengalami kemiskinan, kebodohan dan keteringgalan, maka yang paling bertanggungjwab atas ini dan mestinya melakukan usaha penanggulangannya adalah negara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selain itu, pada 8 September 2000, 189 negara anggota PBB, termasuk Indonesia menyepakati&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;“Millenium Development Goals”&lt;/i&gt; (MGDs), yaitu target-target pembangunan di era &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;milinium. Diantara isi kesepakatan ini adalah bahwa maksimal pada th. 2015,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pembangunan negara harus dapat mencapai hal-hal berikut: Mengentaskan kemiskinan dan kelaparan mutlak,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 7pt;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, mengurangi ketimpangan gender dan pendidikan paling lambat pada tahun 2005 untuk tingkat dasar dan menengah, dan pada tahun 2015 untuk seluruh tingkatan, dan target-target lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kenyataannya, rakyat khususnya masyarakat lapisan bawah sekarang ini banyak yang mengalami kemiskinan, bahkan kemiskinan akut. Di mana lapangan kerja adalah barang langka, dunia usaha-khususnya dalam sekala kecil dan menengah- juga mengalami persoalan yang tidak mudah dipecahkan. Akses ke sumber-sumber strategis hanya dimiliki segelintir orang dan satu dua pihak saja. Sementara rakyat kebanyakan hidup dalam kondisi pas-pasan. Tentu untuk tidak menyatakannya tidak berdaya sama sekali. Dalam menghadapi ini negara malah terlihat pesimis. Ini disampaikan oleh Menteri Nakertrans Erman Suparno beberapa waktu lalu,” Angka pengangguran 10,9 juta tahun ini tidak dapat diturunkan. Target pemerintah untuk menurunkan angka pengangguran sebesar 5,1 persen hingga tahun 2009 tak akan terpenuhi, karena lapangan kerjanya terbatas, bahkan tidak ada. Belum lagi tambahan tenaga kerja terdidik hingga 1,5-2 juta.” Angka pengangguran yang tinggi tersebut mencapai 14 % dari angka penggangguran dunia yang mencapai 74 juta jiwa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di tengah tingginya angka pengangguran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan terbatasnya lapangan pekerjaan di Indonesia inilah, maka menjadi buruh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;migran (TKI, &lt;i&gt;red.&lt;/i&gt; ) adalah salah satu alternatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang dipilih sebagian angkatan kerja kita. Disamping fenomena keluarga &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;miskin yang terus bertambah akibat krisis ekonomi berkepanjangan yang terjadi di Indonesia saat ini, maka mau tidak mau, secara alami mereka akan berusaha untuk menyerbu pusat-pusat aktifitas perekonomian sebagai solusi untuk keluar dari himpitan kemiskinan yang menimpa mereka. Namun nada pesimis itu tidak terjadi di sebagian rakyat kita. Setelah sektor formal terbatas, menjadi TKI adalah satu upaya. Pesimisme pemerintah adalah bukti kegamangan atas ketidakmampuan menata ekonomi negeri ini. Angka penggangguran yang tinggi seperti yang disebutkan adalah konkretnya, betapa terbatasnya lapangan pekerjaan di negeri ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebagai solusi yang dipilih sebagian rakyat kita, dalam catatan Depnakertrans, buruh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;migran Indoesia resminya mencapai 400.000 jiwa, dan yang tak resminya bisa mencapai beberapakali lipatnya, tengah berada di luar negeri. Jalan berliku yang dihadapi buruh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;migran Indonesia mengejar hujan emas di negri orang menguras perhatian. Baik dari proses perekrutan, karantina, penempatan, perlindungannya dan proses kembali ke tanah air. Mungkin cerita tentang buruh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;migran sudah banyak dikedepankan. Baik cerita sukses maupun buram. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam benak para buruh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;migran hanya satu, mereka ingin mengubah nasib. Alasan ekonomi, kerap lebih dominan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Himpitan ekonomi yang tak berkesudahan membuat mereka, diantaranya, memilih menjadi buruh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;migran. Mereka tahu bahwa itu seperti berjudi. Bertaruh dengan penuh harapan karena di negeri seberang berharap hidup akan berubah, bisa bayar utang, membantu keluarga, bikin rumah atau jika masih lebih untuk modal usaha. Pasrah, karena sebenarnya tak tahu harus kemana. Mengapa mesti keluar negeri? Seolah negeri ini tak ada lagi tempat berpijak, tak tahu apa yang akan mereka kerjakan dan nasib apa yang akan menimpa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dengan alasan itulah kemudian Blakasuta memilih untuk menampilkan wajah buruh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;migran di Marga Mulya Indramayu. Disamping juga di sana berdiri radio Komunitas Serra FM.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perlindungan Negara Masih Lemah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ironinya pemerintah atau negara bukan saja tidak menjamin kesejahteraan rakyatnya, tetapi negara juga lemah dalam melindungi warganya yang bekerja di luar negeri. Kasus Watem &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;misalnya. Baru-baru ini, sejumlah aparat Kab. Indramayu blingsatan. Perempuan asal Bongas Indramayu itu, berangkat ke Arab Saudi untuk mengubah nasib ternyata pergi hanya untuk mengantar nyawa. Tiga hari setelah tiba di Arab Saudi untuk bekerja, setidaknya menurut dokumen kematianya, ia meninggal. Belum jelas karena bunuh diri, dibunuh atau terbunuh. Hingga tulisan ini dicetak belum ada kabarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;”Saya diberitahu oleh salah satu temannya Watem. Bahwa dia telah meninggal,” tutur Ralim, sepupu Watem, “Dengan suaminya, kami mengecek kembali. Berita itu ternyata benar. Beberapa hari kemudian, datanglah surat pemberitahuan majikannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketika dikonfirmasikan kepada pihak PJTKI, surat itu malah dianggap surat kaleng. Kemudian disusul dengan surat pemberitahuan majikannya. Barulah pihak PJTKI percaya. Namun upaya pemulangannya awalnya agak berbelit. Untunglah dibantu Pak Toni Gunawan dari Deplu, akhirnya Watem bisa dipulangkan. Watem sendiri meninggal lebih dari tiga bulan sebelum keluarganya tahu. Hal itu terjadi karena identitas Watem diubah oleh sponsornya ( sebutan untuk calo perekrut, &lt;i style=""&gt;red.&lt;/i&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kasus Watem merupakan bukti betapa lemahnya perlindungan negara terhadap warganya yang bekerja di luar negeri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Soal penempatan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;misalnya, semuanya diserahkan kepada PJTKI, negara tak mengatur apakah calon majikan itu layak atau tidak. Tentang identitas, betapa mudahnya mengubah identitas di negeri ini. Padahal resikonya besar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lambatnya pemberitahuan meninggalnya Watem karena identitasnya telah berubah menjadi perempuan asal Sukabumi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Kami tidak tahu menahu soal keberangkatan Watem,” jelas Pak Kartama, Kuwu Marga Mulya, ”Para sponsor&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;biasanya tak mau berurusan dengan aparat desa karena semua yang berangkat harus sesuai prosedur. Soal umur &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;misalnya.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nampaknya dikalangan sponsor nakal mengubah identitas entah dengan alasan apapun sangat mudah dilakukan. Sepertinya sudah ada jaringan tertentu yang menyediakan layanan pemalsuan identitas ini. Makanya jika mereka menemukan hambatan di desa seperti yang dipimpin oleh Pak Kuwu Kartama ini mereka mencari upaya. Negara mesti melakukan sesuatu langkah agar proses pengubahan identitas ini bisa diminimal sedikit mungkin. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;misalnya dengan menyediakan sistem satu identitas abadi tingkat nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perlindungan terhadap TKI yang tidak digaji juga masih lemah. Tentu untuk tidak mengatakannya tidak ada sama sekali. Seperti yang dialami oleh Sn (27th) yang berangkat ke Arab Saudi, yang sempat berpindah majikan. Di majikan yang kedua, walaupun mendapat perlakuan baik dan kesehatannya diperiksa rutin tiap bulan, namun gajinya selama 2,7 tahun tidak dibayar. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Modusnya seolah gaji sudah di bayar, ketika mau pulang ke tanah air, gaji malah ditahan majikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tindakan pemerintah kepada PJTKI yang menelantarkan calon TKI juga tidak tegas. Seperti yang dialami Wst (30), hampir 7 bulan di penampungan bukannya mendapatkan latihan kerja malah seperti di penjara. Ia pun dipungut biaya oleh sponsor Rp 700.000 tanpa penjelasan peruntukannya. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di tempat kerja, meski majikannya baik, kerjanya terus-menerus, kadang tidak ada waktu istirahat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perlindungan TKI yang dianiaya juga dinilai masih lemah. Seperti yang dialami Nrs (28 th) , ia sering dianiaya majikan, terutama ketika majikannya ada masalah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Gajinya juga tidak dibayar. Karena tidak tahan, ia mengadu ke kedutaan, kemudian bisa pulang. Tetapi soal penganiayaan dan gajinya yang tidak dibayar, tidak ada yang menyelesaikan .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Negara Tak Mampu, Rakyat Jadi Korban&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Padahal baik Wtm, Sn, Wst dan Nrs&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah segelintir dari ribuan TKI&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita yang terpaksa bekerja di luar negeri. Ketika negara tak mampu menyediakan penghidupan layak, mereka berkorban menghasilkan devisa. Walaupun dijuluki pahlawan devisa, perjuangan mereka tak diberi penghargaan yang layak, seperti perlindungan hukum dan hak-hak mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kisah di atas jelas menunjukkan bahwa rakyat jadi korban. Padahal negara yang dibiayai oleh pajak, retribusi dan penghasilan lainya dibentuk untuk melindungi warganya. Belum lagi devisa yang dihasilkan oleh keberangkatan ribuan TKI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berangkatnya Wtm, Sn, Wst dan Nrs&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak hanya sekedar memperjuangkan kehidupan pribadi dan keluarga, tetapi juga bagian perjuangan meringankan beban negara. Semanis-manisnya bekerja di luar negeri, tetaplah penuh resiko. Menjadi TKI, bagi yang sudah berkeluarga, berarti meninggalkan suami, anak-anak dan orang-orang tercinta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak sedikit keluarga TKI yang berantakan. Seperti, suami kawin lagi dan anak–anak yang tidak terurus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dikatakan oleh Wst, &lt;i style=""&gt;“ Saya tak mau kembali jadi TKI. Biarlah hidup seadanya. Anak-anak sangat membutuhkan saya. Saya gak tega ninggalin mereka.”&lt;/i&gt; Wst merasa sangat bersalah ketika jadi TKI. Tiga tahun dia meninggalkan keluarga, walau diurus suami dan orangtuanya, kondisi anak-anaknya menyedihkan dan tidak terurus ketika Wst kembali ke kampungnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mereka Yang Kreatif Sepulang Jadi TKI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketika pulang jadi TKI, bagaimana menyiasati kehidupan selanjutnya, ini perlu keseriusan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kreatif sepulang jadi TKI memang tidak mudah, karena tidak semua orang bisa menggunakan uang yang ada untuk keperluan usaha. Memang paling mudah dengan membeli sawah. Karena alasan utama menjadi TKI adalah ekonomi, membuat hidup lebih baik, untuk bayar utang dan sisanya bisa dijadikan modal. Tapi tidak semua TKI bisa melakukannya. Terlepas dari banyaknya nasib TKI yang kurang beruntung, ada baiknya kita menengok mereka yang kreatif dan berhasil melanjutkan hidup setelah menjadi TKI. Mereka ini pribadi-pribadi tegar, mengingat desa Marga Mulya merupakan daerah pertanian tradisional dan terletak jauh dari jalan utama Kabupaten Indramayu (sekitar 6-7 KM), dimana membuka usaha bukan perkerjaan mudah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seperti yang dilakukan oleh Tarkim (39th) mantan TKI Taiwan. Ia bekerja di sebuah pabrik pelek mobil sepanjang tahun 1998-2001, dengan gaji mencapai Rp 4.800.000 per bulan. Meski ketika berangkat dia harus mengeluarkan uang hampir 25 juta rupiah, namun ketika pulang dari Taiwan, dengan tabungannya dia membuka usaha dealer motor, membeli sawah dan rumah. Modal awal usaha dealernya sekitar 75 juta rupiah. Tempatnya strategis, di persimpangan utama desa Marga Mulya, dengan omzet mencapai 3 juta rupiah per bulan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;” Ini kan desa kecil, Mas. Awalnya berat juga memulai usaha ini. Apalagi modalnya cukup besar,”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; kata Tarkim. &lt;i style=""&gt;” Segala kerja keras saya selama di Taiwan tak akan saya sia-siakan. Apalagi saya sempat mengalami kecelakaan yang mengenai tangan saya,”&lt;/i&gt; lanjutnya, sambil memperlihatkan bekas luka di tangannya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berupa bekas jahitan sepanjang 15 cm.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rafiah&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;(32 th), ibu dua anak, pernah menjadi TKI di Abu Dhabi selama 2 tahun 4 bulan. Ia bekerja sebagai PRT, dengan gaji sekitar 1,3 juta per bulan. Semua hasil kerjanya ia kirimkan ke kampung dengan jumlah sebesar Rp 36 juta. Sepulangnya ke tanah air, uang kirimannya tersisa di rekening keluarganya sebesar Rp 24&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Uang itu ia belanjakan untuk rehab rumah, perabotan, dan investasi dengan membeli sawah, sisanya ditabung. Dari tabungan itu, sebanyak Rp 500 ribu digunakan modal dagang &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mie ayam untuk membantu pekerjaan suaminya selain bertani. &lt;i style=""&gt;” Dengan dagang &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mie ayam saya bisa membantu suami, lumayan ada penghasilan tambahan. Uang tabungan tidak diambil terus. Bisa untuk sekolah anak-anak nanti,” &lt;/i&gt;kata Rafiah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dengan berjualan &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mie ayam di rumahnya, yang kebetulan di pinggir jalan, dia bisa meraup keuntungan Rp. 40-50 ribu perhari, bahkan kadang lebih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ummi Hani (40 th), &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;jadi TKI selama 2 tahun 4 bulan di Arab Saudi. Sepulangnya dari &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Saudi, dia memiliki tabungan Rp. 37 juta. Uang itu ia gunakan selain untuk bayar hutang ke sponsor sebesar Rp. 2,5 juta, ia gunakan juga untuk memperbaiki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rumah sebesar Rp. 16 Juta. Dan untuk usaha produktif ia investasikan Rp. 10 juta untuk mengembangkan warung. &lt;i style=""&gt;”Dari usaha warungan ini, selain untuk biaya hidup sehari-hari saya juga bisa nabung minimal Rp 300 ribu per bulan, ”&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ungkap Ummi Hani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tarkim, Rafiah dan Ummi Hani adalah contoh pribadi-pribadi kreatif. Sayangnya, jumlah mereka yang kreatif ini tidaklah banyak, apalagi mereka yang mantan TKI. Hasil pengamatan Blakasuta di Marga Mulya, menuunjukkan bahwa kebanyakan mantan TKI masih ingin berkeja di luar negeri kembali. Atau paling tidak mengidolakan kerja di sana. Ini karena dunia usaha di negeri sendiri memang sulit. Inilah yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah hendaknya, tidak hanya memberi tawaran untuk bekerja ke luar negeri, tetapi juga menyiapkan apa yang mereka lakukan setelah pulang. Bukankah pelatihan ketrampilan tertentu, kewirausahaan dan pinjaman modal usaha, sesuatu yang tidak pernah dilakukan pemerintah secara serius? Khususnya setelah mereka tidak lagi menjadi TKI. Lagi-lagi rakyat harus kreatif sendiri ditengah ketidakmampuan negara menciptakan lapangan pekerjaan baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Usaha-Usaha Lainnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di tengah kesulitan ekonomi yang ada, menjadi TKI adalah sebuah pilihan hidup. Di luar itu, tentu saja ada usaha-usaha lain yang yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengembangkan perekenomiannya. Di desa Marga Mulya yang perekonomiannya masih berbasis pertanian, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan jauh dari perkotaan, ternyata terdapat benih-benih pengembangan ekonomi dan dunia usaha. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Diantaranya, adalah apa yang dikerjakan Waram (34 tahun), pengusaha Organ Tunggal ”Kawaca Nada”, yang cukup terkenal di Marga Mulya, Bongas. Pada th. 2001, dia mendirikan grup organnya dengan bermodal hobi dan uang sebesar Rp. 25 juta. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dengan ketekeunannya dan ditopang tim yang solid sekarang dia memiliki 10 unit organ. Kini anggota personilnya mencapai 25 orang. Untuk sekali manggung grupnya dibayar 6-7. Dalam hal ini, Waram bukan hanya berhasil untuk dirinya tetapi membuka lapangan kerja bagi orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Casban (32th), salah satu diantara anak muda yang kreatif. Di usianya yang relatif &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;muda, ia memiliki empat usaha sekaligus: dealer/showroom motor, warung sembako lengkap, bengkel motor dan rental mobil. Berbagai pekerjaan sebelumnya dia lakoni, dari mulai jualan mainan anak, kuli angkut pasir, sampai tukang ojeg. Dengan prinsip bagaimana memperkuat diri sambil memberdayakan orang lain, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pada th 1995 dia mulai membuka warung dengan modal awal Rp 1,8 juta. Dan pada th. 2003 ia membuka showroom motor dengan modal hasil pinjaman sebesar Rp 50 juta. Kini usahanya terus berkembang, omzetnya mencapai Rp. 14 juta dengan penjualan minimal 20 unit sepeda motor perbulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mengenai prinsip usaha, menurutnya: &lt;i style=""&gt;” Yang penting bagaimana kita memelihara mediator-mediator untuk memasarkan motornya dengan baik, manajemen keuangan yang ketat, dan jeli membaca kemauan pasar. ”&lt;/i&gt; Gaya hidup sederhana dan jauh dari konsumerisme adalah salah kunci sukses yang lainnya. Dengan usahanya yang berhasil, dia tak pernah berpikir untuk bekerja ke luar negeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Usaha lainnya yang dikembangkan warga Marga Mulya adalah usaha penggilingan padi (&lt;i style=""&gt;hueleran&lt;/i&gt;). Sebaaimana yang dilakukan H.Masto (52 tahun). Dengan uang Rp 400 ribu hasil &lt;i style=""&gt;ngenek&lt;/i&gt;, pada th 1993 ia membuka toko material. Setelah mulai tokonya berkembang, pada th. 2000 ia membuka pengilingan padi&lt;i style=""&gt;. &lt;/i&gt;Sekarang ini omzet bulananya mencapai minimal Rp. 10 juta. Mengenai kunci suksesnya dalam berusaha ia menyatakan bahwa, &lt;i style=""&gt;“Yang penting orang mau bekerja keras, jangan malu, dan jangan andalkan ijazah.”&lt;/i&gt; Mengenai bagaimana cara pandangnya terhadap orang lain ia menyatakan bahwa, &lt;i style=""&gt;“Kita harus mau mulai dari bawah. Orang dinilai dari prestasi kerjanya. Soal kedudukan itu mengikuti, kalau prestasi bagus maka akan dingkat sesuai dengan keahlian dan kerja kerasnya,”&lt;/i&gt; . &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rental organ, warung sembako, dealer motor dan &lt;i style=""&gt;hueler&lt;/i&gt;, adalah usaha-usaha yang dilakukan rakyat untuk keluar dari persoalan ekonominya. Dengan segala kemandirian, rakyat berdiri di atas kaki sendiri. Bebebrapa berhasil, tetapi tidak sedikit pula yang jatuh bangun. Orang-orang seperti Waram, Casban, dan H.Masto dalam kapasistasnya layak disebut pelopor, membuka penghidupan orang lain,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang jelas tidak membebani negara, bahkan meringankannya. Sebaiknya pemerintah tidak hanya bisa membiarkan rakyat berbondong-bondong keluar negeri dengan tanpa perlindungan, tetapi juga memperkuat perjuangan orang-orang seperti Casban, Waram dan H.Masto untuk berdikiari di atas kemampuan sendiri. Jangan sampai karena pemerintah abai lalu rakyat yang tergadai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-7922099759626582756?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/7922099759626582756/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=7922099759626582756' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/7922099759626582756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/7922099759626582756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/07/jadi-tki-kiat-rakyat-hadapi-kemiskinan.html' title='Jadi TKI Kiat Rakyat Hadapi Kemiskinan'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-2729128321504699858</id><published>2007-07-05T02:37:00.000-07:00</published><updated>2007-07-05T02:43:33.020-07:00</updated><title type='text'>Pemerintah Abai Rakyat Tergadai</title><content type='html'>&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 41.35pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 56pt; font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;D&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;alam Islam dikenal sebuah kaidah Ushul Fiqh yang menyebutkan “&lt;i style=""&gt;Tasharruf al-Imâm ‘Ala al-Arrâ’iyyah Manûthun bi al-Mashlahah”, &lt;/i&gt;yang artinya, kebijakan pemimpin atau pemerintah harus didasarkan atas tujuan atau orientasi untuk mensejahterakan rakyat. Karenanya, pemimpin dalam Islam sejatinya lebih berfungsi sebagai &lt;i style=""&gt;khâdimul ummah &lt;/i&gt;(pelayan masyarakat) dari pada sebagai penguasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;Ini sedikit berbeda dengan realita kepemimpinan negeri ini. Entahlah kenapa pemimpin atau pengelola negeri ini di sebut pemerintah? Apakah sebutan ini dipilih karena memang pengelola negeri ini hanya bisa perintah sana perintah sini. Atau kenapa? Tetapi yang jelas kini semakin jelas bahwa pemerintah tidak berfungsi. Pemerintah gagal menjalankan tugasnya sebagai pengayom, pelayan dan pengelola negeri ini demi kesejahteraan rakyat banyak. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;Indikasi kuat dari gagalnya pemerintah dalam menjalankan fungsinya adalah ketidakmampuannya dalam menyediakan kehidupan dan pekerjaan yang layak. Sehingga rakyat negeri ini berbondong-bondong menyerbu sumber-sumber ekonomi di luar negeri. Rakyat tahu betul kondisi perekonomian negeri ini. Mereka terpaksa kerja ke luar negeri agar tidak terlalu membebani negara. Sejatinya, mereka adalah pahlawan negara, yang dengan kucuran keringatnya mengalirkan devisa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;milyaran rupiah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;Dengan banyaknya rakyat yang menjadi TKI, pemerintah mendapatkan untung. Tetapi TKI sendiri banyak yang buntung. Kita semua sudah tahu, di media banyak diberitakan bahwa mereka yang bekerja untuk mengubah nasib malah pulang mengenaskan bahkan sampai hilang nyawa. Casingkem dan Watem adalah contoh mudah TKI asal Indramayu yang pulang mengenaskan. Masih banyak lagi nama-nama malang lainnya yang menjadi korban manipulasi, eksploitasi, penipuan, perkosaan, pelecehan seksual, tidak digaji, korban perdagangan orang dan kejahatan lainnya. Belakangan diberitakan bahwa Ceriyati, TKW asal Tegal di negeri Jiran, menjadi korban kekerasan majikannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;Bagaimana tidak, Ceriyati yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;miskin tidak datang dari Ethiopia yang tandus, tetapi dari Indonesia yang subur. Kemalangan nasibnya bukan karena kegagalan alam, tetapi akibat kegagalan pemerintah dalam mengelola negara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;Pun demikian, rakyat tetap tegar dan bertahan dengan berbagai cara. Diantaranya jika terpaksa harus jadi TKI. Mereka bukannya tidak tahu resiko dan bahaya apa saja yang mengancam buruh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;migran, tetapi karena tidak ada yang bisa diharapkan di tanah air.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Resiko yang mereka hadapi sesungguhnya bukan resiko kerja biasa, tetapi karena tidak adanya perlindungan hukum dari pemerintah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Garamond;" lang="IN"&gt;Dalam hal ini kentara sekali bahwa pemerintah memang abai. Padahal saat ini, pemerintah menargetkan pengiriman 5 juta buruh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;migran hingga 2009, tahun ini ditargetkan sebanyak 1 juta orang, dengan perhitungan satu orang buruh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;migran akan menghasilkan USD 100 per bulan. Jumlah resmi buruh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;migran Indonesia saat ini ada 400.000 orang. Akan tetapi, jumlah dalam kenyataan bisa mencapai 4-5 kali lipat angka resmi. Pemerintah mendapatkan keuntungan dengan mengirimkan buruh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;migran, akan tetapi pemerintah tidak serius dalam memberikan perlindungan keamanan dan hak-hak mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-2729128321504699858?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/2729128321504699858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=2729128321504699858' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/2729128321504699858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/2729128321504699858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/07/pemerintah-abai-rakyat-tergadai.html' title='Pemerintah Abai Rakyat Tergadai'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-3930872470508239270</id><published>2007-06-11T22:02:00.000-07:00</published><updated>2007-06-11T22:25:19.521-07:00</updated><title type='text'>Jeritan Hati Ayah TKW</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Saya ini orang kampung. Saya tidak mengerti agama. Dari Pak Kyai di kampung, saya belajar ngaji, sholat, puasa dan wirid. Saya sekeluarga berusaha beribadah pada Gusti Allah dengan cara orang bodoh, tetapi inginnya sih ibadah kita diterima Gusti Allah. Saya juga cinta Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Saya tidak tahu banyak tentang beliau, tapi saya ingin  beliau memberikan syafaatnya kelak di akhirat. Untuk itu saya rajin bershalawat dan mengajarkan anak-anak saya untuk juga rajin baca shalawat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Kalau nyebut Kanjeng Nabi, saya ingat Makkah dan Madinah. Saya ingin naik haji dan ziarah ke makam beliau. Saya dengar tanah Arab penuh berkah.. Kalau ingat Ka’bah, saya mbrebes milih. Saya ingin nyucup Hadjar Aswad, tapi saya wong bli due. Jika pun semua harta yang saya miliki saya jual, tetep saja tak cukup untuk naik haji.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Saya juga pingin ke Arab, untuk melihat negara Islam. Kata Pak Kyai, hukum yang berlaku di sana hukum Islam, berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Saya senang sekali waktu ada orang dari Jakarta janji untuk ngirim anak saya, kerja di Arab, mungkin di Makkah, Madinah atau kota lainnya. Saya jual apa saja untuk biayai dia. Orang Jakarta itu baik bener, ia menutup sisa biaya anak saya sebagai pinjaman. Saya janji padanya akan mengembalikan pinjaman itu kalau dapat kiriman dari Arab&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Setelah urusan cukup lama dan melelahkan, setelah Lilis (anakku) ditampung di beberapa bulan, ia jadi berangkat. Kami mengadakan slametan. Pak Kyai baca doa untuk Lilis, semoga ia bisa naik haji dan membawa orang tuanya naik haji juga. Ketika saya antar Lilis di Bandara, saya ngangis bahagiah. Dalam pakaian TKW-nya, saya lihat Lilis sangat cantik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Saya menengadahkan tangan, “Tuhan, anakku ingin bekerja di Tanah Suci, supaya bisa haji dan menghajikan orang tuamya. Kuatkan tubuh anakku di tanah panas itu, supaya ia bisa mengirim kami uang untuk membayar utang-utang kami”. Saya hanya bisa mengusap kerudungnya, ketika ia didorong petugas untuk segera masuk Bandara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Setelah tiga bulan, saya terima surat. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lilis mengeluh, majikan perempuannya sangat keras. Ia tidak boleh istirahat, sering dimaki dan disakiti. Saya kirim jawaban, saya beri nasihat. “Apa kata Pak Kyai juga, orang Arab kuh keras-keras. Anggap saja itu ujian”. Tak ada lagi berita sesuadah itu. Tak ada surat apa lagi kiriman uang. Kepada yang berangkat naik haji, saya titip pesan untuk disampaikan padanya, Saya harap Lilis ada diantara Jamaah Haji. Tapi ketika pulang, mereka cerita bahwa tidak ada yang ketemu Lilis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Saya menghubungi orang Jakarta yang baik itu. Tak seorang pun di kantor yang dapat menjelaskan. Di sana saya menemukan wajah-wajah tidak ramah. Saya dibentak dan dilarang datang ke situ lagi. Setelah lebih dari setahun, saya terkejut dengar kabar bahwa, Lilis bersama kawan-kawannya dipenjara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Mereka umumnya bernasib sama. Mereka dijebloskan ke penjara karena berusaha mempertahankan kehormatan. Lilis pernah cerita tentang dua orang Madura, suami istri yang dipancung. Keduanya TKI. Lelaki Madura tak tahan dengan perlakuan tuannya pada istrinya. Ia pun membunuh majikannya. Lilis dan kawan-kawannya melawan ketika tubuhnya diraba-raba. Ada yang lari ke dapur dan mengambil pisau; membunuh tuannya dan dirinya. Menurut Lilis, banyak juga temannya yang bunuh diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Saya mulanya tidak percaya. Mana mungkin di Tanah Suci ada kejadian seperti itu. Bukankah di Makkah dan Madinah, para haji yang berbuat dosa, sekecil apa pun, dibalas Tuhan waktu itu juga. Sampai bulan yang lalu, dari koran dan TV, dari cerita di kampung, saya dengar ada kawan Lilis yang dipancung. Saya nangis keras, ketika melihat beritanya di TV tetangga. Sejak itu, saya selalu nonton berita di TV.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Saya yakin, Lilis tidak termasuk yang dipancung. Ia tidak membunuh siapa pun. Ia hanya lari untuk mempertahankan kehormatannya. Tapi hati ini tidak pernah tentram. Tengah malam saya sering terbangun. Saya mimpi, lihat leher Lilis ditebas pedang. Saya dengar ia menjerit, “Bapak Tolooong”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-top: 6pt; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Saya orang kampung, bodoh, tidak ngerti agama. Banyak yang tidak saya ngerti. Hukum Islam itu hukum Tuhan. Tuhan Maha Adil. Tapi, saya rasa hukum yang berlaku di negeri Arab itu tidak adil. Saya takut menyebut Tuhan tidak adil. Gusti, ampuni saya, saya bingung. Saya tidak mendengar berita yang jelas dari mana pun. Saya tidak akan datang ke kantor mana pun di Jakarta. Makin banyak bertanya, saya tambah bingung. Banyak penjelasannya sulit dipahami. “Du Gusti Allah, seandainya Lilis mati, saya ingin melihatnya mati dan dikuburkan di sini. Dulu, saya hanya sempat mengusap kerudungnya saja. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 27pt;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Itulah tulisan Jalaluddin Rahmat dengan judul asli “Bapak, Tolong” dalam buku “Reformasi Sufistik” terbitan Mizan. Saya tulis dan sadur kembali di sini, karena saya nangis waktu membacanya. Ada saudara kandung saya bernasib sama dengan Lilis. Mungkin saja pembaca juga sama dengan saya, atau pembaca adalah Lilis atau Bapaknya Lilis? Banyak diantara kita bernasib demikian malang.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;(Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Banati edisi 15 Mei 2006)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-3930872470508239270?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/3930872470508239270/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=3930872470508239270' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/3930872470508239270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/3930872470508239270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/06/jeritan-hati-ayah-tkw.html' title='Jeritan Hati Ayah TKW'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-5658710401494688434</id><published>2007-05-15T03:32:00.000-07:00</published><updated>2007-05-15T03:36:36.298-07:00</updated><title type='text'>Urgensi Penguatan Civic Education Bagi Kalangan Madrasah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ali Mursyid&lt;/span&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Madrasah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang &lt;i&gt;khas &lt;/i&gt;dan berbasis pada ajaran-ajaran dasar Islam. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Secara penjenjangan, madrasah terdiri dari jenjang &lt;i style=""&gt;ibtidâiyah&lt;/i&gt; (dasar), &lt;i style=""&gt;tsanâwiyah&lt;/i&gt; (menengah) dan â&lt;i style=""&gt;liyah&lt;/i&gt; (atas). Perbedaan yang mendasar antara madrasah dengan pendidikan umum adalah titik berat pendidikan madrasah pada ilmu-ilmu dasar Islam yang ditunjukkan dengan pembobotan yang cukup signifikan bagi pelajaran mengenai ilmu dasar Islam dalam kurikulum pendidikan madrasah. Apa yang dipelajari di madrasah tidak jauh berbeda dengan apa yang dipelajari di pesantren. Yang membedakannya dengan pesantren adalah sistem, administrasi, dan penjenjangannya. Madrasah adalah perpaduan sistem pendidikan sekolah dengan sistem pendidikan Pesantren. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Islam--sebagai basis nilai, ajaran serta spirit dari berdiri dan diselenggarakannya pendidikan madrasah--pada tataran realitas menunjukkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dua cara pemahaman yang berbeda. Di satu sisi Islam dipahami sebagai agama yang menjunjung tinggi perdamaian (&lt;i&gt;salâm&lt;/i&gt;), demokrasi (&lt;i&gt;syûra&lt;/i&gt;), sikap toleransi (&lt;i&gt;tasâmuh&lt;/i&gt;), pluralisme (&lt;i&gt;ta’addudiyah&lt;/i&gt;), keadilan (‘&lt;i&gt;adalah&lt;/i&gt;), dan cinta tanah air (&lt;i&gt;hubb al-wathân&lt;/i&gt;). Konsep Islam tentang pergaulan sesama manusia – dalam cara pandang ini – direpresentasikan oleh nilai-nilai luhur yang terbagi menjadi tiga kategori: &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Pertama&lt;i&gt;, ukhuwah Islâmiyah, &lt;/i&gt;persaudaraan sesama umat Islam. Kedua, &lt;i&gt;ukhuwah basyariyah &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;insâniyah, &lt;/i&gt;yaitu persaudaraan atas dasar kemanusiaan. Ketiga, &lt;i&gt;ukhuwah wathâniyah, &lt;/i&gt;persaudaraan atas dasar bangsa, negara dan tanah air. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam-dalam teks-teks Islam klasik, dinyatakan bahwa Syari’ah Islam diterapkan dengan tujuan-tujuan mulia berikut: (1) Menjamin kebebasan beragama (&lt;i&gt;hifdz al-din&lt;/i&gt;); (2) Menjamin kebebasan berfikir dan berpendapat (&lt;i&gt;hifdz al-‘aql&lt;/i&gt;); (3) Menjamin kesehatan reproduksi (&lt;i&gt;hifdz al-nasl&lt;/i&gt;)’ (4) Menjamin kebebasan pasar dan kebebasan finansial (&lt;i&gt;hifdz al-mâl&lt;/i&gt;); (5) Menjamin kebebasan dan harga diri indifidu (&lt;i&gt;hifdz al-‘irdh&lt;/i&gt;).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Konsep seperti ini tentunya bisa menjadi modal pengetahuan dan modal sosial yang sangat berharga untuk menciptakan masyarakat berperadaban di Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sementara itu, peradaban Islam juga mewariskan Piagama Madinah. Piagam Madinah ini – yang konstitusi pertama dalam Islam—mengarahkan masyarakat Madinah kepada sebuah model relasi berbasiskan konsensus, kesepakatan. Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat Madinah berdasarkan realitas bersama berbagai ummat yang ada saat itu – Islam, Nasrani dan Yahudi, bahwa mereka sama-sama warga Madinah, &lt;i&gt;ahl al-madînah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk saling melindungi dan membela Madinah sebagai negeri bersama. Praktek sosial Islam yang ditunjukkan oleh masyarakat Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW, menegaskan spirit Islam sebagai &lt;i style=""&gt;rahmatan lil ‘alamiin.&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Spirit inilah yang kiranya perlu diaktualkan pada konteks Indonesia masa kini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri, terdapat pemahaman Islam yang mengesankan fenomena radikalisme agama – tidak toleran, jauh dari kedamaian, yang titik ekstrimnya berbentuk kekerasan. Fenomena ini yang ditengarai mulai berbenih di Indonesia, seiring munculnya berbagai pemboman yang dikait-kaitkan dengan gerakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keagamaan tertentu. Pemahaman yang mendorong lahirnya kekerasan berwajah agama ini, sejatinya bukanlah arus utama pada konteks masyarakat beragama di Indonesia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun demikian, patutlah ia menjadi keprihatinan bersama yang harus kita carikan solusinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada titik inilah, kita bisa melihat bahwa madrasah bisa menjadi salah satu potensi sosial yang sangat besar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di Jawa Barat sendiri jumlah madrasah cukup signifikan. Baik madrasah yang dikelola oleh pemerintah disebut madrasah negeri dan madrasah yang dikelola oleh swasta yang disebut madrasah swasta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini terkait dengan agama yang mayoritas dipeluk oleh warga Jawa Barat, yaitu agama Islam. Mengingat jumlahnya yang signifikan, maka menjadi sangat strategis untuk memposisikan pendidikan madrasah sebagai bagian dari gerakan membangun masyarakat Islam Indonesia yang berperadaban.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam bahasa yang lebih sederhana, madrasah potensial untuk diarahkan menjadi pilar penyebaran kesadaran konstruktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kepada umat Islam. Di mana, salah satu indikasinya adalah kesediaan berbagi dan bekerjasama dengan umat lain dalam menciptakan realitas sosial yang lebih baik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan ide-ide ini, salah satunya bisa direalisasikan melalui peningkatan mutu pendidikan kewargaan (&lt;i&gt;civic education&lt;/i&gt;)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;di madrasah. Melalui pendidikan kewargaan (&lt;i&gt;civic education&lt;/i&gt;), diharapkan para lulusan berbagai institusi pendidikan di Indonesia (khususnya madrasah), bisa memiliki kerangka berpikir demokratis, berkesadaran hukum, dan punya empati sosial dalam kerangka keindonesiaan yang majemuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Civic Education: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Perlu Pengembangan Pada Isu-Isu Strategis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Sejauh ini, kita bisa menemukan bahwa pendidikan kewargaan (&lt;i&gt;civic education&lt;/i&gt;) telah menjadi bagian dari kurikulum formal di berbagai sekolah yang ada di Indonesia, baik yang bernaung di bawah Diknas (baca: sekolah) maupun yang bernaung di bawah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Depag&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; (baca: madrasah), dalam bentuk mata pelajaran PPKN.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perkembangan ini tentunya sangat positif, terutama jika dikaitkan dengan realitas madrasah yang merupakan bagian signifikan dari sistem pendidikan di Indonesia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Sejatinya, pendidikan kewargaan (baca: PPKN) bukanlah materi asli yang sudah sejak dahulu ada dalam kurikulum madrasah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terutama misalnya jika dibandingkan dengan materi-materi seperti aqidah, akhlaq, ilmu Qur’an, ilmu hadits, dan semacamnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keberadaan pendidikan kewargaan dalam kurikulum madrasah, merupakan bagian dari pencarian model pendidikan yang paling tepat untuk menumbuhkan kesadaran keindonesiaan yang bertaut dengan kesadaran global. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Pendidikan kewargaan ini tampaknya merupakan semacam revisi atau koreksi terhadap mata pelajaran PMP atau PSPB yang di rezim pemerintahan pra-reformasi, dinilai lebih sebagai sarana konsolidasi politik untuk mengukuhkan kekuasaan yang otoriter.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dibandingkan misalnya, untuk melahirkan masyarakat kritis yang memiliki kesadaran dan kapasitas untuk melakukan perbaikan sosial di tengah kondisi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang majemuk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Karena civic education bukan merupakan sesuatu yang genuine atau produk asli kurikulum madrasah, kiranya kita bisa menangkap beberapa persoalan atau issue strategis yang belum tereksplorasi secara relatif tuntas. Pertama, menyangkut keselarasan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Adakah misalnya, keselarasan antara prinsip, nilai dan ajaran yang dimuat dalam pendidikan kewargaan dengan prinsip, nilai dan ajaran Islam yang diyakini dan menjadi ruh madrasah (yang biasanya berhimpitan atau menjadi bagian dari pesantren)?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kedua, menyangkut problema metodologi pengajaran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah metode yang dikembangkan oleh guru-guru di madrasah, telah cukup memadai sehingga keluaran atau output pendidikan di madrasah memiliki cara berpikir dan perilaku sosial yang mendekati idealitas versi civic education?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-5658710401494688434?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/5658710401494688434/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=5658710401494688434' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/5658710401494688434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/5658710401494688434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/05/urgensi-penguatan-civic-education-bagi.html' title='Urgensi Penguatan Civic Education Bagi Kalangan Madrasah'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-365104921140409895</id><published>2007-05-14T05:58:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T06:02:41.583-07:00</updated><title type='text'>Untung Rugi Menjadi TKI/TKW</title><content type='html'>&lt;em&gt;Ali Mursyid&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tetangga rumahku di kampung, Sopiyah (23 th), pergi ke Saudi untuk bekerja menjadi Pembantu Rumah Tangga (PRT). Setelah dua tahun, ia pulang dan memperbaiki rumah orang tuanya menjadi lebih besar dan berkeramik. Beberapa saat kemudian ia berangkat lagi ke luar negeri untuk melakukan pekerjaan yang sama. Mungkin karena sudah merasakan keberhasilan dan ingin mencoba lagi dan ia merasa kalau bekerja di sini gajinya tidak seberapa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Eti (32 th), saudaraku, pergi jadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Timur Tengah. Beberapa waktu keluarga hilang kontak dengannya. Tetapi Setelah beberapa tahun, pulang kampung dengan membawa masalah hutang. Berharap untung, malah ia menjadi buntung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Titi (28 th), teman sekolahku, jadi TKW di Abu Dhabi. Setelah dua tahun ia pulang bawa uang banyak, tetapi juga bawa anak. Orang tuanya seneng tetapi sekaligus juga menanggung malu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sukron (30 th), teman karibku yang sopir angkot, setelah istrinya jadi TKW, ia ogah-ogahan nyupir. Tiap bulan ia terima uang kiriman dari istrinya. Setelah setahun ditinggal istri, saya dengar malah ia kawin lagi dengan perawan tetangga desa sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keuntungan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bekerja di luar negeri menjadi TKI/TKW, memang menjanjikan berbagai keuntungan. Dari sisi finansial (keuangan), bekerja di luar negeri menjanjikan gaji besar dan lumayan. Di masyarakat (pedesaan khususnya) bekerja di luar negeri dapat meningkatkan status sosial. Karena dengan uang kiriman TKI/TKW, keluarga di rumah dapat dengan mudah membangun rumah keramik, membeli motor baru, menyekolahkan anak hingga tamat, atau membuka usaha sendiri dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semantara bagi TKI/TKW, bekerja di luar negeri, selain dapat menambah ketrampilan dan pengalaman, juga dapat menambah kepercayaan diri. Dengan bekerja di luar negeri seorang TKI/TKW semakin dihargai di dalam keluarga, karena biasanya merekalah yang menjadi tulang punggung keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kerugian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selain berbagai keuntungan, tidak sedikit pula kerugian akibat bekerja di luar negeri. Dari sisi finansial (keuangan), biaya bekerja di luar negeri, jika dihitung dengan teliti, lebih tinggi dari yang dibayangkan. Banyak biaya yang keluar justru bukan yang diperhitungkan semula, seperti biaya perjalanan, pembuatan passport dan dokumen-dokumen lainnya. Karena itu banyak calon TKI/W terpaksa hutang ke sana ke mari agar cepat berangkat. Dan sebagai akibatnya banyak di antara mereka yang terjerat hutang kepada agen. Jeratan hutang ini berpotensi menggebiri hak-hak TKI/TKW akan upah yang layak&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari sisi sosial, bekerja di luar negeri dapat menyebabkan keretakan perkawinan. Meski belum ada data penelitian, tetapi tidak sedikit perkawinan buruh TKI/W retak, entah karena suami yang tidak tahan ditinggal lama istri, atau karena istri yang menyeleweng. Atau bahkan karena pengaruh keluarga kedua belah pihak. Sementara itu perpisahan anak dengan ibunya dapat mengakibatkan prestasi anak di sekolah menurun. Pemeliharaan dan pendidikan anak di rumah pun kurang berlangsung dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sedang bagi pribadi TKI/W, diantara kerugian yang dapat menimpa adalah stress jauh dari keluarga. Bagi yang bekerja di rumah tangga sering kali mengalami kesepian. Selain itu, TKI/TKW sangat rentan diperlakukan secara tidak adil. Hasil temuan dari bebagai organisasi yang peduli dengan persolan TKI/TKW menyatakan bahwa ada 195 kasus yang dialami TKW di luar negeri. Padahal temuan ini hanya meliputi 3 desa saja, Gintung Ranjeng, Kalisapu dan Serang Wetan.  Kasus yang paling banyak terjadi adalah tidak gaji (45 kasus). Sedangkan pemerkosaan dan pelecehan seksual menempati urutan kedua (29 kasus). Ini belum menghitung kasus-kasus di wilayah Cirebon lainnya, seperti di kecamatan Kaliwedi yang juga daerah dengan banyak sekali TKI/TKW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Islam Menghargai Muslim dan Muslimah Bekerja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya jika seorang perempuan menjadi TKW lalu mendapatkan masalah, kurang beruntung, bahkan mungkin merugi, maka tudingan lalu dengan mudah dituduhkan kepada si perempuan tersebut. ”Perempuan itu mestinya di rumah saja”. ”Mencari nafkah kan kewajiban suami”. Itulah kira-kira komentar sebagian masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sesungguhnya Islam menghargai amal shaleh, dalam arti menghargai pekerjaan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, benar dan dengan niat yang benar pula, baik itu amal dunia maupun amal akhirat. Dalam hal bekerja, Islam sesungguhnya tidak hanya membatasi bagi laki-laki saja. Karena memang tidak ada ketentuan tegas (nash sharih) baik dari Al-Qur’an maupun Hadits yang melarang perempuan untuk bekerja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perempuan bekerja sendiri sebenarnya bukan hal baru dalam Islam, karena memang sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Beberapa hadis meriwayatkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah, baik untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, maupun untuk kepentingan sosial. Sebut saja  misalnya, Asma bint Abu Bakr, isteri sahabat Zubair bin Awwam, bekerja bercocok tanam. Dan untuk itu terkadang ia melakukan perjalanan jauh. Di dalam kitab Shahih Muslim, juz II, halaman 1211, hadits ke 1483 disebutkan bahwa, ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma, dia dihardik oleh seorang untuk tidak keluar rumah. Kemudian dia melapor kepada Nabi SAW. Nabi dengan tegas mengatakan: “Petiklah kurma itu, selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”. Persoalannya adalah keamanan dan hak-hak asasi TKI/TKW rentan terancam. Sehingga meski banyak mendatangkan keuntungan, menjadi TKI/TKW juga mendatangkan banyak kerugian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tanggungjawab Negara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;TKI/TKW adalah penghasil devisa bagi negara. Setiap tahun ratusan juta dolar uang mereka kirimkan dari luar negeri. TKI/TKW juga adalah warga negara yang berhak atas jaminan keamanan dari negara.  Dalam Pasal 21, UU No 37 Th 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, disebutkan bahwa: ”Dalam hal warga negara Indonesia terancam bahaya nyata, Perwakilan Republik Indonesia berkewajiban memberikan perlindungan, membantu dan menghimpun mereka di wilayah yang aman, serta mengusahakan untuk memulangkan mereka ke Indonesia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebaiknya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdasar untung ruginya, maka sebelum memutuskan bekerja di luar negeri sebaiknya; (a) Membandingkan peluang kerja yang ada di dalam dan luar negeri; (b) Mencari informasi dari berbagai sumber tentang kondisi kerja di dalam dan luar negeri; (c) Meminta pendapat dari teman, keluarga dan yang lainnya sebagai bahan pertimbangan. Keputusan akhir di tangan kita sendiri. Sebaiknya, bekerja di manapun harus direncanakan dengan matang. Wallahu a’lam bi al-shawab&lt;br /&gt;________________&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tulisan ini dimuat di Buletin Jum’at Al-Basyar pada th. 2007&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-365104921140409895?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/365104921140409895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=365104921140409895' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/365104921140409895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/365104921140409895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/05/untung-rugi-menjadi-tkitkw.html' title='Untung Rugi Menjadi TKI/TKW'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-2661650931843308091</id><published>2007-05-14T05:52:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T05:58:30.945-07:00</updated><title type='text'>Hentikan Kekerasan Terhadap Buruh Migran</title><content type='html'>Ali Mursyid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tokoh-tokoh agama (Islam) dan sebagian besar masyarakat Cirebon-Indramayu beranggapan bahwa sebagai istri perempuan diharamkan menjadi TKW. Ini merupakan kesimpulan penelitian yang dilakukan Nurruzaman dan diprakarsai  Fahmina Institute pada th. 2005. Kesimpulan ini dibuktikan oleh beberapa komentar tokoh agama dan masyarakat Cirebon-Indramayu yang diwawancarai peneliti, diantaranya berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kewajiban perempuan sebenarnya adalah di dalam rumah mengurus suami dan anak-anaknya”, tutur KH. Marzuki Ahal pengasuh Pesantren Babakan Ciwaringin. Menurutnya Islam melarang perempuan bekerja di luar rumah apalagi sampai jauh ke luar negeri. Kalaupun ke luar rumah, perempuan harus didampingi muhrimnya. Pandangan serupa juga disampaikan DR. H. Abdullah Ali, Dosen STAIN Cirebon, dia menyebutkan bahwa jika mengacu syariat Islam keberadaan TKW sangat bertentangan. Kedudukan seorang istri adalah ibu rumah tangga yang bila keluar rumah harus seizin suami. Seorang istri yang menjadi TKW, tidak menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah tangga dengan baik. Hal itu, menurutnya telah menyalahi aturan syariat Islam, karena telah mengganggu dan merusak keharmonisan hubungan dalam rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di sisi lain, korban TKW yang ditipu, disiksa, dilecehkan dan diperlakukan tidak adil, maupun perempuan yang diprostitusikan dianggap sebagai ”takdir”dan sebuah resiko pekerjaan yang niscaya adanya. ”Sudah nasib mas, wong kerja, baka beli untung yah apes, kuwun kuh tadir” (sudah nasib mas, orang kerja kalau tidak untung yah apes, dan itulah tadir—red). ”Itu esiko pekerjaan”, ungkap Sunardi (38) warga desa Sukahaji Indramayu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Meski pandangan keagamaan yang dianut tokoh-tokoh agama dan masyarakat kurang berpihak pada nasib malang TKW, hasil penelitian menyebutkan bahwa bagi warga di beberapa wilayah di Cirebon, seperti desa Kroya dan desa Karanganyar kecamatan Panguragan atau desa Gintung kecamatan Ciwaringin, bekerja sebagai TKW adalah hal lumrah. Hal yang sama juga terjadi di kabupaten Indramayu. Di sana, beberapa wilayah ditengarai sebagai lokus trafficking, seperti kecamatan Bongas, Gabus, Cikedung, Sukra, dan Arahan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Realitas derasnya arus perempuan menjadi TKW itu tidak bisa dihentikan dengan komentar-komentar tokoh agama yang memahami agama secara literal dan tidak member solusi apa-apa, kecuali sikap tidak setujunya itu. Apalagi selama ini peran ketokohan kyai dan ustadz di masyarakat sebatas pada wilayah moril-spirituil. Dan ironinya, meski tokoh-tokoh agama ini secara verbal mengharmkan perempuan menjadi TKW, dalam kenyataannya kerapkali kyai dimintai doa oleh para calon TKW agar mereka berangkat dan berhasil di perantauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hentikan Kekerasan Agama Terhadap Buruh Migran &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sungguh meski bukan salah satu faktor yang utama, wacana keagamaan yang hanya dipahami secara dangkal dan literal, merupakan bentuk diskursus kekerasan terhadap perempuan buruh migran (TKW). Apa namanya kalau bukan kekerasan, perempuan yang mencoba mencari solusi perbaikan ekonomi dengan menjadi buruh migran, TKW yang rentan terjebak kekerasan dan perdagangan manusia, TKW yang tidak jarang dihianati suami-suaminya di tanah air, dengan seenaknya dituding oleh agama sebagai biang segala kerusakan keluarga. Lalu dari mana perempuan memenuhi kebutuhan mereka, jika pemerintah tidak menjamin? Jika suami, kerabat atau teman juga sama sekali tidak mampu? Mengapa perempuan yang harus disalahkan atau dilarang bekerja? Mengapa jika ada kerusakan keluarga, hanya perempuanlah yang disalahkan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sejatinya, agama, terutama Islam, tidak pernah melarang perempuan untuk bekerja. Anjuran berusaha dan bekerja terdapat di banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Bukankah di dalam Al-Qur’an, keimanan selalu dikaitkan dengan amal saleh, yang berarti kerja-kerja positif, baik yang terkait dengan ibadah ilahiyah, maupun kerja-kerja kemanusiaan (ekonomi, politik dan lain sebagainya).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Khususnya bagi perempuan, jika ditelusuri lebih lanjut, fakta menunjukan bahwa tidak satu ayat atau hadits pun yang melarang perempuan bekerja atau berusaha, baik di dalam maupun di luar negeri. Bahkan beberapa ayat Al-Qur’an menunjukkan kerja-kerja yang dilakukan perempuan. Dua putri Nabi Syuaeb as yang menggembala kambing (Q.S., Al-Qashash, 23-28), Ratu Saba yang bekerja di bidang politik dan pemerintahan (Q.S., An-Naml: 20-24), dan juga perempuan yang bekerja di bidang pemintalan (Q.S., Alth-Thalaq: 6) dan jasa penysusan bayi (Q.S., An-Naml: 233). Dalam satu hadits, Nabi SAW menyarankan semua orang, laki-laki atau perempuan untuk bekerja dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup, dan agar tidak tergantung pada orang lain. Sabda Nabi menyatakan: ”Demi dzat yang menguasai diriku, seseorang yang menggunakan seutras tali, mencari kayu bakar dan mengikatkan ke punggungnya (lalu menjualnya ke pasar) adalah lebih baik baginya dari pada harus meminta-minta kepada orang lain..” (Bukhari, no hadits 1470).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Adapun anjuran agar perempuan didampingi mahram (kerabatnya), sebenarnya tidak bermaksud mengekang perempuan. Anjuran ini sebenarnya muncul dari sebuah teks hadits untuk melindungi perempuan dari berbagi tindak kejahatan yang mengancam. Bukan untuk menghalangi hak perempuan untuk bekerja. Ketika Nabi SAW mengetahui ada seorang perempuan berjalan untuk haji sendirian dari Madinah ke Makkah, yang muncul byukanlah perintah larangan terhadap perempuan, tetapi perintah terhadap kerabatnya (suaminya) untuk menemani sampai selesai haji (Jami’ al-Ushûl, VI/18, hadits no. 3014)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadi, bila bicara jujur, maka sungguh agama tidak melarang atau mengharamkan perempuan menjadi TKW. Pelarangan, pengharaman perempuan menjadi TKW atau berbagai model pemojokannya, lebih merupakan kekerasan agama terhadap perempuan, yang harus segera dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini dimuat di Buletin Banati milik LSM Bannati Cirebon, th. 2005)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-2661650931843308091?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/2661650931843308091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=2661650931843308091' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/2661650931843308091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/2661650931843308091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/05/hentikan-kekerasan-terhadap-buruh.html' title='Hentikan Kekerasan Terhadap Buruh Migran'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-5743632609128445597</id><published>2007-05-14T05:41:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T05:46:55.511-07:00</updated><title type='text'>Perlindungan Terhadap Buruh Migran Jangan Hanya Sebatas Wacana</title><content type='html'>&lt;em&gt;Ali Mursyid&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hampir kita semua mengetahui, dibanding laki-laki, perempuan di negeri ini, biasanya menerima upah lebih rendah dan lebih banyak memasuki sektor kerja informal. Kerja pada sektor ini tidak jarang dipandang sebelah mata, karena dianggap tidak memebutuhkan ketrampilan khusus. Kenyataan ini mendorong banyak perempuan untuk mencari kerja yang lebih menghasilkan uang, sekalipun harus ke luar negeri, meninggalkan anak dan suami. Para perempuan ini memilih untuk menjadi buruh migran (TKI/W), dengan harapan bisa lebih mendatangkan uang untuk kesejahteraan hidup keluarga, minimal membantu meringankan beban suami atau keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Padahal, hampir kita semua mengetahui, kegiatan menjadi buruh migran, selain dapat menghasilkan uang lebih banyak, juga mendatangkan resiko terancam berbagai tindak kejahatan perdagangan manusia (trafficking). Trafficking ini dapat mengancam buruh migran sejak tahap rekruitmen, pra-keberangkatan (pelatihan atau penampungan), tahap keberangkatan, masa kerja, kepulangan dan pasca kepulangan. Meski kejahatan trafficking juga dapat dialami laki-laki, tetapi fakta yang kerap muncul menunjukkan bahwa perempuan lebih sering menjadi sasaran kejahatan ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Disamping rentan dengan berbagai resiko, buruh migran juga kurang mendapatkan perlindungan dan pembelaan yang tegas dari pemerintah, terutama jika mereka terjerat trafficking. Padahal, sesungguhnya para buruh migran ini adalah pahlawan devisa yang mampu mengalirkan uang triliyunan rupiah ke negeri ini. Tetapi pemerintah justru berpangku tangan, ketika mereka diperas, baik oleh para petugas maupun mereka yang berkecimpung dalam penyelenggaraan dan pengiriman buruh migran; calo-calo dan PJTKI-PJTKI yang nakal, atau pihak-pihak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Data dari Women Research Institute  menyebutkan bahwa, sekarang ini sekitar 72 % dari kurang lebih empat juta buruh migran adalah perempuan yang bekerja di sektor informal atau pekerjaan rumah tangga. Artinya, sekitar tiga juta perempuan buruh migran sangat rentan terancam diskriminasi dan trafficking.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun, upaya melindungi buruh migran, terutama yang bekerja di sektor informal seperti pekerja rumah tangga, masih sebatas wacana. Karena upaya ini dilakukan masih sebatas langkah awal printisan. Ini dilakukan antara lain melalui pembuatan nota kesepahaman dengan negara-negara penerima buruh migran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mestinya upaya perlindungan tersebut tidak hanya sebatas wacana, tetapi berupa langkah-langkah kongkrit untuk menghadirkan sistem perlindungan yang baik para buruh migran. Karena penempatan buruh migran, tanpa dilengkapi dengan sistem perlindungan yang baik, maka identik bahkan sama dengan kejahatan perbudakan. Dimana keselamatan, keamanan, kenyamanan dan kesejahteraan perempuan buruh migran sepenuhnya tergantung pada lingkup privat keluarga tempatnya bekerja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akar persoalan buruh migran ini -bila dilihat dari sisi hukum legal- sangat terkait dengan UU No. 39 th. 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia   di Luar Negeri. Undang-Undang ini menempatkan pemerintah sebagai regulator, pembina, pengawas dan sekaligus pelaksana. Pertanyaannya, bagaimana mungkin pemerintah bisa menjadi pembina dan pengawas yang obyektif, jika pada saat yang sama juga memiliki kepentingan sebagai pelaksana penempatan tenaga kerja? Inilah salah satu akar persoalan lemahnya pengawasan dan perlindungan terhadap buruh migran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Parahnya, perlindungan terhadap buruh migran dengan dasar UU di atas dijalankan sebagai program atau proyek belaka, dan bukan sebagai tanggung jawab negara kepada warganya, sesuai dengan amanat UUD 1945. Dalam UU No. 39 th. 2004, perlindungan hanya diberikan ketika buruh migran menghadapi persoalan. Itu pun hanya berlaku di negara penerima yang telah memiliki kesepakatan dengan negara kita, seperti Korea Selatan da Kuwait. Padahal, dalam konnteks buruh migran, perlindungan harus diberikan sejak rekruitmen, hingga tahap pascapemulangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain itu sikap pemerintah selama ini juga menjadikan buruh migran rentan menjadi sasaran trafficking.  Pemerintah memperlakukan para buruh migran seolah-olah sebagai individu yang sekedar melakukan lawatan ke luar negeri. Seringkali, begitu mereka sampai di negara tempat kerja, tidak jelas lagi siapa pihak yang bertanggungjawab untuk melindungi mereka. Pihak perwakilan pemerintah di luar negeri, Kedutaan Indonesia di sejumlah negara tempat perempuan buruh migran bekerja, kurang memiliki pranata yang cukup memadai untuk dapat melindungi mereka. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal lain yang tidak bisa dilewatkan sebagai sumber kejahatan terhadap buruh migran adalah masih rendahnya kwalitas pelatihan kerja yang mereka dapatkan. Perempuan yang bekerja di luar negeri mestinya dibekali dengan keahlian yang dibutuhkan di tempat kerja dan juga ketrampilan komunikasi praktis yang diperlukan. Namun, berdasarkan data dari Migran Care, biasanya PJTKI hanya memberi pelatihan kerja selama tiga minggu dari tiga bulan yang digraiskan dan diwajibkan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigasi RI (Haryati, 2004). Kwalitas peserta pelatihan pun tentu saja asal-asalan. Sementara kontrol pemerintah akan proses dan materi pelatihan pun masih lemah (Sita Aripurnami, 2006). Sementara itu, dari kasus yang muncul, bahwa salah satu sumber kekerasan atau kejahatan lain yang dilakukan majikan atau pihak lain kepada buruh migran adalah kurangnya kapasitas kwalitas kerja buruh migran itu sendiri. Oleh karena itu, uapaya peningkatan kwalitas kerja buruh migran, terutama perempuan, menjadi sesuatu yang mutlak dilakukan dalam rangka mencegah kejahatan dan kekerasan terhadap mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang lebih penting dari itu semua adalah bahwa upaya perlindungan buruh migran dari segala kejahatan trafficking dan kekerasan lainnya hendaknya tidak lagi menjadi cita-cita mulia saja, tetapi menjadi sesuatu yang segara terwujud.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(Tulisan ini dimuat di Buletin Banati milik LSM Bannati Cirebon pada th. 2005)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-5743632609128445597?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/5743632609128445597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=5743632609128445597' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/5743632609128445597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/5743632609128445597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/05/perlindungan-terhadap-buruh-migran.html' title='Perlindungan Terhadap Buruh Migran Jangan Hanya Sebatas Wacana'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-8216731098286708106</id><published>2007-05-14T05:09:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T05:12:57.743-07:00</updated><title type='text'>KITAB KUNING    MEMBUTUHKAN KERANGKA PEMBACAAN PRODUKTIF</title><content type='html'>&lt;i&gt;Ali Mursyid&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kitab Kuning selama ini dikenal sebagai literatur (marâji’  atau ma`khadz)  wajib bagi para santri di pesantren-pesantren nahdhiyin seluruh pelosok tanah air. Dengan Kitab Kuning kalangan pesantren mencoba bersikap, memaknai dan menjawab ‘hampir’ seluruh persoalan yang muncul dan berkembang. Bahkan jika kita rajin mengikuti halqah-halqah bahtsul masa`il kaum santri ‘salaf’ ini, maka sepertinya seluruh persoalan sudah ada dan sudah dijawab oleh Kitab Kuning.  Ini bukan saja terkait dengan persoalan-persoalan masa lalu, tetapi bahkan isu-isu terkini pun ‘pembahasannya’ sudah ada, atau minimal diasumsikan ada. Sebut saja misalnya, persoalan polgami, dari mulai yang ekstrim pro-poligami dan yang ekstrim kontra-poligami, ada di kitab kuning. Persoalan formalisasi syariah, perdebatan pornoaksi-pornografi, persoalan sikap terhadap agama lain, dan lain sebagainya sudah ‘ada’ dalam kitab kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan muncul kemudian, setelah ada dua kategori kitab kuning. Kitab mu’tabarah (valid untuk diruju’) dan kitab ghairu mu’tabarah (tidak valid diruju’). Sebagian besar pesantren nahdhiyin menggunakan pakem keagamaan yang sama, yaitu nada keberagamaan dalam pakem kitab kuning yang mu’tabarah. Lalu pembacaan tafsir-tafsir ajaran agama dalam berbagai disiplinnya, yang tadinya menghargai berbagai pandangan yang berbeda, kemudian hanya menghargai dan akrab dengan ajaran-ajaran versi kitab mu’tabarah. Bila ada kyai atau pesanren yang keluar dari pakem ini, habislah sudah otoritasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga, pembatasan rujukan hanya pada kitab-kitab mu’tabarah, sejatinya lebih cenderung sebagai upaya ideologisasi, dan tidak murni kerja-kerja ilmiah per se. Karena itu kecenderungan demikian sungguh layak dicurigai. Ada agenda politis apa sesungguhnya di balik itu semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan yang tidak kondusif bagi pengembangan keilmuan pesantren tersebut, diperparah oleh ‘penuhanan’ metode pembacaan dan kejian keagamaan. Yakni penuhanan pada metode ‘ambil comot teks’ alias tekstualis. Dan juga metode gampang percaya pada ‘konon kata ulama’ alias taqlid qaulan. Akibatnya kitab kuning dibaca dan didekati sebagai korpus tertutup, yang ahistoris, dan anti kritik. Pembacaan dan pemahaman yang dilakukan pun cenderung berulang-ulang (mutakarrirah). Masalah apa pun yang muncul, segera dicarikan jawabannya dari kitab mu’tabarah begitu saja, tanpa membandingkan perbedaan konteks zamkani-nya. Padahal kitab-kitab itu berisi pandangan ulama yang ditawarkan untuk mneyelesaikan persoalan pada zaman dan tempat yang jauh berbeda dengan konteks kekinian dan kedisinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tawaran Pembacaan Produktif (Qira’ah Muntijah)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis di sini menawarkan pembacaan  terhadap kitab kuning sebagai sumber nilai keagamaan yang dianut masyarakat pesantren. Pembacaan dengan metodologi hermeneutik ini disebut juga –oleh Nashr Hamid Abu Zayd- sebagai pembacaan produktif (qira’ah muntijah) yang merupakan lawan dari pembacaan tidak produktif dan berulang-ulang (qira’ah mutakarrirah). Dengan qira’ah muntijah  ini diharapkan dapat memberikan penafsiran-penafsiran dan berbagai kemungkinan baru yang bukan hanya kritis-evaluatif tetapi juga kritis-emansipatoris. Dengan qira’ah muntijah diharapkan penafsiran kegamaan bukan hanya dapat mengubah kata-kata (change of the word) tetapi juga dapat melakukan perubahan pada dunia realitas (change of the world)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam membaca dan menganalisa teks, seperti kitab kuning, qira’ah muntijah mempunyai asumsi bahwa sesungguhnya teks telah selesai (al-nushush mutanahiyah), sedangkan realitas tidak pernah berhenti, bahkan terus berkembang (al-waqa’I gahiru mutanahiyah). Karena itu dalam membaca dan mencari makna serta siginfikansi (maghza) teks dengan realita kekinian, qira’ah muntijah mengenalkan beberapa istilah kunci, yakni the world of text, the world of author dan the world of audience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan the world of text dalam konteks dunia pesantren adalah nilai-nilai ajaran keislaman klasik yang terdapat dalam kitab-kitab kuning (al-kutub al-mu’tabarah). Nilai-nilai luhur keislaman klasik inilah yang menjadi acuan dalam berfikir dan bertindak bagi masyarakat pesantren. Pesantren baik di Jawa, Madura atau bagian Indonesia lain rata-rata menggunakan nilai-nilai yang terkandung dalam kitab kuning. Kitab kuning sebagai teks, diajarkan, dan diwariskan kepada setiap generasi santri yang mesantren di pesantren-pesantren tersebut. Beratus-ratus, ribuan bahkan jutaan santri setiap tahunnya masuk dan keluar dari pesantren-pesantren itu hanya untuk mengaji kitab kuning. Kitab kuning menjadi semacam “teks sakral” yang menjadi trade mark bagi pesantren-pesantren, khususnya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, the world of text  tidak dapat berdiri sendiri dan terlepas dari realitas yang lain. Ia tidak dapat berdiri dan ada secara netral. The world of Text akan tampak seperti ruang yang kosong jika tidak dilihat dalam kerangka hitoris dan peradaban umat manusia yang lebih kongkrit. Oleh karena itu the world of text hanya dapat hidup, dimaknai, ditafsirkan, dibangun, dan ditafsirkan melalui the world of author  (dunia pengarang, penafsir, penyusun konsep, perencana, pelaku atau aktor yang sesungguhnya berperan dalam masyarakat dan sejarah). Dalam konteks pesantren, the world of author tentu saja para penulis kitab, pensyarah, bahkan para kiai yang mencoba berijtihad sendiri dan hasil ijtihadnya disebar luaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi the world of text sesungguhnya dan selamanya tidak pernah terlepas dan selalu terjebak, serta terbelenggu oleh pemahaman dan konstruk berfikir dan konstruk pengetahuan para kiai yang menjadi penulis, pensyarah atau penafsir sebuah karya berupa kitab kuning. Makna yang dimunculkan dalam kitab kuning tidak mungkin terlepas dari kiai yang mengkajinya. Sedangkan pemahaman pengarang, pensyarah atau para penafsir kitab-kitab kuning itu sangat dipengaruhi dan dibentuk oleh konteks zaman di mana ia hidup. Uraian, pemaknaan dan pemahaman pengarang era agraris akan berbeda jika dibandingkan dengan uraian pengarang era industri dan begitu pula akan berbeda dengan era globalisasi budaya dan agama dan begitu seterusnya. Uraian dalam tradisi ‘lisan” akan berbeda dari tradisi “tulisan”. Tradisi manuskrip akan berbeda pula dari tradisi mesin cetak, dan komputer serta internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada gilirannya, pemahaman dan penafsiran sang pengarang pada era tertentu dapat saja “membeku” dan berubah menjadi begitu hegemonik dan dominatif. Hal demikian dapat terjadi secara alami dan karena adanya kepentingan-kepentingan lain yang melekat kemudian. Proses membaku dan membekunya sebuah pemahaman adalah proses alami yang dialami setiap disiplin ilmu. Semua disiplin keilmuan tidak akan lepas dari “hukum budaya” ini, baik fiqih, hukum, sosial, budaya, politik tasawuf, kalam , filsafat, pendidikan, ilmu-ilmu kealaman, ilmu-ilmu humaniora, teologi, ilmu-ilmu agama dan begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika telah terjadi pembakuan dan pembekuan, hegemoni, dominasi, dan bahkan ortodoksi, maka seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan pengalaman manusia itu sendiri, akan muncul dengan sendirinya pemahaman baru yang mempertanyakan “keabsahan” penafsiran dan pemahaman yang disusun, dibakukan dan dibekukan oleh generasi the world of author. Pertanyaan yang kritis akan muncul ke permukaan dengan sendirinya karena terjadi anomali (ketidaktepatan-ketidaktepatan), dan krisis relevansi yang melekat pada bentuk dan jenis pemikiran, pemahaman dan penafsiran terdahulu yang terlanjur dibakukan dan dibekukan oleh masyarakat. Hal tersebut terjadi secara wajar dan alami, tanpa harus direkayasa oleh siapa pun. Lebih-lebih setelah berkembangnya ilmu pengetahuan yang cukup spektakuler dalam berbagai bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu dicatat adalah bahwa pertanyaan kritis yang diajukan kepada the world of author tidak datang dari the world of text, tetapi datang dari kutub ketiga, yakni the world of audience (dunia pendengar, pengguna, umat dan masyarakat secara luas), dan seakligus juga dunia kritikus sosial-budaya dan kritikus sosial-keagamaan. The world of audience disamping punya akses dan dapat berdialog langsung dengan dunia pengarang (the world of author), ia juga punya akses langsung untuk dapat memahami dan menafsirkan the word of  text secara mandiri. Jika saja mereka yang berkecimpung dan bergelut dalam the world of audience ini mempunyai kerangka berfikir, kerangka teori dan metodologi yang lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan, maka pada saatnya, pemikiran yang dilontarkan dan dipopulerkan oleh the world of audience, cepat atau lambat, akan dapat menggeser dominasi dan hegemoni pemikiran yang selama ini dimonopoli oleh the world of author. Pada saatnya kelak, the world of audience akan berpindah menjadi menjadi the world of author yang dapat memproduksi wacana keberagamaan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik adalah bahwa perpindahan posisi (shifting position) dari the world of audience menjadi the world of author dapat berlangsung setiap saat, tergantung pada persoalan dan krisis relevansi yang sedang dihadapi oleh umat beragama, dalam hal ini komunitas pesantren. Namun ada kalanya proses perpindahan itu berjalan begitu alot, bahkan juga membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah dengan metode pembacaan qira’ah muntijah diharapkan nilai-nilai kitab kuning dapat berkembang. Karena dengan qira’ah muntijah  yang berperan bukan hanya author yang sebelumnya telah diakui otoritasnya dalam memproduksi wacana keagamaan, tetapi juga audience, yang dapat berupa kiai muda atau santri atau bahkanpun masyarakat yang mampu meproduksi nila-nilai luhur keagamaan untuk kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Wallahu A’lam bi al-shawab&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini didekasikan untuk diskusi internal Fahmina Institute)&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-8216731098286708106?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/8216731098286708106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=8216731098286708106' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/8216731098286708106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/8216731098286708106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/05/kitab-kuning-membutuhkan-kerangka.html' title='KITAB KUNING    MEMBUTUHKAN KERANGKA PEMBACAAN PRODUKTIF'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-6826042110987354067</id><published>2007-05-14T04:59:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T05:04:12.700-07:00</updated><title type='text'>POTRET BURAM MADRASAH KAMPUNG KITA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;Ali Mursyid&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau madrasah ini diperbaiki, baik sarana prasarana maupun managerial pengelolaannya, tentu membutuhkan biaya besar. Ujung-ujungnya madrasah ini menjadi mahal. Dan orang-orang miskin menjadi sulit sekolah”, kata seorang kepala Madrasah Aliyah, ketika ditanyakan berbagai kemungkinan perbaikan pengelolaan madrasahnya. Tragis memang nasib madrasah (sekolah agama) khususnya yang terletak perkampungan. Di satu sisi ia berkewajiban meningkatkan mutu pendidikannya dari waktu ke waktu, di sisi lain ia mesti melayani kebutuhan kaum mustadh’afin akan pendidikan. Di satu sisi madarasah ingin melengkapi sarana prasarana dan memperbaiki managerial pengelolaannya, di sisi lain ia terbentur pada persoalan dana. Dan rasanya tidak tega, kalau mesti membebani para siswa dari keluarga-keluarga yang makan saja susah. Soalnya kemudian, adakah pendidikan yang bermutu bagi kaum mustadh’afin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akar Masalah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, hampir semua orang membenarkan bahwa pendidikan bermutu mesti mahal. Para orang tua, khususnya di kota, rela menguras isi kantong demi memasukkan anaknya di sekolah-sekolah ‘bonafid’.  Anggapan bahwa pendidikan bermutu mestilah mahal terus menguat seiring dengan modernisasi dan globalisasi. Sejatinya, anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar. Fakta membuktikan, asalkan ada usaha yang sungguh-sungguh dari pemerintah dan masyarakat, pendidikan murah dan bermutu bisa diselenggarakan. Ini yang dicontohkan oleh SMP Alternatif Situbondo. Dengan SPP siswa Rp. 10.000,- perbulan --itu pun boleh saja gratis--sekolah ini telah menempati rengking teratas di Jawa Timur. Bahkan Media Kompas menjulukinya sebagai sekolah global, sekolah berkelas dunia meski terletak di desa Kalibening Situbondo. Bukan hanya itu, dengan biaya pendidikan yang relatif murah, para siswa SMP Alternatif itu dapat menikmati sarana pendidikan layaknya sekolah-sekolah mahal, seperti mengakses internet setiap hari secara gratis. Itu semua terselenggara atas keinginan dan upaya sungguh-sungguh dari masyarakat dan pemerintah untuk menghadirkan pendidikan murah dan bermutu. Jadi akar masalah yang dilematik bagi madrasah atau pendidikan bermutu bagi mustadh’afin adalah tidak adanya upaya serius dari pemerintah dan masyarakat untuk menyelenggarakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tanggungjawab Pemerintah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini pemerintah telah melakukan upaya-upaya perbaikan pendidikan, baik upaya peningkatan mutu ataupun peningkatan kesempatan bagi rakyat banyak untuk mengenyamnya. Sayangnya itu dilakukan secara tidak berkesinambungan dan tidak menyentuh akar persoalan sebenarnya. Sebut saja kebijakan mengenai kurikulum, baik madarasah maupun sekolah pada umumnya, selalu saja berganti mengikuti pergantian mentri. Ironinya ketika madrasah-madrasah di pedesaan baru mulai melaksanakan kebijakan ‘Tuan Mentri’--yang tentu saja setelah bertahun-tahun kebijakan itu diintruksikan dari departemen agama--eh, sebentar kemudian Pemilu, ganti mentri, dan ganti pula kebijakannya.&lt;br /&gt;Contoh ketidaksinambungan perhatian pemerintah pada pendidikan adalah soal minimnya alokasi dana bagi dunia pendidikan. Kalaupun ada upaya peningkatan dana pendidikan maka itupun dilakukan sangat politis dan knrtoversial, sama sekali tidak menyentuh akar persoalan yang sebenarnya. Sebut saja kebijakan dana kompensasi kenaikan BBM bagi pendidikan, selain kontrovesial, politis, prosedural juga hanya bersifat karitatif dan tidak menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;Khususnya bagi madrasah di desa, selain siswa, para gurunya juga sungguh memprihatinkan. Dengan honor minim--itu pun kalau ada--para guru madrasah mencoba terus mengabdikan diri untuk mengajar. Untuk menghidupi diri dan keluarganya, para guru ini biasanya melakukan usaha-usaha lain, yang terkadang sangat menyita waktu dan perhatiannya. Perhatian dan pengabdiannya ke madrasah pun bersifat minimal, sekedar mengajar saja. Soal maju-mundurnya madrasah, peningkatan kwlitas lulusan dan yang semacamnya, tidak jadi perhatian atau bagian dari pengabdiannya. Mutu lulusan madrasah pun akhirnya sulit bersaing dengan lulusan-lulusan pendidikan umum. kebijakan pemerintah di dunia pendidikan belum menyentuh akar persoalan semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nilai-Nilai Yang Terlupakan di Masyarakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Islam mengajarkan bahwa diantara kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberikan pendidikan yang baik. Artinya kewajiban pendidikan anak atau generasi penerus terbebankan pertama kali pada orang tua, bukan pada sekolah. Tanggung jawab orang tua dan masyarakat terhadap dunia pendidikan adalah primer, sedangkan sekolah hanya sekunder. Ini yang sekarang terlupakan di masyarakat bahkan cenderung terbalik, sekolah adalah segalanya dan masyarakat atau orang tua nomor dua saja dalam tanggungjawab mendidik. Karenanya kemudian perhatian masyarakat (orang tua) terhadap mutu pendidikan anaknya, sekarang ini minim saja, karena hampir semua dibebankan pada sekolah. Celakanya sekolahnya tidak bermutu, kecuali dengan biaya relatif mahal. Dengan demikian pelibatan masyarakat dalam perbaikan pendidikan (madrasah) menjadi sangat signifikan. Pelibatan yang dimaksud adalah pelibatan yang sesungguhnya, yang bukan hanya ketika hendak butuh persetujuan kenaikan SPP dan lainnya. Pelibatan masyarakat ini bisa dilakukan dalam berbagai aspek, seperti dalam menyusun visi madrasah dan  peningkatan mutu pembelajaran melalui peningkatan kesejahteraan pengelola serta para gurunya.&lt;br /&gt;Nilai lain yang mulai terlupakan di masyarakat adalah nilai yang menyatakan bahwa mencari ilmu, belajar dan sekolah adalah kewajiban agama. Di masyarakat pedesaan, orang terkadang merasa sudah paling Islami kalau sudah naik haji. Puncak keislaman seorang muslim lalu diukur dari naik haji atau tidak, meski pendidikan di masyarakat sekitarnya terlantar. Masyarakat pun nampak lebih bergairah membangun masjid-masjid baru atau sangat meriah ketika menghantar tetangganya yang naik haji, tetapi tak mau tahu nasib madrasah di desanya yang kembang kempis.&lt;br /&gt;Islam menggariskan tujuan diselenggarakannya pencarian ilmu atau dunia pendidikan. Dalam kitab Ta’lim Muta’alim yang jadi pepujian mushola dikatakan bahwa: “Nuntut ilmu sira kabeh kewajiban, yen tinggal sira kabeh oli siksaan. Sijiniyat negakna agama Islam. Loro niyat ngurip-ngurip agama Pengeran. Telu niat ngilangna kebodoan badan. Papat ngulati keridoan Pengeran. Kelimane Nyukuri warase badan. Nenem nyukuri akal kelawan pikiran. (Belajar itu wajib hukumnya, berdosa kalau tidak dilaksanakan. Ini bertujuan untuk; a. Menegakkan agama; b. Mengharumkan syiar agama; c.Mencerdaskan masyarakat dan generasi penerus; d. Mencari ridha Tuhan dengan memanfaatkan ilmu bagi sebaik-baik kehidupan manusia; e. Mengoptimalkan anugrah kesehatan dan segala potensi fisik manusia yang ada; f. Mengoptimalkan potensi rasional dan intelektual untuk berbagai kemajuan). Jika demikian mulia tujuan mencari ilmu yang diajarkan Islam, maka penyelenggaraan pendidikan, seperti madrasah mesti diselenggrakan secara serius dengan perhatian dan dukungan pemerintah serta masyarakat yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;i&gt;Tulisan ini dimuat di Buletin Jum’at Al-Basyar pada tahun 2005&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-6826042110987354067?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/6826042110987354067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=6826042110987354067' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/6826042110987354067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/6826042110987354067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/05/potret-buram-madrasah-kampung-kita.html' title='POTRET BURAM MADRASAH KAMPUNG KITA'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-57862836577583563.post-7151909321451122117</id><published>2007-05-14T04:23:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T04:26:37.811-07:00</updated><title type='text'>PENDIDIKAN ANTI-KORUPSI BERBASIS MASYARAKAT</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ali Mursyid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRAWACANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir dasawarsa  1990-an, salah satu jurnal terkemuka di Amerika, Foreign Affairs, mengatakan bahwa korupsi telah menjadi way of life di Indonesia. Korupsi sudah menjadi cara atau jalan hidup bagi sebagian besar lapisan masyarakat Indonesia. International Transparency, pada tahun 1997, dalam laporannya menempatkan Indonesia sebagai negara paling korup di dunia setelah Rusia dan Kolombia. Audit yang lumayan baru dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyimpulkan bahwa prevalensi kebocoran dari semakin tinggi, meningkat dua belas kali lipat. Pada tahun 1998/1999, tingkat kebocoran hanya 4 persen, akan tetapi pada tahun anggaran 1999/2000 angka itu melonjak menjadi 46 persen. Dari nilai anggaran yang diperiksa BPK sebesar 455,6 trilyun rupiah, tingkat kebocoran mencapai 209 trilyun rupiah.&lt;br /&gt;Selain itu audit BPK juga membuktikan bahwa negara dirugikan senilai 138,44 trilyun rupiah atau sekitar 96 persen dari nilai kredit likuiditas Bank Indonesia (BI) senilai 144,53 trilyun rupiah. Padahal kredit likuiditas ini semula dirancang untuk mengatasi masalah kesulitan likuiditas 48 bank komersial.&lt;br /&gt;Mantan Menteri Keuangan Bambang Sudibyo juga pernah mengungkapkan bahwa pada tahun 1991/1992 jumlah pendapatan kena pajak yang tidak dilaporkan kepada Direktorat Jenderal (Dirjen) Pajak senilai 27,7 trilyun rupiah. Pada tahun fiskal 1999/2000 angka itu menjadi 170 trilyun rupiah. Selama dekade 90-an, dari seluruh jumlah pendapatan kena pajak yang tidak dilaporkan senilai 714,5 trilyun, artinya negara dirugikan 130, 86 trilyun rupiah.&lt;br /&gt; Tidak hanya itu, akhir-akhir ini diberitakan di berbagai media bahwa, para angota DPRD di banyak kota kabupaten di Indonesia, banyak yang dimeja hijaukan, karena terlibat penyalahgunaan dana APBD (APBD gate).&lt;br /&gt;Dari berbagai pernyataan, laporan, berita dan fakta di atas, semuanya mengindikasikan adanya persoalan yang amat serius di tingkat nasional dan daerah dalam menghadapi bahaya laten korupsi. Sayangnya, meski dari berbagai temuan dan studi terbukti bahwa prevalensi di Indonesia tergolong paling tinggi, akan tetapi langkah-langkah yang mengarah pada upaya investigasi, advokasi dan pemberdayaan serta pendidikan masyarakat dalam memberantas wabah korupsi masih jarang dilakukan.&lt;br /&gt;Sejumlah studi, laporan, ataupun tulisan mengenai tindak korupsi memang telah banyak dilakukan dengan berbagai perspektif dan sudut pandang. Namun sayangnya masih jauh dari upaya pendidikan dan pemberdayaan masyarakat dalam pemberantasan korupsi. Hal ini disebabkan antara lain: Pertama, studi-studi yang selama ini dilakukan oleh kalangan akademis ke arah deskripsi dan analisis semata, bukan pada kritik dan keberpihakan terhadap masyarakat yang dirugikan oleh prilaku korupsi. Kedua, data yang diperlukan sering tidak tersedia, karena pihak yang diduga terlibat korupsi selalu berdalih dengan berbagai cara untuk menyembunyikan dan memanipulasi data. Sementara pemerintah cenderung enggan memberi izin penelitian dan advokasi untuk isu-isu korupsi. Ketiga, sebagai konsekwensinya, upaya-upaya investigasi, advokasi dan pendidikan serta pemberdayaan lebih banyak menggunakan pendekatan normatif, jauh dari pemihakan terhadap rakyat dengan berbagai langkah-langkah strategisnya. Keempat, lebih-lebih pada masa Orde Baru, para peneliti dan aktifis beresiko tinggi kehilangan hak sipil, atau bahkan ancaman kekerasan fisik ketika melakukan studi dan advokasi tentang korupsi. Karena dianggap ancaman bagi pihak-pihak tertentu.&lt;br /&gt;Saat ini Indonesia sedang mengalami masa transisi menuju masyarakat demokratis dan beradab, yang membuka kesempatan luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi membangun iklim kehidupan bernegara dan berbangsa yang lebih baik dan terbebas dari korupsi. Inilah momen yang tepat untuk mengembangkan kajian, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat dalam pemberantasan budaya KKN. Tulisan ini adalah yang bisa dilakukan penulis dalam upaya pendidikan pemberantasan korupsi di tengah masyarakat. Ini adalah langkah yang mungkin tidak akan berarti dalam pemberantasan korupsi, tetapi paling tidak sebagai wacana yang semoga saja bermanfaat di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONSTRUK WACANA KORUPSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Dataran Budaya&lt;br /&gt;Dalam praktek pelayanan publik sehari-hari, batas antara hadiah atau pemberian yang ikhlas dan suap sangatlah tipis. Ini bisa dilihat manakala warga masyarakat ingin menyelesaikan satu urusan birokrasi dengan instansi pemerintah yang bertugas melayani publik, seakan-akan sudah lumrah bila rasa terimakasih perlu dan celakanya harus disampaikan dalam bentuk uang. Suap atau bentuk terimakasihkah kebesiaan seperti ini? Bukan tidak mungkin, warga masyarakat sengaja memberi uang dengan maksud kelak dikemudian hari bila berurusan dengan birokrasi tidak lagi mengalami kesulitan. Artinya, ia harus ikhlas dan terbiasa melakukan praktek suap. Tetapi celakanya, Sang Birokrat memandangnya sebagai pembrian ikhlas dan tidak tidak terkait dengan jabatannya. Bukankah di sini ada perbedaan presepsi atas pemberian uang itu.&lt;br /&gt;Praktek-praktek seperti ini berlangsung terus dalam hidup keseharian kita dan diterima begitu saja sebagai seseuatu yang tak terbantahkan. Mulai dari praktek percaloan di terminal, pelabuhan atau setasiun kereta api hingga urusan izin usaha, perpanjangan SIM, KTP, atau meluluskan anak masuk sebuah sekolah yang dianggap pavorit, dan lain-lain. Praktek yang bernuansa suap-menyuap tampaknya sudah dianggap wajar dan bahkan ada yang menganggap sebagai keharusan.&lt;br /&gt;Memang, dalam budaya yang memberi peluang bagi tumbuhnya praktek korupsi, wacana korupsi pun dikonstruksi menjadi bukan korupsi, melainkan dianggap sebagai kebaikan hati. Itulah sebabnya ada yang menyebut korupsi sudah “memasyarakat”, bahkan sejad dahulu Bung Hatta telah menyebutnya “membudaya”. Kalau sudah memasyarakat dan membudaya, maka bisa berarti sudah menjadi bagian dari denyut kehidupan. Tiada hari tanpa praktek korupsi dalam segala bentuk dan tingkatannya. Kalau kemudian Indonesia menjadi negara papan atas dalam korupsi--seperti peringkat yang dilaporkan oleh Transparency International--tidaklah terlalu mengherankan. Tetapi bangsa ini tentu saja tidak akan terima bila negerinya dicap berpemerintahan para maling (kleptokrasi).&lt;br /&gt;Bukan hanya itu, perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia juga banyak mengoleksi ungkapan dan kata untuk menyebut nama lain dari praktek korupsi. Mulai dari uang semir, penyalahgunaan jabatan, penyalahgunaan wewenang, penyalahgunaan uang negara, komersialisasi jabatan, poltik uang, suap, uang pelicin, uang administrasi, komisi proyek, dana taktis, TST (tahu sama tahu), manipulasi, pungli, dana bina lingkungan, mark up anggaran, amplop dan uang rokok. Belum lagi idiom-idiom yang menunjukkan terjadinya korupsi, misalnya tarif jalan tol, untuk mereka yang ingin mendapatkan layanan cepat dari birokrasi. Uang lelah, untuk pemberian kepada birokrat tingkat bawah yang membantu mengurus adminitrasi pelayanan publik. Hadiah ala kadarnya dan ucapan terima kasih, untuk pejabat publik yang dipandang berjasa membantu suatu urusan yang sebenarnya memang menjadi tanggungjawabnya. Masih banyak lagi perbendaharaan dan idiom dalam bahasa Indonesia--juga sebenarnya bahasa daerah--yang menunjukkan kuat berakarnya korupsi dalam budaya kita.&lt;br /&gt;Kalau kita mencermati tulisan para ahli, maka korupsi bukan hanya beragam dalam jenis dan sebutan sinonimnya, tetapi juga beragam dalam defenisi asalnya. Secara umum, korupsi sering dipandang sebagai segala macam tindakan yang menyalahgunakan wewenang atau sumber poltik untuk kepentingan pribadi atau golongan.  Ada pula di antara penulis yang memperluas cakupan pengertian tersebut, mengingat tindakan dan praktek korupsi, berlangsung juga diberbagai sektor kehidupan. Karena itu, korupsi disebutnya sebagai “tidak hanya meliputi transaksi antara sekyor badan publik (pejabat) dan swasta (perusahan atau anggota masyarakat) tetapi juga antara sektor swasta dan sektor pemerintah.”  Definisi ini menunjukan betapa korupsi sudah “memasyarakat”. Seperti wabah yang terus menjalar pada semua sektor kehidupan.&lt;br /&gt;Lebih jauh Gunnar Mydral dengan tegas menyatakan bahwa, mereka yang memungkinkan terjadinya korupsi disebut juga koruptor. Dengan begitu korupsi bukan cuma dilakukan pejabat publik atau petinggi swasta, tetapi rakyat kebanyakan juga memungkinkan terjadinya korupsi. Islam, dalam kitab sucinya, mengatakan dengan tegas bahwa, baik yang menyuap (al-râsyi) dan yang disuap (al-murtâsyi), keduanya bersalah, dan karenanya masuk neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Dataran Birokrasi&lt;br /&gt;Birokrasi memang tidak terlepas dari prosedur. Namun manakala prosedur tidak jelas  dan banyak meja yang harus dilewati demi tegaknya prosedur, maka prosedur itu justru memberi peluang bagi terjadinya praktek korupsi. Prosedur birokrasi yang mestinya merupakan pengetahuan publik sengaja disamarkan. Akibatnya publik seperti masuk belantara, karena tidak tahu apa yang harus dilakukan agar bisa mengikuti prosedur yang baku.&lt;br /&gt;Bila pun prosedur diketahui publik, maka biasanya tetap tersedia pilihan “jalur biasa” atau “jalur tol”.  Jalur tol berarti publik mesti membayar biaya besar. Namun dengan senang hati publik tidak jarang bersedia membayar melebihi tarif itu, dengan dalih “dari pada diperulit”, “dari pada membuang-buang waktu” atau “dari pada tidak diproses”. Publik atau masyarakat mendapatkan kemudahan urusan birokrasi dari jabatan publik. Dan pejabat publik pun diuntungkan karena mendapat sejumlah uang.&lt;br /&gt;Karena saling menguntungkan maka dianggap tidak ada yang dirugikan. Sementara korupsi dikonstruksi sebagai praktek yang merugikan. Kalau tidak ada yang dirugikan mengapa pula disebut korupsi? Ini adalah logika yang menyebabkan kian mewabahnya korupsi. Memang ketika transaksi terjadi antara dua pihak, warga masyarakat dan pejabat publik, tidak ada yang merasa dirugikan. Tetapi jika ditarik lebih jauh pada konteks yang lebih luas, dampaknya sangat menadasar. Sebut saja misalnya, lahirnya ekonomi biaya tinggi (high cost economy), karena pelaku usaha pasti memperhitungkan dana yang disiapkan untuk dikorup akan dibebankan juga pada konsumen. Akibatnya, nilai jual produk Indonesia menajdi lebih mahal dibandingkan dengan produk serupa dari negeri lain. Maka terjadilah inefisiensi yang akan menurunkan daya kompetitif produk Indonesia, menurunkan kemampuan perusahaan memberi gaji yang lebih layak bagi karyawannya, dan yang paling membahayakan juga dapat menghancurkan moral bangsa.&lt;br /&gt;Olle Tronquist, profesor masalah politik dan pembangunan pada Univesitas Oslo dalam tulisannya “The Indonesian Lesson” (1999) ia menyebutkan adanya gejala munculnya “hantu” yang disebutnya sebagai “demokrasi kaum penjahat” (budguy democracy). Di mana demokrasi hanya berlangsung secara formal dan bahkan cenderung seremonial. Ini terutama terjadi pada masa Orde Baru, yang menjelma menjadi “negara serakah” (grady state), yang menjadi panggung KKN dan mamsung pikiran rakyat.&lt;br /&gt;Reformasi yang bergulir sejak 1998 di antaranya bertujuan mengubah praktek penyelenggaraan pemerintah ke arah yang lebih baik dan berkualitas (good governance). Namun dalam kenyataanya, hingga saat ini reformasi belum banyak membuahkan hasil. Praktek KKN tampak belum lenyap, bahkan makin menjadi-jadi. Otonomi daerah yang idealnya ditujukan untuk memberdayakan pemerintahan daerah dalam memperbaiki dan meningkatkan pelayanan publik, pada prakteknya justru dipakai sebagai alat untuk melanggengkan struktur pemerintahan yang birokratis itu. Selain itu juga, dengan otonomi daerah, KKN dengan segala modus operandinya yang pada masa Orde Baru terpusat di Ibu Kota, kini menyebar ke daerah-daerah. Otonomi daerah yang semangat awalnya bertujuan meningkatkan kesejahteraan rmasyarakat daerah, pada parktenya lebih banyak menguntungkan para penguasa dan wakil rakyat di daerah. Sementara rakyat banyak tetap hidup dalam kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN ANTI-KORUPSI BAGI MASYARAKAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya Kontrol dan Partisipasi Publik&lt;br /&gt;Bila korupsi sudah sedemikian menggurita dalam birokrasi negara dan telah membudaya dalam kehidupan masyarakat, maka yang paling dirugikan adalah rakyat banyak. Karena sejumlah besar uang yang dikorupsi, hakikatnya adalah uang rakyat. Dan di antara lapisan masyarakat yang paling dirugikan adalah mereka yang jauh dari akses kekuasaan. Uang mereka dikorupsi, sementara mereka tidak mendapat pelayanan yang layak dan memadai dari pemerintah.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu rakyat atau masyarakat berhak dan berkewajiban melakukan kontrol untuk menghentikan atau minimal menekan segala bentuk tindakan korup. Kontrol masyarakat (kontrol publik) merupakan senjata ampuh untuk terjun ke medan pertempuran melawan wabah korupsi. Tetapi untuk memenangkan pertempuran melawan korupsi, kontrol publik saja tidaklah memadai. Perlu senjata lain, yaitu partisipasi publik. Fuad Hassan, menyebut kontrol publik dan partisipasi publik sebagai dwitunggal.  Dengan kontrol dan partisipasi publik, tindak korupsi bisa ditekan.&lt;br /&gt;Partisipasi publik sendiri merupakan syarat mutlak agar kontrol publik bisa dilakukan secara efektif. Partisipasi publik akan terwujud bila publik memperoleh cukup informasi. Lantas apa yang terjadi bila informasinya sengaja ditutupi? Ini berarti tidak ada keterbukaan. Bila tidak ada keterbukaan, tidak akan ada partisipasi publik, apalagi kontrol publik. Dan jika tidak ada kontrol publik, kekuasaan akan menjadi semakin kuat tak terkontrol. Dan ini artinya parktek-praktek korupsi makin menjadi-jadi. Sebagaimana dikatakan Lord Acton; “Power tends to corrupt, absolut power corrupt absolutly”. Karena itu memberikan informasi dan pendidikan bagi publik agar melek informasi, khususnya terkait dengan korupsi bukan hanya perlu tetapi sesuatu yang mendesak dilakukan.&lt;br /&gt; Apalagi dalam kehidupan politik kontemporer, korupsi tidak jarang dijadikan isu dan komoditas politik. Sehingga korupsi dikonstruksi menjadi masalah politik, bukan lagi masalah hukum apalagi moral. Dalam keadaan seperti ini, kesadaran politik tentang bahaya korupsi dibangkitkan dan dididik agar mempunyai ghirah memberantas korupsi. Upaya mendidik dan menyadarkan masyarakat ini penting, karena masyarakat yang sadar jelas lebih baik daripada masyarakat yang apatis, yang tidak menyadari atau tidak tahu hak-haknya dan bersikap masa bodoh terhadap segala bentuk penyelewengan dan penyalahgunaan yang dilakukan pejabat publik. Sikap masa bodoh ini adalah lahan subur bagi tumbuhnya wabah korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan Anti-Korupsi&lt;br /&gt;Upaya mendidik, memberdayakan dan membangkitkan kesadaran mengenai betapa krusialnya persoalan korupsi jelas merupakan sesuatu yang mendesak dilakukan. Karena Warga masyarakay yang sadar dan memiliki pemahaman yang cukup tentang korupsi adalah landasan yang sangat pengting bagi usaha menekan derasnya arus korupsi. Karena itu, kuncinya adalah perlunya pendidikan anti-korupsi bagi masyarakat.&lt;br /&gt;Bagaimanakah pendidikan-antikorupsi bagi masyarakat luas itu bisa dilakukan? Dengan langkah-langkah apa saja dan dengan menggunakan sarana apa saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kampanye Publik&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk melakukan pendidikan anti-korupsi kepada masyarakat adalah kampanye publik secara terencana dan sistematik. Kegiatan kampanye [ubl;ik yang terprogram baik dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan kesdaran mengenai kerugian yang ditimbulkan oleh korupsi terhadap masyarakat dan mengenai perlunya setiap warga melakukan tindakan yang tepat bila mereka dihadapkan pada praktek korupsi.&lt;br /&gt;Defenisi kampanye sendiri bermacam-macam, tergantung pada tujuan umum atau spesifik yang diharapkan, durasi yang dibutuhkan, efek yang diharapkan, unit analisis dan lokus manfaat dari suatu kampanye, serta media komunikasi yang digunakan. Paisley (1981) mencatat bahwa definisi kampanye menekankan baik pada (1) tujuan, maupun (2) proses kampanye.&lt;br /&gt;Menurut Atkin (1981), kampanye informatif biasanya melibatkan seperangkat pesan bersifat promosi yang menarik minat publik dan disebarkan melalui media-media massa. Karenanya kampanye publik mesti menggunakan pesan-pesan yang dirancang sedemikian rupa melalui berbagai saluran komunikasi yang mudah diakses dan cocok dengan target audiens. Pesan kampanye juga harus mengkomunikasikan informasi spesifik, pemahaman, dan perilaku yang bisa diakses dan diterma secara budaya.&lt;br /&gt;Karena itu sebelum menggelar kampanye anti-korupsi, penting juga memantau isu dan debat kebijakan sosial yang sedang berkembang di masyarakat. Memahami lingkungan politik dan budaya yang memberikan setting dalam agenda publik juga penting untuk memberikan penekanan pada isu yang ditonjolkan dalam agenda kampanye. Para perancang kampanye harus menyadari bahwa kegiatan kampanye yang dilakukan bukan semata-mata untuk memberi informasi kepada masyarakat tentang korupsi dan bahayanya, melainkan juga mempengaruhi masyarakat untuk bertindak. Bahkan kampanye juga harus diarahkan untuk tujuan-tujuan yang lebih dari sekedar perubahan kognitif, tetapi juga perubahan sikap dan perilaku terhadap korupsi.&lt;br /&gt;Jika kampanye publik anti-korupsi dilakukan dengan mempertimbangkan hal-hal di atas, maka akan diperoleh beberapa manfaat, antara lain:&lt;br /&gt;1. Tergalangnya opini publik mengenai perlunya pemberantasan korupsi secara sistematik dan integratif.&lt;br /&gt;2. Tergalang pula tuntunan dan tekanan dari masyarakat mengenai perlunya upaya pemberantasankorupsi dalam birokrasi.&lt;br /&gt;3. Menguatnya partisipasi masyarakat pengguna layanan publik dalam memberantas korupsi.&lt;br /&gt;Dan karena kegiatan kampanye publik anti-korupsi ini bersifat informatif, persuasif dan juga edukatif, tentu saja pertimbangan-pertimbangan dalam menetukan media kampanye dan khalayak sasaran yang dituju merupakan sesuatu sangat penting. Karena itulah kegiatan kampanye anti-korupsi sebisa mungkin memanfaatkan segala bentuk media komunikasi yang bisa dengan mudah diakses warga masyarakat. Tidak hanya media massa dalam pengertian konvensiona, seperti koran, majalah, radio atau televisi. Tetapi juga media yang lain, seperti sepanduk, stiker, selebaran atau brosur dan leaflet juga bisa efektif dalam kegiatan kampanye publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Survei Opini Publik&lt;br /&gt;Untuk mendukung kampanye publik dalam rangka pendidikan publik anti-korupsi juga sebaiknya dilakukan survei opini publik. Survei opini publik dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui opini warga masyarakat tentang sikap, pandangan atau pemahaman mereka terkait isu-isu yang sedang berkembang.  Survei opini publik juga menjadi wahana yang memberi peluang bagi warga masyarakat untuk menumbuhkan bahwa pendapat mereka dihargai dan dipertambangkan dengan serius oleh orang lain.&lt;br /&gt;Polling atau jejak pendapat adalah salah satu metode untuk mengetahui pendapat umum. Polling sering didefinisikan sebagai suatu penelitian atau survei dengan cara menanyakan langsung (wawancara), atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan tidak langsung (melalui angket) kepada warga masyarakat mengenai pendapat mereka tentang suatu masalah atau isu yang sedang berkembang.&lt;br /&gt;Penyebaran angket (kuesioner) kepada warga masyarakat yang dijadikan sasaran kampanye adalah cara yang lebih untuk mengetahui opini publi, yang merupakan ekspresi sikap dan pandangan masyarakat terhadap isu yang diperbincangkan. Poin-poin pertanyaan dalam angket hendaklah dirancang sedemikian rupa dengan tetap berpedoman pada tujuan kampanye. Tetapi harus dicatat bahwa poin-poin pertanyaan dalam angket sebaiknya dirancang secara lebih spesifik untuk tujuan-tujuan khusus, disesuaikan dengan tema kampanye. Misalnya, untuk mengetahui sejauhmana efektifitas kampanye mempengaruhi pendengar radio, bagaimana pandangan pembaca surat kabar lokal tertentu terhadap kampanye anti-korupsi melalui media massa, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pengorganisasian Massa&lt;br /&gt;Peter L. Berger (1982) mengatakan bahwa, warga masyarakat yang merupakan sasaran kebijakan publik, harus mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi. Bukan saja dalam hal mengambil keputusan khusus, melainkan juga dalam hal merumuskan definisi-definisi situai yang merupakan dasar dalam pengambilan keputusan-keputusan publik. Untuk itu setelah merancang kampanye dan melakukan survei opini publik, langkah berikutnya dalam upaya pendidikan anti-korupsi bagi masyarakat adalah, melakukan pengorganisasian massa. Ini bertujuan untuk menciptakan tekanan publik terhadap tindak korupsi dengan kekuatan yang ada pada publik itu sendiri.&lt;br /&gt;Langkah awal dalam pengorganisasian massa adalah dengan melakukan studi kebutuhan pengorganisasian massa (publik), khususnya mereka yang menjadi pelanggan layanan publik, dan lebih khusus lagi pelanggan layanan publik yang terkait dengan hajat hidup orang banyak. Adapun langkah-langkah studi tersebut, sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi metode (strategi) pengorganisasian layanan publik berbasis komunitas.&lt;br /&gt;2. Merumuskan desain dan model pengorganisasian pelanggan layanan publik berbasis komunitas.&lt;br /&gt;3. Merumuskan kerangka kerja pengorganisasian, pelanggan layanan publik berbasis komunitas.&lt;br /&gt;Adapun langkah-langkah tekhnis untuk melakukan pengorganisasian pelanggan layanan publik adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Membentuk dan menciptakan kontak dengan dan antara pelanggan layanan publik.&lt;br /&gt;2. Membentuk jaringan kerja sama antara pelanggan layanan publik dengan masyarakat secara lebih luas.&lt;br /&gt;3. Mengembangkan kepemimpinan masyarakat.&lt;br /&gt;4. Bekerja dengan organisasi masyarakat yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POSTWACANA&lt;br /&gt;Mendidik Masyarakat Melek-Korupsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabah korupsi seperti juga wabah-wabah lainnya yang berbahaya, pada dasarnya bisa dicegah penyebarannya. Perlu semacam suntikan imunisasi untuk meningkatkan kekebalan terhadap korupsi, sekaligus menurunkan kekebalan koruptor terhadap hukumyang berlaku di negara ini. Bila tidak ada tindakan semacam itu, bisa dipastikan korupsi akan kian menyebar dan mengakar. Pada gilirannya korupsi yang tidak terbendung akan semakin membuat negeri ini terus bertahan di papan atas sebagai negara terkorup di dunia. Karenanya sudah saatnya dibangunkan kesadaran pada seluruh anak bangsa, bahwa sebanyak apa pun yang dimiliki bila terus-menerus digerogoti pada akhirnya akan habis. Krisis ekonomi berkepanjangan yang dialami bangsa ini menunjukkan sudah hampir habisnya kekayaan bangsa karena dicuri dengan mengatas namakan berbagai hal.&lt;br /&gt;Untuk menekan lajunya angka korupsi yang terus melonjak diperlukan langkah-langkah strategis dan komprehensif. Langkah-langkah itu merupakan bentuk kongkrit pendidikan anti-korupsi bagi masyarakat. Yang dimaksud pendidikan di sini adalah segala upaya penyadaran dan pemberdayaan masyarakat. Pendidikan di sini lebih bersifat andragogik daripada pedagogik, di mana masyarakat sasaran didik diperlakukan sebagai subyek pendidikan yang dibuka kesadaran keritisnya dalam mengahadai relitas keseharian yang korup. Sementara pendidik adalah sekelompok masyarakat yang telah tersadarkan yangmenjadi fasilitator dalam proses belajar masyarakat itu sendiri. Dengan berbagai langkah strategis dan tekhnis di atas, kiranya pendidikan anti-korupsi dapat mendidik masyarakat untuk “melek-korupsi”.&lt;br /&gt;Selain dengan pendidikan yang bersifat andragogik, upaya pemberantasan korupsi bisa dilakukan dengan pendidikan pedagogik, bahkan formal sekalipun. Ini bisa dilakukan di antaranya dengan cara-cara berikut:&lt;br /&gt;1. Memasukkan diskursus anti-korupsi dalam pendidikan formal maupun informal.&lt;br /&gt;2. Menggagas Fiqh Korupsi (pemahaman keagamaan yang anti dan tidak mentolerir korupsi dalam segala bentuknya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini dimuat di Jurnal Pendidikan LEKTUR STAIN Cirebon pada th. 2005&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/57862836577583563-7151909321451122117?l=kangalimursyid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/feeds/7151909321451122117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=57862836577583563&amp;postID=7151909321451122117' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/7151909321451122117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/57862836577583563/posts/default/7151909321451122117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangalimursyid.blogspot.com/2007/05/pendidikan-anti-korupsi-berbasis.html' title='PENDIDIKAN ANTI-KORUPSI BERBASIS MASYARAKAT'/><author><name>Ali Mursyid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04221051799392391476</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
