Wednesday, August 25, 2010

Transformasi Diri Menuju Kebahagiaan Hakiki: Kajian atas Kitab Kimia Sa'adah Karya al-Ghazali


Oleh: Ali Mursyid

Kebahagiaan merupakan tujuan hidup manusia. Karenanya orang mau melakukan apapun untuk mencapainya. Banyak cara, kiat-kiat, teknik-teknik bagaimana menggapai kebahagiaan dalam hidup. Motivasi untuk mencapai kebagaiaan, sesungguhnya motivasi hidup manusia yang tertinggi. Bahkan dikatakan bahwa Islam hadir bertujuan untuk menciptakan “sa’adatun nas fi al-darain” (kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat)

Kebahagiaan diukur dengan cara yang berbeda dan pada hakekatnya ukuran kebahagiaan bisa berjenjang. Ada manusia yang mengukurnya sebatas capaian materi atau materialistik, dan merasa telah cukup sampai di sana, namun ada yang menganggap capaian kebahagiaan berbasis materi tak akan membawa manusia dalam kebahagiaan sejati. Capaian kebahagiaan terakhirlah yang kerap dinamakan sebagai kebahagiaan keruhanian.

Nilai-nilai kebahagiaan banyak diajarkan ajaran-ajaran luhur. Ini sebenarnya sudah dipraktikkan sejak ribuan tahun lalu, mulai dari kebebasan Stoic, Kimia Kebahagiaan (Kimia Sa’adah) Al-Ghazali, Pencerahan ala Budha bahkan kepuasan ajaran kuno Epicularean. Namun gelombang modernitas perlahan-lahan menggerusnya. Akibatnya, kini prinsip-prinsip adiluhur tersebut bagaikan harta-karun yang terlupakan.

Tulisan ini akan memaparkan tentang salah satu konsep kebahagiaan, yang bersumber dari ajaran luhur para pendahulu, yaitu konsep Kebahagiaan menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya “Kimia Sa’adah” (Kimia Kebahagiaan).

Pilihan kata “Kimia” sendiri, menurut pengkaji pemikiran al-Ghazali di Mesir, Sulaiman Dunia, ini dengan maksud untuk menunjukkan bahwa kebahagiaan bisa dicapai dengan perubahan kimiawi di dalam diri seorang manusia, dan bukan perubahan fisikawi. Perubahan kimiawi yang dimaksud al-Ghazali adalah perubahan yang tidak bersifat fisik, bukan perubahan dalam arti perubahan jasad wadag, akan tetapi perubahan yang bersifat non fisik, non materi, perubahan jiwa, batin, pikiran dan perasaan, yang dapat menghantarkan sesorang dapat menggapai kebahagiaan sejati. Jadi maksud dari “Kimia Kebahagiaan” adalah sebuah konsep untuk yang menghantarkan transformasi ruhani seseorang agar dapat menggapai kebahagian hakiki.

Untuk menghantarkan pada tujuan tersebut al-Ghazali membagi pembahasan bukunya kedalam beberapa bagian berikut; Penduhuluan; Bagian pertama mengantarkan ke pembahasan pokok; Bagian kedua penjelasan bagaimana mengatahui diri atau jiwa kita; Bagian ketiga penjelasan mengenai hati dengan berbagai ‘bala tentara’ pendukungnya; Bagian keempat tentang keajaiban-keajaiban hati.

Pada bagian pendahuluan, al-Ghazali membuka kitab Kimia Sa’adah (kimia kebahagiaan) ini dengan basmalah, hamdalah, shalawat dan salam. Ini disampaikan dengan bahasa yang indah, dengan diksi yang terpilih dan irama kata yang menggugah. Sayangnya pada bagian pendahuluan ini tidak dijelaskan apa motif al-Ghazali menuliskan buku ini, apakah karena al-Ghazali menganggap penting untuk menuliskan buku ini atau karena ada permintaan dari penguasa atau pihak-pihak lainnya? Karena tidak ada penjelasan maka tidak bisa diketahui latar belakang mengapa buku ini ditulis dan untuk kepentingan siapa.

Pun demikian, bila dilihat dari sejarah hidup beliau, buku Kimia Sa’adah ini ditulis setelah al-Ghazali menulis buku al-Munqidh min al-Dhalal. Kalau buku al-Munqidh min al-Dhalal berisi pencarian dan kritik al-Ghazali mengenai epistemologi kebenaran, dan berkesimpulan bahwa epistemologi sufilah yang dipilih, maka dalam buku Kimia Sa’adah, al-Ghazali boleh jadi hendak menegaskan pilihan jalan sufinya itu, dengan menawarkan konsep kebahagiaan menurut sufi. Jadi, Kimia Sa’adah adalah penegasan akan kebenaran epistem sufistik yang dipilih al-Ghazali. Dengan buku ini, al-Ghazali hendak menyatakan bahwa jalan sufi bukan hanya benar, tetapi dapat menghantarkan pada kebahagiaan sejati.

Pada bagian pengantar, al-Ghazali menjelaskan bahwa pembicaraan mengenai Kimia Kebahagiaan adalah pembicaraan yang sangat berharga, dan bukan pembicaraan rendahan. Racikan kebahagiaan ini juga, menurutnya, adalah racikan yang hanya disandarkan pada ajaran Nabi Muhammad saw. Karena menurutnya, jalan menuju kebahagiaan dapat ditempuh dengan benar bila merujuk pada ajaran Muhammad yang dihayati dengan benar. Di antara yang diajarkan Muahammad adalah bahwa kebahagiaan atau keberuntungan bukan hanya berarti keburuntungan material, tetapi yang lebih penting adalah keberuntungan spiritual.

Pada bagian selanjutnya, bagian ketiga, al-Ghazali mulai menjelaskan bagaimana seseorang dapat meraih kebahagiaan melalui jalan spiritual. Mula-mula dijelaskan apa itu bahagiah dengan berbagai ragamnya. Dikatakan dalam buku ini:

“Kebahagiaan itu berbeda-beda bagi setiap makhluk hidup. Ada yang bahagia bila terpenuhi urusan makan, minum dan segala kebutuhan biologisnya, maka ini adalah kebahagiaan kelompok binatang ternak (baha’im). Ada yang merasa bahagia bila berhasil melakukan penyerangan, bisa mengalahkan dan bahkan membunuh lawan, ini adalah kebahagiaan bagi kelompok binatang liar (siba’). Ada yang merasa bahagia dengan melakukan tipu daya dan muslihat, ini adalah kebahagiaan bagi syaitan. Sementara kebahagiaan bagi para malaikat adalah kebahagiaan bisa taat kepada Tuhan sepenuhnya, tanpa bisa membangkang, tidak memiliki syahwat dan tidak pernah marah.” (hlm. 4)

Setelah menjelaskan model dan ragam kebahagiaan di atas, al-Ghazali memberi pilihan kebebasan bagi kita. Silahkan apakah kita mau memilih kebahagiaan yang model mana? Jika kita hanya sibuk mencari materi untuk sekedar memenuhi kebutuhan makan, minum dan bahagia hidup berumah tangga, maka apa beda kita dengan binatang ternak? Bila kita hanya sibuk dan senang berbuat anarkhis maka mungkin kita ini tidak ada bedanya dengan binatang buas. Jika kita senang dan bahagia dengan melakukan penipuan, sering berbuat curang untuk keuntungan pribadi, maka mungkin kita tidak berbeda dengan syaitan. Dan jika kita ini merasa berbagaia dengan berbuat baik, senang melakukan ketaatan kepada Allah, menjalankan sunnah Nabi, berbuat baik kepada sesama, maka mungkin yang menguasai diri kita adalah unsur kebahagiaan malaikat.

Manusia sendiri, menurut penulis buku ini, sesungguhnya terdiri dari berbagai unsur di atas, unsur binatang ternak, binatang buas, syaitan dan malaikat. Unsur mana yang paling dominan dalam diri setiap orang, akan mempengaruhi bagaimana ia menggapai kebahagiaan. Dalam hal ini, al-Ghazali menyebutkan bahwa tempat kebagiaan tertinggi bagi orang pada umumnya (awam) adalah kebahagiaan surga, sementara kebahagiaan tertinggi bagi orang-orang spesial (khawash) adalah menggapai ridha Allah swt.
Selanjutnya, dijelaskan pula bahwa untuk menggapai kebagiaan tertinggi, manusia harus terlebih dahulu mengenal dirinya, mengenal jiwanya. Dalam hal ini al-Ghazali menjelaskan bahwa jiwa (nafs) manusia, terbagi menjadi dua hal, yaitu hati (qalb) dan ruh. Hati (qalb) di sini bukan berarti qalb dalam arti fisik yang terdapat dalam dada tiap manusia, tetapi qalb dalam arti ruhani dan bathini. Qalb semacam inilah yang merupakan bagian dari nafs yang dibebani taklif untuk ta’at kepada Allah swt, yang akan menerima pahala dan dosa, yang dapat merasakan bahagia dan sengsara. Qalb lah yang dapat ma’rifat kepada Allah swt.

Terkait dengan qalb ini, dijelaskan bahwa Allah swt mencipatakan dua alam yang berbeda, ‘alam khalqi dan ‘alam amri. Ini sesuai firman Allah swt: alâ lahû al-khalqu wa al-amru. Manusia sejatinya terdiri dari alam khalqi dan alam amri sekaligus. Alam khalqi adalah ciptaan Allah swt yang mengenal dimensi panjang, lebar dan terukur serta bisa dihitung. Sedangkan alam amri sebaliknya, yaitu ciptaan Allah yang tidak mengenal dimensi panjang, lebar, tidak terukur dan tidak bisa dihitung. Qalb insan adalah tergolong alam amri dan bukan alam khalqi, karena qalb yang dimaksud bukanlah hati dalam arti fisik.

Sementara itu ruh, adalah sebagian besar tetap menjadi rahasia Allah, yang juga terdapat dalam ‘alam amri. Sebagaimana dikatakan dalam firman Allah swt: “wa yas’alûnaka ‘an al-rûhi qul al-rûhu min amri rabbi, wamâ utîtum min al-‘ilmi illâ qalîla”, ayat ini diterjemahkan al-Ghazali dengan: “orang-orang bertanya kepadamu Muhammad, tentang persoalan ruh. Katakanlah bahwa ruh itu merupakan ciptaan Allah yang tergolong ‘alam amri. Kamu sekalian tidak diberi pengetahuan mengenai hal ini kecuali sangat sedikit” Agama atau syariat Islam, tidak memerintahkan, menganjurkan dan tidak berkepentingan untuk mengetahui ruh ini. Karena kewajiban agama adalah bukannya mengetahui ruh, yang memang urusan Tuhan, tetapi kewajiban agama adalah beribadah, bermujahadah kepada Allah dan mengetahui tanda-tanda hidayah Allah. Sebagimana dikatakan dalam firman Allah; “Wa al-ladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannâ subulanâ”. Dalam hal ini al-Gazali menyatakan bahwa barang siapa tidak bersungguh-sungguh dalam beribadah dan menggapai hidayah Allah maka tidak akan dapat mengetahui hakikat ruh (hlm. 11).

Penjelasan selanjutnya, bagian keempat, mengenai qalb dan para ‘bala tentara’-nya, atau dengan istilah lain, hati dan para anggota pelaksananya. Sebagaimana konsep sufi pada umumnya, al-Ghazali menyatakan bahwa jiwa (nafs) manusia itu bagaikan sebuah kota. Hati adalah rajanya, syahwat adalah wali kotanya, akal adalah panglimanya, kekuatan marah adalah para polisinya yang memiliki dendam kesumat. Hati sebagai raja menasihati sehingga kerajaan kotanya dapat tenang. Menasihati ini harus terus dilakukan oleh hati, karena wali kota-nya adalah syahwat, dan kekuatan marah menjadi polisi kota-nya, jika hati berhenti menasihati maka hancurlah kota tersebut, hancurlah jiwa manusia. Hati sebagai raja juga harus berembug dengan panglima (akal) dan menjadikan wali kota (syahwat) dan polisi (amarah) mesti terkenadli oleh panglima (akal). Jika ini yang terjadi maka kota (jiwa manusia) akan tenang dan bahagia.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa kebahagiaan sejati dapat diraih dengan memperhatikan tiga hal dalam diri kita, yaitu: kekuatan amarah, kekuatan syahwat dan kekuatan ilmu. Untuk mencapai kebahagiaan, orang harus mengurangi dan memenaj sedemikian rupa, kekuatan amarah dan kekuatan syahwatnya. Jika tidak maka, baik amarah maupun syahwat sesungguhnya cenderung merusak diri sendiri. Dengan memanej amarah, sesorang bisa bersikap sabar, tenang dan bahagia. Dan dengan menjaga syahwat seseorang dapat menjaga kehormatan dan muru’ahnya. Meski manusia, sebagai binatang, dibekali dengan sifat amarah dan sifat syahwat, tetapi manusia diberi kelebihan lain yang tidak dikaruniakan pada binatang. Yaitu ilmu yang puncaknya bisa mencapai ma’rifatullah. Inilah yang mengantarkan pada kebahagiaan sejati, menurut al-Ghasali.

Pada bagian akhir, al-Gazali menjelaskan keajaiban-keajaiban hati. Di antaranya dia menjelaskan bila hati seseorang suci, dituntun agama, menjahui segala kekotoran lahir dan bathin maka hatinya bersih bagai cermin. Sehingga terkadang timbul berbagai keajaiban, seperti bisa mengetahu kejadian yang belum terjadi, bisa mengetahui berbagai hal tanpa melalui proses belajar sekalipun. Ini karena hati bersih bagai cermin, sementara lauh mahfudz juga bagaikan cermin, maka teranglah bagi hati yang bersih segala ketentuan Allah swt yang ada di lauh mahfudz.

Demikianlah konsep racikan kimia kebahagiaan menurut Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Sebuah konsep kebahagiaan ruhani dengan pendekatan khas sufi dan berbasiskan ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad saw. Wallahu a’lam bi al-shawab
____________
Penulis adalah anggota kajian Rumah Kitab dan dosen UIN Syahid dpk di IIQ Jakarta. Tulisan ini adalah hasil kajian Kitab Mingguan di Rumah Kitab.